My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
BUKAN KELUARGA



Aron yang sudah berkomitmen akan menikahi Elena pada usia 20 tahun pun akan segera ditepati.


Seluruh keluarga ataupun sahabat Elena dengan antusias menyiapkan pernikahan gadis ini.


Laras dan Ani memerintahkan WO ternama dan terpercaya untuk membuat dekorasi pernikahan Elena dan Aron.


Hari ini adalah hari fitting baju Elena dan Aron, Laras menunjukkan beberapa desain terbaru nya yang memang di khususkan untuk Elena.


"Bunda menyiapkan beberapa desain untuk pernikahan mu sayang"


"Wahhh ini semua sangat indah bun"


Elena berdecak kagum melihat gambaran gaun pengantin yang akan dikenakan nga dihari istimewa nya bersama Aron nanti.


Elena memilih dengan bingung gaun seperti apa yang akan dikenakan nya nanti, semua terlihat sangat indah dimatanya.


Aron yang sudah melakukan pengukuran lebih dulu pun ikut nimbrung dengan calon istrinya untuk memilih gaun pernikahan nanti.


"Apa sudah memutuskan?" tanya Laras dengan antusias


"Ini bagus" ucap Elena dan Aron secara bersamaan dengan menunjuk desain yang sama pula


"Wahhh calon pengantin ini mempunyai banyak kesamaan ternyata" goda staf milik Laras yang membuat Elena tersipu.


Elena dan Aron sama sama menunjuk desain gaun dengan model A-line yang memiliki belahan disisi kanan sampai dipaha yang akan mengekspos kaki jenjang yang memakai nya.


Gaun itu juga memiliki bidang dada yang rendah tanpa lengan, Elena akan menjadi princes saat memakai nya nanti.


"Pilihan yang tepat, kau akan sangat cantik saat memakainya nanti sayang" ucap Ani yang ada disana juga.


"Itu benar sayang, bunda hanya berharap Aron menahan dirinya selama pesta berlangsung nantinya" goda Laras yang mengundang tawa mereka.


Elena pun langsung melakukan pengukuran yang dibantu Langsung oleh Laras karena ingin mendapatkan hasil yang maximal nantinya.


"Apa sudah selesai?" tanya Aron setelah melihat Elena selesai pengukuran


"Sudah, mau makan siang bersama?" tawar Laras


"Tidak bisa bun, aku akan mengadakan rapat selama satu jam Elena dan aku akan makan di tempat lain nanti"


"Ahh yasudah kalau begitu kembalilah kekantor" ucap Laras mengalah


"Kalau begitu kami permisi mama bunda" ucap Elena setelah menyalami keduanya.


Mereka pun memutuskan untuk kembali kekantor karena memang Aron akan ada rapat sebentar lagi.


"Kamu tunggu disini ya sayang, aku akan segera kembali dan kita akan makan siang bersama" ucap Aron mengecup kening Elena dan berlalu pergi.


Elena menjajah ruang kerja Aron dengan pandangan nya, Elena berdecak kagum melihat foto Aron yang berada di lemari kaca.


"Calon suami ku begitu tampan, hihi pasti banyak wanita iri melihat ku menikahi pria tampan sepertinya" kekeh Elena seperti orang gila.


Elena duduk dikursi kebesaran milik Aron, Elena tersenyum hangat saat melihat foto dirinya yang ada diatas meja Aron.


"Kau begitu romantis Aron, bahkan kau tidak pernah melupakan aku barang sedetik pun" gumam Elena berbunga bunga.


Ceklekkkkk


Elena memutar bola mata malas saat melihat siapa yang masuk kedalam ruang kerja calon suami nya.


"Kau, apa yang kau lakukan disini?" tanya Melisa menatap tajam Elena


"Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, tante" ucap Elena dengan nada mencibir


"Berhenti memanggil ku tante bocah tengil"


"Apa salahnya? aku hanya berlaku sopan kepadamu" ucap Elena dengan wajah yang sangat polos.


"Apa pun itu aku tidak perduli, keluar dari ruangan Aron karena dia calon suami ku" ucap Melisa tanpa tahu malu.


Melisa ini gila apa bagaimana, jelas jelas banyak berita tentang pernikahan Elena dan Aron lalu apa kata gadis ini? benar benar gila fikir Elena.


"Kau mengusir ku?"


"*Iya jal*ng, cepat pergi dari ruangan Aron sebelum aku menyeret mu*"


Elena yang sangat malas berdebat dengan Melisa pun memutuskan untuk meninggalkan ruangan kerja Aron.


"Heh, kau fikir kau bisa menyingkirkan aku? Aron akan jatuh ke tangan ku nantinya" gumam Melisa mendudukkan dirinya disofa.


Setelah rapat selesai, Aron langsung menuju ruang kerjanya karena tidak ingin membuat calon istrinya menunggu lama.


"Sayanga ayo kita ma...."


Ucapan Aron langsung terhenti saat melihat siapa yang ada diruangan nya sedangkan orang yang dicari tidak ada.


"Sedang apa kau disini Melisa?" tanya Aron datar


"Ingin mengajak mu makan siang bersama, aku dengar ada restauran baru di pertigaan sana"


"Dimana calon istriku?"


"Aku mengusirnya" jawab Melisa santai.


"Kau mengusirnya? apa hak mu hah? dengar ya Melisa aku tidak akan menikahi dirimu ataupun wanita lain selain Elena"


"Kau sudah gila Aron, jelas jelas oma tidak menyetujui pernikahan kalian walaupun tahu dia putri dari sahabat papi mu"


"Apa perduli ku? yang akan menjalani rumah tangga adalah aku bukan oma, baik dirimu ataupun oma tidak akan pernah mengubah keputusan ku untuk menikahi Elena"


"Kau lihat saja nanti, oma yang akan bertindak"


"Keluar sekarang sebelum aku berbuat kasar kepadamu" ucap Aron menatap Melisa dingin.


Dengan hati yang dongkol Melisa meninggalkan ruang kerja Aron, wanita itu terus menggerutu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ditempat yang berbeda tepatnya di cafe seberang kantor Aron, Elena sedang duduk seorang diri dengan segelas coklat dingin di hadapan nya.


Gadis itu terus fokus pada ponselnya tanpa menyadari ada seseorang yang duduk di hadapan nya.


"Selamat siang nak, kau sendiri?" tanya seorang wanita paruh baya.


Elena langsung mengangkat pandangan nya, Elena memicingkan matanya saat melihat wajah familiar yang pernah dilihatnya tetapi lupa dimana.


"Maaf, anda siapa?"


"Ahh iya aku lupa, aku wanita yang pernah ingin menemui saat bersama Aron tetapi Aron langsung membawa mu pergi" jawab wanita itu yang ternyata Hana.


Elena langsung mengangguk, bagaimana bisa lupa dengan wanita yang melahirkan calon suami nya.


"A..ahhh iya maaf saya lupa nyonya"


"Jangan panggil nyonya nak panggil mami saja"


Elena hanya mengangguk singkat, Elena sedikit bingung kenapa wanita ini mendatanginya Elena juga takut Aron marah nantinya


"Ada apa mami kesini?"


"Mami hanya ingin berbicara dengan calon menantu mami, ternyata putra mami memiliki istri yang sangat cantik" puji Hana.


"Terimakasih atas sanjungan nya mi"


"Sama sama nak, mimi mendengar kabar pernikahan kalian yang akan dilangsungkan dua minggu lagi"


"Heem, benar mi apakah mami akan datang?"


"Akan mami usahakan da..."


"Dia tidak akan datang sayang" sela Aron yang langsung menyambar tangan Elena.


"Aron" terkejut Elena dan langsung menundukkan kepalanya karena sudah pasti pria ini akan marah nantinya.


"Jangan memarahinya nak mami yang mendekatinya tadi"


"Jauhi orang orang terdekat ku dan jangan berbicara dengan calon istriku maupun anak ku nantinya"


"Nak maafkan mama nak, kita masih keluarga bukan?"


"Siapa bilang? aku bukan keluarga ataupun anak mu anggap saja putramu sudah mati setelah kau tinggalkan" ucap Aron dingin.


"Nak maafkan mami, mami tahu mami salah Aron"


"Kita pergi sayang" ucap Aron menarik kasar tangan Elena dan berlalu pergi meninggalkan Hana yang menatap nelangsa kepergian putranya.


"Masuk" titah Aron menyuruh Elena masuk kedalam mobil tanpa melepaskan genggaman tangan nya.


Elena sedikit meringis saat merasakan genggaman Aron yang begitu kuat ditangan nya, Elena enggan berbicara karena melihat rait kemarahan diwajah Aron.


"Jalan Halid" titah Aron dan Halid pun langsung melesatkan mobilnya meninggalkan Cafe itu.


"Sudah ku peringatkan jangan mendekatinya kenapa jadi pembangkang?"


"Maaf tadi dia yang nendekatiku, aku juga tidak tahu jika dia mendatangi ku"


"Apa pun itu aku tidak perduli, lain kali pergi saja setelah melihatnya!" bentak Aron.


"Ba..baik" jawab Elena.


Elena hanya bisa mengigit bibir bawah nya karena rasa sakit ditangan nya, rasanya ingin menangis saja karena genggaman tangan Aron begitu kuat.


Setitik air mata jatuh membasahi pipi Elena dan langsung dihapus gadis itu, Elena mengalihkan pandangan nya keluar jendela.


Aron yang tanpa sengaja melihat air mata Elena pun mengerutkan kening nya bingung.


"Kau menangis hanya karena aku berbicara seperti itu kepada wanita itu?" Elena menggeleng singkat


"Lalu apa? jangan mendiamkan aku Elena"


"Bisakah turunkan nada bicara mu? dan lepaskan tangan ku karena ini sangat sakit" jawab Elena dan langsung berderai air mata


Aron langsung melepaskan genggaman nya dan memperlihatkan pergelangan tangan Elena yang sudah memerah karena kelakukan nya.


"Ma..maafkan akau sayang, tadi aku sangat emosi"


"Kau gila? kau lampiaskan amarah mu kepada ku padahal aku tidak bersalah, ini sakit sekali hiks" bentak Elena.


"Ma..maaf sayang, kita makan siang ya sudah jangan menangis" bujuk Aron mengelus pergelangan tangan Elena.


"Aku tidak ingin makan aku ingin pulang"


"Sayang kita belum makan siang"


"Aku ingin pulang!" bentak Elena menatap tajam Aron.


"Ba..baik sayang kita pulang" ucap Aron mengalah


"Matilah aku, papi sama papa pasti memarahi ku karena membuat Elena menangis, ahhhh Aron bodoh ada apa dengan mu" gerutu Aron dalam hati dan merutuki dirinya.


.


.


.


Kiwwwww.