My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
SEKERTARIS LARAS



Hari ini elena sudah bisa kembali bekerja, sebenarnya laras ingin elena melanjutkan kuliah hanya saja gadis itu menolak keras dan ingin kembali bekerja.


Pagi yang berawan, elena menggeliat dibawah selimut nya, hari juga masih terlalu pagi untuk melakukan aktivasi bagi orang pengangguran.


suara hiruk piruk kendaraan membuat tidur nyenyak elena terganggu, elena turun dari ranjang dan langsung keluar kamar tanpa mandi lebih dulu.


elena masuk kekamar dita, terlihat dita masih setia dengan mimpinya, elena membanting tubuhnya diatas tubuh dita.


"bangun bego, hari ini aku mulai kerja jangan mengacaukan hariku" ucap elena menepuk nepuk pipi dita.


"aishhh minggir lah el, kau menindih tubuhku" gerutu dita menggeser paksa tubuh elena.


dita bangkit dari tidurnya dan langsung masuk kekamar mandi, sedangkan elena kembali masuk kedalam alam mimpinya.


dita keluar dari kamar mandi dan melihat elena tertidur lagi diatas ranjang nya.


"el bangun mandi sana" ucap dita mengguncang tubuh elena yang masih memeluk guling


"dita" panggil rasya yang masuk kedalam kamar dita.


rasya geleng kepala melihat elena masih tertidur "buatlah sarapan, aku saja yang membangunkan nya" ucap rasya.


Dita mengangguk dan meninggalkan 2 orang itu didalam kamar nya "ahh ya ampun bayi ku" gumam rasya mendekati elena


"el bangun el, hari ini hari pertama mu bekerja kembali" ucap rasya lembut sembari menepuk pelan pipi chubby elena


"tunggulah sebentar aku masih bermimpi dengan Min YoonGi" gumam elena mengibaskan tangan nya.


"Min YoonGi mu sudah bangun dikorea sana, sekarang giliran mu yang bangun disini" ucap rasya mengguncang pelan tubuh elena.


elena menggeliat dan langsung terduduk "kau kenapa mengganggu ku, mimpi ku bersama suga jadi hilang" gerutu elena mengucek mata nya


rasya terkekeh melihat elena "berhentilah menghalu, cepat bersihkan dirimu aku akan membantu dita memasak"


elena hanya menjawab dengan deheman dan berlalu kekamar nya untuk membersihkan dirimu.


"el pakai pakaian yang aku siapkan diatas ranjang mu" teriak dita dari luar kamar mandi


"iyaaaa.." elena juga berteriak tak kalah kencang membuat dita terjingkat


"kalah toa masjid" kekeh dita dan keluar dari kamar elena.


setelah selesai mandi elena keluar dan melihat setelan kemeja ada diatas ranjang nya.


elena mengangkat baju itu, sebuah kemeja berwarna putih dan celana panjang berwarna navi.


elena mengerutkan kening nya dan berlalu keluar kamar mengenakan handuk saja "ta baju nya ini?" teriak elena melongok dari lantai atas


dita mendongak dan mengangguk, elena berbalik kembali dan menuju kamar nya untuk mengenakan pakaian yang sudah disiapkan dita.


setelah selesai elena turun "kenapa pakaian seperti ini? aku pikir semalam kau membawa seragam ku karena akan dikecilkan" tanya elena duduk diantara rasya dan dita.


mereka tidak menjawab dan hanya melanjutkan makan nya, elena pun enggan bertanya lagi karena mendapatkan senyuman saja dari sahabat nya.


setelah selesai elena pun pergi bekerja bersama dita, dita yang mengendarai mobilnya.


saat sampai dita langsung memarkirkan mobil nya, dita dan elena berjalan menuju butik.


elena dan dita saling pandang saat semua pekerja berkumpul didepan butik, dan laras berdiri didepan mereka semua.


dita hanya mengedikkan bahu nya pertanda tidak tahu menahu apa yang terjadi sebenarnya.


"ada apa ini bunda?" tanya dita setelah mereka sampai


"akhirnya kalian sampai juga, bunda mau memberikan pengumuman" ucap laras dengan mata berbinar.


elena memicingkan mata nya sedikit curiga dengan apa yang akan diumumkan oleh laras


"nah karena semua sudah berkumpul, saya disini ingin memberitahukan bahwasannya, elena sudah berganti jabatan menjadi Sekertaris saya"


"horeeee" pekik dita kegirangan mendengar kabar bahagia dari laras.


laras langsung berlalu masuk kedalam butik saat melihat elena ingin menolaknya, elena langsung mengejar laras.


semua staf juga sudah mulai bekerja, dita ikut mengejar elena yang naik ke lantai tiga dimana ruangan nya dan laras berada disana.


elena masuk kedalam ruang kerja laras, terlihat laras sudah duduk diatas sofa seperti tengah menunggu nya


elena membanting tubuhnya diatas sofa "bun, apa apaan semua ini?" tanya elena memandang laras


dita yang baru masuk pun langsung duduk disamping elena, dita terlihat santai dan juga bahagia karena dia akan sering bersama elena nantinya.


"sebenarnya bunda tidak ingin menempatkan mu diposisi ini el" jawab laras memandang elena.


"lalu?" tanya elena menautkan kedua alis nya bingung


"sebenarnya bunda ingin menempatkan mu sebagai meneger butik" jawab laras yang membuat elena tercengang


"karena bunda tahu kau akan menolak, maka dari itu bunda menempatkan mu diposisi ini"


"bunda tidak ingin ada penolakan el" ucap laras saat elena ingin menyela ucapan nya


elena menghembuskan nafas kasar "oke baiklah" jawab elena mengalah, bukan tidak bahagia hanya saja rasa sungkan nya begitu besar


"dita ruangan el ada disebelah ruangan kamu" ucap laras yang langsung dipahami oleh dita.


dita mengajak elena keluar ruangan laras "bunda takut kamu tergiur dengan penawaran perusahaan besar sayang, bunda takut kamu bernasib sama seperti meta"


laras melakukan ini semua demi kebaikan elena, ide ini juga didapat dari fras yang memiliki kekhawatiran sama seperti laras.


siang hari nya, jam makan siang pun tiba laras mengajak dita dan elena untuk makan siang bersama nya.


kini ketiganya sudah duduk bersama disebut restauran yang tidak jauh dari butik laras.


"kak laras" panggil seorang pria yang berjalan mendekat kearah mereka


"loh pak roy, kapan kembali?" tanya dita yang sudah mengenal pria itu


roy adalah adik kandung laras, setahun yang lalu roy pergi ke milan untuk mengembangkan butik kakak nya dan kini dia sudah kembali.


"beberapa hari lalu ta" jawab roy duduk di samping laras tepatnya didepan elena.


roy menatap seorang gadis yang didepannya yang terus menunduk memandang ponsel nya.


"hay kamu elena ya?" sapa roy dengan ramah, roy sudah mengetahui sekertaris baru kakaknya hanya saja belum pernah melihat wajahnya.


elena mendongak memandang roy, roy seketika terpanah dengan kecantikan wanita yang ada di depan nya


elena hanya mengangguk sekali lalu fokus kembali pada ponsel nya, laras yang melihat adiknya terpaku itu pun menahan tawa


"dia akan mengamuk jika kau terus memandang nya seperti itu" bisik laras membuat roy kembali tersadar


"hehe maafkan aku kak, oh iya el aku adiknya kak laras" ucap roy dengan ramah


elena hanya menjawab dengan deheman "ternyata kulkas 10 pintu" batin roy yang awalnya tidak percaya dengan cerita laras bahwa gadis didepan nya begitu dingin.


"jangan ajak biacara lagi, jika kau ingin tahu lebih tentang nya akan kakak jawab nanti, jangan mengganggu dunia nya atau dia akan pulang"


roy hanya mengangguk mengerti, dengan melihat raut dingin elena dan tatapan tajam matanya saja sudah membuat bulu kuduk roy merinding.


.


.


.


kepo ga nih roy bakal sukak ga sama el? bisa ga el jatuh cinta sama roy? ikutin terus kisah nya ya bestie


jangan lupa dukung author🄰