My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
RUMIT



Pagi yang sedikit berawan, angin berhembus cukup kencang, Elena baru saja sampai di kampus dengan mobil mewah nya.


Sudah bukan hal yang baru jika Elena menjadi pusat perhatian baik mahasiswa maupun mahasiswi.


"El" panggil Jessica dan langsung menyamakan langkah nya dengan Elena.


"Dita sama Rasya mana?"


"Ada kelas cepat mereka jadi udah dikelas masing masing mungkin"


Elena hanya mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju kelas, semua orang yang Elena lewati pasti menatap kagum gadis itu.


Elena dan Jessica pun sampai di kelas mereka, disana sudah ramai mahasiswa lainnya yang sekelas dengan mereka.


Elena duduk di bangku nya dan melihat ada secarik amplop diatas mejanya, amplop itu berwarna putih.


"Dari siapa itu?" tanya Jessica dan Elena hanya mengendikkan bahunya karena memang tidak tahu juga.


Elena membuka amplop itu, Elena terbelalak melihat apa isi dari amplop putih tanpa pengirim itu.


"Mirip dengan mu El" celetuk Jessica


Isi dari amplop itu adalah foto seorang gadis berusia 10 tahun yang sedang tertawa disebuah ayunan taman.


"Keponakan ku" ucap Elena dan langsung menyimpan amplop itu.


Jessica pun percaya saja dan kembali duduk di bangku nya karena dosen mereka sudah masuk.


"Siapa pengirim foto foto ini, seingat ku aku sudah membuanh habis foto lama ku dan hanya menyisakan foto keluarga kami saat aku berusia 6 tahun"


Elena terus berusaha fokus pada mata kuliahnya tetapi kepalanya terus berputra tentang pengirim foto foto itu yang sudah terjadi dua kali.


"Kenapa aku tiba tiba terbayang pria bermata hijau itu, astaga ada apa ini" batin Elena mengusap wajahnya kasar.


"Maaf Bu, saya permisi ada kepentingan mendadak"


"Baik non" ucap dosen wanita itu


Siapa yang bisa menyangkal Elena lagi disini setelah mengetahui siapa dirinya, jika pun ada pasti sudah bosan dengan hidup tenang nya.


Elena langsung pergi keluar kelas nya karena untuk saat ini tidak memungkinkan untuk belajar dengan baik.


Jessica bingung dengan Elena, ingin menyusul tetapi tidak ingin ketinggalan materi alhasil Jessica mengirimi Elena pesan saja.


Setelah mendapat jawaban bahwa Elena akan kekantor Aron, Jessica baru bisa bernafas lega dan tidak terlalu mengkhawatirkan Elena.


Elena melajukan mobilnya benar benar menuju ke perusahaan Aron, tidak tahu apa yang gadis ini lakukan.


"Semenjak kenal Aron kenapa hidupku serumit ini, Ahhhh aku pusing dengan semua teka teki yang ada" gerutu Elena menambah kecepatan mobilnya.


Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai Elena pun sampai didepan gedung pencakar langit milik Aron.


Elena berhenti didepan lobby dan langsung memberikan kuncinya kepada satpam untuk diparkirkan.


Semua orang menunduk hormat kepada Elena, siapa yang berani bertindak sesuka hati kepada gadis kecil kesayangan Aron dan Jonathan ini.


"Pagi nona muda"


"Hemm" Elena hanya membalas dengan deheman dan wajah datar, banyak karyawan Aron yang kenal Elena sebagai selebgram sebelum dinyatakan sebagai calon nyonya muda Smith.


Elena naik lift khusus yang sering digunakan oleh Aron karena ingin cepat sampai dilantai paling atas gedung ini.


Halid mengerutkan kening nya saat melihat Elena datang ke perusahaan tanpa memberi kabar.


"Tumben non, ada apa?"


"Tidak ada Halid, apa Aron ada didalam?"


"Tuan didalam nona"


"Baiklah, terimakasih ya" ucap Elena


Elena mengetuk pintu Aron terlebih dahulu, setelah mendapat sahutan dari sang empunya Elena pun masuk.


Aron yang sedang menanda tangani berkas pun langsung mengalihkan pandangan nya kearah pintu untuk melihat siapa yang datang.


"Loh sayang?" bingung Aron menutup berkasnya.


"Ada apa sayang? kamu tidak kuliah?"


"Aku hanya lelah Aron, semuanya sangat memusingkan"


"Lelah? kemari lah!" titah Aron.


Elena mendekati Aron, Aron langsung menarik Elena hingga terduduk dipangkuan nya.


"Ada apa hem?" tanya Aron dengan nada lembut sembari mengelus rambut Elena.


Tanpa menjawab Elena langsung mengeluarkan amplop putih yang ditemukan diatas meja kuliahnya.


Aron langsung menerima itu, Aron membuka amplopnya dan seketika mata Aron memicing.


"Mirip kamu sayang"


"Itu aku"


Elena mengeluarkan kotak putih yang pernah ditemukan nya lagi, Aron pun langsung membukanya.


"Sudah kedua kalinya dan tidak ada yang tahu siapa pengirimnya, aku sudah pernah cek CCTV tetapi tidak bisa dipulihkan"


"Jadi semua foto masa kecil kamu ini ada yang mengirim khusus untuk mu?"


Elena pun mengangguk, Elena merebahkan kepalanya didada bidang milik Aron dan Aron pun langsung memeluk Elena.


"Aku sudah membakar habis foto foto masa kecil ku dan menyisakan satu foto keluarga kami saat aku berusia 6 tahun, lalu siapa ini Aron, kenapa dia memilikinya?"


"Semuanya begitu membingungkan Aron, terlalu banyak teka teki yang aku sendiri tidak bisa memecahkan nya" keluh Elena hingga meneteskan air mata.


"Aku begitu yakin bahwa ini ada kaitan nya dengan papa, hanya papa satu satunya orang yang menyimpan foto masa kecil ku, tetapi dimana dia Aron?"


"Bukankah seharusnya dia menjumpaiku untuk menjelaskan segelanya yang menimpaku karena nya?"


Aron mengusap air mata Elena, Aron merasa sangat bersalah karena menyembunyikan fakta dari Elena.


"Maafkan aku sayang, aku hanya tidak mau jika kau terlalu gusar menghadapi segelanya" batin Aron mengecup kening Elena.


"Tenanglah sayang, kamu tidak sendiri sekarang karena ada aku, hem" ucap Aron mengecup pipi Elena.


"Kenapa tidak kuliah?" tanya Aron setelah Elena tenang


"Aku tidak bisa fokus dengan pelajaran karena foto foto ini, aku terus menebak siapa yang mengirim dan hanya ada satu orang yaitu papa" jawab Elena.


"Tenanglah, semuanya akan terjawab suatu hari nanti" ucap Aron memeluk erat Elena.


Perlahan Elena memejamkan matanya dalam pelukan Aron, pelukan Aron memang manjadi obat bagi Elena.


Beberapa saat kemudian suara dengkuran halus pun terdengar, Aron langsung memindahkan Elena kedalam kamar istirahat nya yang ada di ruangan kerja nya.


Aron menyelimuti Elena karena hari cukup dingin, setelah itu Aron kembali ke kursi kebesarannya sembari memandangi foto masa kecil Elena.


"Sebenarnya apa mau anda tuan Bramasta, apa tidak cukup selama 10 tahun lebih anda menyiksa mental putri anda sendiri?"


"Rasanya aku tidak rela jika suatu hari nanti Elena bertemu dengan mu, kau sudah menghancurkan hati dan mentalnya tuan Bramasta" gerutu Aron menggenggam erat amplop itu.


Jonathan yang baru masuk kedalam ruangan kerja putranya pun bingung, kenapa wajah putranya terlihat marah.


"Ada apa Jhon?" tanya Jonathan mendekati putranya.


Jonathan terbelalak melihat foto foto masa kecil Elena ada bersama Aron.


"Kenapa ada bersama mu nak?"


"Elena yang memberikan nya, sudah dua kali orang misterius memberikan foto foto Elena dan diletakkan di meja kuliah nya"


"CCTV?"


"Tidak bisa dipulihkan, El pernah mengatakan bahwa dia pernah bertabrakan dengan pria bermata hijau yang diyakini adalah pria yang mengganggu nya waktu itu"


"Pengawal mu juga tidak ada yang mengetahui nya?"


"Tidak pi, apa mungkin pria ini adalah pria yang dijodohkan dengan Elena juga?" tanya Aron menatap papinya.


"Jika memang iya apa rencana dia? kenapa tidak langsung mengambil Elena?"


"Pasti ada rencana lain, aku akan menyelidiki Liam dulu"


"Kenapa Liam?"


"Aku punya firasat ini semua ada kaitan dengan Liam juga"


"Kau harus ingat jika keluarga Axely juga musuh Bram" ucap Jonathan


Aron langsung memandang papinya, benar juga apa yang dikatakan Jonathan


"Semuanya begitu membingungkan pi"


"Elena kuliah?"


"Dia tidur" jawab Aron membuat sebelah alis Jonathan terangkat.


"Dia tidak bisa fokus mengikuti kelas karena hal ini, El datang kemari untuk menceritakan semuanya"


Jonathan menghela nafas, Jonathan tidak habis fikir dengan sahabat nya Bram yang masih menutupi segalanya.


"Aku berjanji akan memberikan perhitungan pada paman Bram yang sudah membuat Elena seperti ini" gerutu Aron.


Jonathan sedikit terkekeh, Aron benar benar tidak bisa tinggal diam saat suatu hal membuat wanita kesayangan nya tidak nyaman.


.


.


.


Lanjotttt!!


Mampir juga di karya teman author 🤗