
Waktu terus berjalan, tanpa terasa Elena sudah menempati apartemen itu selama sebulan.
semuanya juga berjalan dengan baik, walaupun baik Teddy maupun Wahyu masih belum menyerah dengan tekad mereka.
Hari ini adalah sabtu sore, Elena sudah berada dalam mobil bersama Dita yang sedang mengendarai mobil.
"malam minggu, kita kemana ya?" tanya Dita menoleh sesaat kearah Elena.
"kita ke pasar malam aja yuk, udah lama ga kesana" ajak Elena dan langsung di setujui oleh Dita.
Elena langsung memberi informasi kepada Rasya dan Jessica yang juga setuju untuk bermalam minggu kepasar malam.
Malam hari pun tiba, kini keempat wanita itu sudah berada dipasar malam, tepatnya di bagian parkiran.
malam ini Elena menggunakan celana panjang berwarna sage green yang dipadu dengan kaos crop berwarna putih.
"yuk" aja Jessica dan diikuti oleh mereka.
mereka berkeliling melihat lihat permainan yang ada disana, Jessica yang notabene nya selalu tampil glamor tapi tidak untuk malam ini.
pasar malam ini sering dikunjungi oleh orang kalangan biasa seperti Elena, Elena sangat suka dengan tempat ini karena banyak anak kecil yang sedang bermain.
mereka berempat bermain beberapa mainan, seperti lempar gelang, lempar bola dan sebagainya, terlihat sangat senang.
Seorang anak kecil terlihat sedang memandang ke arah Elena, bocah kecil itu memicingkan mata nya.
"Mimi...." panggil bocah kecil itu berlari kearah Elena.
Elena terpaku ditempatnya mendengar suara yang sangat familiar ditelinga nya
"mimi.." suara itu kian mendekat membuat Elena semakin kalut.
"mimi" ucap bocah itu memeluk Elena dari belakang, tinggi bocah itu hanya sebatas perut Elena.
Elena menahan air mata nya agar tidak keluar, dia sudah bisa menebak tangan mungil siapa yang sedang memeluknya.
ketiga sahabat Elena terbelalak memandang Elena yang sedang dipeluk seorang bocah tampan yang sedang menangis.
"mimi kemana saja? Azin rindu mimi" lirih bocah tampan itu dengan suara isakan.
Elena berjongkok agar menyamakan tinggi bocah tampan itu, Elena tersenyum paksa didepan bocah itu dengan air mata yang sudah menggenang dipelupuk mata nya.
"hay sayang, bagaimana kabarmu? apa kau merindukan mimi?" ucap Elena menghapus air mata yang mengalir dipipi chubby bocah tampan itu.
"*A..A**zin baik baik saja, mimi kemana saja? kenapa tidak pulang? kenapa tidak menemui azin lagi*?" cecar bocah tampan itu memeluk Elena erat.
air mata Elena sudah tidak bisa dibendung lagi, Dita yang mengerti situasi berdiri di hadapan Elena agar orang orang tidak tahu kalau mereka sedang menangis.
"maafkan mimi nak, mimi sibuk bekerja jadi tidak bisa menemui Aziel, maaf sayang maaf" lirih Elena mengecup pipi anak itu.
Elena lalu teringat sesuatu "dimana mama mu?" tanya Elena melepas pelukan nya.
Aziel adalah keponakan Elena yang sudah dianggap seperti anak sendiri olehnya, Aziel adalah anak kandung dari kakak kandung Elena yang berumur 3 tahun. kedekatan antara keduanya seperti ibu dan anak.
Aziel menganggap Elena sebagai ibu keduanya, sedangkan Elena menganggap Aziel seperti putra nya sendiri. Elena juga membantu kakaknya dalam membesarkan Aziel.
maka dari itu perpisahan keduanya sangatlah berat, Elena yang pergi tanpa sepengetahuan Aziel membuat bocah tampan itu sangat terluka, dan juga kerinduan yang tak kunjung usai.
"mama tidak ikut, Azin sama kak Tia" ucap Aziel menunjuk seorang gadis yang masih belia yang kini sedang tersenyum kearah mereka.
Elena berdiri dan langsung menghampiri Tia lalu memeluk nya. Tia adalah tetangga Aziel di samping rumah, Clara mendapatkan foto foto Aziel dari Tia. Tia dan Clara berteman sejak kecil.
"terimakasih sudah menjaga nya Tia" lirih Elena memeluk Tia dengan isak tangis
"sama sama kak, dia juga ku anggap seperti adikku" ucap Tia membalas pelukan Elena.
Elena melepas pelukan nya dan beralih ke bocah tampan yang sedang memandang nya sendu.
"apa mimi akan pergi lagi?" hati Elena sungguh tersayat mendengar pertanyaan Aziel.
Elena tersenyum kecut "mimi banyak pekerjaan sayang, jika suatu hari nanti mimi cuty bekerja mimi janji akan mengajak Aziel main" ucap Elena mengelus rambut hitam Aziel.
Aziel terlihat murung dengan jawaban miminya "tapi kita bisa main malam ini, bagaimana?" ucap Elena membuat mata Aziel berbinar
"benarkah?" tanya Aziel memastikan dan Elena pun mengangguk.
bocah tampan itu melompat lompat kegirangan, hampir setahun lamanya berpisah dengan tante nya yang selalu menemaninya kini penantian nya terbalaskan.
ketiga sahabat Elena menyeka air mata melihat bahagianya Aziel berjumpa dengan tante nya, paling tidak kerinduan Elena terobati dengan pertemuan mereka malam ini.
ketiga sahabat Elena juga ikut bermain bersama Elena dan Aziel yang terlihat sangat bahagia, tidak lupa Tia yang juga ikut bermain.
kebahagiaan Elena sederhana, senyum manis nya terukir juga karena hal sederhana, sederhana bagi mereka tetapi sangat berharga bagi Elena.
Aziel begitu berharga bagi Elena, Elena menyayangi anak itu melebihi dirinya sendiri walaupun Elena sangat membenci kedua orang tua bocah ini. hanya saja untuk membenci anak ini rasanya sangat mustahil.
kebahagiaan Aziel yang sesungguhnya juga sederhana, yaitu bertemu ibu kedua nya. bocah tampan itu sangat menyayangi Elena karena Elena lah yang membesarkan nya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.
tidak adanya Elena pada hati itu membuat hati Aziel sangat lah sakit, dimana yang setiap paginya dia membuka mata dan disambut seulas senyum manis dari ibu kedua nya tetapi tidak setelah hari itu.
ibaratkan lampu kehidupan Aziel redul setelah kepergian Elena, kerap bocah tampan itu bertanya "kapan mimi akan menemui Azin lagi?" hanya itu yang sering dilontarkan nya mana kala dia teringat dengan ibu keduanya.
kunjungan terkahir mereka adalah supermarket, Elena membeli banyak susu kotak kesukaan Aziel.
dan kini mereka sudah berada diparkiran dimana mobil Jessica dan motor Tia berada.
"mimi tidak ikut pulang ke rumah Azin? apa mimi akan pulang kerumah nenek" seperti dihantam batu besar hati Elena mendengar pertanyaan Aziel.
Elena berjongkok menyamakan tingginya dengan Aziel yang sedang menatapnya penuh dengan rasa sayang.
"Aziel dengar mimi nak" ucap Elena menangkup pipi Aziel dengan kedua tangan nya
"mimi tidak bisa pulang dengan Aziel ataupun pulang ke rumah nenek, mimi masih ada pekerjaan sayang"
"nanti jika pulang dan mama bertanya, bilang saja semua jajan ini dari temen kak Tia" ucap Elena yang kehadiran nya tidak ingin diketahui siapa pun.
"kenapa seperti itu mi?" tanya Aziel bingung.
"memang harus seperti itu sayang, kamu akan mengerti suatu hari nanti mengapa mimi bekerja jauh dari rumah nenek"
"mimi belum bisa bertemu dengan mama, Aziel jangan bilang pada mama jika malam ini bertemu dengan mimi"
"mimi janji, jika Aziel menuruti mimi maka mimi akan secepatnya mengajak Aziel bermain bersama lagi, bagaimana?" ucap Elena mencoba memberi pengertian pada Aziel.
Aziel mengangguk patuh "baiklah mi, Aziel berjanji tidak akan memberi tahu pada mama atau siapa pun kalau Aziel bertemu dengan mimi"
"good boy, pulang lah sayang hari sudah malam" ucap Elena memeluk Aziel dengan erat.
"mimi harus menepati janji mimi" ucap Aziel dalam pelukan Elena
"mimi janji sayang" balas Elena melepas pelukan nya lalu mengecupi setiap inci wajah Aziel.
Aziel juga membalas ciuman Elena, lalu Aziel pun pergi bersama Tia menaiki motor.
Aziel melambaikan tangan nya kepada Elena, Elena membalas nya sembari menahan air mata yang akan turun ke pipi nya
"ayo El" ucap Dita menggiring Elena masuk kedalam mobil.
Didalam mobil tangis Elena pun pecah, terasa sakit perpisahan nya dengan Aziel mana kala Elena mengingat tawa bocah tampan itu.
Dita yang duduk di samping Elena di set belakang, hanya bisa memeluk diri Elena yang terguncang.
"rasanya rinduku tidak bisa terobati jika hanya pertemuan sesaat hiks" lirih Elena disela sela tangis nya.
Jessica yang mengemudikan mobil juga meneteskan air mata, begitupun dengan Rasya yang duduk di samping Jessica.
"tenanglah El, kesedihan mu juga kesedihan nya" ucap Dita yang juga sudah berlinang air mata.
pertemuan malam ini membuat hati Elena sembuh dan luka secara bersama.
sembuh karena sudah bisa bertemu dengan Aziel, juga terluka karena pertemuan mereka hanya sesaat, setelah ini Elena harus menanggung rindu yang begitu panjang.
tidak ada yang tahu kapan Elena kapan berjumpa lagi dengan Aziel, ke enggan Elena berjumpa dengan keluarganya membuat dirinya terpisah jarak dengan Aziel.
.
.
.
Maaf bestie author nulis nya sambil nangis hehe.
jangan lupa dukung author 😄