My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
PERJUANGKAN SENDIRI



Seminggu sudah Ani tinggal dirumah Aron, selama seminggu itu pula Ani terus berusaha dekat dengan putrinya.


Elena juga sudah mau menjawab pertanyaan Ani walaupun hanya sekata atau pun dua kata.


Seperti sekarang ini, Elena baru saja turun dari kamarnya menuju lantai dasar.


Dihari wekend ini semua orang berkumpul, Elena tidak kuliah begitupun dengan Aron yang tidak bekerja.


"Selama pagi semua nya" sapa Elena yang datang terkahir kemeja makan.


"Tumben lama"


"Hehe kesiangan"


"Pantas saja Aron turun duluan"


"Dia maksa" ucap Aron yang langsung mempersilahkan Elena duduk.


Acara sarapan pagi bersama itupun berlangsung dengan baik tanpa ada gangguan apa pun.


"Weekend" celetuk Elena sembari mengunyah makanan nya.


"Memang wekend" jawab Jonathan yang tidak mengerti alur pembicaraan Elena.


"Papi harus belajar banyak tentang rumus wanita"


"Eh apa yang salah? kan bener wekend" ucap Jonathan


"Kita mau kemana sayang?" tanya Aron memandang Elena.


"Kemana ya? bagaimana kalau kita ke taman bermain aja?"


"Mimi!" teriak suara yang sangat familiar di telinga Elena.


Terlihat Aziel yang berlari ke arah kursi makan Elena sembari memegang sebuah boneka beruang kecil.


"Loh Aziel"


"How are you mimi?'


" I am fine, kamu sama siapa sayang? kapan datang?"


"Sama mama dan baru saja"


Elena langsung mengalihkan pandangan nya kepada kakak kandung nya yang datang bersama suaminya.


"Silahkan duduk, kita sarapan bersama disini"


"Terimakasih paman"


"Sama sama" balas Jonathan ramah.


"Aziel, mimi akan pergi ke taman bersama pipi"


"Benarkah?"


"Benar, tanyakan pada mimi mu" ucap Aron mengusap kepala Aziel lembut.


Aziel langsung memandang Elena, Elena tersenyum kearah Aziel, Elena memang merindukan pria kecil ini.


"Aziel mau ikut?"


"Mau mau"


"Kalau begitu kita sarapan lebih dulu" ucap Elena dan menyuapi Aziel.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Disebuah ruangan mewah yang bertuan eropa, tiga orang pria sedang duduk berhadapan, terlihat ketiganya sedang membicarakan hal serius.


"Dia putrimu, Jonathan sahabat mu, kenapa ingin menghancurkan nya?"


"Aku tidak mengatakan akan menghancurkan Jonathan, aku hanya ingin mengambil putriku saja"


"Kau ingin menjodohkan putrimu dengan pria ini?"


"Jaga cara bicara mu Liam Axely"


"Tenanglah Arilandro Valcon"


Yahhh ketiga pria itu adalah orang yang dikenal Elena, ralat Liam adalah pria yang tidak Elena kenali tetapi rival Aron.


Sedangkan Arilandro Valcon adalah pria yang pernah mengejar Elena disekolah paket tempat Elena menempuh pendidikan selama 6 bulan.


Alasan Aril berada disana ya hanya karena Elena bukan semata pendidikan, Arilandro adalah satu satunya keturunan keluarga Valcon yang tersisa.


Keluarga Arilandro dibantai habis oleh klan musuh mereka, Arilandro selamat karena berhasil melarikan diri dan ditolong oleh Bram.


R.V Company adalah nama perusahaan urutan ketiga setelah Smith Groupe dan B.G Company.


R.V Company adalah perusahaan milik Arilandro yang didirikan nya atas bantuan Bram saat Bram belum bangkrut.


Sedangkan B.G company adalah nama baru dari Agarandra Groupe yang sengaja di ganti oleh Bram untuk menyembunyikan identitas nya.


Selama ini orang orang tidak tahu bahwa Arilandro dan Bram belum mati, Bram yang memalsukan kematian nya karena waktu itu berfikir bahwa dirinya tidak bisa bangkit menjadi seperti dulu.


Bram bisa melebarkan sayap nya kembali setelah Elena berusia 15 tahun, ntah apa tujuan pria ini sehingga membiarkan putrinya hidup diambang kematian.


Arilandro adalah pria yang dijanjikan akan dinikahkan dengan Elena, perjodohan Arilandro dengan Elena terjadi setelah Bram mengirimkan foto bayi Elena kepada Jonathan.


Selama ini Bram dan Arilandro tinggal dirumah yang sama, walaupun mereka memiliki klan mafia yang berbeda hanya saja klan milik Arilandro berada dibawah kaki Bram.


"Aku tidak tahu siapa yang akan menikah dengan putriku" ucap Bram setelah beberapa terdiam.


"Apa maksud paman?"


"Berusaha lah jika ingin mendapatkan Elena, aku tidak pernah memaksa kehendak nya Arilandro tetapi kau bisa berjuang, satu hal yang harus kau ingat jangan sampai kau melukai putriku"


"Apakah ada kesempatan bagi ku?" tanya Liam yang memang tertarik dengan Elena


"Putriku tidak menyukai pria berdarah Tionghoa"


"Aku ada garis keturunan Korea"


"Aku tidak bertanya" ketus Bram


"Jadi apa rencana kalian sehingga memanggil ku kemari?"


"Berhenti menteror putriku"


"Apa maksud anda tuan Bramasta?" tanya Liam tidak mengerti


"Kau yang mengirimi paket kerumah Aron atas nama putriku?"


"Paket apa? aku tidak tahu"


"Paket itu berisi potongan tubuh wanita, jangan bermain main dengan ku"


"A..apa maksud mu? aku tidak se sadis itu" ucap Liam jujur


"Lalu siapa pelakunya"


"Apa itu terjadi?"


"Beberapa bulan lalu, dan itu tertuju kepada El beruntung saja itu telah dibuka lebih dulu oleh pengawal Aron jika tidak mungkin Elena akan trauma sekarang ini"


"Dia penakut? aku fikir dia gadis yang berani karena aku pernah dengar dia berani menghina Martin"


"Hanya mulut putriku saja yang pedas, dia punya trauma yang terekam dialam bawah sadarnya" ucap Bram mengingat putrinya.


"Tapi aku yakin Aron sudah tahu bahwa anda belum mati tuan"


"Maksud mu?"


"Otak Aron dengan otak putrimu sama sama cerdas"


"Dan kau bodoh"


"Diam Arilandro" ketus Liam menatap Aril tajam


"Kita tunggu saja kemajuan nya"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Elena dengan keluarga nya yang lain kini sudah berada di taman bermain, Elena terlihat begitu antusias bermain dengan Aziel.


Begitupun dengan bocah tampan itu, Elena yang sudah sangat lama tidak bermain dengan Aziel pun sangat dirindukan oleh bocah tampan itu.


"I love mimi" ucap Aziel memeluk Elena.


"Love you more baby"


"Pipi lihat itu" ucap Aziel menunjuk sebuah mainan mobil mobilan yang besar


"Aziel mau?"


"Mau mau"


Ketiga orang itu terlihat seperti keluarga bahagia, Aziel yang bentuk wajahnya seperti Elena membuat orang berfikir bahwa itu putra Elena.


Jonathan dan yang lainnya hanya mengikuti mereka dari jauh, mereka tersenyum melihat keakraban mereka bertiga.


"Bagaimana jika kita menikahkan mereka secepatnya?" usul Jonathan


"Aku masih memikirkan bibi Harlina"


Jonathan tersenyum hangat, ketakutan Elena dengan ibunya memang sama dan itu karena ibu Jonathan yang masih menentang pernikahan Aron walaupun tahu bahwa Elena adalah putri sahabat Jonathan.


"Bukan menjadi masalah, yang menjalani mereka berdua mama hanya nenek bagi Aron"


"Terserah padamu saja, kebahagiaan putriku ada pada putra mu"


"Aziel begitu menyayangi Elena, apa jadinya jika dulu perjodohan mu dengan Aron tetap berjalan" celetuk Jonathan menatap anggi


"Itu hanya masa lalu paman, sekarang Aron akan ku anggap sebagai adik ipar ku karena aku mempercayakan kebahagiaan Elena kepada Aron"


Jonathan cukup bersyukur bahwa yang akan menikah dengan putranya adalah wanita yang memang diinginkan nya menjadi menantunya.


Sekarang Jonathan hanya perlu menunggu kemunculan sahabat lamanya untuk meminta jawaban atas kebodohannya selama ini.


.


.


.


Mana nih para readers author kok sepi sih.