My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
BUKAN PRIA YANG SAMA



Para pria itu langsung berlari masuk setelah mendengar suara pecahan kaca yang begitu nyaring ditelinga.


"Kamu tidak apa sayang?"


"Aku tidak apa"


"Bagaimana bisa pecah?"


"Maaf papi tiba tiba aku seperti melihat tubuh seorang wanita yang sudah terpisah dan diletakkan didalam kotak"


"Kenapa bisa melihat seperti itu sayang? kamu melihat film horor?"


"Tidak papi aku tidak menonton film horor, bayangan itu muncul sendiri dikepala ku" ucap Elena memijit pelipisnya.


"Nona kaki anda berdarah" ucap Zio


"Sayang kamu terluka, mari kita kesofa dan ambilkan kotak p3k" titah Aron dan membawa Elena kesofa yang ada diruang keluarga.


Aron mengobati kaki Elena yang tergores pecahan gelas yang terjatuh tadi dengan perlahan.


Jonathan mengerutkan kening nya saat melihat wajah Elena yang terus mengeluarkan peluh dan wajah gadis itu pucat.


Aron langsung menoleh kearah Elena saat merasakan tubuh gadis itu yang bergetar.


"Kamu kenapa sayang?"


"A..aku tidak tahu, aku seperti melihat darah dimana mana Aron, aku takut" lirih Elena dan langsung memeluk Aron.


"Kenapa El semakin perasaan, aku semakin khawatir dengan mental putri mu Bram" batin Jonathan


"Tidak ada sayang, jangan difikirkan"


"Tidak bisa, semuanya muncul sendiri dikepala ku" ucap Elena mengeratkan pelukan nya.


"Kita kekamar?"


"Tidak mau"


"Kenapa sayang? kamu harus istirahat"


"Aku takut sendiri"


"Aku tidak akan meninggalkan mu sayang, tenanglah" ucap Aron mengelus punggung Elena.


Setelah Elena setuju, Aron langsung membawa Elena menuju kamar mereka agar gadis ini bisa istirahat.


Jonathan juga berlalu kembali ke kamarnya karena perasaan nya sedang campur aduk melihat peristiwa yang beruntun seperti ini.


"Apa mereka memang sudah terikat, Bram apa kau mengingat janji kita untuk menikahkan salah satu putri mu dengan putraku"


"Apa Elena yang memang terpilih Bram? aku sangat bingung Bram, kembalilah dan sembuhkan trauma putri mu"


Jonathan berdiri didepan jendelanya sembari memegang sebuah foto seorang bayi wanita yang berusia 2bulan.


"Bayi ini anak mu yang mana Bram, kenapa kau pergi secara tiba tiba seperti ini"


Foto bayi itu Jonathan dapatkan dari sahabat nya Bram, walaupun terpaut okeh jarak tetapi hubungan mereka sangat baik dulunya.


Jonathan dan Bram juga terikat perjanjian dulunya, mereka sepakat akan menjodohkan salah satu putri Bram dengan putra Jonathan saat Ani mengandung Elena pada usia 9 bulan dan sudah dipastikan bahwa bayi itu adalah wanita.


2bulan setelah kelahiran Elena, Bram mengirimkan sebuah foto bayi wanita kepada Jonathan tanpa memberitahu nama nya.


Kedua putri Bram sangatlah mirip saat bayi, bahkan sangat sulit membedakan foto bayi diantara keduanya.


"Cepatlah kembali Bram karena putrimu menjadi incaran rival kami, aku tidak percaya jika kau sudah mati".


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam hari yang cukup dingin, Aron sedang berkumpul diruang kerjanya bersama orang orang kepercayaan dan juga papinya.


Pembahasan mereka masih seputar hal yang terjadi tadi siang, mereka berkumpul tanpa Elena karena gadis itu sudah tertidur pulas


"Sepertinya bukan pria yang sama tuan" ucap Zio memberi usul.


"Begini maksudnya, jika memang orang yang sama maka dia tidak akan mengirim paket itu kerumah disaat nona tidak ada"


"Benar tuan, pria yang berbeda juga menyambangi nona di kampus berarti menang orang yang berbeda" ucap Halid membenarkan ucapan Zio.


Jonathan dan Aron menganggukkan kepalanya, benar perkataan Zio dan juga Halid.


"Apa ada petunjuk Hugo?"


"Jalan buntu tuan besar, mereka bermain dengan sangat rapi tanpa meninggalkan jejak barang sedikit pun"


"Ini benar benar membingungkan, yang saya khawatir hanya nona tuan" ucap Helga dengan perasaan yang kalut.


Mereka memang hanya mengkhawatirkan posisi Elena dirumah ini, hanya Elena yang tidak bisa dengan kekerasan.


Mereka sudah mewanti jika musuh menyerang secara tiba tiba dan mereka tidak ada persiapan apa pun.


Selain ketakutan Elena, mereka juga khawatir Elena terluka jika musuh menyerang secara tiba tiba.


"Sebenarnya siapa mereka" gumam Aron yang sudah sangat frustasi.


"Apa tidak sebaiknya membawa nona keluar negeri tuan?"


"Tidak bisa Halid, mereka pasti terus mengejar dan akan lebih bahaya jika kita kuar negeri" tolak Aron.


"Sudahlah lebih baik perke....."


Dorrrrr


Mereka terjingkat kaget dan langsung berlari keluar ruangan Aron untuk mengecek apa yang sedang terjadi.


Aron langsung membuka pintu kamar, baru mereka bisa bernafas dengan lega saat melihat Elena masih tertidur dan tidak terjadi apa apa dikamar itu.


"Pengawal pos luar gerbang yang mati tertembak tuan"


"Siapa pelakunya?"


"Sniper itu langsung bunuh diri di tempat saat yang lain mendekat"


Aron mengepalkan tangan nya, kenapa harus terus seperti ini, orang orang itu selalu mati tanpa bukti setelah mengganggu mereka.


"Apa tidak ada jejak klan di jasadnya?"


"Tidak ada tuan besar, pria itu bersih dan data dirinya pun hanya seorang penjual biasa"


"Penjual apa?"


"Penjual gula kapas langganan nona saat nona bersekolah disekolah paket milik tuan muda"


Aron langsung terbelalak mendengar ucapan pengawal itu, Aron tahu penjual itu karena saat berkunjung kesekolah Aron selalu melihatnya.


"Ada keluarga nya?"


"Keluarganya sudah meninggal tuan besar, mereka dibantai satu rumah"


Jonathan semakin geram dengan hal hal belakangan ini, terlalu banyak orang mati dengan sia sia belakangan ini.


Mereka langsung terdiam saat mendengar Elena menggeliat, dan Aron pun langsung masuk dan menutup pintu itu.


"Aron" panggil Elena perlahan membuka mata


"Kamu sudah bangun sayang?"


"Kenapa berisik sekali? apa ada yang bermain petasan?" tanya Elena dengan polosnya.


"Maaf sayang tadi Zio sedang bermain main dengan Amey, aku akan memberi mereka hukuman karena sudah mengganggu tidur mu"


"Kenapa mereka tidak mengajak ku?"


"Lohhhh?"


"Aku kan juga mau bermain petasan, aku akan memarahi mereka"


Elena langsung turun dari ranjang dan keluar kamar dengan diikuti Aron dibelakang nya.


"ZIOO!" teriak Elena setelah sampai dilantai dasar.


"Uhuk uhuk" Zio tersedak teh hangat yang ada di tangan nya karena teriakan nyaring Elena.


"Loh, kamu bangun nak?"


"Zio, kenapa kamu tidak mengajak ku bermain petasan?"


"Hah? petasan ap..."


Aron memberi kode pada Zio, Zio langsung ingat dengan suara tembakan yang pasti mengusik tidur macan betina ini.


"Maaf non, Amey yang tiba tiba mengajak"


"K..kok aku sih"


"Jangan menyalahkan Amey, kau yang salah karena tidak memberitahu ku"


"Nah kan kamu yang salah bukan aku, jangan suka menyalahkan orang lain"


"Aaaaa Zio jahat" rengek Elena hingga meneteskan air mata.


"Loh loh nona jangan nangis, besok saya belikan petasan ya"


"Tidak mau, kau sudah merusak mood ku hiks hiks"


"Sudah sayang sudah aku akan menghukumnya nanti, kita kembali tidur yuk karena besok kamu harus kuliah" ajak Aron dan menggiring Elena pergi.


Tawa mereka pun pecah setelah memastikan Elena tidak mendengar, Jonathan pun imut tertawa melihat wajah panik Zio.


"Tuan besar, selamatkan saya tuan"


"Hahaha dia sudah menangis Zio, kau tahu Aron bagaimana"


"Tapi itu kan bukan salah saya tuan, lagian itu tadi suara pistol bukan petasan"


"Silahkan selamatkan dirimu karena sudah membuat Nona menangis"


"Sahabat macam apa kalian, kau juga" ucap Zio memandang Amey


"Apa? aku? kau yang salah"


"Kekasih macam apa kau ini disaat kekasihmu dalam masalah tetapi tidak membantu"


"Masalah apa pun ku bantu jika tidak berkaitan dengan nona"


Zio pun melengos pergi karena jawaban kekasihnya itu, Zio sudah sangat panik karena hukuman apa yang akan diterimanya dari Aron.


.


.


.


Cussss yah lanjut, jangan lupa dukungan buat author 🤗