My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
KEANGKUHAN YANG PANTAS



Hari ini Elena sudah mulai masuk kuliah lagi, Elena sudah tidak bisa menutupi identitasnya sebagai calon istri dari tuan muda Smith.


Elena mengendarai mobil sport berwarna merah itu sendiri dan tentu saja setelah merengek sampai guling guling didepan Aron.


Tanpa Elena sadari begitu banyak pengawal bayangan Aron yang ada di setiap titik jalan maupun tempat yang Elena singgahi.


Aron melepas Elena bukan berarti tanpa pengawasan, bahkan di kampus saja Aron sudah mengerahkan beberapa pengawal lagi untuk menjaga disana tetapi dengan cara menyamar.


Semua mata mahasiswa tertuju pada mobil sport merah yang masuk ke pekarangan kampus.


Elena keluar dari mobil sport itu dengan menggunakan kaca mata hitam yang bertengger diwajah cantik nya.


Rok mini berwarna hitam yang dipadu dengan sweater berwarna coklat membuat gadis itu terlihat sangat cantik.


"Uwowww udah bawa mobil sendiri ni bocah" ucap Jessica langsung menyambangi Elena.


"Pasti drama dulu" tebak Rasya dan Elena pun mengangguk.


Ketiga sahabat Elena pun terkekeh, mana mungkin Elena begitu mudah dibebaskan tanpa adanya drama air mata.


"Apakah akan seperti itu juga jika dia meminta rumah?"


"Tentu saja tidak, Aron melarang Elena begitu bebas karena gadis ini begitu ceroboh" ucap Dita menyela ucapan Jessica.


"Mau ngobrol di sini terus apa masuk?"


"Sikap dingin nya muncul kalau udah didepan orang lain" gerutu Dita dan mengikuti langkah Elena bersama yang lain.


"Apa mereka datang?"


"Sepertinya iya, tapi perusahaan keluarga mereka sudah hancur tanpa tersisa barang sepeser pun" ucap Jessica.


Elena langsung menghentikan langkahnya dan menatap Jessica tak percaya.


"Itu benar El, ini bertanya" ucap Dita memberikan ponsel nya


"Mereka salah telah meremehkan nona muda Smith" ucap Fito yang tiba tiba datang.


"Bagaimana kabarmu? aku ingin menjenguk saat kau berada dirumah sakit tetapi ruangan mu di jaga ketat" ucap Fito tersenyum manis kearah Elena.


Bukannya menjawab Elena malah melengos pergi tanpa memperdulikanmu pertanyaan dari Fito.


"Kau sudah tahukan El itu siapa? sayangi saja nyawamu" ucap Tasya dan berlalu pergi bersama yang lain.


"Kamu akan tetap menjadi milikku nantinya El" gumam Fito tersenyum tipis menatap punggung Elena yang sudah pergi menjauh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat yang berbeda tepatnya diruang kerja Jonathan, Aron menatap papinya tajam dan juga hanya ada keheningan di antara keduanya.


"Kau tidak berangkat ke kantor hanya untuk memandangi papi?"


"Apa lagi yang papi tutup kan dari ku?"


"Jangan bertele tele Jhon"


"Papi bersahabat baik kan dengan papi kandung El"


Jonathan tersenyum tipis, memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dalam jangka panjang dari Aron.


"Memang, kami berteman sejak kecil"


"Lalu kenapa papi menutupinya dariku?"


"Apa yang kau dapat dari penyelidikan mu tentang Bram?" tanya Jonathan


"Dia belum mati"


Jonathan tersenyum miring, benar dugaannya selama ini, nihil jika seorang king mafia mati begitu saja tanpa ada kejelasan apa pun.


"Dimana dia sekarang?"


"Belum ada informasi, kuburan itu kosong tidak ada jasad siapa pun disana"


"Kenapa mereka menyembunyikan nya?"


"Masih abu abu, mereka menutupi nya dengan sangat rapi pih"


Jonathan tersenyum lagi, kepintaran Bram memang setara dengan dirinya bahkan mereka adalah murid terpintar dimasanya waktu dulu.


"Aku juga mendengar jika El terikat perjodohan sedari kecil" ucap Aron dengan wajah yang sudah menggelap.


Jonathan mengeluarkan kotak hitam itu dari dalam lagi dan meletakkan nya diatas meja.


"Ada dua pria"


"Dua pria?"


Jonathan mengangguk, Aron semakin dibuat bingung dengan teka teki yang ada.


"Antara dirimu dan pria itu" ucap Jonathan menyerahkan kotak hitam itu kepada Aron.


Aron langsung membuka kotak itu, Aron memicingkan matanya saat melihat foto seroang bayi kecil cantik ada disana.


"Familiar?"


"Mirip seperti.."


Seketika Aron terbelalak kala mengingat satu wajah cantik yang selama ini selalu menemaninya.


"Benar itu Elena, pemenangnya hanya satu Aron antara dirimu atau pria itu"


"Kenapa harus ada yang lain? Elena sudah bersamaku"


"Dia bisa mengambil alih kapan saja, dan untuk pertanyaan mu hanya papa mertua mu yang bisa menjawabnya"


"Kenapa dia mempersulit hidup putrinya, bukankah ini akan mengancam keselamatan El?"


"Aku tidak tahu kenapa dia seperti itu, yang jelas disini kau tidak boleh kalah dalam memenangkan pertarungan ini"


"Papi mengganggap El layaknya barang taruhan?"


"Perjodohan dengan siapa dulu dibuat?"


"I don't know, semua jawaban yang ada dihatimu hanya mertua mu yang bisa menjawab nya" jawab Jonathan dan mengambil lagi foto masa kecil Elena untuk menyimpan nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kampus, semua mahasiswa sedang berkumpul mengelilingi lapangan yang ada ditengah tengah gedung itu.


Suasana terlihat ricuh berbagai cacian dan hinaan terlontar dari bibir mahasiswa maupun dosen.


"Kok rame banget sih?" tanya Jessica pada salah satu teman nya yang hendak keluar.


"Apa kalian tidak tahu? orang yang menyelakai mu ada di aula kampus El"


Elena langsung menoleh kearah Jessica yang juga tak kalah terkejut dengan jawaban mahasiswa itu.


"Jadi mereka semua menghina orang orang itu"


"Benar, aku mau kesana dulu" ucap wanita itu dan berlalu pergi.


Drttt drtttt drttt


Ponsel Elena bergetar, Elena langsung menyambar ponsel nya yang ternyata ada panggilan dari Dita.


"Udah di aula?"


"Belum kami baru dengar"


"Bertemu di depan aula El" ucap Dita dan langsung menutup panggilan itu.


Elena dan Jessica langsung bergegas keluar kelas dan menuruni tangga menuju aula yang ada di lantai dasar, sangat mustahil melewati lautan orang yang menutupi lift.


Sesampainya ditangga terakhir, Elena melihat kedua sahabatnya yang lain pun baru menuruni tangga.


Semua orang langsung diam saat melihat Elena yang berjalan masuk menuju aula kampus bersama ketiga sahabat nya.


"Kau tahu kesalahan mu? jika tuan Aron mencabut saham nya dari Universitas ini maka bukan hanya kau yang tidak mempunyai pekerjaan tetapi kami semua"


"Kau sudah berapa kali kami beri peringatan ibu kepala meddi dan dosen Aldo tetapi kalian terus seperti ini"


Begitu banyak cacian dari para dosen yang berdiri dihadapan kedua dosen yang sedang berlutut itu.


Riska yang berdiri bersama ketiga sahabatnya pun hanya bisa menangis melihat harga diri ibunya diinjak-injak.


Mata Riska langsung tertuju kepada Elena yang berjalan dengan wajah datar mendekat kearah mereka.


"E..Elena, Elena!" panggil Riska langsung berlutut di hadapan Elena.


"Kau bahkan terlihat seperti kotoran jika seperti itu Riska"


"Hanya kotoran? itu terdengar sangat baik untuknya"


"*Dasar wanita jal*ng*"


"Kau menjual dirimu hanya demi tampil glamor"


Elena yang mendengar hinaan mahasiswa lain pun langsung menatap sahabatnya.


"Dia kupu kupu" bisik Jessica.


"Awwww imut sekali, apakah aku sudah bisa bersikap angkuh sama seperti dirimu?" ucap Elena berjongkok di depan Riska.


"Keangkuhan mu pantas Nona muda Smith"


"Riska hanya ada dibawah kakimu sekarang Elena"


Begitu banyak dukungan yang dilontarkan mahasiswa lain tetapi terdengar seperti hinaan bagi Riska.


"El maafkan kami" mohon ketiga sahabat Riska yang berlutut di depan Elena.


"Il miifkikn kimi" cibir Rasya membuat semua orang tertawa.


"Maaf atas keteledoran saya nona muda" ucap Ricy kepala universitas


"Anda menjalankan sesuai keinginan saya pak" jawab Elena tersenyum tipis.


"Selamat siang nona muda Smith" sapa seorang komandan polisi yang datang bersama anggotanya.


"Selamat siang Pak, maaf merepotkan kalian semua" ucap Elena.


"Se..sejak kapan kau memanggil polisi El?"


"Jangan bertanya Jess, dia bahkan bisa menebas kepala mu tiba tiba tanpa sepengetahuan mu"


"Maaf, aku sudah mulai pikun karena belakangan ini Elena terus berpacu dengan adrenalin" ucap Jessica.


"Semua buktinya sudah ada disini pak, kalian bisa membawanya bersama kalian" ucap Elena memberikan sebuah flashdisk kepada komandan polisi itu.


"Baik non, terimakasih atas bantuan anda yang sudah menyingkirkan sampah masyarakat seperti mereka"


"Mereka menggangguku"


"Kami akan memberikan yang setimpal atas luka ditangan anda nona"


"Terimakasih pembelaan nya kalian boleh pergi" ucap Elena.


Pihak kepolisian langsung membawa Meddi, Aldo, Riska dan juga tugas sahabat lainnya.


Elena telah melaporkan kejahatan mereka dengan bukti yang konkret, dari mulai obat terlarang sampai korup bahkan ada yang **** bebas.


Dibalik wajah polos gadis ini, Elena selalu bisa mengetahui apa yang dia cari selama kurang lebih satu jam dengan otak cerdasnya.


.


.


.


Sepi bet kek kuburan.