
Setelah lelah memilih berbagai macam jajanan mereka pun memutuskan untuk makan siang di restauran.
Kini mobil yang dikendarai Halid pun melesat pergi menuju restauran yang sudah dipesan sebelumnya oleh Halid.
"Halid stopppp!" teriak Elena membuat Halid ngerem mendadak.
Untung saja tangan Aron sigap berada dikening Elena jika tidak kening gadis itu akan terbentur set bangku depan.
"Ada apa sayang?"
"Sayang aku mau itu" ucap Elena menunjuk penjual gula kapas yang ada dipinggir jalan.
Jonathan terkekeh melihat kegemasan menantunya ini, udah cantik gemesin lemot lagi fikir Jonathan.
"Halid be..."
"No sayang aku mau turun"
"Jangan sayang ini di jalan um"
Belum sempat Aron menyelesaikan kata kata Elena sudah lebih dulu keluar meninggalkan ketiga pria itu.
"Susul Aron" titah Jonathan dan langsung dituruti Aron.
"Pak mau dua ya bentuk bebek sama kucing" ucap Elena memesan gula kapas itu.
Aron mengedarkan pandangannya dengan waspada, ini tempat umum musuh Aron tersebar dimana mana dan itu cukup bahaya untuk Elena.
"Ini nak"
"Terimakasih pak dan suami saya yang akan bayar" ucap Elena memandang Aron.
Aron mengelus gemas rambut Elena, Aron mengeluarkan lima lembar uang seratus ribu dan diberikan kepada penjual itu.
"Maaf tuan ini banyak sekali"
"Tidak apa pak, ini karena bapak sudah menyenangkan hati istri saya" ucap Aron dan langsung menggiring Elena masuk mobil lagi.
Halid pun melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda karena nona mudanya yang begitu cerewet.
Beberapa saat kemudian mereka pun sudah sampai di sebuah restauran bintang lima.
"Selamat datang tuan dan nona" sambut pemilik restauran itu.
"Terimakasih pak" ucap Elena tersenyum manis.
Pemilik restauran itupun tersenyum dengan kehangatan yang diberikan oleh wanita cantik itu.
Mereka pun digiring menuju private room karena baik Jonathan ataupun Aron tidak suka makan dengan berbaur bersama orang lain.
Makanan juga langsung dihidangkan karena semua sudah dipersiapkan sebelum mereka sampai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dirumah keluarga Smith, Melisa terus mengoceh karena Harlina mengatakan bahwa Aron akan makan diluar.
"Oma seharusnya kita ikut makan bersama mereka"
"Makan saja lah Melisa"
"Ck yasudah lah" ucap Melisa dan melanjutkan makan nya.
Semenjak kembali dari Mall tadi dan melihat sikap Elena yang tidak sesuai dengan apa yang dikatakan Melisa membuat Harlina mengkaji ulang segala ocehan Melisa.
Harlina juga menjadi berfikir dua kali untuk tetap menikahkan Melisa dan Aron dengan cara memisahkan pernikahan Aron dengan Elena.
"Oma, oma kapan menikahkan aku dengan Aron?"
"Bersabarlah nak semuanya tidak semudah itu"
"Jika terlalu lama maka Aron akan semakin dikuasi oleh wanita itu oma" ucap Melisa terus mempengaruhi.
"Lanjutkan saja makan mu" ucap Harlina.
Ntah mengapa Harlina tidak suka mendengar Melisa terus menjelekkan nama Elena di depan nya.
Setelah selesai makan siang bersama Harlina dan Melisa pun memilih untuk bersantai diruang keluarga sembari menonton TV.
Tidak lama kemudian terdengar senandungan merdu yang membuat Harlina langsung menoleh ke asal suara.
Terlihat Elena yang sedang berjalan dengan memegang dua buah gula kapas ditangan nya.
"Dia sangat menggemaskan" batin Harlina tersenyum kecil.
Elena terus melangkah hingga kedapur dengan diikuti Halid sedangkan Aron dan Jonathan duduk diruang keluarga bersama Harlina dan Melisa.
"Hay bibik"
"Sudah pulang non"
Elena hanya mengangguk dan kembali menuju ruang keluarga setelah mengambil Yougert buah yang ada di kulkas.
Halid meletakkan empat kantung barang belanjaan Elena yang semuanya diisi dengan makanan.
"Semua ini cemilan nona?"
"Bibik tahu apa yang ada didalam kepalanya jika bukan makanan"
"Ck tutup mulutmu Halid" ketus bik Minah.
Elena duduk tepat disamping Aron sembari menikmati yogurt dingin nya sedangkan Aron memegang gula kapas milik Elena.
Siapa sih yang bisa menolak ataupun melawan permainan nona muda Smith yang menjadi kesayangan tuan besar dan tuan muda Smith.
"Kapan Helga dan Amey kembali sayang?"
"Besok sayang"
"Kenapa tidak nanti malam?"
"Besok pagi mereka akan sampai sayang"
"Kenapa tidak Hugo dan Zio saja sayang?"
"Ini tugas yang memang harus dikerjakan mereka bertiga sayang"
"Apa yanga mer... mmpphffff" Aron menyumpal mulut Elena dengan gula kapas membuat Elena tidak bisa bicara lagi.
"Lanjutkan makan nya ya" ucap Aron yang mulai geram mendengar ocehan Elena yang tiada henti.
Jonathan terkekeh melihat Elena yang terus berbicara seperti mesin jahit, ntah terbuat dari apa isi kepala menantunya ini.
Harlina yang melihatnya pun hanya bisa tersenyum tipis karena juga merasa gemas dengan tingkah Elena.
"Ingin sekali aku mencubit pipi nya itu" batin Harlina yang terus memandang kearah Elena.
"Ciee trio macan tinggal solo ma..." ucapan Zio terhenti saat melihat tatapan belati dari nona mudanya.
"Bisa ku pastikan besok Amey membawa calon suaminya pulang kemari" ucap Elena menyeringai.
"Yakkk mana bisa nona dia kekasih ku"
"Apa yang tidak bisa jika aku mau?"
"Oke maafkan aku nona muda aku tidak akan mengganggu mu lagu, sekian" ucap Zio dan berlalu pergi.
Aron dan Jonathan terkekeh melihat Zio yang terus kalah debat dengan wanita cerewet ini.
Drtttt drtttt drtttt
Ponsel Elena bergetar, Elena langsung melihat siapa yang menelpon nya dan seketika senyuman aneh muncul diwajah nya.
"Aku kenyang sayang, aku ke taman dulu ya" pamit Elena dan berlalu begitu saja.
Aron dan Jonathan pun langsung saling pandang antara bingung dan penasaran dengan apa yang akan dilakukan Elena.
"Apakah otak liciknya bekerja lagi?"
"Ntah lah pi menanti mu tidak bisa ditebak" jawab Aron yang hanya bisa terduduk pasrah.
"Apa maksud kalian? otak licik apa?" tanya Melisa yang juga penasaran.
"Tidak tahu" jawab Aron dan Jonathan bersamaan dan berlalu pergi.
Di taman samping Elena sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
"Iya aku tahu, ciri cirinya akan ku kirim kepadamu dan secepatnya temukan dia apa pun keadaan nya"
"........ "
"Aku tidak perduli dengan keluarga nya, bawalah hidup saat dia masih hidup tapi jika tersisa mayat saja tetap bawakan dia untuk ku"
"....... "
"Aku tidak menerima penolakan, dan ingat satu lagi jangan sampai rencana kita diketahui siapa pun kau ingat itu" Elena langsung menutup panggilan itu.
Tingggg
Suara pesan masuk terdengar dari ponsel Elena, seketika senyuman pun terbit dibibir Elena saat membaca isinya.
"Bola kristal keberuntungan ku, kau fikir bisa merampas apa yang sudah milikku? tentu saja tidak, bodoh" gumam Elena tersenyum miring.
Aron dan Jonathan yang melihat Elena dari lantai tiga pun semakin bingung dengan apa yang akan dilakukan wanita itu.
"Apa rencana nya boy?"
"Ck aku saja yang suaminya tidak tahu pi"
"Aku takut dia melakukan hal bahaya"
"Cukup awasi saja, dia semakin membingungkan pi"
"Pantas saja Bram selalu mewanti putrinya ternyata otak nya diatas rata rata" gumam Jonathan yang hanya bisa geleng kepala.
.
.
.
Staytune🤗
Mampir juga di karya teman author 😊