
Sabtu sore yang cerah, Elena sudah bersiap untuk pulang karena semua pekerjaan sudah selesai.
"malam minggu nih, kita kemana?" tanya Dita yang dari tadi sudah berada di ruangan Elena.
"terserah, aku ikut aja" jawab Elena memasukkan laptop kedalam tas nya.
setelah itu mereka keluar bersama, di depan butik sudah menunggu Rasya dan juga Jessica.
Elena dan Dita langsung masuk kedalam mobil Jessica. Jangan tanya mobil Dita kemana tadi pagi mereka berdua dijemput Roy.
"malam minggu ni gays, kita kemana?" tanya Dita membuka obrolan
"iya nih, bagas juga keluar kota jadi aku ga ada kegiatan" ucap Rasya yang duduk disamping Jessica.
"Bar aja yuk" ucap Elena memberi masukan dan disetujui oleh yang lainnya.
Malam harinya mereka sudah bersiap menuju bar tempat langganan mereka.
Elena malam ini menggunakan dress malam yang membentuk lekuk tubuh nya yang berwarna navi dengan panjang diatas lutut.
rambut pendek nya dibiarkan tergerai begitu saja, Elena juga memakai sendal tali berwarna hitam yang senada dengan tas kecil nya.
setelah menempuh perjalanan selama 30 menit kurang lebih, kini mobil yang ditumpangi mereka pun masuk ke pekarangan bar.
4 wanita cantik itu langsung masuk kedalam bar mewah itu, mereka tahu tempat ini dari Jessica yang sudah menjadi langganan VIP sebelum Elena dan yang lainnya.
mereka duduk disofa sudut ruangan yang sedikit menjauh dari keramaian, ya walaupun masih menjadi pusat perhatian setiap orang.
apa lagi Elena kulit putih nya sangat kontras dibawah lampu remang remang ruangan ini.
seorang pria dengan wajah khas Tionghoa mendekati kearah mereka dan langsung duduk di samping Elena, Elena sedikit menggeser duduknya agar menjauh dari pria itu.
"kau sangat cantik malam ini El" ucap pria itu menatap Elena dengan sulas senyum hangat.
"terimakasih" ucap Elena sembari menyesap wine di tangan nya.
"kalian sudah jarang kemari ya" ucap pria itu menatap yang lainnya.
"maaf ko Axel, koko tahu kesibukan ku dengan El bagaimana kan?" ucap Dita sedikit terkekeh melihat wajah kesal Axel.
Axel adalah pemilik bar ini. bar yang hanya bisa dimasuki oleh orang kalangan atas. Axel juga salah satu dari sekian banyak pria yang mengejar Elena.
"iya si paling sibuk" jawab Axel terkekeh juga.
Dari sudut yang berbeda, ada seorang pria yang menatap kearah Elena dan sahabat nya.
mata nya yang tajam terus memperhatikan Elena "seperti nya Axel juga menyukai nona El, tuan" ucap Halid.
iya pria itu adalah Aron, siapa sangka Elena dan Aron masuk bar pada waktu yang hampir bersamaan dan hanya Aron yang melihat Elena sedangkan gadis itu tidak tahu.
"tapi nona tidak menanggapi nya Halid" ucap Zio mengikuti arah mata sahabat dan bos nya.
"kau cantik sekali malam ini, terlihat sangat dewasa dan juga menggoda. ck lihatlah mata para pria itu ingin sekali aku mencoloknya" batin aron masih menatap Elena.
Beberapa saat kemudian ada 2 orang wanita yang mendekat kearah Aron dengan pakaian minim nya.
"hay tuan Aron, bagaimana kabarmu?" ucap salah satu wanita dengan gaya genit nya.
"pergi, aku tidak butuh kalian" ketus Aron menepis kasar tangan wanita penghibur itu.
kedua wanita itu pun pergi dengan hati yang dongkol, tidak biasanya Aron menolak godaan mereka.
bukan hanya kedua wanita itu, Halid, Hugo dan juga Zio berfikir hal yang sama, semenjak pulang dari kota B bos mereka tidak pernah berkencan lagi dengan wanita mana pun.
waktu terus berjalan, tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.
Elena melihat arloji ditangan nya "pulang yuk" ajak Elena kepada ketiga sahabat nya
mereka tidak ada yang mabuk karena harus menjaga satu sama lain, apa lagi Rasya, wanita itu tidak menyentuh alkohol sedikit pun. dokter muda itu terlalu protektif.
Elena berjalan dibelakang sahabat nya sembari memperhatikan ponsel nya, Elena berbalas pesan dengan Dinda.
Brukkkk
"awwww" Elena tidak sengaja menabrak bahu seorang pria, untung saja tangan pria itu sigap menangkap pinggang Elena jika tidak wanita itu akan terjatuh.
"maafkan aku, aku terlalu fokus pada ponsel" ucap Elena lalu permisi untuk pergi.
pria itu tersenyum didalam masker hitam yang dipakai nya "ini yang kedua" gumam pria itu memandang penjepit bunga mawar kecil di tangan nya.
pria itu adalah Aron, sebenarnya Aron sengaja menubruk Elena karena merasa sangat rindu dan ingin menyentuh gadis itu.
penjepit rambut itu Aron dapatkan saat Elena menundukkan kepalanya, penjepit itu merosot dari rambut lembutnya.
Di mobil, mereka menuju kediaman Dita dengan diselingi oleh guarauan, Jessica memutuskan untuk menginap dirumah Rasya.
"seperti ko Axel menyukai El" celetuk Rasya di sela sela obrolan mereka
"gila sih ko Axel, padahal tahu beda agama tapi masih nekat aja" ucap Jessica tertawa.
mereka benar benar bingung melihat pria pria yang mengejar sahabat mereka satu ini, mereka menyadari bahwa Elena sangat lah cantik apa lagi tubuh nya yang terbilang bagus.
hanya saja mereka enggan menyerah dan terus mengejar, membuat Elena kesal. hari Elena di penuhi dengan umpatan karena tindakan para pria itu.
mereka akhirnya sampai dirumah Dita "kau buka pintu deh El, belanjaan biar kami bawa" ucap Dita dan Elena mengangguk.
mereka memang menyempatkan belanja tadi ralat Dita yang belanja karena kebutuhan dirumah sudah menipis.
Elena membuka pintu rumah itu dan langsung masuk, Elena menghidupkan lampu ruang tengah.
betapa terkejutnya Elena saat melihat seorang pria sedang duduk disofa yang biasa mereka duduki
"akhirnya kamu pulang" ucap pria itu berdiri dari duduk nya
"kau ngapain di rumah ku brengsek, pergi kau Wahyu brengsek!" bentak Elena menatap tajam pria itu.
iya, pria itu adalah Wahyu mantan kekasih Elena, kalian ingat Wahyu? teman Bagas kekasih nya Rasya
Wahyu menatap Elena sendu, wanita yang dulu menampilkan senyum manis didepan nya kini membentak nya dengan emosi yang memuncak.
Wahyu berjalan mencoba mendekati Elena, rasa rindu didalam diri Wahyu begitu besar kepada Elena
"jangan dekati aku brengsek!" bentak Elena yang terus mundur.
Di luar rumah, Jessica, Rasya, dan juga Dita terkejut mendengar suara bentakan Elena.
mereka langsung cepat cepat menyusul Elena yang sudah lebih dulu masuk kedalam rumah.
plakkkkkk
mereka bertiga terkejut saat melihat Elena menampar pipi Wahyu dengan sekuat tenaga
"aku bilang jangan dekati aku sialan!" bentak Elena dengan mata sudah memerah karena emosi.
"bagaimana dia bisa masuk?" gumam Rasya bingung.
Dita langsung berlari menghampiri Elena yang tubuhnya sudah bergetar menahan tangis.
"pergi" ucap Dita tanpa melihat kearah Wahyu, Dita langsung menggiring Elena untuk naik kelantai 2 dimana kamar mereka berada.
sedangkan Jessica dan Rasya menusir paksa Wahyu yang hendak mengejar langkah Elena
"****!! pergi kau brengsek, apa tidak cukup kau menyakiti El, pergi" bentak Rasya yang sudah tersulut emosi.
Wahyu pun pergi dengan langkah gontai, perjuangan nya masih juga belum dilihat Elena. gadis itu terlalu membenci dirinya.
setelah memastikan Wahyu pergi, Jessica dan Rasya langsung mengunci pintu setelah berlari menyusul kekamar Elena.
Di kamar Elena, Dita terus mengusap peluh yang membasahi dahi Elena dan juga terus memberikan minum.
tangan Elena terlihat bergetar "tenang lah El" ucap Dita memeluk Elena, hati Dita terasa tersayat melihat sahabatnya begitu terluka.
Elena sangat enggan didekati oleh pria masa lalu nya karena, ketika mereka mendekat apa lagi menyentuh bayangan buruk masa lalu berputar kembali di kepala Elena seperti kaset rusak.
psikis Elena cukup terganggu hanya saja tidak terlalu terlihat, wanita ini sangat pandai menyembunyikan ketakutan nya.
"besok kau pindah ke apartemen ku El, didepan apartemen ku ada apartemen kosong yang sudah dibeli orang tua ku"
"keamanan disana terjaga, jangan menolak ku El aku sangat takut dia datang lagi" ucap Jessica setelah Elena mulai tenang.
Elena ingin menolak tetapi melihat tatapan memohon ketiga sahabat nya membuatnya hanya bisa pasrah dan hanya mengangguk saja.
.
.
.
kurang ajar banget Wahyu ya bestie asal masuk aja kerumah orang seperti maling.
jangan lupa dukung author dan ikutin kisahnya terus ya bestieš„°