My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
BANGUN DAN TRAUMA



Hari terus berganti, tanpa terasa sebulan sudah Elena dirawat tanpa adanya perubahan yang terlihat didirinya.


Dalam sebulan itu pula Aron tida pernah meninggalkan Elena, Urusan kantor saja harus Halid yang harus bolak balik antara kantor dan rumah sakit.


Pagi hari yang sedikit berawan, Aron sedang berkumpul bersama lima orang kepercayaan nya.


"Martin sudah terlihat sehat tuan" jawab Hugo saat Aron menanyakan keadaan Martin.


"Pergilah tuan jika ingin membalaskan dendam nona muda, bisa saja nona sadar setelah Anda menyiksa Martin" ucap Amey memberi solusi


"Benar tuan, nona muda aman bersama kami disini tidak akan ada yang berani macam macam" ucap Helga membenarkan ucapan Amey.


Aron menghembuskan nafas kasar, rasanya begitu takut hujan meninggalkan gadis ini lagi dan jauh dari jangkauan matanya.


"Tuan tidak bisa terus seperti ini" ucap Halid yang sebenarnya mulai lelah mengurusi perusahaan sendiri.


"Baiklah kita ke markas sekarang, kalian berdua jaga Elena disini jangan ada yang boleh masuk tanpa izin dariku" ucap Aron menyambar jaket kulitnya.


"Baik tuan, kami akan selalu menjaga nona" ucap Helga dengan sopan.


Aron bersama tiga pria kepercayaan nya pun melangkah keluar, saat sampai diambang pintu Aron berhenti dan memutar balik.


Aron menghampiri brankar Elena, gadis itu masih menutup matanya dan tubuhnya pun tidak bergerak juga.


"Dia akan membayar rasa sakit mu sayang" ucap Aron mengecup kening Elena dan berbalik pergi.


Begitu tubuh Aron menghilang dari balik tembok, tanpa diketahui siapa pun jari Elena mulai bergerak.


Dengan perlahan Elena membuka matanya dan juga menggerakkan tangan nya, Helga yang tanpa sengaja melihat itu pun langsung bangkit.


"Nona, nona Elena" panggil Helga mendekati Elena.


Elena mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya, tiba tiba satu titik air mata turun dari pipinya.


"Nona" panggil Amey


"Si..siapa kalian? pergi! jangan dekati aku pergi!" teriak Elena langsung terduduk dan memeluk lutut nya.


"Jangan dekati aku pergi! Aron tolong aku Aron!" teriak Elena melihat sekeliling ruangan itu.


"Cepat panggil tuan mereka pasti belum jauh" titah Helga kepada Amey.


Amey pun langsung berlari keluar kamar Elena untuk menjemput Aron dan memanggil dokter.


Didalam ruangan Elena terus berterima histeris, kejadian tentang bagaimana Martin menyiksa nya berputar didalam kepalanya seperti kaset rusak.


"TIDAKKKK! Aron tolong aku" teriak Elena menutup telinganya sembari menggelengkan kepalanya.


Didepan ruangan Robby, Aron sedang berbicara dengan Robby untuk menjaga Elena karena ingin meninggalkan gadis itu sebentar.


Mata Zio menangkap Amey yang sedang berlari ke arah mereka dengan wajah antara khawatir dan juga senang.


"Tuan, tunggu tuan" teriak Amey mempercepat larinya agar cepat sampai.


Aron mengerutkan keningnya bingung, hanya beberapa menit saja dia meninggalkan Elena dan apa yang terjadi?


"Ada apa mey?" tanya Aron bingung.


"Nona tuan, Nona Elena bangun dan teriak memanggil nama tuan" ucap Amey dengan nafas memburu.


Aron langsung berlari menuju ruang rawat Elena setelah mendengar kabar dari Amey bahwa Elena telah sadar.


"Pergi, kalian semua orang jahat jangan dekati aku! Aron tolong aku!" teriak Elena menutup matanya karena rasa takut yang menyelimuti nya.


Lari Aron semakin kencang saat mendengar teriakan Elena yang memanggil nama nya.


Brakkkkk


Pintu ruang rawat Elena pun terbuka, Aron melihat disana sudah ada beberapa suster yang ingin menangani tetapi karena tahu wanita ini bukan sembarangan orang mereka urung.


Sedangkan Helga memperlihatkan wajah panik karena tidak tahu cara menangani nona mudanya.


Ketika Helga melihat Aron raut wajah Helga sedikit melega karena memang pria itu yang dicari Elena.


"Sayang, sayang ini aku sayang" ucap Aron langsung memeluk tubuh Elena.


"Aaaaa, lepas jangan sakiti aku tolong, aku mohon" ucap Elena meronta.


Hati Aron benar benar teriris mendengar teriakan Elena yang begitu pilu dan ketakutan.


"Hey hey, lihat aku sayang ini aku" ucap Aron menangkup wajah Elena dengan kedua tangan nya.


"A..Aron" isak Elena dengan berderai air mata


"Iya sayang ini aku" jawab Aron tersenyum hangat


Elena langsung memeluk tubuh Aron dengan erat, Aron bisa merasakan bahwa tubuh wanita ini bergetar takut.


"Di..dia memukulku Aron dan itu sakit sekali" lirih Elena semakin mengeratkan pelukan nya.


"Sudah sayang tenanglah, dia tidak akan menyakitimu lagi" ucap Aron mengecup kening Elena.


"Jangan tinggalkan aku" isak Elena dengan wajah yang berada didada bidang Aron


"Mau kabur lagi hem?" tanya Aron menatap wajah pucat Elena.


"Good Girl, tenanglah sayang aku ada bersama mu" ucap Aron mengelus punggung Elena.


Elena masih berada dalam pelukan Aron dengan suara isakan yang masih sedikit terdengar.


Aron bisa merasakan bahwa kaos nya sudah mulai basah karena air mata Elena luruh disana.


Di ruangan itu masih ada Helga dan lainnya, hanya saja suster yang tadi masuk lebih dulu sudah keluar dan menyisakan Robby disana.


Beberapa saat kemudian, setelah merasa Elena lebih tenang Aron mengurai pelukan nya dan menghapus air mata yang tersisa dipipi gadis itu.


"Kamu harus diperiksa dulu sayang" ucap Aron mengecup kening Elena.


"Ti..tidak, aku gak mau disuntik" tolak Elena memeluk tubuh Aron lagi.


Aron menghela nafas, bagaimana jika gadis ini melihat tangan nya yang berdarah karena jarum infusnya yang terlepas.


"Dia tidak akan menyuntik mu sayang, hanya memeriksa percaya lah kepadaku" ucap Aron mengelus kening Elena.


"Benarkah?" tanya Elena mendongakkan kepalanya memandang Aron.


Aron mengangguk, Aron tahu kalau gadis ini sangat takut dengan jarum suntik dan membenci rumah sakit.


"Apakah setelah itu kita bisa pulang?" tanya Elena menatap wajah tampan Aron


"Kita periksa dulu ya sayang, aku tidak akan meninggalkan mu" jawab Aron mengelus pipi Elena.


"Hay El, perkenalkan aku dokter Robby, aku sepupu Aron" ucap Robby mengulurkan tangan nya.


Elena memandang wajah Robby dan beralih ke wajah Aron, Aron tersenyum melihat Elena yang meminta persetujuan darinya dengan cara memandangnya


"Dia sepupuku" ucap Aron mengangguk pertanda memberi izin


"Aku El dan terimakasih sudah merawat ku" ucap Elena membalas jabatan tangan Robby.


"Dia gadis yang manis, pantas saja Aron tertarik padanya" batin Robby tersenyum hangat.


"Kita periksa keadaan mu lebih dulu ya" bujuk Robby dan Elena pun setuju.


Karena keposesifan yang dimiliki Aron, Robby tidak bisa leluasa menyentuh Elena dan terpaksa dibantu dengan Amey.


"Awwww shhh" pekik Elena saat Robby mengganti jarum infus Elena.


"Suttt tenang sayang sakitnya hanya sebentar" ucap Aron memeluk Elena.


posisinya Elena duduk bukan berbaring dan Aron memeluk wanita itu sembari mengelus lembut punggung wanita itu.


"Awww sakit" lirih Elena saat jarum infus itu sudah masuk ditangannya.


Aron menahan tawanya saat wanita yang pernah memaki nya dengan galak ini meneteskan air mata karena jarum suntik.


"Sudah, jangan terlalu banyak bergerak ya kau baru bangun" ucap Robby dan berlalu keluar dari kamar rawat Elena.


Diruangan itu hanya tersisa Elena dan Aron saja karena yang lainnya keluar untuk memberikan privasi kepada dua insan itu.


"Lebih baik?" tanya Aron yang ikut berbaring dibrankar Elena sembari memeluk gadis itu.


Elena mengangguk dengan kepala yang bersandar didada bidang Aron.


"Dia jahat" gumam Elena yang masih bisa didengar Aron.


"Coba katakan apa saja yang dilakukan nya?" tanya Aron menatap wajah Elena yang tidak terlalu pucat.


"Dia memukul ku dan menendang ku" jawab Elena mengeratkan pelukannya kepada Aron.


"Aku takut" lirih Elena meneteskan air mata


Aron mengepalkan tangan nya, Elena jadi trauma karena tindakan Martin yang menyiksa nya tanpa ampun.


Untung saja wanita ini tidak hilang ingatan atau pun syaraf di tubuh nya rusak, Robby mengatakan Elena cukup kuat melawan rasa sakitnya.


"Dia akan membalasnya sayang, sekarang istirahat" ucap Aron mengecup kening Elena


"Aku takut" lirih Elena menatap wajah Aron


"Aku tidak akan meninggalkan mu sayang, percayalah" ucap Aron mengecup bibir Elena sekilas lalu memeluk erat gadis itu.


Elena membenamkan wajah nya didada bidang Aron, harum tubuh Aron begitu nyaman bagi Elena.


Tidak butuh waktu lama Elena sudah mulai tertidur dengan masih memeluk erat tubuh Aron yang lebih besar darinya.


Aron tersenyum tipis melihatnya, satu langkah wanita nya semakin dekat denganya.


Aron tidak tahu harus berterimakasih atau marah kepada Martin, jika bukan karena hal ini mungkin Elena masih menolak keras kehadiran nya.


.


.


.


sehat semua?