My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
ENGGAN KEMBALI



Hari wekend pun tiba, hari yang cerah mendukung siapa saja yang ingin berlibur untuk menghabiskan waktu bersama siapa saja.


Hari ini Elena memutuskan untuk berpergian bersama Dinda, merasa amat rindu kepada sahabat kecilnya, sahabat Elena yang lain enggan nimbrung karena ingin memberi waktu kepada mereka.


kini keduanya sudah berada disebut taman yang ditengahnya terdapat kolam ikan hias.


"apa mereka masih mengganggu mu?" tanya Dinda memecah kesunyian diantara keduanya.


"masih, mereka sering mengirimi ku makanan jika aku dibutik tetapi selalu aku buang" jawab Elena yang paham siapa yang dibahas Dinda.


"terlalu banyak untuk saat ini, bahkan yang tida mengenalku dengan baik pun mencoba masuk"


"aku ga bisa Din, aku terlalu membenci mereka semua" Elena menghembuskan nafas kasar.


"aku mengerti, kapan kau kembali?" tanya Dinda menatap wajah cantik Elena dari samping.


"aku tidak akan kembali" jawab Elena menoleh kearah Dinda.


hati Dinda merasa sangat sakit mendengar jawaban sahabat nya, ntah sampai kapan mereka akan berjauhan seperti ini.


"mereka tidak mencariki Dinda, untuk apa aku kembali dan aku yakin mereka pasti tahu keberadaan ku disini"


"5 bulan aku menunggu kabar dari mereka, tetapi apa yang aku dapat? tidak ada hanya sebuah penantian yang sia sia"


Dinda mengangguk paham, bagaimana pun dia tidak berhak memaksa keputusan sahabat nya.


"aku hanya khawatir karena kita berjauhan, apa lagi kedua pria itu masih mengganggu mu" lirih Dinda membuat Elena merasa bersalah


"jangan mengkhawatirkan aku Din, aku disini tidak sendiri ada Jessica dan lainnya, bunda Laras dan om Fras juga menjagaku"


"apartemen ku juga memiliki keamanan yang kuat, aku yang lebih khawatir padamu jika nanti dibodohi oleh pria lagi" ucap Elena membuat Dinda terkekeh.


"aku akan merindukan momen ini jika nanti sudah kembali" ucap Dinda memeluk Elena


Elena hanya bisa mengangguk karena dirinya juga merasakan hal yang sama.


dari kejauhan terlihat seorang pria yang duduk didalam mobil mewah berwarna hitam nya sedang memperhatikan dua wanita itu.


Pria itu adalah Aron, Aron tidak terlalu mengenal Dinda apa lagi semalam Dinda datang bersama seorang pria membuat Aron khawatir.


"tuan ingin menemuinya?" tanya Halid yang berada di kursi kemudi


"tunggu sebentar lagi" jawab Aron yang terus memperhatikan Elena.


sampai ketika Elena pergi menuju kearah sebuah penjual kaki lima meninggalkan Dinda yang masih duduk di bangku taman.


Aron langsung memakai masker hitam dan menutup kepala nya dengan topi hoodie yang dipakai nya.


Aron berjalan mendekati Elena, dibalik maskernya Aron tersenyum senang hati nya merasa berbunga bunga bisa dekat dengan wanitanya lagi.


Brukkkkk


"ahhhh" Aron langsung memeluk pinggang Elena, dan kini posisi mereka sangatlah intim membuat Aron sulit bernafas.


beberapa detik pandangan mereka beradu, hingga Elena yang lebih dulu melepaskan padangan nya


"maafkan aku, aku tidak sengaja" ucap Elena dan berpamitan pergi meninggalkan Aron.


Aron berjongkok dan mengambil sebuah jepit rambut berbentuk bunga matahari, penjepit itu lolos dari rambut Elena tadi.


"sudah yang ketiga, harus sampai berapa penjepit baru aku bisa mengambilmu sayang?"


"aku sangat ingin melihat mu setiap hari, menjalani hidup bersama mu" gumam Aron memasukkan penjepit itu kedalam saku nya.


Elena kembali mendekati Dinda dengan perasaan yang berdebar, Elena juga bingung kenapa akhir akhir ini dia sering bertubrukan dengan orang.


dia saja tidak tahu orang itu pria atau wanita, yang jelas mata itu sangat indah bagi Elena.


"kamu kenapa Len?" tanya Dinda saat melihat sahabatnya sedikit bengong


"hah? tidak, aku tidak apa" jawab Elena sedikit tergeragap


"ck, kenapa mata itu terus berputar dikepala ku, aku saja tidak mengenalnya mana mungkin aku bisa merasakan hal berdebar gini"


"lagian aku kok salfok gitu sih, beberapa hari ini bertubrukan terus sama orang" gerutu Elena dalam hati.


Elena dan Dinda serempak menoleh secara bersamaan, melihat siapa yang menyapa dirinya


"ada apa ko?" tanya Elena saat pria itu kini duduk di samping nya.


pria itu ternyata axel, pemilik bar langganan Elena dan para sahabat nya


"sibuk?" tanya Axel menatap wajah cantik Elena dengan senyum mengembang


Elena hanya menggeleng saja, mata Axel tertuju pada gadis berkulit kuning yang duduk bersama Elena


"perkenalkan nama saya Dinda, sahabat Elena dari kampung" ucap Dinda karena merasa diperhatikan


"ko Axel" ucap Axel menjabat tangan Dinda dengan ramah dan sopan apa lagi melihat Dinda memakai hijab


"koko ada apa kemari, kenapa bisa tahu aku disini?" cecar Elena yang mulai merasa risih


"besok di bar ada acara, kamu datang ya" ucap Axel menyerahkan kartu undangan kepada Elena


"kamu mulai mendatangi bar Len?" tanya Dinda terkejutnya, pasalnya wanita ini dulu tidak pernah tahu jenis alkohol apa pun


"hanya penghilang penat, aku ke sana juga ga pernah sendiri selalu sama yang lain" jawab Elena yang tahu kekhawatiran Dinda


"kamu tenang saja Dinda, El selalu koko jaga lagian bar itu punya koko jadi tidak ada yang berani macam macam sama dia"


Dinda menghela nafas lega, paling tidak ada beberapa orang yang bisa dipercaya untuk menjaga sahabat nya.


Elena menerima kartu undangan dari Axel dan meletakkan nya didalam tas kecil yang dibawa nya.


"akan aku usahakan datang" ucap Elena tanpa menoleh kearah Axel


"jika tidak keberatan koko yang akan menjemput mu El" tawar Axel yang selalu ingin bersama wanita cantik ini


"tidak usah, aku akan pergi bersama yang lain, mereka mendapatkan undangan juga kan?" tanya Elena menoleh kearah Axel


nafas Axel terasa tercekat melihat manik coklat indah yang membuatnya tergila gila itu, apa lagi bibir ranum merah muda itu.


"ko?" panggil Elena saat melihat Axel bengong dan tidak menjawab pertanyaan nya


"hah? i...iya El mereka juga dapat" jawab Axel yang langsung memalingkan wajahnya yang sudah memerah.


Dinda menyadari bahwa Axel menyukai sahabat nya, terlihat dari tingkah Axel yang sedikit gugup dan pipinya yang memerah


"aku akan usahakan datang nanti, aku permisi ko" pamit Elena dan pergi bersama Dinda


Axel bersorak bahagia karena baru kali ini bisa bertatap begitu dekat dengan wanita pujaannya.


"koko tadi suka kamu Len" celetuk Dinda, saat ini mereka sedang berjalan menyusuri trotoar menuju sebuah restauran.


"ck aku tahu itu, sudah beberapa kali dia mengatakan itu pada ku" ucap Elena dengan malas.


" lalu?" tanya Dinda bingung, Dinda menilai Axel adalah pria baik dan juga sangat menjaga sahabat nya


"jangan bertanya jika kau tahu jawaban nya Dinda" ketus Elena yang tidak suka pembahasan ini.


Dinda menghela nafas, dahulu Elena adalah wanita yang sangat mudah bergaul dan senang saja didekati oleh siapa pun.


tetapi sekarang ini wanita itu sangat benci keramaian dan juga keramahan orang asing, bagi Elena mereka semua tak ubahnya seorang iblis yang hanya mau memanfaatkan dirinya saja.


Elena menjadi seperti itu dikarenakan trauma, psikis nya juga terganggu dan itu sudah dibuktikan oleh dokter psikolog yang menangani Elena, hanya saja gadis itu masih mampu menutupi segalanya.


yang tahu mental nya terganggu hanya Laras dan suami nya serta ketiga sahabat Elena, lain dari itu tidak ada yang tahu bahkan Dinda sekalipun, semua nya memang terlihat baik baik saja toh Elena terlihat sehat.


Hanya saja mental nya sudah hancur dengan banyak perlakuan buruk, Elena terlalu kuat menutupi segalanya tanpa ada seorang pun yang tahu bahwa dirinya sedang tidak baik baik saja.


.


.


.


Aron makin kesini makin kesana ya bestie haha, ga masalah deh nanti secepatnya kita pertemukan mereka lagi ya.


staytune dan ikuti terus kisah mereka ya besti, dan jangan lupa dukungan buat author 🤗