
Pagi hari yang cerah, matahari terlihat sangat terik hari ini membuat jalanan kota terasa panas.
Di sebuah mobil, Jessica, Dita, dan Rasya sedang membicarakan sesuatu yang cukup serius tanpa adanya Elena.
"Tidak mungkin dia tidak mencari kita, bagaimana jika dia menelpon?" tanya Rasya yang khawatir
Mereka hari ini memutuskan untuk menyambangi rumah keluarga Elena, Dinda mengatakan bahwa dirinya sering didesak oleh orang tua Elena untuk mengatakan dimana gadis itu berada.
Dinda tidak ingin melanggar janji nya kepada sahabatnya, orang tua Elena sering mendapatkan info poto poto Elena di sosial media.
anak yang dulunya sering diacuhkan mereka kini berubah drastis menjadi gadis yang sangat elegan dan anggun.
"jangan ada yang mengatakan padanya, katakan saja kita ada urusan kuliah" ucap Dita yang sebenarnya juga takut.
bagaimana tidak takut, mereka sudah diancam Elena agar tidak memberitahu dimana dirinya kepada keluarga nya.
sekali pun mereka bertemu keluarga nya, mereka diperintahkan oleh Elena untuk bungkam denga keadaan yang Elena jalani.
"kita tidak akan tahu apa masalah nya jika kita tidak dengar langsung dari orang tua Elena" ucap Jessica yang mengemudikan mobilnya.
Mereka pergi tanpa berpamitan pada Elena, Dita juga mengajukan cuti dengan alasan kuliah nya.
setelah menempuh perjalanan 3 jam kurang lebih, mereka sampai di sebuah kota kecil.
"Dinda menunggu kita dimana?" tanya Dita yang duduk disamping Jessica
"biar aku telfon" ucap Rasya yang duduk di set belakang.
"halo Din.." ucap Rasya setelah panggilan terhubung dengan Dinda
"halo, kalian sudah sampai mana Sya?" tanya Dinda dari seberang sana
"kami sudah sampai di kota kecil ini, kamu menunggu dimana?" tanya Rasya lagi
Dinda menjelaskan kepada Rasya dimana dirinya, Jessica pun mengikuti arah yang ditunjukkan Dinda melalui Rasya.
akhirnya mereka pun bertemu, ketiga sahabat Elena memeluk Dinda karena memang sudah cukup akrab satu sama lain walaupun jarang bertemu.
"mama nya selalu bertanya kepadaku, aku bingung harus menjawab apa jadi aku minta bantuan kalian" ucap Dinda menatap tiga sahabat Elena.
"tenang saja, yaudah ayo berangkat" ucap Jessica dan langsung kembali kedalam mobilnya.
dari kota Jessica mengendarai mobilnya ke sebuah perkampungan, dan itu memakan waktu selama setengah jam kurang lebih.
kini mobil Jessica berhenti di sebuah rumah sederhana, rumah yang tidak terlalu besar dan sangat sederhana.
Mereka berempat pun langsung turun dari mobil, mereka menyambangi bangunan yang adalah rumah sahabat mereka sendiri, rumah Elena.
tok tok tok
"assalamu'alaikum" ucap Dita mengetuk pintu rumah orang tua Elena.
"waalaikumsalam salam" terdengar sahutan seorang wanita dari dalam sana.
pintu rumah pun terbuka, terlihat seorang wanita paruh baya berkulit putih dan berambut panjang hitam pekat sedang berdiri dihadapan mereka.
"iya mencari siapa nak?" tanya wanita itu.
"loh Dinda, siapa mereka nak?" tanya wanita itu lagi saat matanya menangkap sosok yang dikenalnya.
"emmm.. mereka sahabat lena bude" Jawa Dinda sedikit ragu.
Mata wanita paruh baya itu langsung berkaca kaca, wanita itu langsung mempersilahkan tamu nya masuk.
ketiga sahabat Elena menelisik isi rumah Elena yang memang sangat sederhana, hanya ada kursi berbahan plastik biasa dan lantai nya pun hanya disemen saja.
"dimana Elena nak? kenapa dia tidak pulang bersama kalian?" cecar wanita paruh baya itu.
wanita paruh baya itu bernama Ani, ibu kandung Elena. wanita yang dulu amat disayangi Elena kini rasa sayang itu berubah kebencian setelah rasa sakit yang sudah tidak mampu untuk ditahan.
"El tidak ikut tante, dia tidak akan mau pulang. maaf tante, tapi El sudah menganggap apartemen nya sebagai rumah yang memang rumah untuknya"
"kami tidak bisa memaksa El tante, kami kemari juga tanpa persetujuan dari nya" jawab Jessica to the poin.
Wanita paruh baya itu menghela nafas dan langsung menundukkan kepalanya, setelah itu suara isakan pun terdengar.
"hiks hiks maafkan mama nak" lirih Ani dengan berderai air mata.
mereka berempat pun terenyuh, wanita paruh baya ini sangat merindukan putrinya dan juga ada rasa penyesalan dihatinya.
Ani adalah ibu kedua bagi Dinda karena dirinya tumbuh bersama di lingkungan yang sama dengan Elena.
"bude sangat merindukan nya Dinda, bude ingin minta maaf pada nya" lirih Ani yang terus berderai air mata.
"tante, El datang kepada kami dalam keadaan yang tidak baik baik saja, ketakutan menjalar di dirinya tanpa kami tahu bagaimana mengobatinya"
"segalanya menjadi trauma tersendiri untuk nya, dia sangat membenci keramaian tante dan juga..." Dita menggantung ucapan nya.
"kenapa nak? dia kenapa? Elena kenapa nak Dita?" cecar Ani yang sudah khawatir anak bungsu nya kenapa kenapa.
"El sangat membenci pria tante, bahkan dia membenci siapa pun baik itu orang baru atau pun orang di masa lalu" jawab Dita menundukkan kepalanya.
Hati Ani sangat teriris mendengar nya, gadis kecil yang dulu sering menebar tawa dimana mana kini tidak ada lagi.
gadis kecil yang dulu sering tersenyum tamah sudah tidak terlihat lagi, semuanya sudah terlihat berbeda bagi Ani setelah kepergian putrinya dari rumah ini.
"El berubah tante, dia bersikap dingin dan arogan itu semua terjadi karena trauma masa lalunya tante, El sangat keras dan juga sering membentak orang lain"
"ketakutan nya muncul saat mengingat masa lalunya, dia takut masa lalunya terulang lagi tante, bagi orang lain El sangat lah sombong"
"tetapi bagi kami yang tahu bagaimana dirinya, El hanyalah gadis kecil yang lemah tante tidak tahu betapa banyak air mata yang dikeluarkan nya setiap malam"
Rasya sudah tidak dapat membendung air mata nya lagi, Elena yang sudah dianggap adik dan juga putri untuk nya sangatlah merasa tertekan di setiap harinya
"El selalu menyalahkan apa yang baginya tidak tepat walaupun itu benar tante, bagi Elena kebenaran harus berpihak pada nya"
"dia sangat lelah menjadi pihak yang selalu disalahkan tante" lirih Jessica dengan tangis yang sudah pecah.
tangis Ani pun semakin pecah, dirinya menyadari begitu banyak rasa sakit yang putrinya pendam sendiri tanpa tahu apa itu arti bercerita.
"maafkan mama nak, seandainya mama bisa mengerti rasa sakit mu mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini"
"El sering di bully dari dulu, tante tidak tahu siapa yang mendukung dan menopang nya dari belakang karena tante sendiri tidak melakukan itu"
"tante tahu tante salah yang selalu menyalahkan diri Elena yang selalu ingin tampil benar dimata kami, tante menyesal sudah sering memaki bahkan mengucilkan nya"
"tante dulu tidak pernah berfikir rasa sakit putri tante karena El sangat berbeda dari kedua saudara nya" lirih Ani dalam pelukan Dinda.
"maaf kalau Dita harus mengatakan ini tante, tapi tante keterlaluan! tante hanya memandang kedua anak tante dan menjaga perasaan mereka"
"tapi tante tidak melihat putri kecil tante yang tumbuh dengan rasa sakit? kenapa tante seperti itu? semua orang yang tahu seluk beluk nya pasti menyalahkan tante!"
"tante yang salah disini! tante yang membentuk diri El menjadi seorang gadis yang dingin, senyum nya tidak ada tante! dirinya telah mati ditelan waktu masa lalu!"
"diri El sudah mati tante, lampu kehidupan nya redup karena kalian! kalian yang katanya keluarga untuk nya memberikan? kalian hanya memberikan rasa sakit!"
emosi Dita sudah tidak bisa dibendung lagi, rasa sakit Elena sampai di ulu hatinya, mereka bertiga yang mempunyai orang tua lengkap merasa tersayat melihat gadis kecil yang tumbuh dari keadaan yang serba kekurangan.
"jika El ingin memberontak dan marah dia berhak marah pada kalian! Dia tidak salah tante! jika bisa meminta El tidak mau lahir dari keluarga biadap seperti kalian!"
"kalian tidak tahu rasa bersyukur, kalian membuang sebuah berlian! Sekarang El menjadi berlian yang dilumuri oleh lumpur!" Bentak Dita dan langsung berlari keluar.
Jessica dan Rasya hanya membiarkan saja apa yang ingin dikatakan oleh Dita, Dita adalah orang pertama yang tahu pribadi Elena dan orang pertama yang segalanya untuk Elena.
"maafkan tante nak, tante tahu tante salah tapi tante mohon kepada kalian bawa El kembali nak" mohon Ani menangkup kedua tangan nya didada.
Rasya dan Jessica hanya bisa menggeleng, mereka berdua juga sudah berderai air mata begitupun dengan Dinda.
Dinda yang tumbuh bersama dengan Elena sangat tahu apa yang dijalani gadis itu, Dinda juga tahu bahwa gadis itu menguatkan dirinya sendiri agar terlihat baik baik saja.
"maaf tante, kami tidak berani melawan El, kami juga tidak mau El merasa sedih lagi karena kembali ke tempat ini"
"kebahagiaan El kebahagiaan kami juga tante, kami permisi" pamit Jessica dan berlalu bersama Rasya.
tangis Ani semakin pecah karena penolakan sahabat putrinya, Dia tidak tahu dimana Elena dan juga terlalu takut untuk menemui gadis itu.
ketiga sahabat Elena pun berlalu pergi meninggalkan pekarangan rumah Elena, ketiga nya merasakan sakit yang sama Elena adalah orang spesial setelah keluarga mereka jadi tidak heran jika mereka merasa sakit yang sama, bagi mereka Elena adalah adik kandung mereka sendiri.
.
.
.
next part ya bestie jangan lupa dukung author😁