
Suasana landasan pesawat pribadi milik Aron yang tadinya ricuh kini berubah hening saat suara ledakan pistol terdengar.
Kedua kubu tiba tiba berhenti bertarung saat suara lepasan pelatuk itu yang dibarengi dengan suara Hugo yang memekik keras.
"Tuan" gumam Zio berlari menuju mobil yang ditumpangi Aron.
Dorrrrr
"Akhhhhhh"
Semua orang terbelalak saat sebuah peluru melesat kearah Liam dan tepat mengenai bagian bahu nya.
"Hebat bukan?" ucap Aron dan keluar dari dalam mobil.
Peluru yang dilesatkan kearah Aron tadi memang tepat sasaran hanya saja dibalik seragam berjas Aron, Aron menggunakan pakaian yang anti peluru.
Jika tidak mungkin saja peluru itu menembus jantung Aron dan mengakibatkan sesuatu yang fatal.
"Fu*k!" umpat Liam memegang bahu nya yang mengucurkan darah
"Salam pembuka dari ku, tidak seru jika kau langsung mati" ucap Aron menyeringai
"Mundur semua!" teriak asisten Liam yang sudah tahu mereka kehabisan banyak pengawal.
Kubu Aron pun menang, keterkejutan dari kubu Liam dimanfaatkan oleh kubu Aron untuk menghabisi musuhnya.
Kubu Liam yang tadinya berjumlah lebih dari 200orang kini hanya tersisa 60 orang lebih karena habis ditangan pengawal Aron.
"Anda tidak apa tuan?" tanya Zio menghampiri tuan nya.
Jantung Zio ndan Hugo hampir saja copot saat melihat peluru itu mengenai tepat didada Aron.
Sedangkan Halid yang sudah tahu hanya bisa diam saja, persiapan itu juga diketahui Halid karena ingin keamanan Aron.
Dirumah mewah Aron.
Malam hari yang dingin, Elena baru saja selesai makan malam bersama Helga dan juga Amey.
Makan malam yang terlambat karena Elena baru saja selesai melakukan panggilan telepon bersama Aron karena khawatir.
"Kalian bisa ikut tidur dikamar ku?" tanya Elena menatap Helga dan Amey
"Ada apa non?" tanya Helga bingung.
Elena sudah menerapkan peraturan baru dirumah ini, tidak ada yang boleh masuk sembarangan kekamarnya bersama Aron jika tidak ada hal yang mendesak.
Larangan itu juga berlaku bagi Helga dan Amey, mereka tidak akan masuk jika Elena tidak mengizinkan nya.
"Aku hanya ingin ditemani, aku merasa sedikit khawatir tetapi tidak tahu khawatir terhadap apa" ucap Elena.
"Baiklah kami akan menemani anda" ucap Amey dan ikut berjalan bersama Elena.
Sesampainya didalam kamar, Elena tidak mau langsung tidur walaupun jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Tidak langsung tidur non?" tanya Helga yang sedang duduk disofa
"Sebentar lagi Helga, aku ingin membaca buku lebih dulu" ucap Elena yang duduk diatas ranjang.
Helga dan Amey saling pandang, mereka bingung dengan sikap Elena yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
Elena mencoba memfokuskan pikirannya pada buku novelnya, tetapi semua itu sia sia.
Elena sudah mulai geram dengan isi kepalanya yang memikirkan sesuatu tetapi dia sendiri tidak mengerti
"Anda baik baik saja nona?" tanya Amey mendekati Elena.
"Aku baik" jawab Elena mengambil segelas air putih yang ada diatas nakas lalu meminumnya.
Amey dan Helga sedikit khawatir karena wajah Elena mengeluarkan keringat yang cukup banyak.
"Aku akan tidur, kalian jangan khawatir" ucap Elena dan langsung membaringkan tubuhnya.
Helga dan Amey hanya bisa diam dan berpindah kesofa lagi, walaupun sebenarnya bingung dengan Elena.
Di kota C.
Aron baru saja keluar dari sebuah restauran, Aron baru bertemu dengan teman lama nya yang juga menjadi musuh Liam.
Aron memperkuat pertahanan nya dengan cara menarik teman lama nya yang bergelut didunia hitam juga.
Iring iringan mobil Aron yang berjumlah tujuh mobil pun pergi dari pekarangan restauran mewah itu.
3 mobil di depan dan 3 mobil dibelakang, mobil yang ditumpangi Aron berada ditengah tengah.
Didalam mobil itu berisi Aron dan juga Halid, serta beberapa pengawal yang juga semobil dengan Aron.
Sedangkan Hugo dimobil yang berada tepat didepan Aron, Zio berada dibelakang Aron.
Mereka melewati jalan yang sepi, kanan kiri ditumbuhi pepohonan tinggi dan juga rindan, hutan memang.
Aron bersama seluruh anak buah nya menuju markas mereka yang ada di kota C, markas yang menempuh perjalanan hutan.
"Bagaimana kabar tentang Liam?" tanya Aron menoleh sekilas kepada Halid yang duduk disebelah nya.
"Dia berada di markas nya tuan, sepertinya dia ingin menarik kubu musuh yang lain untuk melawan kita" ucap Halid
"Cih, dia tidak tahu siapa yang sedang bersama ku, kabarkan kepada massimo untuk memecah pengawalnya" titah Aron dan langsung dituruti Halid.
Massimo Goraldo, sahabat lama Aron yang bergelut didunia hitam juga, kekuatan pasukan Massimo berada satu tingkat dibawah Aron.
Jika Aron mafia nomor satu maka Massimo nomor dua nya, pertemanan mereka tidak diketahui rival lainnya karena saling membantu secara diam.
Tit Tit Tit
"Bunyi ap.."
Dorrrrrr
"Ada apa non?" tanya Helga langsung berlari mendekati Elena bersama Amey.
Mereka tadi hampir terlelap diatas sofa, karena teriakan Elena yang memanggil nama Aron membuat kedua wanita itu langsung bangun.
"Po..ponsel, telfon Aron Helga, cepat Helga hiks" ucap Elena sembari menangis
Tanpa bertanya apa apa lagi Helga langsung menghubungi Aron walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.
Jauh di kota C sana, Aron mengerutkan kening nya saat melihat ada panggilan masuk dari Helga.
"Katakan" ucap Aron datar saat panggilan terhubung
"Ada apa?" tanya Aron terkejut saat mendengar suara isakan Elena.
"Ka..kau dimana Aron?" tanya Elena dengan isak tangis
"Hey hey ada apa sayang, kenapa menangis?" tanya Aron mencoba untuk tenang walaupun sudah sangat khawatir.
"A..apakah kau sedang didalam mobil?" tanya Elena
"Iya sayang, aku baru saja selesai bertemu dengan klien" jawab Aron yang membenarkan ucapan Elena
"Apakah kau melewati hutan?" tanya Elena lagi.
Seketika Aron mematung mendengar nya "Ada apa sayang?" tanya Aron mencoba berfikir positif
"Keluar dari mobil itu Aron" pinta Elena yang masih berlinang air mata
"Tapi ken.."
"Aku mohon jangan bertanya, kosongkan mobil itu dan menjauh sekitar 15 meter dari mobil itu, cepat Aron" desak Elena.
"Kita keluar sekarang, perintahkan yang didepan untuk maju 15 meter begitupun yang dibelakang, kosongkan mobil ini" titah Aron keluar dari mobil.
Semuanya pun melakukan pekerjaan mereka sesuai dengan perintah Aron, walaupun bingung dengan apa yang terjadi.
"Sudah sayang?" tanya Aron sembari memandang mobilnya dari jauh
"Sudah, jika nanti kau sudah pergi dari sana pilihlah jalur yang berbeda dari yang kau lewatin saat pergi" ucap Elena yang sudah tenang.
"Oke sayang tenangkan dirimu, lanjutkan tidur ya aku akan baik baik saja" ucap Aron menenangkan.
Elena pun langsung mematikan sambungan telepon itu dan kembali tidur tanpa mau menceritakan kepada Helga dan Amey yang sedang kebingungan.
Elena benar benar kembali tidur dalam keadaan yang sangat nyenyak seakan tidak ada terjadi hal apa apa sebelumnya.
Drttt Drtt
Ponsel Helga berdering lagi, ternyata Aron menelpon Helga kembali untuk menanyakan keadaan disana.
"Ada apa tadi?" tanya Aron
"Saya tidak tahu tuan, nona terbangun tiba tiba dan memanggil nama tuan begitu kuat kami berdua juga terkejut"
"Nona bangun sudah dalam keadaan menangis dan juga berpeluh, saat kami bertanya dia hanya meminta untuk menghubungi tuan" jawab Helga
"Baiklah apa dia sudah tidur?" tanya Aron
"Sudah tuan, apa disan ba..."
Dorrrrrr
Mobil yang ditumpangi Aron tadi seketika meledak, Aron tercengang melihat apa yang terjadi didepan matanya.
Jika Elena tidak menyuruhnya meninggalkan mobil itu mungkin sekarang orang yang ada didalam mobil itu sudah mati.
"Tuan ada apa tuan?" tanya Helga panik
"Tidak ada, jaga dia" ucap Aron mematikan sambunhan telepon itu.
"Ba..bagaimana bisa?" gumam Halid tercengang
"Apa ini karena nona tuan?" tanya Hugo
"Kita pergi" ucap Aron tanpa menjawab.
Mereka pun pergi dengan menyisakan beberapa pengawal untuk memeriksa apa penyebab peledakan mobil Aron.
"Kerahkan satu mobil untuk melalui jalur yang kita lewati tadi, sisanya kita lewati jalur atas" titah Aron sesuai dengan perintah Elena.
"Ikatan batin tuan" celetuk Hugo yang duduk dibelakang Aron.
Kini Hugo, Aron, Zio dan juga Halid berada di satu mobil yang sama dengan dikendarai langsung oleh Zio.
"Kita lihat saja nan..."
"Lapor tuan, mobil yang melewati jalur bawah meledak saat di pertengahan jalan dan semuanya mati tuan" ucap pengawal bayangan milik Aron.
Seketika mereka semua saling pandang, bagaimana seorang wanita yang jelas jelas berada di kota A dan sedang tidur bisa mengetahui situasi disini.
Mereka tidak ingin menebak apa yang sebenarnya terjadi, paling tidak nyawa mereka selamat karena Elena, gadis Kesayangan Aron.
.
.
.
Gimana readers? mau langsung nyatuin cinta mereka apa di tahan dulu? wkwk
Sehat selalu dan semangat dukung author yak hihi.