
Cahaya mentari telah bersinar, suara burung burung menghiasi pagi yang begitu cerah saat ini.
seorang gadis mulai menggeliat dibawah selimut nya yang berada didalam sebuah kamar mewah.
Elena mengerjapkan matanya, Elena mencoba mengumpulkan kepingan demi kepingan kejadian yang telah dilalui nya tadi malam.
ketik asemua sudah ingat Elena pun langsung terlonjak kaget, Elena terkejut saat dirinya didalam sebuah kamar yang serba hitam, seperti kamar vampir.
"dimana aku?" gumam Elena menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Elena turun dari ranjang dan langsung mendekati pintu yang tertutup rapat "ahhh sial dikunci lagi" gerutu Elena mencoba membuka pintu itu.
Elena menyerah dan beralih kebalkon "ahhhh!! kenapa dikunci juga" frustasi Elena yang susah mulai panik.
Sebenarnya Elena takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan dan ingin sekali menangis, hanya saja bukan saatnya untuk menangis.
ketika Elena masih mencoba untuk membuka balkon kamar itu, seorang pria masuk tanpa sepengetahuan Elena
"kau sudah bangun sayang?" tanya Aron yang sudah berdiri dibelakang Elena
"uwahhhhh" Elena menjerit kaget karena Aron tiba tiba berada dibelakang nya
"sayang ini aku" ucap Aron menyentuh tangan Elena
"jangan sentuh aku, dan apa kata mu tadi? kau memanggilku siapa?" tanya Elena menatap tajam Aron
"sayang" jawab Aron polos seperti manusia tanpa dosa
"untuk apa kau memanggilku sayang, jangan jangan kau yang menculikku ya tadi malam?" tanya Elena menunjuk Aron dengan jari telunjuknya
"aku tidak menculik mu sayang, ini rumah mu" ucap Aron yang tidak membenarkan ucapan Elena.
"hah? ini bukan rumah ku, kau jangan mengada ngada ya jangan berbicara omong kosong!" bentak Elena
"tidak sayang" ucap Aron melangkah maju dan semakin mendekati Elena.
"jangan dekati aku!" bentak Elena yang sudah menabrak pintu kaca balkon
"mandi lah sayang, pakaian mu sudah ada di walk in closed kita akan sarapan" ucap Aron dengan lembut
"cih kenapa aku harus menuruti mu hah? pulangkan aku rumah ku bukan disini" ucap Elena dengan nada mencibir.
"kau harus menuruti ku sayang" ucap Aron semakin mendekati Elena
"jika aku tidak mau bagaimana?" ucap Elena dengan nada angkuh.
"jika tidak..." Aron mengeluarkan sebuah pistol dari belakang punggung nya
mata Elena pun terbelalak "i...itu bukan pi..pistol sungguhan kan?" ucap Elena terbata
"kau tidak mempercayai ku sayang?" tanya Aron menarik pinggang Elena
"ti..tidak untuk apa aku mempercayai mu" ketus Elena mencoba melepaskan pelukan Aron.
"baiklah, mandi lah aku tidak suka menunggu" ucap Aron masih memeluk pinggang Elena.
"tidak, aku ti..."
Dorrrrr
"ahhhhhhhh"
Brukkkkk
seketika Elena pingsan karena Aron melepaskan pelatuknya kearah atas membuat suara tembakan yang begitu nyaring.
Hugo, Halid dan juga Zio berbondong-bondong masuk kedalam kamar Aron dan melihat Elena sudah pingsan dalam pelukan Aron.
"ada apa tuan?" tanya Halid panik
"keluar" titah Aron dengan suara dingin membuat ketiga pria itu lari secepat mungkin
Aron mengangkat tubuh Elena dan meletakkan nya diatas ranjang, Aron menghela nafas melihat Elena kembali tertidur.
"maaf sayang, bukan maksud ku menakutimu" ucap Aron mengecup kening Elena dan membenarkan selimut gadis itu.
Aron keluar kamar itu tanpa mengunci pintu nya lagi karena Elena tidak akan bisa kabur jika rumah ini saja dikepung puluhan pengawal
Di lantai dasar tepatnya di ruang keluarga, ketiga pria tadi sedang menunggu tuan mereka turun.
Halid terbelalak melihat pistol golck kesayangan tuan nya tidak di tempatnya, Hugo sendiri sudah paham apa yang terjadi tadi.
"apa yang anda lakukan tuan?" tanya Hugo dengan nada mengeluh
"bagaimana keadaan nona tuan?" tanya Zio yang juga khawatir
"dia pingsan lagi" jawab Aron santai seperti tidak melakukan kesalahan
"tuan, tuan menakuti nya dengan pistol?" tanya Halid dan Aron mengangguk, Halid ingin sekali mencabik cabik wajah tuan nya ini
"tuan, tuan sendiri tahu nona sangat tidak suka kekerasan apa lagi benda itu" keluh Halid menggelengkan kepalanya
"dia memberontak" ucap Aron membela diri.
"tuan harus lebih sabar, nona masih kecil tuan tidak semudah itu" ucap Hugo mencoba untuk membuat Aron mengerti.
"aku tidak pernah sabar" ketus Aron yang tidak suka dihakimi
"sekarang harus tuan, yang Anda hadapi nona Elena bukan musuh Anda tuan" ucap Zio membenarkan ucapan Hugo.
"akan ku coba" ucap Aron dan berlalu pergi meninggalkan tiga pria yang hanya bisa menghela nafas itu.
sedangkan di tempat yang berbeda, ketiga sahabat Elena sedang panik karena apartemen Elena kosong dan ponsel gadis itu mati.
kini ketiga wanita itu berada di apartemen Elena untuk menunggu gadis itu pulang ke apartemen nya kembali.
"bagaimana ini?" tanya Dita yang sudah panik tak menentu.
"bersabarlah Dita, El akan kembali" ucap Rasya mencoba untuk menenangkan sahabatnya
"masalahnya, bagaimana jika bunda bertanya pada ku apa yang akan aku jawab?" lirih Dita mengacak rambut nya frustasi.
sedangkan Jessica menatap kosong pintu apartemen Elena berharap gadis itu berdiri disana dan mengatakan bahwa dirinya baik baik saja.
tingnong tingnong
Jessica langsung beranjak dari duduk nya dan berlari kearah pintu berharap bahwa itu sahabat nya walaupun mustahil.
"Jessi? El sudah pulang?" tanya Clara yang ternyata memencet bel apartemen Elena.
seketika wajah Jessica jadi murung, sehari saja tidak bertemu gadis itu rasanya sangat berbeda.
Clara melangkah masuk dan melihat keadaan sedang tidak baik baik saja, selain mereka bertiga Clara juga tahu bahwa Elena menghilang.
"El pamit pada kalian kemana?" tanya Clara yang baru kembali dari kamar Elena.
"dia mengatakan akan pergi jalan jalan, aku menyesal meninggalkan nya hiks" jawab Dita dan menumpahkan air mata nya.
Rasya langsung memeluk Dita yang sudah terguncang, mereka semuan merasa kurang tetapi harus mencari kemana.
"kita cari El disemua tempat yang sering dikunjungi nya" usul Clara yang mencoba untuk lebih kuat.
yang ada dikepalanya hanyalah Aziel, apa yang akan dikatakan Clara jika terjadi apa apa pada Elena, bukan tidak mungkin Aziel mencarinya.
mereka pun setuju, tempat pertama yang mereka datangi adalah bar milik Axel dan beruntungnya Axel tidak ada jika ada mungkin mereka akan dicecar habis habisan.
namun hingga malam tiba pencarian pun tidak menghasilkan apa pun, kini mereka bukan hanya berempat tetapi juga ditambah oleh Merey.
kini mereka memutuskan untuk kembali ke apartemen Elena dan menginap disana sembari menunggu gadis itu kembali.
"kita harus mencari kemana lagi? ini sudah 24 jam kita lapor polisi saja" ucap Clara yang mulai tidak sabar.
"besok aku akan buat laporan kalian istirahat lah" ucap Merry dengan mata sendu.
hanya mereka berlima yang mengetahui bahwa Elena menghilang, tidak tahu apa reaksi Laras dan Fras jika tahu.
bukan hanya dua orang itu tetapi juga yang lain, orang orang yang menyayangi Elena.
.
.
.
kasian banget El the geng nyariin Elena ga ketemu ketemu, El the genk ya panggil nya wkwk
staytune dan jangan lupa dukungan buat author hihi.