
Elena yang sedang istirahat jam makan siang pun memutuskan untuk membeli chiki di sebuah minimarket yang tidak jauh dari perusahaan Aron.
Tentu saja Elena tidak sendiri, Amey menemani Elena karena perintah dari Aron yang memang selalu khawatir jika gadis ini jauh dari jangkauan nya.
Elena sedang memilih beberapa makanan ringan yang akan dimakan sambil bekerja nanti, nama nya juga perusahaan calon suami ya gays ya.
"Sudah non?" tanya Amey yang mendorong troli belanjaan Elena
"Hem sudah, ayo kekasir" ajak Elena berjalan beriringan dengan Amey.
Sesampainya dikasi Amey langsung mengeluarkan belanjaan Elena agar langsung discan oleh penjaga kasir.
"Ahhh aku melupakan sesuatu, tunggu disini aku akan segera kembali" ucap Elena dan berlalu meninggalkan Amey.
Elena berjalan menuju rak yang menyediakan berbagai macam permen dengan berbagai rasa dan merek.
Elena yang menggemari makanan manis tidak akan pernah melupakan jajanan permen yang biasa dibelinya.
Brukkk
"Awww sakit banget" gumam Elena mengelus jidatnya yang terbentur dinding rak.
Seseorang memberikan tiga bungkus permen yang hendak diambil Elena, sebab permen itu pula Elena membentur rak karena posisi permen yang ada diatas.
"Terimakasih" ucap Elena tersenyum manis kearah seorang pria yang memakai hoodie hitam dengan masker hitam juga.
"Mata itu" batin Elena menatap mata pria yang berwarna hijau itu.
"Kamu kan yang wak..."
"Nona El sudah?" panggil Amey tiba tiba.
Pria bermata hijau itupun langsung berlalu pergi meninggalkan Elena, tidak lama Amey pun menyambangi Elena.
"Non, sudah?" tanya Amey
"Hah? Ahh iya sudah Mey, ayo kita pergi" jawab Elena terkejut dan meninggalkan Amey lebih dulu.
Dari lorong sebelah, pria bermata hijau yang memberikan permen kepada Elena tadi menatap kepergian Elena dengan mata berbinar
"Mata coklat itu, dia milikku Aron" gumam pria itu menatap intens Elena.
Elena sudah kembali keruangan Aron dengan Amey yang mengikuti dibelakang nya yang membawa dua kantong jajanan.
"Makan siang dulu sayang" ucap Aron yang sedang duduk disofa, terlihat didepan Aron tersaji berbagai macam makanan.
"Kenapa tidak makan lebih dulu? setelah ini kita ada meeting" ucap Elena duduk disamping Aron
"Aku menunggu mu" jawab Aron menyambar sepiring makanan dan menyuapi Elena.
"Hemmm nyam nyam" Elena menikmati makanan yang diberikan Aron dengan hati senang.
Aron menyipitkan matanya saat melihat dahi Elena yang tampak memerah dan sedikit membengkak.
"Kenapa sayang?" tanya Aron menyentuh dahi Elena
"Awwww" pekik Elena kesakitan
"Apakah sakit? kenapa bisa seperti ini?" cecar Aron dengan wajah khawatir
"Aku kejedot tadi, tapi tidak apa hanya kebentur dikit" jawab Elena.
"Halid!" panggil Aron
"Iya tuan" jawab Halid yang langsung masuk keruangan Aron.
"Ambilkan batu es, jidat El benjol" titah Aron dan langsung dituruti Aron.
Aron lanjut menyuapi Elena sembari menunggu Halid kembali membawa apa yang dimintanya.
"Ini tuan" ucap Halid menyerahkan kompresan untuk Elena.
Aron dengan perlahan menempelkan nya kedahi Elena agar tidak semakin membesar sehingga meninggalkan bekas luka di dahi gadis ini.
"Sttttt sakit" lirih Elena menahan tangan Aron
"Maaf sayang, akan ku lakukan lebih lembut lagi" ucap Aron memperlembut gerakan tangan nya agar tidak menyakiti Elena.
Setelah selesai kini keduanya sudah berada di ruangan rapat, mereka akan melakukan rapat yang memang sudah dijadwalkan untuk Aron.
Elena dengan fokus yang penuh memperhatikan fresentase salah satu karyawan milik perusahaan lain yang akan melakukan kerja sama dengan perusahaan Aron.
Sedangkan sang empunya perusahaan terus memandang intens calon istrinya yang sedang cosplay menjadi skretaris.
"Mana bisa begitu" ucap Elena tiba tiba saat karyawan itu menyebutkan dana yang akan perusahaan Aron lontarkan kepada mereka.
"Maaf nona tetapi anda belum diperbolehkan untuk berbicara" ucap karyawan itu yang berjenis kelamin wanita
"Bodo amat, aku bilang ga bisa ya ga bisa, keuntungan kalian kepada perusahaan lain saja hanya 30% dan kalian meminta perusahaan kami melontarkan dana segini besar?"
"Coba anda fikir, kami disini harus berfikir untung atau buntung, jangan anda kira saya tidak tahu" ucap Elena tegas sembari melempar sebuah map keatas meja.
"Wow sisi macan nya bangun" batin Halid
Pemilik perusahaan yang mengajukan kerjasama ke perusahaan Aron pun menyambar map itu.
"Perusahaan kalian hanya sebuah perusahaan cangkang tanpa isi yang bisa remuk kapan saja" ucap Elena melipat tangan nya didada.
"Bisa aku jamin perusahaan ini akan rugi banyak jika nona tidak ada" batin Hamid kagum.
Elena yang tipikal orang nya sangat teliti, mengorek habis bagaimana kinerja perusahaan yang akan bekerjasama dengan Aron.
Elena juga melakukan ini semua secara diam, tanpa sepengetahuan siapa pun Elena telah membobol keamanan perusahaan itu.
Elena juga tidak meninggalkan bekas apa pun disana sehingga aksinya terbilang bersih dan rapi.
"Maaf sekretaris El tetapi ini semua belum cukup buk..."
"Bukti?"
Brukkkkk
Elena melempar sebuah flashdisk keatas meja dan langsung diambil Halid untuk diputarkan ke layar monitor.
Seketika satu ruangan terkejut kecuali Aron yang sudah tahu kemampuan Elena dalam bidang seperti ini.
Tok tok tok
Empat orang polisi masuk kedalam ruangan rapat itu setelah mendapat izin dari sang empunya.
"Maaf tuan Desta, anda akan kami tangkap karena tuduhan penggelapan uang perdana menteri" ucap polisi itu menunjukkan surat penangkapan untuk pria itu.
"Aku tidak bersalah, si..siapa yang melaporkan?" tanya pria itu menolak.
"Pihak anonim yang melaporkan dengan bukti yang lengkap tuan" ucap polisi dan membawa paksa pria itu.
Elena dan Aron pun memilih untuk kembali keruangan mereka, Elena langsung duduk dibangkunya
"Kenapa bergerak begitu cepat?" tanya Aron menatap Elena dalam
"Kenapa harus menunda? dia itu tikus hitam yang besar" jawab Elena membuat Aron terkekeh gemas.
"Lalu kau?" tanya Aron
"Aku putri peri baik hati" jawab Elena tersenyum kuda menampilkan gigi putih nya yang rapi.
"Jangan sembarangan ya sayang" ucap Aron mengingatkan
"Siap bos" ucap Elena seperti seorang polisi kepada komandan nya
"Selesaikan pekerjaan mu" ucap Aron mengecup kening Elena sesaat dan berlalu ke kursi kerja nya.
Malam harinya Elena sedang mengerjakan pekerjaan kantor didalam kamar, gadis itu memangku sebuah laptop dan duduk diatas ranjang.
"Sayang sudah waktunya makan malam" ucap Aron yang baru masuk kamar
"Sebentar lagi" jawab Elena yang terus fokus pada pekerjaan nya.
Aron geleng kepala dan menghampiri Elena, Aron merebut paksa laptop Elena dan hendak membanting laptop itu.
"Eh eh, jangan dibanting" cegah Elena menahan tangan Aron
"Kamu tidak akan aku beri pekerjaan jika seperti ini" ucap Aron tegas
Elena menundukkan kepalanya "Maaf" lirih Elena yang tahu letak kesalahan nya.
Aron menghela nafas dan menutup laptop itu dan meletakkan nya diatas nakas tepat di samping tempat tidur.
"Tunggu disini aku akan mengambil makanan, jangan sentuh laptop itu lagi" ucap Aron dan Elena mengangguk.
Jonathan mengerutkan kening nya saat melihat Aron yang datang seorang diri tanpa Elena.
"Mana El Jhon?" tanya Jonathan yang sedang menikmati makan malam bersama yang lainnya.
"Kami akan makan dikamar" jawab Aron mengisi piring nya yang kosong dan membawa dua gelas air yang berisi susu dan air mineral.
Aron berjalan kembali kekamar nya dengan sebuah nampan yang berisi makan malam lengkap.
Jonathan jadi khawatir jika menantunya itu sakit sampai tidak bisa ikut turun dan sarapan bersama.
Selesai makan malam, Jonathan langsung bergegas kekamar Aron dan Elena karena khawatir pada gadis itu.
"Kamu tidak apa nak? kenapa tidak turun makan?" tanya Jonathan setelah masuk kedalam kamar Aron dan Elena
"Dia sibuk bekerja dan tidak memikirkan jam makan nya papi" jawab Aron
Elena hanya bisa menundukkan kepalanya karena memang salah, Jonathan menghela nafas dan duduk disamping Elena.
"Jangan seperti itu lagi ya nak, pekerjaan itu bukan prioritas mu" ucap Jonathan mengelus kepala Elena.
"Maaf papi" ucap Elena Tersenyum kearah dua pria yang sangat mirip itu.
.
.
.
Lanjottttttt.