My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
KABAR KEMATIAN BRAM



Tanpa terasa dua tahun sudah berlalu setelah perpisahan kedua orang tua Elena dan mereka memilih membinah keluarga baru.


Elena juga sedikit demi sedikit menerima Deni sebagai papa tirinya karena sudah menikah dengan mama nya.


Mau melarang juga tidak mungkin, kebahagiaan orang tua lebih penting dari pada diri sendiri pikir Elena.


Kehidupan Elena juga berjalan dengan baik, sekolahnya juga terus berjalan walau tidak sedikit mendapat cecaran dari teman sekelasnya.


"Mau pulang bareng?" tanya Dinda yang satu tahun lebih tua dari Elena tetapi mereka tumbuh bersama sedari kecil


"Boleh" ucap Elena dan langsung naik ke sepeda Dinda lalu mereka pulang bersama.


°π°π°π°π°π°π°π°π°π°π°π°π°π°π°π°π°π°π°


Di malam yang sepi, Elena sedang duduk diatas sofa ruang tamu sembari menonton TV.


Elena menoleh kearah pintu dan melihat Bram yang baru pulang dengan raut wajah yang datar


"Papa!" pekik Elena dan langsung memeluk Bram


Bram mengelus pucuk kepala putrinya dan tersenyum manis kearah Elena yang sedang memandang nya.


"Mama! mama mana ya" bingung Elena yang seperti tidak melihat kehadiran ibunya di sana.


"papa kenapa baru pulang? papa keman...."


Dorrrrr


"AKHHHHHH"


Brukkkkk


"PAPAAA!" teriak Elena lansung terbangun dari tidurnya dengan peluh yang mengucur deras di dahinya.


Nafas Elena memburu karena. mimpi buruk yang dialaminya begitu mengejutkan.


"Kenapa El?" tanya Ani yang langsung masuk kedalam kamar putrinya bersama Deni.


Elena tidak menjawab, Elena mencoba untuk mengatur nafas nya karena dada nya terasa begitu sesak


Drttt Drttt Drttt


Elena menoleh dan langsung mengambil ponselnya, tertera nomor tidak dikenal menghubungi Elena pada pukul jam 2 malam.


"Halo?" ucap Elena setelah panggilan terhubung


"Hikss hikss, El papa El" ucap suara wanita dari seberang sana.


Elena mematung, suara ini, Elena tahu suara siapa yang ada di seberang sana dan sedang menangis.


"Ada apa dengan papa?" tanya Elena dingin


"Papa meninggal El" ucap wanita bernama Sumi yang sebagai ibu tiri Elena.


Deghhhhh


Ponsel Elena langsung terjatuh kepangkuan gadis itu, Elena mematung dan tanpa permisi air mata nya luruh kepipinya.


Ani bingung melihat putrinya dan langsung mengambil ponsel Elena, setelah mendengar kabar itu Ani pun langsung menangis.


Bagaimana tidak sedih, 20 tahun lamanya membinah rumah tangga bersama Bram dan kini harus mendengar kabar kematian pria itu.


"Pa...papa" ucap Elena terbata dan langsung jatuh pingsan.


Ani semakin histeria melihat putrinya terkulai lemas dalam pelukan nya, kabar duka ini begitu mengejutkan bagi Ani.


Pagi harinya kedua saudara Elena pun datang, mereka menangis karena melihat Elena yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Na, bangun dek ini kakak" lirih Anggi, putri pertama Ani dan Bram


"Dek" panggil Rico, putra kedua Ani dan Bram


Mereka sudah cukup terpukul mendengar kabar kematian Bram dan kini harus bersedih melihat keadaan adik kandung mereka.


"Papa" lirih Elena pelan dan sedikit demi sedikit membuka matanya.


Elena mencoba mengingat apa yang terjadi, seketika tangisan Elena pecah saat mengingat apa yang menimpa keluarganya.


Semua keluarga Elena semakin bersedih mendengar tangisan pilih gadis kecil yang begitu akrab dengan papanya.


"Papa" ucap Elena semakin tersedu.


Setelah menempuh perjalanan selama 2jam lamanya, rombongan keluarga Elena pun sampai di rumah duka.


Rumah keluarga baru Bram, rumah sumi sudah terlihat sepi hanya tinggal beberapa orang saja disana.


"Mana papa bude? papa sehat kan bude? papa mana?" cecar Elena


"Papa sudah tidak ada nak"


Deghhhhh


Elena yang berharap semuanya hanya kepura puraan pun mematung mendengar ucapan bude nya yang terdengar pilu.


"E..enggak, gak mungkin bude, papa pasti masih hidup, dimana papa, papa!" teriak Elena berlinang air mata


"Papa ini aku pah, papa mana papa!!" teriak Elena seperti oranga gila


"Papa sudah tidak ada El" ucap Sumi memeluk Elena


Elena langsung mendorong kasar Sumi, terlihat wajah gadis itu yang sudah berubah menjadi marah


"Kau membunuh papa ku! dimana papa ku? katakan! dimana papa ku, kau membunuh nya!" teriak Elena menatap nyalang Sumi.


"Kami sudah mengebumikan nya lebih dulu El" ucap Sumi menangis


"Kau membunuh papa ku, kau wanita pembunuh penghancur kebahagiaan ku, pembunuhh!!" teriak Elena hendak menghajar Sumi tetapi ditahan Rico.


"Lebih baik kita langsung kepemakaman papa kalian" ucap Ani yang merasa kasihan dengan putrinya.


Tidak jauh dari rumah itu, mereka pun sampai di depan tempat pemakaman umum dan langsung menuju makam Bram.


"Papa" lirih Elena menumpahkan semua air matanya.


"Papa bangun papa ini Na papa, bangun papa!" teriak Elena menggali gali tanah yang masih basah itu dengan tangan nya.


"Papa bangun papa, temui aku papa temui aku" ucap Elena memukul mukul nisan atas nama Bram itu.


Semua keluarga Elena juga tidak bisa menghentikan gadis itu, semuanya terjadi begitu tiba tiba membuat gadis ini syok.


Setelah kematian Bram sedikit demi sedikit sikap Elena berubah, masih terlihat ceria memang tetapi gadis itu kerap menangis sendiri pada malam hari.


Elena mencoba menutupi lukanya dengan senyum dan tawa yang riang di depan semua orang agar terlihat tetap kuat.


Padahal sesungguhnya mental gadis itu benar benar hancur dan berantakan karena cobaan yang terus menerjang hidupnya.


**FLASHBACK OFF** :


Aron yang mendengar cerita Elena pun menitikan air mata, sesakit nya masa lalu Aron lebih sakit lagi hidup Elena yang menanggung sakit tanpa menceritakan kepada siapa pun.


"Aku membenci mereka" lirih Elena dalam pelukan Aron.


Elena menceritakan semuanya kepada Aron setelah pulang dari taman saat bertemu dengan Sumi tadi.


"Memang hak mu sayang, tetaplah kuat kamu tidak sendiri" ucap Aron mengecup kening Elena


"Aku tidak percaya kalau papa sudah meninggal Aron, tetapi sudah 7 tahun berlalu dia tidak menemuiku juga" ucap Elena


"Dia sudah tenang di alam sana sayang" ucap Aron mengusap air mata Elena


"Aku berharap suatu hari nanti dia menemuiku dengan keadaan yang masih hidup" gumam Elena.


"Aku harus bertanya pada papi tentang om Bram, setiap mendengar nama om Bram, aku yakin pasti papi tahu sesuatu" batin Aron


"Ada apa sayang?" tanya Elena saat melihat Aron bengong


"Hem? tidak ada sayang, hanya memikirkan kita akan berlibur kemana saat libur kuliah mu tiba" ucap Aron


"Ingin berlibur kemana? rasanya begitu malas" ucap Elena


"Susah punya calon istri mageran" ucap Aron malas


"Dihh ada untung nya juga tau" ucap Elena


"Apa untung nya hem?" tanya Aron


"Ya aku tidak sering keluyuran kesana kemari dan berpergian kesembarang tempat" jawab Elena membanggakan diri.


Aron terkekeh mendengar jawaban Elena "Aku selalu menang menghadapi apa pun tapi aku kalah jika berdebat dengan mu" ucap Aron


Elena tertawa mendengar ucapan Aron, Aron juga senang melihat tawa Elena paling tidak gadis ini sedikit melupakan rasa sedih nya.


.


.


.


kiwww, minta dukungan nih author maksa.