
Matahari mulai menyingsing, Aron tidak tidur selama semalam karena terus menjaga Elena.
Suasana ruang rawat itu sepi karena semua orang sudah melakukan aktivasi nya masing masing.
Bram dan Jonathan berada di ruang sebelah yang digunakan untuk mereka istirahat bersama yang lain.
Di ruangan ini hanya ada Aron dengan Elena karena Aron meminta semua orang untuk meninggalkan nya.
"Sudah pagi sayang, Robby mengatakan kau akan bangun tapi kenapa tidak sampai sekarang?" lirih Aron.
Aron merebahkan kepalanya dilengan Elena, lagi lagi air matanya jatuh karena wanita yang sedang terbaring ini.
"Kau sangat jelek ketika menangis"
Suara familiar yang di barengi dengan elusan lembut dikepala Aron membuat pria itu langsung mengangkat kepalanya.
"Sayang"
"Maafkan aku telah membuat mu khawatir lagi" ucap Elena tersenyum
Aron langsung memeluk tubuh Elena, rasanya hampir mati saja melihat wanita ini tak kunjung bangun tadi.
"Maafkan aku yang lalai menjaga mu, untuk kesekian kalinya kamu berada disini lagi"
"Sebab itu, bisakah bawa aku pulang?" tanya Elena mencium pipi Aron
"Tidak sayang, aku akan memanggil Robby" ucap Aron memencet tombol monitor yang terhubung keruangan Robby.
Robby pun datang bersama Rasya yang memang tidak pulang karena mengkhawatirkan Elena.
"Rasya"
"Ohhh adik kecil ku yang nakal, bermainlah dengan nyawa sekali lagi maka aku yang akan membunuhmu" ucap Rasya memeluk Elena.
"Haha maafkan aku, kamu ngapain pagi pagi udah disini? pake seragam dokter lagi"
"Aku magang, semalam juga aku yang bantu dokter Robby menangani kamu"
"Apakah kalian pac... mmmpffhh"
Rasya langsung membekap mulut Elena karena tahu apa yang akan dikatakan wanita ini, sudah jelas akan membuat nya malu.
"Jaga ucapan mu adik kecilku atau akan ku suntik kau dengan paku beton"
"Hehe tidak aku bercanda" Ucap Elena menggaruk tengkuknya.
"Baiklah akan aku periksa dia lebih dulu" ucap Rasya dan melanjutkan pekerjaan nya.
Beberapa saat kemudian Jonathan pun datang dan langsung memeluk Elena karena bersyukur calon menantunya baik baik saja.
"Maafkan papi sayang"
"No papi, jangan menyesali apa pun lagian ini semua memang sudah takdir" ucap Elena tersenyum hangat.
"Kamu memang anak yang baik sayang"
"Terimakasih papi aku menyayangimu"
"Emmm sayang, ada yang ingin bertemu dengan mu" ucap Jonathan sedikit ragu
"Siapa papi? apakah Aziel putraku?"
"Dia akan datang siang nanti sayang, sekarang ini orang yang sangat kau rindukan" ucap Jonathan membelai kepala Elena.
"Wahh benarkah? siapa itu pap..."
Ucapan Elena terhenti saat melihat siapa yang berdiri tepat didepan brankar nya, seketika mata Elena berkaca kaca dan bibirnya pun terasa keluh.
"Papa?" gumam Elena seakan tidak percaya.
Bram berdiri tepat didepan putrinya dengan mata yang sudah berkaca kaca, senyum manis tersemat dibibir Bram.
Bram mendekati putrinya secara perlahan, Bram memegang pipi chubby milik Elena yang sudah memerah.
"Apa kabar putri papa? papa hanya ingin mendengar bahwa kamu baik baik saja" ucap Bram tersenyum.
Air mata Elena jatuh tepat di ibu jari Bram, rasanya seperti mimpi saat melihat seseorang yang dinyatakan mati bertahun tahun lamanya kini berdiri didepan nya.
"Jangan menangis sayang, papa mohon papa hanya ingin memeluk mu sekarang ini" ucap Bram mengusap air mata putrinya.
"Ke..kenapa pa? kenapa?"
"Maaf sayang, semua akan papa jawab saat kamu sudah sembuh, fokuslah dulu pada kes..."
Brakkkkkkk
Pintu ruang rawat Elena dibuka paksa oleh seseorang dari luar, semua orang langsung menatap kearah pintu.
"Dimana adik ku? El..."
Ucapan Rico terhenti saat melihat siapa yang berdiri disamping brankar adiknya, Ani juga mematung melihat siapa yang bersama putrinya.
"Papa?" lirih Rico yang hampir tidak percaya.
"Jauhi putriku, pria tidak bertanggung jawab jauhi putriku, kau membuat hidup kami tersiksa!" bentak Ani mencoba mendorong tubuh Bram.
"Ani dengarkan aku dulu"
"Jauhi putriku, nak kamu baik baik saja sayang? apa ada yang sakit?" cecar Ani memeluk putrinya.
"I am okey ma, dimana kakak?"
"Siang nanti akan datang bersama Aziel, kau merindukan nya hem?"
"A..aku merindukan nya ma" jawab Elena dengan mata yang masih tertuju pada Bram.
"Bagaimana kabar mu boy? jangan terlalu emosi dengan situasi ini karena adik mu di jaga oleh calon suami nya"
"Kenapa papa kembali? kenapa papa kembali setelah semua nya tidak serumit dulu?" cecar Rico menatap tajam Bram.
"Papa" lirih Elena
"Yes baby, bolehkah papa memeluk mu?"
Elena langsung merentangkan tangan nya dan langsung disambut pelukan hangat oleh Bram
"Papa kemana saja? ti..tidak kah papa tahu susahnya hidupku?"
"Maaf untuk sebelumnya sayang, tetapi papa akan menjawab semua nya setelah kamu sembuh" jawab Bram mengecup kening putrinya.
Elena menatap papa dan mama nya secara bergantian, ada sesuatu yang ingin disampaikan tetapi bibir itu terlalu keluh untuk menyampaikan.
"Abang" lirih Elena merentangkan tangan nya.
"Kau baik baik saja sweetie? maaf tidak menjaga mu"
"Aku baik baik saja, Aron sudah menjaga ku dengan baik" jawab Elena.
Rico menghembuskan nafas kasar, niat ingin membawa adiknya kembali tetapi sangat sulit karena Elena sudah terlanjur mempercayai Aron dan Jonathan.
"Apakah sudah selesai?" tanya Jonathan yang masuk bersama Aron.
"Kau menyembunyikan nya dari ku Jhon?" tanya Ani menatap Jonathan tajam
"Bukan aku tetapi calon menantumu"
Ani langsung menatap Aron tajam, Aron langsung beralih ke Elena dan mengecup pipi gadis itu.
"Ternyata cara marah mama sama seperti dirimu sayang, aku berharap aku tidak dijadikan santapan makan malam"
Elena tertawa terbahak bahak mendengar ucapan Aron, mereka tersenyum tipis melihat tawa Elena.
"Apakah harus aku yang membunuhmu lebih dulu"
"Jangan jadikan dirimu janda sebelum menikah sayang" ucap Aron membuat Elena semakin tertawa.
"Tawanya sangat kurindukan, aku bersyukur Aron bisa mengembalikan tawa adikku lagi" batin Rico tersenyum tipis.
"Elena!" teriak Clara yang baru datang bersama sahabat Elena yang lain dan langsung memeluk Elena sampai menggeser posisi Aron.
"Akan ku larang Elena berteman dengan kalian setelah ini"
"Tutup mulut mu tuan muda Aron Jhon Smith, restu kami setara dengan restu orang tuanya" ketus Clara.
Semua yang ada di ruangan itu hanya bisa tertawa, mereka tahu Clara yang masih kesal dengan apa yang terjadi dengan Elena belakangan ini.
"Setelah aku sembuh kau harus mentraktir ku" tantang Elena menatap Clara
"Makan di restauran ku dan bayar dengan instastory instagram mu" jawab Clara
"Aku lupa jika dia cukup terkenal disosial media" celetuk Jessica.
"Terimakasih sudah menjadi sahabat untuk putri om dan menjaga nya selama ini" ucap Bram
"Siapa El?" tanya Dita
"Papa ku, papa kandung ku"
"APAAA??" serentak ketiga wanita itu karena terkejut dengan jawaban Elena.
"Yakkk kenapa berteriak, ini rumah sakit jika kalian ingat" ketus Elena membuat sahabat nya langsung terdiam.
"Maaf sebelumnya om, tetapi El mengatakan bahwa om sudah meninggal"
"Ceritanya panjang nak, ada alasan om pergi selama ini" jawab Bram dengan senyum yang ramah.
Ketiga sahabat Elena pun hanya bisa mengangguk, padahal begitu banyak pertanyaan yang sedang berenang dikepala mereka.
Bagaimana tidak, orang yang sudah bertahun tahun lamanya dinyatakan meninggal kini berdiri dihadapan mereka.
Tetapi mereka tetap urung bertanya karena takut merusak suasana apa lagi Elena yang baru saja membaik dari kejadian kemarin.
.
.
.
Sepi sepi sepi, hehe mana nih readers author?