
Aron dan Jonathan berlari keluar rumah dengan wajah yang sudah menggelap dan pistol yang ada digenggaman keduanya.
"Hahaha akhirnya kau keluar juga Jonathan, apa kabar teman lama ku?" sapa Albert tertawa angkuh
"Hay Aron, apa kabar mu? aku dengar calon istri mu begitu cantik dan menggemaskan tidakkah kau sudi berbagai dengan ku?"
"Cihh, jangan pernah kau menyentuh calon istriku Lucas" ucap Aron menatap tajam ayah dan anak itu.
"Berikan putri bungsu bramasta kepadaku, maka tidak ku usik lagi kalian sebagai balasan nya" ucap Albert memberi tawaran
"Aku tidak akan memberikan apa yang sudah ku miliki"
"Ohh ayolah Jonathan, kau sudah dibohongi oleh Bram selama ini karena dia belum mati, kita bagi hasilnya nanti"
"Apa pun itu, Elena sudah seperti putriku dan aku akan menjaganya karena dirinya bukan karena Bram"
"Kau menolak tawaran ku? baiklah" ucap Albert mengecek sisa pelurunya
"Serahkan saja gadis kecil itu Aron"
"Tidak akan pernah"
Dorrrr
Aron menembak tepat di samping kaki Lucas, tidak meleset memang Aron sengaja tidak mengenai Lucas.
Baghhhh Bughhhh
Baghhhh Bughhhh
Kedua kubu bertarung dengan tenaga mereka, begitupun dengan tuan mereka masing masing yang sudah mulai unjuk kekuatan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah rumah mewah milik Bram, pria kepercayaan Bram sedang berlari tergopoh menuju ruang kerja Bram.
Brakkkk
"Gawat tuan"
"Katakan!"
"Kediaman tuan Jonathan diserang kubu Albert"
Brakkkkkk
Bram langsung tersulut emosi karena kabar dari orang kepercayaan nya yang sangat tidak enak didengar.
Jam tangan digital milik Bram yang dikenakan nya mengeluarkan sinar berkedip warna merah.
"Elena dalam bahaya" gumam Bram
"Dimana Arilandro?"
"Tuan muda sedang keluar negeri tuan"
"Tutup informasi ini jangan sampai ke telinga nya, kita kerumah Jonathan dan bawa semua pasukan"
"*B***aik tuan**"
Bram langsung mengeluarkan pistol dari laci meja kerjanya dan menyambar jas hitam milik nya.
"Beraninya dia mengusik hidup putriku, kau mati hari ini Albert" gumam Bram mengepalkan tangan nya dan langsung berlalu keluar.
Dalam hitungan menit saja pasukan Bram sudah berkumpul didepan rumah mewah itu.
"Semua sudah siap tuan, sebagian besar mereka sudah memantau disekitar rumah tuan Jonathan"
"Mereka melihat putriku?"
"Tidak tuan, seperti nya nona sudah disembunyikan oleh tuan muda Aron"
"Kita berangkat, habisi semua kubu *****Albert*****!" teriak Bram dan langsung masuk kedalam mobil mewah nya.
Iring iringan Bram pun melaju kencang menuju kediaman Jonathan, Bram juga mengabarkan sahaba lamanya bersama Jonathan agar mengirim bantuan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dikediaman Aron, semua tampak semakin tak terkendali, banyak pengawal dari kedua kubu yang sudah ambruk.
Keduanya tampan seri, pasukan Aron yang banyak juga terus melawan pasukan Albert yang terus berdatangan.
Sretttttt
Aron menggores bagian lengan Lucas dengan belati kesayangan nya yang membuat kemeja Lucas terkoyak.
"Kau hebat juga ternyata" sanjung Lucas dengan nada mencibir
"Aku dengar wanita mu mempunyai tubuh yang sangat menggoda? ingin sekali aku mencobanya" ucap Lucas mencoba mengurai konsentrasi Aron
"Setelah kematian mu hari ini aku akan membawa gadis mu keatas ranjang ku dan memainkan nya, dia akan menjerit nikmat nantinya"
Mata Aron semakin menajam, tujuan Lucas untuk mengusik konsentrasi Aron tidak berhasil dan semakin menjadikan pria ini tersulut emosi.
Perkelahian antara Jonathan dan juga Albert juga masih terus berlanjut, tidak ada yang ingin mengalah sedari tadi.
"Aku akui kau sangat hebat Jonathan"
"Aku peringkat kedua bela diri setelah Bram jika kau lupa"
"Ahahaha aku lupa dengan hal itu" ucap Albert terkekeh.
"Kau selalu buruk dari dulu Albert" cibir Jonathan
"Haha tapi aku tidak buruk dalam memenangkan hati seorang wanita"
"Kau benar tetapi aku selalu berhasil menghabisi mereka yang sudah menggangguku"
"Itu Yuze bukan aku"
"Apa bedanya" ucap Jonathan menyeringai.
Pengawal Albert semakin banyak berdatangan dan juga menyerang Jonathan dan Aron hingga memberikan cela Albert dan putranya untuk pergi.
"Dimana mereka?"
"Hanya wanita masih bisa kita atasi dengan mudah, ayo pergi"
Albert bersama putranya dan lima orang pengawal miliknya langsung menuju paviliun belakang rumah Aron.
Aron dan Jonathan yang sangat fokus dengan lawannya pun tidak menyadari bahaya menuju Elena.
"Dikunci tuan" ucap pengawal Albert
"Dobrak saja"
"Baik tuan"
Brukkkkk
Brukkkkk
Brakkkkk
Pintu paviliun itu pun terbuka, Albert dan yang lainnya langsung menggeledah seluruh cela paviliun itu.
"Kenapa tidak ada, dimana mereka"
Dukkkk
Lucas tanpa sengaja menendang kotak yang menutupi karpet berwarna merah gelap itu.
Lucas langsung menyingkirkan karpet itu hingga memperlihatkan pintu rahasia menuju ruang bawah tanah.
"Lihat pa" ucap Lucas menunjukkan apa yang dilihatnya.
Albert langsung menyeringai, apa yang diinginkan nya sebentar lagi akan tercapai.
"Buka itu"
Pengawal Albert langsung mencoba membuka pintu yang ternyata terkunci dengan rapat itu.
"Dikuci tuan"
"Sepertinya ini pintu anti peluru pa"
"Serang saja pintunya dulu" ucap Albert dan mereka langsung menembaki pintu itu dan menginjaknya agar terbuka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Diruang bawah tanah, Helga sudah mendapatkan lilin sebagai pencahayaan dan Amey yang mendapatkan tabung oksigen.
Helga langsung menyalakan lilin itu sedangkan Amey membantu bik Minah memberikan oksigen untuk Elena.
Perlahan nafas Elena mulai stabil, mereka pun bisa bernafas dengan lega walaupun tubuh Elena masih terbilang lemas.
"Anda baik baik saja nona?"
"Sudah lebih baik Mey, terimakasih ya"
"Sama sama non" jawab Amey tersenyum hangat.
"Bagaimana keadaan diluar?" tanya Elena yang khawatir
"Ntah lah non, kita semua berada disini dari tadi"
"Bagaimana jika kita keluar"
"Jangan non keadaannya sangat tidak memungkinkan, itu akan membahayakan nyawa Anda nantinya"
"Tapi Aron dan papi juga dalam bahaya Helga"
"Disana sudah ada pengawal dan yang lainnya non jangan khawatir" ucap bik Minah menenangkan
"Oh tuhan, ayolah Aron jangan membuatku khawatir" gumam Elena yang sudah mau menangis.
Mereka jadi kasihan dengan Elena, gadis ini benar benar tidak pernah menghadapo situasi bahaya seperti ini.
Yang difikiran Elena juga hanya orang lain bukan dirinya sendiri padahal semua orang berusaha menyelamatkan nya.
Brakkkkkk
Dorrrr
Dorrrr
"Ahhhhh" Elena berteriak karena terkejut dengan suara tembakan yang terdengar tiba tiba.
"Sial mereka sudah tahu" gumam Helga mengeluarkan pistol nya.
"Bibi, bawa nona kebelakang rak anggur itu" ucap Amey setelah mengecek rak anggur yang tidak mudah di tembus peluru.
"Ayo non" ucap bik Minah menarik Elena.
Semua wanita itu bersiap menyerang siapa saja yang masuk kedalam ruang bawah tanah itu.
"Helga, sembunyilah disini Helga, mereka berbahaya"
"Tenanglah nona, kami akan baik baik saja"
"Jangan bermain main Helga, aku tidak mau kehilangan kalian Helga, Amey!"
"Tenanglah nona"
"Kalian tidak mengerti, jangan bermain main dengan nyawa, kembali kalian semua kesini bersembunyi dengan ku aku khawatir dengan keselamatan kalian"
Keenam wanita tangguh itu tersenyum hangat, Elena memang begitu peduli terhadap orang lain membuat mereka merasa sangat dihargai padahal tidak ada hubungan darah barang sedikit pun.
Brakkkkkk.
.
.
.
Cie digantung lagi wkwk.