
Elena duduk sembari memegang pulpen ditangan nya, wajah gadis itu terus ditekuk dengan bibir yang mengerucut kedepan.
Bagaimana tidak, Aron memberikan Elena pekerjaan yaitu menuliskan nama Aron sebanyak satu buku full.
Tok Tok Tok
"Masuk"
"Selamat pagi tuan Smith" sapa seorang karyawan yang menggunakan pakaian kurang bahan.
"Dia ini ingin bekerja dikantor apa pemandu lc sih" gerutu Elena didalam hati.
"Hem" Aron hanya membalas dengan deheman tanpa mengalihkan pandangan nya dari berkas yang ada didepan nya.
"Ini laporan yang tuan minta" ucap karyawan wanita itu dengan nada yang dibuat mendesah.
Elena bergidik geli melihat karyawan wanita Aron yang seperti cacing kepanasan itu.
"Kau boleh pergi" ucap Aron mengibaskan tangan nya.
"Permisi tuan" ucap wanita itu centil dan membalikkan tubuhnya.
Wanita itu menatap Elena nyalang, sedangkan Elena menatap malas wanita yang seperti cacing kepanasan itu.
"Aku tidak yakin kau bisa fokus bekerja jika karyawan mu seperti itu" celetuk Elena menatap Aron.
"Halid!" teriak Aron dari dalam ruangan.
Halid langsung masuk kedalam ruangan Aron dengan tergopoh "Saya tuan" ucap Halid
"Pecat wanita tadi" ucap Aron
Elena langsung membulatkan matanya "Jangan!" cegah Elena langsung berdiri dari duduknya.
"Pecat Halid" ucap Aron memandang Elena
Elena langsung berjalan menghampiri Aron dan duduk dipangkuan pria itu dengan melingkarkan tangan nya di leher Aron.
"Jangan sayang, kasian dia masih butuh pekerjaan" ucap Elena manja
"Selamatkan aku, ya Allah jiwa jomblo ku meronta ronta" teriak Halid dalam hati.
"Kau boleh pergi Halid" ucap Aron menahan pinggang Elena agar tidak terjatuh
"Permisi tuan" ucap Halid membungkukkan tubuhnya sekilas dan berlalu pergi.
"Jangan sembarangan memecat orang" pinta Elena
"Iya sayang, apa yang kamu minta pasti akan aku turuti" ucap Aron mengecup pipi Elena.
"Bisakah beri aku pekerjaan yang sesungguhnya?" pinta Elena
"Selesaikan tugas anda sekretaris El" ucap Aron tegas.
"Aishhh percuma saja" gerutu Elena turun dari pangkuan Aron dan kembali kemejanya.
Jam makan siang pun tiba, Elena berdiri dari kursi nya dan menghampiri Aron yang masih sibuk dengan berkas nya.
"Minta uang bos" ucap Elena mengulurkan tangan nya.
"Katakan saja pada Halid kamu mau makan apa" ucap Aron memandang Elena
"Ga mau, minta uang bos" tolak Elena
Aron menghela nafas dan mengeluarkan lima lembar uang seratus ribu dari dalam lacinya.
"Cukup?" tanya Aron menyerahkan uang itu kepada Elena.
Elena mengambil selembar uang seratus ribu dan mengembalikan sisanya kepada Aron.
"Ini cukup" ucap Elena tersenyum dan berlalu pergi.
Aron menggelengkan kepalanya "Padahal aku bekerja untuknya" gumam Aron.
Elena berjalan menuju kantin dan memesan makanan yang disukainya, Elena tidak perduli semua mata tajam yang menatapnya.
Hanya karyawan wanita yang menatap Elena tajam sedangkan pria menatap Elena dengan penuh damba.
Gadis itu memang sangat cantik jadi tidak heran jika banyak pria yang mengagumi kecantikan Elena yang terlihat alami.
Elena duduk di bangku kantin dengan beberapa macam makanan yang ada diatas meja di hadapan nya.
"Nyam nyam" gumam Elena menikmati makanan nya.
"Katakan!" ucap seorang wanita yang tiba tiba duduk di hadapan Elena.
Beberapa detik kemudian Elena sudah dikelilingi dengan wanita yang memakai pakaian kekurangan bahan dan serba ketat.
Elena bergidik ngeri saat melihat payudara seorang wanita yang begitu besar bahkan berkali lipat dari punya nya sendiri.
"Jangan memandangi ku seperti itu, punya ku memang besar" ucap wanita itu angkuh
"Apa tidak berat?" tanya Elena polos membuat para karyawan pria yang mendengarnya hanya bisa menahan tawa.
"Kau pasti bukan sekretaris biasa kan? coba katakan bagaimana kau memuaskan tuan Smith diranjang" tanya karyawan wanita lain.
Elena menelan makanan nya lebih dulu "Kalian tidak sopan bertanya seperti itu disaat aku sedang makan" keluh Elena
"Apa kami perduli? aku yakin kau sama seperti ja**ng yang sering dibawa tuan Smith" ucap wanita lain
"Yakkk pasti bayaran nya mahal? woww apakah bisa membeli banyak gula kapas?" tanya Elena dengan wajah polosnya.
Semua wanita itu menepuk jidatnya "*Bagaimana mungkin tuan Smith memperkerjakan orang bodoh seperti dia"
"Aishhh aku tidak bodoh IQ ku tinggi*" ucap Elena membela diri.
"Kami minta kau resign dari kantor ini" ucap karyawan wanita yang mempunyai badan seperti gitar Spanyol.
Brakkkkkk
"Kau melawan kami hah?!" bentak wanita itu.
Brakkkkk
"Kalian pikir aku berani!" bentak Elena balik dan berlalu pergi dengan kecepatan maximal.
"Heyy jangan kabur!" teriak karyawan wanita itu.
"Hihhh mereka membuatku takut, semuanya serba menonjol" ucap Elena bergidik ngeri sembari berjalan cepat.
Brughhhh
"Akhhhh"
"Sayang" ucap Elena tersenyum kuda.
"Halid pec...."
"Suttt jangan jangan, aku akan melawan dilain waktu jadi biarkan saja" ucap Elena menutup mulut Aron dengan telunjuknya.
"Sudah makan nya?" tanya Aron
"Tidak ada gula kapas, bisakah belikan lolipop?" tanya Elena
"Eh, nona mengatakan dikantin tidak ada gula kapas, lalu kenapa meminta dibelikan lolipop" batin Halid menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Bisa sayang" ucap Aron dan langsung dimengerti oleh Halid yang langsung menghubungi Zio agar membelikan pesanan nona muda mereka.
"Oh iya aku lupa, ini kembalian nya" ucap Elena memberikan uang dua ribu selembar dengan dua buah uang koin seribuan pada Aron.
"Ck buang saja" ucap Aron yang menolak uang receh
"Ihh sayang ntar bisa beli somay" ucap Elena memasukkan uang itu kedalam saku Aron dan berlalu pergi.
"Haha nona begitu hemat, tuan! hemat pangkal kaya" ucap Halid tertawa terpingkal pingkal.
"Nikmati tawamu sebelum hilang untuk selamanya" ucap Aron dingin menatap halid tajam.
"Jangan tuan, maaf" ucap Halid bergidik ngeri.
Elena sudah pulang dari kantor Aron, dan kini mobil yang dikendarai gadis itu sudah berhenti di depan rumah mewah yang diikuti oleh Aron juga.
Elena keluar dari mobil dan menutup pintu mobil itu dengan kasar, wajah Elena terus ditekuk menandakan gadis itu tengah kesal.
Aron hanya geleng kepala melihat Elena yang memang masih bersikap seperti anak anak.
Jonathan menyambut Elena dengan senyum merekah dibibirnya, seketika senyum Jonathan memudar saat melihat mata Elena yang berkaca kaca.
"Ada apa nak?" tanya Jonathan menangkap wajah Elena.
Elena tidak menjawab apa pun tetapi mengeluarkan sebuah buku yang digunakan nya untuk mencatat nama Aron tadi.
Jonathan menerima nya dan membuka buku itu, Jonathan langsung melayangkan tatapan tajam untuk Aron.
Brukkkk
Jonathan melempar buku itu ke wajah Aron, tetapi berhasil di tangkap oleh pria tampan itu.
"Dia bermain main dengan ku papi hiks" adu Elena menitikan air mata.
Aron langsung membulatkan matanya saat mendengar suara isakan dari Elena dan melihat setitik air mata yang turun dari mata gadis itu.
"Bu..bukan gitu sayang" ucap Aron bingung
"Uwaahh papi hiks" teriak Elena mengencangkan tangis nya dan memeluk Jonathan
"Berikan pekerjaan yang benar Aron" ucap Jonathan tegas
"Aku hanya tidak ingin dia lelah pih" kilah Aron.
Jonathan menatap tajam putranya yang bisa membuat Aron bertekuk lutut kepada pria yang berwajah mirip dengan nya itu.
"Oke sayang besok mulai kerja yang beneran yah, ntar gaji kamu diatas Halid dan yang lain nya deh" bujuk Aron
"Beneran?" tanya Elena memastikan
"Tapi ada plus plus nya dong" ucap Aron mengerlingkan mata nakalnya
"Euwwww mesumm!" teriak Elena memukul Aron menggunakan tas nya
"Bodo amat" ucap Aron menggendong Elena seperti karung beras.
"Papi tolong El papi, El mau diperkodok sama Aron!" teriak Elena membuat telinga para pengawal sakit.
"Diam petasan jangwe" ucap Aron mengigit tangan Elena
"Awww kamu KDRT!" bentak Elena
"Makanya diam sayang" ucap Aron memasuki lift
"Ga mau, papi tolong El papi!" teriak Elena dalam gendongan Aron.
Jonathan terkekeh melihat tingkah putra dan calon menantunya yang begitu menggemaskan itu.
"Seandainya kau ada disini Bram, mungkin kita bisa tertawa bersama melihat tingkah mereka" batin Jonathan nelangsa.
.
.
.
Cape deh ga ada yang baca. tapi ga papa author harus tetep semangat.