
Setelah tadi malam mendapat kejutan bahwa istrinya tengah mengandung, Aron hari ini ingin Elena untuk memeriksakan kandungan nya kembali.
Aron juga berubah menjadi semakin posesif karena kandungan istrinya yang harus dijaga.
Kini keduanya sudah bersiap untuk pergi ke dokter kandungan, Elena menggunakan celana panjang berwarna putih yang dipadu dengan blouse berwarna moca.
Sedangkan Aron memakai pakaian santai, celana pendek yang dipadu dengan kemeja berwarna hitam.
"Sudah sayang?" tanya Aron saat melihat istrinya sedang memakai kalung didepan cermis.
"Biar aku bantu" usul Aron langsung mengambil alih kalung itu.
Aron memasangkan kalung dengan liontin berlian putih keleher jenjang istrinya, Aron memeluk Elena dari belakang dan meletakkan dagu nya dibahu Elena.
"Terimakasih ya sayang" ucap Aron sembari mengelus perut Elena yang masih rata.
"Sudah berapa kali kamu mengatakan itu hem?" Aron terkekeh mendengar ucapan istrinya.
"Terimakasih untuk semuanya" Elena seakan jengah mendengar ucapan itu dari mulut Aron.
"Bisakah kita berangkat sekarang? dokter nya pasti sudah menunggu" ajak Elena dan langsung dituruti Aron.
Keduanya pun langsung berlalu menuju lantai dasar karena mobil sudah disiapkan oleh Zio yang akan mengantar mereka.
Sesampainya dilantai dasar Elena begitu terkejut melihat semua sahabat nya sudah ada disana.
"Loh, kalian?"
"Aaaa Elena, ya ampun kami akan menjadi tante bukan? sehat sehat didalam sana ya baby jaga mommy mu" celoteh Dita mengelus perut Elena.
"Kami datang kemari setelah tahu kabar bahwa kamu hamil" ucap Clara yang juga ada disana.
"Padahal aku ada kejutan khusus untuk kalian"
"Tidak tidak, kami kan harus selalu update tentang dirimu" ucap Jessica membuat yang lain terkekeh.
"Kalian mau cek kandungan bukan? kami ikut ya" pinta Dita.
"Boleh, tapi Rasya mana?"
"Dirumah sakit, dokter Robby memanggilnya" jawab Dita.
"Ya sudah ayo kita berangkat" ajak Aron sembari menggandeng tangan istrinya menuju mobil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah apartemen yang awalnya rapi kini terlihat sangat berantakan, apartemen itu adalah tempat tinggal Melisa.
Setelah mendengar kabar bahwa Elena sedang mengandung benih Aron membuat Melisa begitu marah.
Apa lagi setelah tahu bahwa Harlina kini memihak kepada wanita itu bukan dirinya lagi.
"Perempuan sialan!"
Pyarrrrr
Melisa melempar asbak rokok ke arah cermin hingga membuat cermin itu pwcha berkeping-keping.
Melisa menyambar ponsel nya dan memilah kontak yang akan ditelpon nya hari ini.
Melisa memang sudah kembali ke negara ini sepekan lalu, tetapi belum mengabari Harlina dan mengatakan bahwa dirinya masih diluar negeri untuk melakukan pemotretan.
"Hallo, Arilandro" yah, yang ditelpon Melisa adalah fatner nya yaitu Arilandro.
"Ada apa?" tanya Arilandro dari seberang sana.
"Kau bertanya seakan tidak terjadi apa pun, Elena sudah hamil anak nya Aron!"
Pyarrrr
Terdengar suara pecahan kaca yang begitu nyaring dari seberang sambungan telepon sana.
"Jangan main main sialan!"
"Kenapa harus main main? aku diberi tahu oleh salah satu mata mata ku yang ada dirumah itu" ucap Melisa.
Melisa memang memiliki mata mata yang bekerja sebagai pelayan dirumah Aron, sebab itu dia mengetahui situasi didalam rumah mewah itu.
Apa lagi kabar bahwa Elena diculik, dia juga sempat berharap Elena mati ditangan orang yang menculiknya.
"Aron brengsek!" teriak Arilandro yang langsung tersulut emosi.
"Lalu apa sekarang? Kau masih mau menunggu lagi? cepat bawa wanita sialan itu pergi dari hidup Aron!"
"*Kau selama ini menunda rencana ku Arilandro, jangan sampai aku menghabisi jal*ng itu dengan bayinya*!" bentak Melisa
"Coba saja, sebelum kau melakukan itu maka kau akan ku bunuh lebih dulu"
Tutttt
Panggilan pun terputus begitu saja oleh Arilandro karena sudah muak dengan Melisa yang terus ingin mencelakai Elena.
"Ahhh Arilandro sialan, aku tidak akan meminta bantuan mu lagi brengsek!" teriak Melisa membanting ponsel nya.
"Lihat saja aku akan membunuh wanita yang kau puja puja itu dan Aron akan kembali kepada ku" ucap Melisa sembari mengepalkan tangan nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suasana rumah sakit di ruang pemeriksaan Elena begitu hangat, Elena nyaman dengan dokter kandungan yang dipilihkan oleh Robby.
Bagaimana tidak nyaman, dokter itu adalah sahabat nya sendiri Rasya yang memang akan menjadi dokter kandungan khusu untuk Elena.
"Aku tidak khawatir jika sahabat istriku sendiri yang menjadi dokter nya" ucap Aron saat sedang bersama dengan Robby.
"Kamu ga ngalamin morning sickness El?" tanya Rasya yang melihat sahabat nya sangat baik dan makan nya juga tetap lancar.
"Aron yang mengalami nya, dia baru cerita setelah aku hamil padahal mual nya sudah seminggu" ucap Elena membuat yang lain terkekeh.
"Aku berfikir itu hanya masuk angin biasa" ucap Aron membuat.mereka semua tertawa.
"Apa jenis kelamin nya sudah kelihatan Sya?" tanya Clara
"Kau ini gila apa bagaimana? kandungan nya ****masih**** 2 minggu dan kau berharap dia sudah berbentuk?" ucap Dita menggelengkan kepalanya.
"Kalian ini kenapa bertengkar, orang tuanya saja tidak sibuk" ucap Jessica menengahi
"Apa pun jenis kelaminnya aku akan tetap menyayangi nya, tapi aku berharap baby boy lah yang hadir lebih dulu" ucap Aron mengelus perut istrinya.
"Ada rencana punya banyak anak nih" goda Rasya menatap Elena.
"Wohh sudah pas..." Elena langsung membungkam mulut suaminya yang belakangan ini suka tidak tahu malu.
Mereka terkekeh karena sudah tahu kelanjutan dari ucapan Aron.
Setelah selesai mereka pun langsung kembali kerumah masing masing, Aron dan Elena menaiki mobil yang dikendarai oleh Zio.
"Pelankan laju mobil mu Zio, kau ingin membuat anak ku terguncang didalam sana?" titah Aron membuat Elena tercengang.
Suaminya ini posesif berlebihan memang, Zio sudah mengendarai cukup perlahan saat ini lalu perlahan bagaimana lagi pikir Elena.
"Pelan Zio pelan!" ucap Aron saat melihat polisi tidur didepan.
Zio mengumpati bos nya didalam hati karena begitu lebay membuatnya bingung, Elena juga geleng kepala melihatnya.
"Aku yang hamil kok dia yang posesif sih" batin Elena menatap kesal suaminya.
"Sini sayang, nanti perut kamu terguncang" ucap Aron memeluk istrinya.
"Ya Tuhan" gumam Elena yang merasa tertekan melihat tingkah suaminya.
"Tuan muda benar benar sudah gila, bisa bisa sampai rumah nanti malam kalau begini" batin Zio.
"Zio jangan terlalu lama, istri ku sudah mulai pegal duduk dimobil" titah Aron.
Elena dan Zio benar benar tidak habis pikir dengan isi kepala Aron, tadi dia sendiri yang menyuruh pelan bukan? lalu apa ini?.
"Yakk Aron, ken..."
"Sutttt, ini semua demi dirimu dan calon baby kita sayang" ucap Aron memeluk istrinya.
Zio pun terus mengumpati Aron didalam hati karena sikap nya yang berubah drastis menjadi begitu merepotkan.
.
.
.
🤗
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Mampir juga di karya teman author ya readers😉