
Di pagi yang sangat cerah, sepasang suami istri itu masih bergelut dengan mimpi masing masing dibawah selimut yang sama.
Aron merasakan perut nya yang mulai tidak nyaman, Aron buru buru bangkit dari tidur nya dan berlari kearah kamar mandi.
"Hoekk hoekk"
Karena suara Aron dan pergerakan suaminya membuat Elena terbangun dari tidurnya dan langsung menyusul Aron kekamar mandi.
Elena memijat pelan tengkuk suaminya sembari memegangi bahu suaminya agar lebih nyaman.
Aron terus mual mual walaupun tidak ada yang dikeluarkan dari isi perut nya itu hanya cairan bening.
"Maaf ya sayang, seharusnya aku yang mengalami ini semua" ucap Elena sedih.
Aron membasuh mulutnya dan berbalik menatap istrinya yang sedang menundukkan kepalanya.
"Hey sayang dengar aku, aku senang kita bisa menjalani ini bersama bukan hanya dirimu yang tersiksa" ucap Aron mengangkat dagu istrinya.
"Tapi aku kasihan melihat mu seperti ini" ucap Elena memeluk tubuh Aron.
Aron membalas pelukan istrinya, rasa mual nya sudah berkurang karena pelukan dari istrinya.
Aron menggendong Elena ala koala menuju ranjang mereka kembali dan mendudukkan Elena di tepi ranjang.
"Sayang dengar aku" ucap Aron menangkup wajah istrinya.
"Aku lebih tidak tega jika kamu yang mengalaminya morning sickness seperti ini, sebab itu lebih baik aku saja dan aku juga merasa senang"
"Itu artinya cintaku kepada mu tidak main main sayang, kita akan melewati semua masa ini bersama hem?"
Elena meneteskan air mata karena sikap lembut suaminya, Nta mengapa segala hal bisa membuat Elena menangis.
"Terimakasih sayang" ucap Elena memeluk tubuh Aron.
Aron membalas pelukan Elena dan memberikan kecupan manis didahi istrinya yang putih itu.
Setelah melewati drama mual di pagi hari, kini mereka sedang melakukan sarapan bersama dimeja makan.
Untung saja Aron hanya anti dengan harum kopi tidak dengan bahan bahan dapur ataupun makanan.
Setelah selesai sarapan, Elena dan Aron pun memutuskan untuk berjemur ditaman karena hari ini adalah hari wekend.
Mereka duduk dibawah pohon setelah berjemur beberapa saat dibangku taman yang ada disana.
Elena membaca buku novel nya sedangkan Aron mengutak atik ponsel nya karena sedang berbalas pesan dengan Rekan kerjanya.
"Sayang" panggil Elena mendongak dan melihat wajah Aron
"Iya sayang" jawab Aron langsung mematikan ponsel nya dan beralih ke wajah cantik istrinya.
"Bagaimana nasib Martin sekarang?" tanya Elena yang sudah tahu bahwa Martin berada ditangan suaminya.
"Menurutmu? setelah apa yang dilakukan nya kepada mu hem?"
"Bunuh saja sayang, jangan menyiksa nya seperti itu kasihan" ucap Elena dengan mata berkaca kaca.
Aron menghembuskan nafas kasar, setelah hampir 3 tahun menyekap Martin tanpa mau membunuh pria itu.
Kini Aron harus melakukan nya karena permintaan istrinya, Aron sendiri masih belum puas menyiksa Martin.
Aron menyambar ponsel nya dan memilah nomor telepon yang hendak dihubungi nya.
"Bunuh dia" titah Aron dan langsung menutup panggilan itu.
"Terimakasih sayang" ucap Elena tersenyum senang.
Dari taman Elena dan Aron bisa melihat sebuah taksi berhenti di depan gerbang dan menurunkan Melisa.
"Dia kembali?" tanya Elena.
"Biar aku us..."
"Jangan sayang, ayo kita sambut dan lihat apa yang dibawa nya kali ini" ajak Elena dan berlalu bersama suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Melisa berjalan dengan gaya angkuh nya memasuki kediaman Smith, dengan sebuah kaca mata hitam besar yang bertengger diwajah nya.
"Oma, i am coming!" teriak Melisa memekakkan telinga.
Harlina pun langsung datang dan memberikan pelukan hangat untuk Melisa, tidak lama disusul Jonathan, Elena dan Aron.
"Kamu kapan kembali Mel?" Tanya Harlina setelah semua duduk disofa ruang tamu.
"Baru semalam oma, maaf tidak mengabari karena Melisa juga buru buru agar cepat sampai" ucap Melisa melirik Aron yang terus memandang Elena.
"Melisa, Elena sudah hamil sekarang dan usianya sudah hampir satu bulan" ucap Harlina dengan raut bahagia.
"Hah? a...apa? oma kok?" tanya Melisa pura pura terkejut.
"Gak, ga bisa gitu dong oma, oma kan udah janji akan menekankan aku dengan Aron" ucap Melisa dengan mata berkaca kaca.
"Kau tidak bisa memaksa ku karena aku hanya mencintai istriku" ucap Aron tanpa memandang Melisa.
Melisa mengepalkan tangan nya saat melihat senyum kemenangan yang tersemat dibibir Elena.
"Pa..paling tidak tanggung jawab Aron, aku menyerahkan kesucian ku kepadamu!" bentak Melisa.
"Aku lupa waktu itu kau masih suci atau tidak, aku mabuk waktu itu bahkan melupakan segalanya" ucap Aron menatap malas Melisa.
"Jangan jadi pria bajingan Aron, kau harus tanggung jawab atas apa yang terjadi padaku!" ucap Melisa
"Aku saja tidak ingat waktu itu kau masih perawan atau tidak, lagi pula saat itu ada seseorang yang memasukkan obat perangsang di minuman ku"
"Tapi kan sama saja, kita berada di kamar yang sama waktu itu" ucap Melisa yang mulai jengkel.
"Yasudah nikahi saja pria yang selama ini menidurimu" celetuk Elena sembari memakan potongan buah yang diberikan bik Minah.
"*Aron pria nya! kau wanita jal*ng tidak tahu apa pun*!" bentak Melisa.
"Aku tidak tahu apa pun? hahahaha" tawa Elena menggelegar diruang tamu.
"Lebih baik kau diam, kau saja masih belum kenal Aron saat kejadian itu" ucap Melisa yang terus menatap tajam Elena.
"Terserah mu saja" ucap Elena mengangkat kedua bahunya acuh.
"Oma, Aron harus bertanggung jawab oma" ucap Melisa yang terus mendesak Harlina.
"Putraku sudah menikah Melisa" ucap Jonathan yang akhirnya buka suara.
"Pi, Aron yang su..."
"Jangan memanggil ku papi, kau hanya orang asing dirumah ini jika kau lupa" ucap Jonathan datar.
"Ok om, tapi putra om harus bertanggung jawab atas perbuatan nya terhadap ku" ucap Melisa.
"Jika itu memang Aron, jika tidak?" celetuk Elena yang langsung jadi pusat perhatian.
"Apa? kenapa menatapku? aku hanya asal bicara" ucap Elena melanjutkan makan buah nya.
"Ingin sekali aku robek mulut wanita ini" batin Melisa menatap tajam Elena yang acuh saja.
"Aron sudah menikah Melisa, mengertilah" ucap Harlina.
"Melisa tak apa jadi yang kedua oma" seketika tawa Elena pun meledak setelah mendengar ucapan Melisa.
"Kau terlihat begitu murah hanya karena mengemis untuk dinikahi seorang pria tante" ucap Elena menatap remeh Melisa.
"Tutup mulut mu!" bentak Melisa.
"Jangan bentak istriku!" bentak Aron yang tidak Terima jika istrinya dibentak.
"Kau harus bertanggung jawab Aron, tidak apa jika aku menjadi yang kedua" mohon Melisa.
"Sayang nya aku dan anak ku tidak ingin kasih sayang daddy nya terbagi" ucap Elena.
"Oma, tapi Aron sud..."
"Yayaya terserah kau berbicara omong kosong apa pun itu tentang suamiku, Helga bawa kesini!" teriak Elena.
Beberapa saat kemudian Amey pun datang membawa sebuah map besar berwarna coklat dan langsung diberikan kepada Elena.
"Perasaan tadi manggil Helga deh"
"Helga buang hajar non" ucap Amey terkekeh begitupun dengan Elena.
Elena memberikan map itu kepada Jonathan, Jonathan membukanya dan langsung membacanya dengan seksama.
Seketika raut wajah Jonathan berubah menjadi menggelap, sepertinya isi map itu membuat Jonathan marah.
"*WANITA JAL*NG*!"
.
.
.
Silahkan menjadi penasaran 🤣
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Mampir juga di karya temen author 🤗