
Pagi hari yang cerah, keempat sahabat Elena yang disertai juga Merry sudah berada dikantor polisi untuk melaporkan kehilangan Elena setelah 24 jam lebih.
Mereka semua menceritakan interaksi terakhir mereka dengan Elena, polisi juga mengatakan akan melacak keberadaan ponsel Elena.
"Semoga El cepat kembali ya, aku sudah sangat khawatir dengan keadaannya" ucap Dita dengan harapan yang sama dengan yang lain.
Sedangkan jauh dari kota tepatnya di mansion mewah milik Aron, Elena sedang duduk disofa yang ditemani oleh bik Minah.
Aron sendiri sedang berada diruang kerja nya bersama Halid, Hugo dan Zio ditugaskan Aron untuk mengerjakan sesuatu.
"Ck aku bosan sekali jika seperti ini" gerutu Elena mengacak rambutnya
Setelah selesai sarapan Elena tidak melakukan apa pun dan itu cukup membuatnya bosan dan jengah.
Suara ketukan sepatu pantofel terdengar mendekati Elena, Elena melirik ketika melihat siapa yang datang semakin membuatnya jengkel.
"Kenapa sayang? kenapa wajah mu ditekuk seperti itu?" tanya Aron dengan wajah tidak bersalahnya
"Aishhh wajahmu sangat membuat ku kesal, jadi kapan kau akan mengantar ku pulang?" tanya Elena dengan malas
"Ini rumah mu sayang, harus berapa kali aku harus mengatakan nya?" tanya Aron duduk disamping Elena.
Belum sempat Elena melanjutkan protes nya, Hugo dan Zio pun datang dengan raut datar mereka.
"Orang orang dirumah ini memiliki wajah seperti kanebo" gerutu Elena yang semakin kesal.
Dia dari tadi memang ditemani oleh bik Minah, tetapi wanita paruh baya itu tidak mengajak nya mengobrol sedikit pun.
"Katakan" titah Aron saat dua orang kepercayaan nya sudah duduk di hadapan nya
"Seperti yang Anda duga tuan, Martin memang memantau apartemen nona dan dia juga tahu bahwa nona tidak pulang semalaman" lapor Hugo.
Elena langsung menegakkan tubuh nya "apa kata mu? tua bangka itu? kenapa dia memantau ku?" cecar Elena
"Ini kedua kalinya aku melihatmu banyak bicara sayang" celetuk Aron tersenyum kecil.
"Hah? Ehh.. benar juga" gumam Elena menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Martin ingin menculikmu sayang" ucap Aron menatap Elena
"APAAAA!!!" teriak Elena terkejut.
Seketika mereka yang ada diruangan itu terjingkat kaget, bahkan beberapa pengawal yang lewat pun hampir saja tersandung.
"Kenapa dia ingin menculik ku? maksudku, apa untungnya?" Tanya Elena bingung.
Zio mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman suara Martin yang mengatakan apa tujuannya menculik Elena.
"Aishhh tua bangka itu, aku tidak salah mengatakan hal hal buruk itu kepadanya bukan? dia memang mesum" gerutu Elena membela diri
"Benar sayang, kau tidak salah dia pantas mendapatkan nya" ucap Aron mendukung Elena.
"Nah bagus kau percaya padaku" ucap Elena
"Jadi sayang, jika malam itu aku tidak membawa mu mungkin sekarang ini kau sudah berada di tangan Martin dan aku tidak suka itu"
"Aku akan menjaga mu sayang" ucap Aron dengan tulus
Seketika Elena tertegun dengan penuturan Aron, seketika juga Elena lupa kapan terakhir kali dia mempercayai ucapan seorang pria.
"Jangan mencintai ku begitu dalam, aku tidak bisa memastikan aku akan membalasnya atau tidak" lirih Elena sedikit terharu
"Aku tidak meminta kau mencintai ku, cukup aku mencintaimu dan kau berada disamping ku sudah lebih dari cukup" ucap Aron tersenyum hangat.
Entah mengapa hati Elena begitu menghangat mendengar penuturan Aron, tetapi gengsi Elena begitu besar untuk memahami hatinya.
"Terimakasih, tetapi aku bisa menjaga diriku sendiri aku mohon antarkan aku pulang" mohon Elena dengan air muka yang dibuat memelas
Aron begitu tidak tega tetapi cepat cepat Aron nenepia rasa tidak tega itu, keselamatan Elena terancam saat ini.
"Jangan mulai sayang, minta lah yang lain maka akan aku berikan" ucap Aron berusaha menahan diri.
"Aishhh percuma saja" gerutu Elena dalam hati mengumpati diri Aron "intinya aku harus bisa kabur dari sini" batin Elena dengan tekad kuat.
"Kau tidak akan bisa kabur sayang" celetuk Aron yang seakan bisa mendengar suara hati Elena
"Kenapa tidak?" tanya Elena dengan nada angkuh
"Diluar berbahaya" jawab Aron santai
"Aku sudah biasa hidup sendiri tanpa pengawasan dari siapa pun, jangan menganggap ku seperti anak kecil" ketus Elena menatap tajam Aron
"Ck, aku tidak bisa menjamin kau akan selamat jika melewati gerbang mansion ini" ucap Aron yang terpaksa jujur dengan Elena.
"Apa maksud mu?" tanya Elena dengan kening mengerut
"Kita berada ditengah hutan" jawab Aron memandang Elena dalam
"Hah? ditengah hutan? hahahahahaha kau pikir aku percaya ada rumah semewah ini ditengah hutan?" ucap Elena tertawa terbahak bahak
Aron berdecak kesal, Aron menarik pelan tangan Elena agar ikut bersamanya, seketika tawa Elena lenyap
"Kau mau membawa ku kemana? lepaskan" ucap Elena memberontak
"Akan aku buktikan jika kau tidak percaya" ucap Aron yang langsung merangkul pinggang Elena.
Aron langsung melesatkan mobilnya keluar mansion, seketika mata Elena terbelalak saat melihat sekeliling yang dipenuhi pepohonan rindang.
Aron terus melajukan mobilnya sedikit lebih masuk kedalam hutan, mata Elena terus menyusuri sekitaran yang dilewatinya.
"Sudah percaya?" tanya Aron menghentikan mobilnya.
Elena mengangguk, Elena membuka kaca mobilnya tetapi cepat cepat Aron tutup kembali.
"Bahaya sayang, disini banyak hewan buas" ucap Aron menunjuk macan tutul yang lewat didepan mobil mereka
"Astaga!! itu macan" pekik Elena terkejut
"Masih ingin kabur?" tanya Aron menatap Elena dan Elena pun menggeleng
"Kau gila? bisa diterkam macan aku jika keluar sendiri" celetuk Elena masih menatap sekeliling.
Aron pun langsung memutar balik mobilnya dan melaju menuju mansion mewah nya.
Seharian ini Elena tidak melakukan aktivitas apa pun, para pelayan dirumah ini juga tidak ada yang bisa diajak bicara.
Sedangkan pengawal semua pria, Aron melarang Elena untuk berbicara dengan pria lain jika tidak ada hal yang berkepentingan.
Malam hari pun tiba, Elena sudah memakai piyama yang ada dikamar yang ditinggalinya yang berwarna kuning.
Saat Elena masih memakai body lotion yang bermerek sama seperti nya Aron masuk kedalam kamar itu.
Semua barang barang disini seperti milik Elena, pakaian yang Elena tahu berharga mahal pun berukuran dirinya serta merek² Scinkare lainnya.
Ketika Elena bertanya kepada Aron, Aron hanya menjawab "itu semua memang disiapkan untukmu" jawab Aron yang membuat Elena bingung.
"Kenapa kau masuk kekamar ini? lalu kau menguncinya juga, jangan macam macam terhadapku ya" ketus Elena memandang Aron tajam.
"Ini kamar ku juga sayang, apa kau tidak melihat dilemari sebelahnya banyak pakaian ku?" ucap Aron berjalan ke walk in closed
"Benar juga" Batin Elena yang pernah melihat pakaian Aron di lemari sebelah lemari yang berisi pakian nya.
Aron kembali dengan memakai piyama berwarna hitam, warna kesukaan nya sama seperti hidupnya yang gelap tetapi kini Elena sudah menjadi penerang nya.
"Jika ini kamar mu, maka aku tidur dimana?" tanya Elena memandang Aron
"Di ranjang itu sayang" jawab Aron duduk di sisi lain tepi ranjang
"Lalu kau?" tanya Elena bingung menatap Aron yang duduk diranjang yang sama dengan nya.
"Disini juga sayang, ini kamar kita berdua" jawab Aron menghela nafas
"A..apa maksud mu? aku tidak mau tidur bersama kita bukan muhrim nya" tolak Elena dengan keras
"Kau calon istriku anggap saja ini simulasi" ucap Aron berbarin lebih dulu disamping kanan Elena
"A..aku tidak mau" tolak Elena yang ntah mengapa jantung nya berdebar hebat
"tidak ada penolakan sayang, kau tidak bisa keluar dari kamar ini dan jika kau tidur disofa maka akan kupastikan kau bangun berada di ranjang" ucap Aron santai
Elena berdecak kesal, seketika otak cerdas Elena bekerja, Elena meletakkan dua guling sekaligus ditengah tengah mereka sebagai pembatas.
"Kau jangan melewati ini" ketus Elena memandang Aron
"Baiklah" jawab Aron memejamkan matanya.
Elena ikut berbaring disisi sebelahnya, setelahnya Aron mematikan lampu kamar itu hingga suasana menjadi gelap gulita.
"Uwahhhhhh!!" teriak Elena langsung melompat kearah Aron dan memeluk tubuh kekar itu.
Elena langsung menangis sekencang mungkin karena keadaan ruangan yang gelap, Aron terkejut melihatnya.
Seketika Aron teringat bahwa Elena sangat takut dengan gelap, Aron langsung menghidupkan kembali lampu dan kamar itu kembali terang.
"Tenanglah sayang, maafkan aku ya aku lupa jika kau takut gelap" ucap Aron mengelus punggung Elena.
Elena tersadar telah memeluk Aron, dalam keadaan sesenggukan dan juga pipi yang memerah Elena menggeser tubuhnya agar menjauh dari Aron.
"Ja..jangan lewati pembatas ini" ucap Elena dan membaringkan tubuhnya.
Tidak butuh waktu lama dengkuran halus pun terdengar, Aron tersenyum kecil melihat wajah imut yang sedang tertidur disamping nya.
Aron mengambil guling yang ada ditengah mereka dan membuang nya kesembarang tempat.
Secara perlahan Aron mendekati Elena dan langsung memeluknya, Elena menenggelamkan wajahnya kedada bidang Aron.
Aron tersenyum kecil melihatnya, Aron mengecup wajah Elena dan berakhir dikeningnya setelah itu dia juga ikut tertidur.
.
.
.
Sosweet wkwk
Jangan lupa uang parkir ny hihi