
Hari yang cerah, elena sudah duduk di kursi kerja nya dengan sebuah berkas dan laptop didepan nya.
tok tok tok
"masuk"
"sekertaris el, ada kurir di depan butik" ucap salah satu staf yang baru masuk keruangan elena
elena mengerutkan kening nya "kurir? kurir apa?" tanya elena bingung dan merasa tidak memesan apa pun
"saya tidak tahu sekertaris el" jawab staf itu dengan kepala tertunduk
"tolong Terima dan bawakan kemari" ucap elena fokus kembali pada laptop nya
"maaf sekertaris el, kurir nya meminta anda sendiri yang menerima nya kedepan" ucap staf itu sedikit takut karena tahu dengan siapa dia berbicara
elena berdecak kesal "keluar" titah elena pada staf itu yang langsung meninggalkan ruangan elena.
elena keluar dan langsung menuju lift, dita yang tidak sengaja juga keluar ruangan nya pun mengikuti elena.
"mau kemana el?" tanya dita saat mereka sudah berada didalam lift bersama.
elena hanya fokus pada ponsel nya "kau ada memesan sesuatu atas nama ku ta?" tanya elena menoleh pada sahabat nya.
dita menggeleng "tidak ada, kita kan udah bawa bekal" ucap dita yang tidak memesan apa pun atas nama elena.
pintu lift terbuka dan elena langsung keluar menuju pintu utama butik, dita mengikuti nya karena penasaran dengan apa yang terjadi.
"ada apa pak?" tanya elena melihat kurir pengantar makanan yang sedang menunggu nya.
"mbak lena?" tanya kurir itu dan elena pun hanya mengangguk dengan raut datar nya.
kurir itu menyerahkan bingkisan makanan pada elena dan langsung berlalu pergi begitu saja.
"dari siapa el?" tanya dita mendekati elena, elena hanya mengendikkan bahu nya pertanda tidak tahu.
elena membuka bingkisan itu, terlihat kotan bekal berwarna biru dengan secarik kertas diatas nya.
elena mengambil kertas itu dan membaca nya, setelahnya elena celingak celinguk membuat dita bingung.
tatapan mata elena pun tertuju pada seorang pria yang tengah berdiri diseberang jalan sembari tersenyum padanya.
elena memandang tajam pria itu, elena mendekati tong sampah dan langsung membuang makanan itu dan berlalu masuk.
"loh loh, kok dibuang?" dita ingin mengejar elena tetapi matanya tertuju pada secarik kertas yang elena baca tadi.
dita mengambilnya dan langsung membaca nya, seketika dita langsung melihat kearah mata elena tadi "teddy"
ya, pria itu adalah teddy. mantan kekasih elena yang bertemu dengan mereka saat makan bakso bersama laras.
dita langsung paham dengan keadaan ini, dita langsung kembali masuk kedalam butik dan mengejar elena yang sudah berada di ruangan nya.
"el" panggil dita yang langsung masuk kedalam ruangan elena, elena melihat sekilas dan melanjutkan pekerjaan nya kembali
"kok dia bisa tahu butik ini sih?" tanya dita bingung, dita duduk di depan elena
elena menyodorkan ponsel nya yang memperlihatkan iklan promosi butik ini yang memakai wajah dirinya laras dan juga dita.
"ahh aku melupakan ini" gerutu dita yang melupakan perihal dari mana cowo cowo itu tahu keberadaan sahabat nya.
tok tok tok
"masuk"
"maaf sekertaris el, ada kurir pengantar makanan yang lain sedang menunggu di depan"
dita langsung melongo dengan ucapan salah satu staf itu, sedangkan elena langsung berdiri keluar dari ruangan nya.
"kau boleh keluar" ucap dita dan langsung menyusul elena yang sudah hilang didalam lift.
elena langsung menemui kurir itu, sama seperti sebelumnya kurir itu hanya memberikan bingkisan yang berbeda dan berlaku pergi.
dita yang baru keluar pun rasanya ikut emosi "apa dia tidak punya akal? kenapa terus memaksa" gerutu dita yang tidak mengerti jalan pikiran pria itu.
elena membuka nya dan membaca kartu ucapan, elena langsung melihat kearah pos keamanan
terlihat wahyu sedang berdiri menatapnya sembari bersender pada sepeda motor.
elena langsung membuang makanan itu ketong sampah, terlihat raut kecewa dari wajah wahyu.
roy yang baru sampai dengan mobilnya pun terkejut melihat elena membuang makanan.
saat roy turun dari mobilnya elena sudah masuk kedalam butik "el kenapa dita?" tanya roy memandang dita.
roy mengepalkan tangan nya, roy ikut masuk kedalam butik dan langsung menuju lantai 3 dimana ruangan el berada.
tok tok tok
setelah mendapat jawaban dari dalam roy pun langsung masuk, roy melihat elena masih berkutat dengan pekerjaan nya.
"makan siang bareng yuk el" ajak roy terduduk di depan elena
"masih banyak pekerjaan" jawab elena datar tanpa mengalihkan pandangan nya.
" hanya karena meninggalkan nya setengah jam saja tidak membuat butik ini bangkrut el, sudah jam makan siang nih" roy berucap dengan nada paksa.
elena berfikir sejenak dan langsung mengangguk setuju, roy girang bukan main dari sekian lama mengajak gadis ini makan bersama tapi baru kali ini diterima.
roy dan elena pun keluar dari ruangan elena "ta makan sendiri ya, aku makan sama pak roy" ucap elena membuka sedikit pintu ruangan dita.
dita tersenyum dan mengangguk "okey" jawab dita membulatkan kedua jari nya.
setelah menempuh perjalanan selama 5 menit dari butik, kini keduanya sudah berada di sebuh restauran.
keduanya sedang menikmati makanan mereka tanpa adanya obrolan diantara kedua nya.
"tadi kamu kenapa buang makanan el?" tanya roy memecah kesunyian, sebenarnya sudah tahu hanya saja ingin berbincang dengan gadis kulkas ini.
"makanan basi" jawab elena tanpa menoleh sedikit pun kearah roy.
roy pun hanya tersenyum samar, baginya mendengar suara elena sedikit saja sudah menjadi kebanggaan pada dirinya sendiri.
setelah melakukan makan siang bersama, kedua nya berjalan beriringan keluar restauran.
"elena" panggil seorang pria yang suara nya begitu familiar di telinga elena
"kamu kenapa buang makanan dari mas dek?" pria itu ternyata teddy yang tanpa sengaja melihat elena tadi.
roy langsung paham dengan keadaan nya, roy juga sudah paham siapa pria ini walaupun baru pertama kali melihat wajahnya.
"berhenti mengganggu ku, anggap saja kita tidak pernah kenal sebelumnya" ketus elena tanpa menoleh kearah teddy
"apa pria ini yang sekarang menjadi pengganti ku?" tanya teddy memandang roy dengan tajam begitu pun sebaliknya.
"bukan urusan mu, ku peringatkan sekali lagi, jangan pernah ganggu atau pun berusaha menemui ku"
"jika kau datang dengan nama orang tua ku pun aku tidak perduli, jadi kembali lah ke kampung dan berhenti mengejarku"
"aku sangat benci melihatmu" ketus elena membuat teddy berkaca kaca
"masuklah ke mobil lebih dulu" ucap roy menyerahkan kunci mobil nya pada elena.
elena langsung menerima nya dan berlalu lebih dulu masuk kedalam mobil pribadi roy.
setelah memastikan elena masuk kedalam mobil dan tidak bisa mendengar perbincangan mereka, roy menoleh kearah teddy yang memandang nya tajam
"berhenti mengganggu el" ucap roy dengan raut wajah dingin nya
"kau tidak berhak melarang ku, orang tua lena sangat setuju jika kami menikah sedangkan kau tidak mengenal keluarga nya" ketus teddy
"keluarga el sudah ada disini, el saja tidak menganggap mu jadi kenapa terlalu berlebihan, lagian kau bukan saingan berat bagiku" ucap roy dengan nada sombong
"jangan terlalu sombong, jika suatu hari nanti lena kembali kedalam pelukan ku maka kesombongan mu tidak ada gunanya" ucap teddy mencengkeram kerah kemeja roy
"Benarkah? aku tidak yakin dia akan kembali bersama mu, apa yang bisa kau berikan kepadanya?"
"kehidupan el sudah lebih baik sekarang bahkan dia memiliki segalanya, jadi aku yakin dia enggan hidup melarat bersama mu" ucap roy yang sudah tahu bagaimana kehidupan teddy dengan baju sederhana nya.
"aku yakin lena tidak memandang harta" ketus teddy meninggalkan roy, ada rasa sakit di hatinya saat mendengar roy membandingkan status sosial mereka.
teddy tidak bisa membayangkan jika wanita yang pernah disakitinya akan menjalin rumah tangga dengan pria lain.
terkadang kita harus bisa menjaga sikap kita agar tidak menyakiti orang lain, jika seseorang sudah tersakiti maka tidak ada yang tahu perubahan seperti apa yang akan dialaminya, menyesal pun tiada guna.
.
.
.
setelah dibela sama roy, el bakal jatuh cinta ga ya bestie? el bakal nerima cinta roy ga ya? wkwk, ikutin terus yuk keseruan perjalanan para pria untuk mendapatkan hati wanita kulkas itu.
jangan lupa dukung author jugaš„°