My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
MEMANTAU



Sebulan sudah setelah kedatangan Dinda, dan kini Elena sudah tinggal sendiri kembali karena Dinda hanya 3 hari di apartemen nya.


Hari ini Elena sedang rapat bersama Laras, Dita dan beberapa staf butik penting lainnya.


Drtt Drtt Drtt


ponsel Elena bergetar diatas meja rapat, semua orang langsung menoleh kearah nya.


"saya permisi" pamit Elena berlalu keluar dari ruangan rapat.


Elena mencabik kesal saat melihat siapa yang sedang menelpon nya, ternyata yang menelpon adalah Martin.


"halo selamat siang, ada yang bisa saya bantu" ucap Elena formal setelah panggilan terhubung.


"halo nona cantik, aku sudah berada di kota ini sekarang kapan kita akan bertemu?" tanya Martin dari seberang sana.


"terserah anda saja tuan" jawab Elena dengan malas.


"baiklah akan ku tunggu kedatangan mu sore ini, di star shine restauran" ucap Martin


"baik sore ini saya akan kesana" jawab elena dan langsung memutuskan panggilan itu.


setelah rapat selesai, Elena dan Dita sedang berada di ruangan Laras untuk menyerahkan beberapa berkas.


"sore ini El ada pertemuan sama Coustemer bun" ucap Elena dengan mata yang fokus pada bermasalah ditangan nya.


"siapa nak?" tanya Laras bingung, setahunya hari ini Elena tidak ada pertemuan dengan siapa pun.


"tuan Martin"


"APAA!!" Dita dan Laras terkejut secara bersamaan


"ck jangan berteriak" gerutu Elena mengusap telinga nya yang terasa berdengung.


"kenapa tidak membuat janji dari jauh hari El?" tanya Duta sedikit tidak Terima


"tua bangka itu ingin bermain main dengan ku" ketus Elena yang juga merasa kesal karena keputusan Martin.


"digantikan Dita atau staf lain saja ya sayang" pinta Laras yang tahu perangai Martin kepada putri angkat nya.


"tidak usah bun" tolak Elena yang pekerjaan nya tidak ingin dicampuri oleh orang lain.


"yaudah aku temani" ucap Dita yang juga merasa khawatir sama seperti Laras.


Elena pun setuju, dari pada emosi nya tersulut dan tidak ada yang mencegah, bisa saja dia mencabik cabik wajah Martin nantinya.


Diperusahaan smith Groupe tepatnya diruangan Aron, Aron terlihat murka setelah mendengar kabar dari Hugo.


Hugo melaporkan jika Martin akan melakukan pertemuan dengan Elena, dan itu bertepatan sore ini juga.


"ck, Martin brengsek dia tidak jera juga" gerutu Aron yang sudah tersulut emosi nya.


"tenang tu..."


"DIAM!! bagaimana aku bisa tenang? Elena akan bertamu dengan pria mesum itu!" bentak Aron mengusap wajahnya kasar.


"sepertinya tuan lupa sesavage apa mulut nona muda" batin Hugo megusap tengkuknya.


"begini saja tuan, jika tuan merasa khawatir dan tidak terlalu percaya terhadap pengawal kita"


"bagaimana kalau kita mengikuti nona muda? kita memantau mereka dari jauh" tawar Hugo.


seketika raut wajah Aron langsung berubah, dan Aron pun menyetujui usul dari Hugo.


Sore haripun tiba, kini Elena sudah berada didalam mobil dengan dikendarai oleh Dita sendiri.


"kamu yakin El?" tanya Dita sedikit ragu.


tadi mereka sudah melalui perdebatan panjang dikarenakan Dita yang ingin menggantikan Elena


"tua bangka itu tidak akan mau tanda tangan pembelian sampai aku sendiri yang mendatangi nya"


"aku tahu maksud dan tujuan dia apa melakukan pembelian besar besaran seperti ini"


Dita mengangguk paham, memaksa pun percuma sahabat nya ini berkepala batu.


Tidak lama mereka sampai di sebuah restauran mewah ditengah kota, Elena dan Dita langsung masuk kedalam restauran itu.


Mereka berdua langsung disambut oleh pemilik restauran ini, ya karena mereka ingin bertemu Martin.


Elena dan Dita digiring kesebuah private room, yang terletak di lantai atas restauran ini.


terlihat di sana sudah ada Martin dan beberapa bodyguard yang setia berdiri dibelakang nya seperti manekin.


Elena dan Dita berjabat tangan dengan mati sebagai formalitas saja, sejujurnya Elena enggan berjabat tangan dengan tua bangka itu.


"baik tuan Martin, ini dok..."


"jangan buru buru nona, ayo kita makan lebih dulu" ajak Martin mengeringkan mata nya.


tangan Elena terkepal dibawah meja, Elena ingin sekali memukul kepala Martin dengan vas bunga kecil yang ada didepan nya.


akhirnya mereka pun menyetujui keputusan Martin, dan kini meja yang tadinya kosong terisi banyak macam makanan.


"kenapa kau semakin kurus nona Elena?" celetuk Martin membuat Dita hampir saja tersedak.


Elena tidak memperdulikan ocehan Martin dan terus memakan makanan nya.


sedangkan Dita sudah gelagapan lebih dulu "ck bisa bisanya dia memperhatikan tubuh El yang memang semakin kurus" Dita menggerutu dalam hati.


Martin terus memperhatikan setiap inci wajah dan tubuh Elena yang masih berada didalam jangkauan mata nya.


"tapi kau semakin terlihat menggairahkan nona cantik"


Tinggggg


Elena meletakkan sendok dan garpu secara kasar hingga membuat dentingan yang kerasa diruangan sunyi itu.


Dita pun ikut terjingkat "mampus" batin Dita yang melihat ekspresi sahabat nya yang sudah berbeda.


"jaga ucapan anda tuan Martin!" bentak Elena.


"hahaha kenapa kau marah? bagaimana jika kita mencoba banyak gaya malam ini?" tawar Martin menggerakkan alisnya naik dan turun.


"jaga cara bicara anda tuan Martin, jangan memandang semua wanita seperti ja**ng yang pernah kau ajak tidur"


"sudah pernah ku katakan kepadamu kekayaan mu pun tidak bisa membeli ku, pria yang hanya memikirkan sel****ngan seperti mu bisa apa?"


"milikmu terlalu murah untuk ku yang terlalu mahal, milikmu sudah diketahui banyak wanita bukan?" Elena berbicara dengan sangat arogan.


"cihh.. kau tak ubahnya seperti jal**g lain, kau akan sedia jika aku Membayar mahal bahkan lebih dari apa yang kau punya"


"jangan lah jual mahal terhadap ku, selama ini wanita yang mendatangi ku untuk dipuaskan nona" Martin pun tak kalah arogan.


"jangan sampai ular piton itu berubah menjadi cacing tanah tua bangka" ucap Elena dengan nada mencibir


Brakkkk


Martin menggebrak meja karena ucapan Elena, Elena menarik sudut bibir nya merasa ucapan nya tepat sasaran.


"jangan terlalu kau banggakan dengan apa yang kau punya saat ini, tua bangka seperti itu seharusnya meminta pengampunan dari Tuhan"


"lihatlah tubuhmu yang seperti pandai itu! ck ck ck, aku saja malu jika harus mengumbar tubuh seperti itu ke orang lain"


Martin semakin tersulut emosi, bibir wanita ini benar benar beracun bahkan ucapannya pun selalu mengena ulu hati lawan bicaranya.


"TUTUP MULUT MU!!" bentak Martin dengan suara menggelegar.


Elena menyambar tas nya dan melenggang pergi dengan tawa yang keras, tawa itu membuat harga diri Martin semakin tergores.


"kita lanjutkan lain waktu tuan Martin, nanti nyonya Laras yang akan menemui anda langsung"


Dita langsung berlari menyusul Elena yang sudah keluar, sedangkan Martin hanya bisa mengamuk ke anak buahnya, dia tidak ingin menyakiti Elena karena masih menginginkan wanita itu.


Di tempat yang sama tetapi di ruangan yang berbeda, Halid, Hugo dan juga Zio tertawa terbahak bahak.


sedangkan Aron hanya terkekeh kecil, mereka tadi menyaksikan bagaimana Elena menginjak harga diri Martin tepat didepan muka bodyguard nya.


Hugo meretas rekaman CCTV restauran ini sehingga mereka bisa melihat semuanya dari awal Elena masuk hingga kini Elena pergi.


"aku benar benar merasa puas karena nona bisa menghina Martin" kelakar Zio yang masih diselingi dengan tawa


"kau benar Zio, kau lihat tadi wajahnya seperti udang rebus" kekeh Halid memegangi perut nya yang terasa keram.


"kau nakal sekali sayang, kau membuat rival ku begitu kecewa dan marah padahal dia sangat menginginkan mu"


"mulutmu itu juga sangatlah tajam melebihi belati kepunyaan ku" batin Aron terkekeh kecil.


Didalam mobil Elena mengumpat habis habisan seakan mengeluarkan seluruh emosi yang ada dalam dirinya.


Drtt Drtt Drtt


ponsel Elena berdering dan tertera nama Laras disana, Elena langsung mengangkat nya karena tahu Laras pasti khawatir


"aku yakin setelah ini dia akan menemui bunda, terserah dia akan menyetujui atau tida" ketus Elena saat panggilan sudah terhubung.


Laras sudah tahu situasi nya karena Dita tadi mengiriminya pesan, mengabarkan tentang pembelian antara butik dan Martin.


"baiklah sayang tenangkan dirimu, setelah ini bunda yang akan urus" ucap Laras dengan suara lembut.


setelah berbincang beberapa saat Elena mematikan sambungan telepon itu, hatinya masih dongkol dengan perlakuan Martin tadi.


sedangkan Dita hanya bisa diam tanpa ingin berbicara, kemarahan Elena membuat nyalinya menciut seakan krupuk yang disiram air terlebih air itu air panas.


.


.


.


hayo hayo penasaran ga nih Martin akan berbuat apa setelah ini, atau Aron yang lebih dulu bertindak? atau keadaan berjalan sesuai rencana? yuk ikutin terus ceritanya.


jangan lupa dukungan buat author ya bestie agar semangat up nya😄.