My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
ORANG DIMASA LALU



Elena menjalani hidupnya bukan sebagai staf biasa lagi tetapi sebagai sekretaris laras, butik laras pun tidak terlalu repot karena kecepatan elena yang menghandle banyak pekerjaan.


dita juga merasa senang karena bisa terus bersama sahabatnya, pekerjaan dita juga sudah berkurang semenjak elena menjadi sekertaris laras.


elena sedang duduk di kursi kerjanya yang berada diruang kerja pribadinya, elena memandang foto seorang bocah tampan yang ada diponsel nya.


"mimi janji akan menemui mu secepatnya sayang" gumam elena mengelus foto bocah tampan berkulit putih itu.


elena menghela nafas kasar seakan batu besar mengganjal hati nya, elena melanjutkan pekerjaan nya.


ceklek


"el udah jam makan siang ini" ucap dita langsung masuk kedalam ruangan elena.


elena melihat arloji ditangan nya "kita mau makan apa?" tanya elena menyenderkan tubuhnya


"enaknya makan apa?" tanya dita balik karena sama sama bingung akan makan apa pada siang hari ini


elena berfikir sejenak lalu menjentikkan jari nya "bakso yuk, yang biasa itu kangen nih pengen makan itu" usul elena yang langsung disetujui dita.


dita dan elena keluar ruangan elena dan melihat laras berdiri diambang pintu ruangan nya sendiri


"kalian mau makan apa?" tanya laras saat elena dan dita menyambangi nya


"bakso bund, didekat pertigaan depan sana" jawab dita


"restauran aja yuk, bunda traktir deh" usul laras yang belum makan siang juga


"tidak bun, ini el yang minta, yakan el?" ucap dita menyenggol bahu elena yang hanya bisa mengangguk.


"yaudah bunda ikut kalian aja deh" laras mengalah dari pada makan sendiri karena suami nya masih ada pekerjaan


"tapi kami jalan bun" goda dita yang tahu laras sangat tidak suka panas panasan, lagian siapa sih yang mau panas panasan wkwk


"iss jangan dong, nih bawa mobil bunda aja" ucap laras memberikan kunci mobilnya pada dita


"sudah lewat 10 menit, jika masih ingin berdebat aku pergi sendiri" ucap elena berlalu lebih dulu ke dalam lift


dita dan laras terkekeh lalu menyusul elena yang terlihat sudah cukup merasa lapar.


kini mereka bertiga sudah berada di sebuah warung bakso pinggir jalan, ketiganya menyantap bakso dengan antusias.


"lena" ucap seorang pria yang berdiri tepat di samping elena duduk.


elena mengerutkan kening nya saat mendengar suara yang begitu familiar ditelinga nya.


elena mendong dan langsung terkejut saat melihat seorang pria yang begitu dikenal nya kini tersenyum hangat kearah nya.


"kamu kemana aja dek? mas mencari mu selama ini" tanya pria itu menyentuh bahu elena tetapi sang empunya menghindar.


"kita pulang" ucap elena menyambar kunci mobil dan berlalu lebih dulu meninggalkan laras dan dita yang masih bingung


"kamu siapa nya el?" tanya laras memandang pria yang tadi menyapa putri angkat nya.


dita sedikit gusar karena tadi melihat wajah elena berubah dan juga tiba tiba kening nya berpeluh


"saya yang seharusnya nanya, tante temen kerja lena?" tanya pria itu duduk dihadapan mereka berdua.


"saya mama nya el" jawab laras


Tin Tin Tin


elena membunyikan klakson mobil berkali kali membuat keributan dan kebisingan diwarung bakso itu


dita dan laras terjingkat "bunda ayo pergi nanti el marah, bisa dibunuh kita kalau dia mengamuk" ucap dita menarik tangan laras.


pria itu mengerutkan kening nya bingung "kenapa mereka begitu takut pada lena" gumam pria itu berdiri hendak mengejar elena dan yang lainnya


"cepat pergi" ucap elena dingin setelah dita dan laras masuk kedalam mobil.


dita mengangguk dan langsung tancap gas tanpa memperdulikan teriakan pria yang tadi menemui mereka.


dita penasaran siapa pria tadi terlihat sangat akrab dengan el tetapi dita enggan bertanya saat melihat raut wajah sahabat nya terlihat berbeda.


Dikarenakan ini adalah hari sabtu, tepatnya malam minggu elena dan ketiga sahabat nya memutuskan untuk hangout bersama dicafe tempat clara bekerja.


elena hanya menggunakan celana panjang berwarna mustard dengan kaos crop berwarna coklat.


kini mereka sedang berbincang santai di cafe tempat clara bekerja sembari menunggu clara mengambil pesanan mereka.


"nah kalian mau pes.."


"sayang" seorang pria datang dan mendekati mereka.


"sayang" ucap rasya terkejut, ya pria itu adalah kekasih rasya


mereka semua langsung menoleh kearah elena yang menampilkan wajah dingin nya membuat semua sahabat nya bergidik ngeri.


rasya menahan nafas menunggu jawaban sahabat nya yang jarang berbicara tetapi sekali berbicara sangatlah savage.


melihat suasana begitu tegang dita mencoba memecahkan kesunyian "sya kamu jalan jalan aja gih sama bagus" usul dita yang disetujui jessica


"gabung aja" jawab elena singkat, rasya yang awalnya begitu tegang pun bisa bernafas lega


"duduk sayang" ucap rasya menepuk kursi yang ada disamping nya


"aku seperti biasa clar" ucap elena singkat yang sudah bisa diketahui clara, yang lain pun ikut memesan.


"ternyata benar benar kulkas" batin bagas yang sudah diberitahu sikap sahabat kekasihnya yang satu ini.


"oh iya nanti ada beberapa teman ku yang akan datang kemari, kami tidak sempat bertemu jadi mereka akan gabung"


rasya memijit pelipisnya yang tiba tiba merasa pusing, kekasihnya ini membangunkan macan betina yang sedang tidur nyenyak


"bagaimana menurut kamu el?" tanya bagas sedikit takut melihat tatapan belati elena


elena melirik rasya yang menampilkan raut khawatir, elena tahu sahabat nya merasa takut dirinya akan marah dikarenakan elena yang sangat benci bergabung dengan pria.


"selagi mereka tidak mengganggu tidak akan menjadi masalah" jawab elena menegakkan duduknya.


mereka pun bernafas dengan lega, tidak lama bagas melambaikan tangan nya kearah pintu masuk, elena tidak bisa melihat siapa yang datang dikarenakan dia duduk membelakangi pintu masuk.


"lena" ucap seorang pria yang kini berdiri di samping meja mereka semua duduk.


elena membelalakkan mata nya saat mendengar suara familiar itu "kamu kenal el wahyu?" tanya bagas.


pria bernama wahyu itu pun mengangguk "kamu kemana aja dek? abang nyariin lo selama ini" tanya wahyu memandang wajah elena.


dita jadi teringat kejadian tadi siang, seketika dita merasa panik elena akan melakukan hal yang tidak diinginkan


elena bangkit dan langsung menarik lengan wahyu menuju luar cafe, semua orang urung mengejar saat elena berkata "kalian diam disini"


elena menghempaskan tangan wahyu dengan kasar saat mereka sudah berada diluar cafe


"dek, ada apa? abang rindu sama kamu" ucap wahyu ingin memeluk elena tetapi wanita itu menghindar


"jangan dekati aku, jangan cari tahu aku dan jangan temui aku!" bentak elena membuat wahyu terkejut.


"dek jangan begitu"


plakkkk


dita, rasya, jessica dan clara terkejut bukan main begitu mereka keluar dan melihat elena menampar pipi wahyu dengan keras.


elena menampar wahyu karena pria itu terus berusaha mendekatinya "jangan sentuh aku brengsek!" bentak elena dengan nafas memburu.


"dek kamu kenapa jadi seperti ini?" lirih wahyu menatap elena dengan tatapan sendu


"diam sial, jangan pernah temui aku brengsek!" bentak elena dengan nafas yang sudah tak teratur


dita yang melihatnya pun semakin panik "jessi ambil mobil cepat kila pulang sekarang" ucap dita membuat jessica terjingkat dan langsung berlari menuju mobil nya.


"a..aku ikut pulang, sayang aku pulang lebih dulu" rasya pamit pada pacarnya yang tadi juga melihat elena menampar wahyu bersama para pria lainnya.


dita langsung mendekati elena "el kita pulang el" hati dita terasa nyeri saat melihat mata elena yang sudah memerah menahan emosi.


dita langsung memasukkan elena kedalam mobil, setelah semua masuk Jessica langsung meninggalkan pekarangan cafe.


sesampainya dirumah, mereka semua duduk disofa mencoba menenangkan elena yang sudah menangis begitupun dengan rasya yang merasa bersalah.


"di..dia, mereka.. mereka yang sudah membuatku menderita" ucap elena dengan terisak.


"yang tadi siang, ta..dita yang tadi siang adalah teddy, di..dia yang merebut kesucian ku, dia yang sudah menghancurkan masa depan ku"


"ta..tadi wahyu, di..dia pria yang menyakiti ku, di..dia yang menghianati kepercayaan ku dia mempermainkan ku"


mereka semua terkejut, kenapa orang dimasa lalu elena datang secara bersamaan membuat mental gadis ini hancur berantakan.


selama ini mereka hanya tahu cerita tanpa tahu bagaimana wajah orang orang yang menyakiti gadis malang yang kini ada dalam pelukan elena.


rasa sakit dan tangisan masa lalu terekam jelas dikepala elena, bagaimana dia memohon pada seorang pria agar jangan meninggalkan nya karena sudah terlanjur cinta.


mental yang begitu terpukul membuat seseorang mengalami trauma yang begitu berat, ketakutan akan sesuatu membuat hidup mereka tidak pernah tenang.


.


.


.


author nulis nya jadi ikut sedih hehe, yuk ikutin terus bagaimana elena melawan rasa sakit di hatinya dan terus menjadi wanita kuat.


jangan lupa dukung author ya bestie 🥰