
Di sebuah rumah mewah, tepatnya diruang kerja seseorang sedang memandangi lukisan seorang wanita yang sedang tersenyum melihat kearah bulan yang sedang bersinar.
pria itu mengelus bagian wajah dari lukisan wanita itu, hingga senyum tipis pun terbit dibibir nya.
pria itu adalah Aron, Aron memandang lukisan wajah Elena saat mereka bertemu dikota B, ralat Aron yang melihatnya.
saat pulang dari kota B, Aron langsung melukis wajah Elena yang saat itu terus melekat dipikirannya.
"aku bingung pada diriku sayang, kenapa harus kau hem? dari sekian banyak wanita yang kutemui kenapa harus kau?" gumam Aron terus menatap lukisan itu.
ceklek
pintu ruang kerja Aron terbuka, seorang wanita paruh baya yang mengenakan pakaian pelayan masuk dengan membawa segelas kopi.
"kopi Anda tuan" ucap wanita paruh baya itu.
"letakkan saja di meja bik" jawab Aron tanpa menatap pelayan itu.
pelayan itu bernama bik Minah yang seorang kepala pelayan dirumah mewah Aron, bik minah sudah bekerja dengan keluarga Aron sebelum pria arogan ini lahir.
bahkan bik Minah juga tahu apa yang membuat tuan muda nya begitu suka mempermainkan wanita dan juga sangat dingin serat arogan.
"gadis yang cantik" gumam bik Minah yang melihat sekilas lukisan wajah Elena yang dipegang Aron.
Aron langsung menatap bik Minah dengan alis yang terangkat satu, bik Minah terkekeh melihat wajah Aron.
"apakah tuan muda sudah mendapatkan hatinya?" tanya bik Minah dengan suara lembut seakan sedang berbicara dengan putranya.
Aron menghela nafas dan menggeleng "dia saja tidak mengenal ku" jawab Aron memandang lukisan Elena lagi.
Aron sudah sering berkeluh kesah dengan bik Minah, bik Minah cukup dihormati oleh Aron dirumah ini yang dianggap ibu bagi Aron.
"dia sudah berani menolong tuan, pasti dia memang ditakdirkan untuk tuan" ucap bik Minah memberi energi positif untuk Aron
"kau benar bik, sebentar lagi dia akan ada di rumah ini mengisi setiap sudut rumah ini dengan suaranya" ucap Aron tersenyum tipis.
Bik Minah tersenyum hangat, baru kali ini dia melihat senyum pria tampan yang sudah memudar sejak 20tahun terakhir.
"tuan akan mendapatkan hatinya dengan cara apa?" bik Minah tidak pernah sungkan bertanya hal pribadi kepada Aron karena pria itu sangat terbuka padanya
"yang penting aku membawanya kerumah ini dulu bik" jawab Aron
bik Minah terkejut "tuan jangan bilang Anda.."
Aron hanya mengangguk, rencana nya sudah terbaca oleh buk Minah yang sangat mengerti jalan pikiran pria tampan bertubuh atletis ini.
"baiklah tuan bibik akan menunggu, bibik permisi" pamit bik Minah dan berlalu keluar ruangan kerja Aron.
pandangan Aron beralih pada purnama yang terlihat dari jendela ruang kerjanya, dia seakan terlempar pada masa saat dirinya merasa jatuh cinta dengan gadis kecil itu.
"*bahkan ketika melihat bulan pun aku seperti melihatmu sayang, kenapa kau bisa membuat ku seperti ini hem?"
"kau tega sekali sayang membuatku tersiksa berbulan lamanya, dua bulan lagu ulang tahun mu*" Aron terus berdialog dengan dirinya sendiri seakan Elena ada dihadapan nya.
pagi hari yang cerah, Aron sudah berada diruang kerja nya sembari menatap ponsel nya yang menampilkan rekaman CCTV seorang gadis sedang tertidur.
Aron terus memantau Elena bahkan mengirim pengawal bayangan untuk menjaga gadis itu karena sahabatnya Jessica jarang sekali dirumah.
tok tok tok
"masuk"
seorang pria paruh baya dengan pakaian formal berjas yang berwarna hitam masuk kedalam ruangan Aron.
wajah keduanya seperti kembar, sama sama tampan dan juga bertubuh tegap serta mata elangnya yang tajam.
"papi? kapan papi datang?" ucap Aron saat melihat siapa yang masuk ke ruang kerjanya.
pria itu adalah Jonathan Smith, ayah kandung Aron yang selama ini tinggal di New York untuk mengurus cabang perusahaan Smit Group.
"tadi malam" jawab Jonathan singkat
"papi tidak ingin mengganggu mu, papi juga dengar dari orang rumah kalau ada seorang gadis yang memenangkan hatimu tanpa bertarung" ucap Jonathan to the poin
"apa bik Minah menceritakan semuanya?" tanya Aron masih memandang rekaman CCTV yang ada diponsel nya.
"siapa dia nak?" tanya Jonathan yang duduk disofa ruang kerja putra mahkotanya
"hanya gadis biasa papi, dia beberapa kali menyelamatkan ku" jawab Aron mendekati papinya.
"wahh siapa sangka putra papi akan jatuh cinta pada gadis biasa, sia sia oma mu menjodohkan mu dengan seorang model" kekeh Jonathan
"papi jangan mulai, dia memang dari kalangan gadis biasa tetapi dia sangat istimewa" puji Aron yang melihat Elena sudah bangun.
"apakah kesopanan didirimu sudah hilang Jhon? kau berbicara dengan siapa tetapi kau terus memandang ponselmu" ketus Jonathan.
Jonathan sering memanggil putranya dengan sebutan Jhon, nama tengah Aron karena baginya mereka duplikat berbeda umur saja.
"aku sedang melihat gadis ku yang baru tidur" celetuk Aron membuat Jonathan tercengang
Jonathan menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan putra nya, Jonathan melihat seorang gadis muda yang sedang memakan sandwich
"berapa umurnya?" celetuk Jonathan yang melihat wajah Elena masih begitu belia untuk disandingkan dengan umur putranya
"dua bulan lagi dia 19tahun" jawab Aron santai membuat Jonathan semakin terkejut
"pedofil gila, dia terlalu kecil untukmu Aron selisih umur kalian 8 tahun" ketus Jonathan memukul pelan lengan putranya
"ck, umur tidak menjadi masalah pak tua, lagian aku terlihat awet muda seperti pria berumur 23 tahun" ucap Aron membanggakan ketampanan nya
"ck wajah tampan mu itu hasil dari ku juga brengsek" ketus Jonathan menggelengkan kepalanya
"oh iya? terimakasih kalau begitu" ucap Aron yang biasa menanggapi perdebatan kecil dari papinya
"apa dia sudah mencintaimu Jhon?" tanya Jonathan menatap wajah cantik yang sedang berbaring disofa sembari membaca buku
"dia akan jatuh cinta ketika dia sudah bersama ku" jawab Aron dengan santai
"apa maksud mu?" tanya Jonathan bingung hingga kening nya mengkerut
"ck papi jangan seperti orang bodoh, dia tidak mengenal ku tetapi akan aku miliki" jawab Aron menatap malas papinya yang selalu membuatnya jengkel
"jangan bilang kau akan.."
"iyap, papi benar 100 buat papi" ucap Aron menyela ucapan papi nya
"dasar pedofil gila!" bentak Jonathan menjitak kepala putranya hingga Aron mengaduh sakit
"sudahlah papi ini akan menjadi urusan ku, dia yang ku pilih" ucap Aron kembali ke kursi kebesaran nya.
"tapi oma mu nak" ucap Jonathan sedikit khawatir
"ketika oma kembali dia sudah jatuh cinta padaku" jawab Aron mengurai kerisauan papinya
"papi percaya padamu, bawalah dia menemui papi" ucap Jonathan dan meninggalkan putra nya.
kekhawatiran Jonathan hanya satu yaitu ibunya, ibunya sudah menjodohkan putra satu satunya dengan Melisa teman kecil Aron.
Aron menolak keras tetapi omanya juga tidak kalah keras untuk menjodohkan mereka, apa lagi Aron tumbuh besar bersama oma nya.
Aron juga sangat menyayangi oma nya, tidak tahu apa yang akan terjadi jika oma nya mengetahui kalau Aron mempunyai wanita pilihannya sendiri.
.
.
.
kiwww ikuti terus kelanjutan nya yawww
staytune dan dukung author terus hihi.