My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
KELUAR KOTA



Jonathan sudah pergi dari rumah mewah milik Aron setengah jam yang lalu, dan kini gadis itu sedang berada di meja makan sendiri.


Elena membuka ponselnya hendak mengubungi Aron tetapi takut mengganggu kesibukan pria itu.


"Telepon saja non" ucap Helga yang datang bersama amey.


Elena tadi mengatakan kepada Helga bahwa sahabat nya ingin datang berkunjung Helga tidak bisa mengambil keputusan dan Elena harus izin sendiri kepada Aron.


"Ahhh baiklah" gumam Elena dan langsung menelpon Aron.


"Halo sayang" ucap Aron yang langsung menerima panggilan telepon dari Elena.


Elena terkejut karena baru saja menekan aikon memanggil tetapi kini langsung terhubung, sebenarnya Aron bekerja atau bermain ponsel batin Elena.


"Aku ingin bertanya" ucap Elena sedikit ragu


"Katakan sayang" ucap Aron dari seberang sana


"Sahabat ku ingin datang berkunjung, apakah boleh?" tanya Elena yang memberanikan diri.


"Boleh, tapi janji jangan keluar ya karena sudah hampir sore dan aku akan pulang lebih awal" ucap Aron memberi izin


"Ahhh benarkah?" tanya Elena memastikan


"Iya sayang" ucap Aron yang tahu wanitanya ingin sebuah hiburan


"Kau yang terbaik Aron, aku akan menunggu mu pulang dan jangan lupa bawakan aku permen kapas berbentuk kucing" ucap Elena menutup panggilan itu.


Aron terkejut saat Elena langsung memutuskan panggilan secara sepihak, dialah orang ketiga yang berani memutuskan panggilan setelah oma dan papinya.


"Jika itu orang lain, aku yakin sekarang dia pasti sudah tidak bernyawa, nona Elena menang pawang tuan" batin Halid yang berada di ruangan Aron.


Dengan antusias Elena mengirim pesan di grub chat untuk sahabat nya agar datang ke alamat yang dikirimnya.


Elena memang merindukan sahabat nya itu karena sudah sebulan lalu Elena kiar dari rumah sakit dan tidak bertemu sahabatnya.


Elena berdiri di teras rumah menunggu kedatangan sahabatnya, tidak lama mobil berwarna putih yang Elena kenali itu adalah mobil Jessica.


Mereka berempat pun langsung berpelukan bersama karena memang sama sama merindukan gadis imut ini.


"Kami merindukan mu El" ucap Dita mengecup pipi Elena.


Elena terkekeh melihatnya "Aku juga merindukan kalian" ucap Elena antusias.


Ketiga sahabat Elena mengedarkan pandangan mereka ke halaman rumah mewah itu yang di setiap sudutnya dijaga oleh bodyguard.


"Kau seperti seorang putri El, lihat mereka selalu menjagamu" ucap Rasya terkekeh


"Ck, ayo masuk kita mengobrol didalam" ucap Elena menggiring para sahabat nya masuk.


Kini mereka sudah duduk disofa yang berada diruang tamu, bik Minah dan beberapa pelayan datang memberikan berbagai cemilan dan minuman.


"Wahh rumahnya bagus sekali seperti istana" ucap Jessica berdecak kagum


"Kau hebat El" ucap Dita menyesap jus anggur yang dibawa pelayan tadi


"Hebat apanya? ini rumah Aron bukan rumahku" ucap Elena menggelengkan kepalanya.


"Ck calon suamimu itu" ucap Rasya lalu mereka pun tertawa.


"Yakkkk mana mungkin" teriak Elena membuat ketiga sahabatnya tertawa terbahak bahak.


"Ck jangan menolak takdir El" ucap Jessica terkekeh


"Terserah pada kalian" ucap Elena yang mulai kesal.


Ketiga sahabat Elena pun tertawa terbahak bahak melihat gadis itu sangat kesal karena digoda demikian.


Ketiga sahabat Elena cukup lama berada disana hingga tanpa terasa sore hari pun tiba tetapi para gadis itu masih asik ngobrol.


"Sepertinya pak Roy akan mengalami sakit hati yang begitu dalam" ucap Dita lalu mereka tertawa


"Sayang" panggil Aron masuk kedalam rumah sembari membawa sebuah permen kapas berwarna pink yang berbentuk kucing


Elena menoleh ke asal suara, mata Elena langsung berbinar melihat apa yang dibawa Aron


"Awww kau membawanya" ucap Elena dan mendekati Aron


"Untukmu" ucap Aron menyerahkan permen kapas itu kepada Elena lalu mengecup kening nya


"Ini sangat indah, terimakasih Aron" ucap Elena mengecup kening Aron lalu kembali duduk bersama sahabat nya.


Aron mematung setelah Elena mengecup kening nya, kecupan pertama Elena selama tinggal bersamanya.


"Aku mandi dulu ya sayang, kalian lanjutkan saja" ucap Aron dan meninggalkan sekumpulan gadis gadis itu.


"Ada apa? apa kalian ingin permen kapas ku ini?" tanya Elena menatap ketiga sahabatnya


"Ka..kau, apa yang kau lakukan tadi El?" tanya Rasya tidak percaya


"Apa? apa yang aku lakukan?" tanya Elena bingung


"Kau tadi meng.. mmpphhhh"


"Hehe tidak ada El, permen kapas mu indah bolehkah aku meminta nya?" ucap Jessica menahan perkataan Rasya.


Jessica tidak mau Elena merasa tidak nyaman karena seperti nya gadis ini tidak ingat telah mengecup Aron secara reflek.


"Tidak boleh, ini punya ku" ucap Elena menikmati permen kapas itu


"Jangan kau ucapkan dia pasti akan langsung malu" bisik Dita yang tahu situasi


Rasya hanya bisa tersenyum kuda karena hampir saja ucapan bodohnya itu merusak suasana hati sahabatnya.


Hingga malam hari tiba, ketiga sahabat Elena sudah pulang saat hari sudah mulai gelap.


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Elena sudah berada didalam kamarnya sedangkan Aron masih berada diruang kerja.


Elena memainkan ponselnya sembari sesekali memotret dirinya sendiri, perlu diingat jika gadis itu begitu suka berfoto.


"Belum tidur sayang?" ucap Aron yang baru masuk kedalam kamar itu


"Masih jam sembilan" jawab Elena tanpa menoleh kearah Aron


"Aku jadi menyesal memberikan nya ponsel" batin Aron dan berlalu ke walk in closed untuk berganti pakaian.


Aron keluar sudah menggunakan piyama tidur nya lalu mendekati Elena, Elena masih terus asik dengan ponselnya


"Sayang" panggil Aron tetapi gadis itu tidak menjawab.


Aron langsung menggendong Elena dan memindahkan gadis itu ke atas ranjang, sedangkan Elena masih terus fokus pada ponselnya.


Aron langsung merebut ponsel Elena secara paksa karena gadis ini cukup keras kepala


"Bal..." ucapan Elena terhenti saat melihat wajah Aron yang berubah


"Hehe aku akan tidur" ucap Elena menarik selimut nya.


Aron meletakkan ponsel Elena diatas nakas lalu menyusul wanita itu berbaring diatas ranjang.


Aron menarik pinggang Elena hingga semakin dekat dengan nya, bahkan kini keduanya tidak ada jarak barang sejengkal pun.


"Aku besok akan pergi keluar kota sayang" ucap Aron sembari membelai rambut Elena.


Elena langsung terduduk dan menatap Aron dengan raut wajah yang tidak bisa Aron artikan


"Ada apa sayang?" tanya Aron bingung


"Kenapa tiba tiba sekali? nanti aku bersama siapa? bisakah aku ikut saja? aku tidak ingin kau tinggalkan" cecar Elena dengan raut wajah yang menggemaskan


"Tidak akan lama sayang hanya seminggu kurang lebih, dan kau tidak boleh ikut karena ini pekerjaan" ucap Aron dengan lembut


"Aaaaa aku tidak mau sendiri" rengek Elena merebahkan kepalanya didada bidang Aron.


Aron sedikit terkejut karena sikap manja Elena yang tiba tiba, sepertinya Elena sudah mulai terbiasa dengan Aron


"Aku janji tidak akan lama sayang, akan ku selesaikan dengan cepat agar bisa kembali lebih awal" ucap Aron yang berharap Elena mengerti


"Sepenting itu kah?" tanya Elena mendongak dan menatap wajah Aron


"Sangat penting dan tidak bisa digantikan oleh orang lain, hanya sebentar oke?" jawab Aron mengecup pipi Elena.


"Baiklah, tapi kau harus berjanji terus berhati hati karena firasat ku sedikit tidak enak" ucap Elena memeluk Aron


"Aku berjanji, kau sekarang alasan aku hidup sayang" ucap Aron membalas pelukan Elena.


Elena sedikit merasa berat melepas kepergian Aron, ntah mengapa hatinya sedikit gelisah karena Aron berpamitan pergi.


Tetapi Elena juga tidak bisa menahan karena ini memang sudah pekerjaan Aron, Aron juga tidak mengatakan pekerjaan apa yang akan dikerjakan nya dikota C.


.


.


.


Siap siap setelah ini ada konflik ya readers hihi.