
Pagi hari yang cerah, suasana ruang rawat Elena terlihat ramai dan juga hangat.
Setelah mendengar kabar bahwa Elena siuman dan membaik, para sahabat Elena datang tidak lupa juga Laras dan Fras.
"Bunda seneng kamu udah mulai pulih sayang" ucap Laras menggenggam tangan Elena sembari menitikan air mata.
Elena tersenyum hangat dan juga menghapus air mata Laras dengan tangan nya "*Bunda jangan nangis"
"Bunda nangis bahagia sayang*" ucap Laras tersenyum dan langsung memeluk Elena.
"Kamu baik baik saja kan nak? apa ada yang sakit sayang?" cecar Fras memegang bahu Elena.
"El baik baik saja ayah" ucap Elena menggenggam tangan Fras.
Di sudut ruangan tepatnya disofa, Aron mati matian menahan cemburu saat Elena tersenyum manis kepada Fras.
Terdengar gila memang tetapi CEO kejam itu terlalu posesif terhadap Elena, tetapi Aron tidak ingin merusak suasana karena rasa cemburu nya saja.
"Bagus lah sayang" ucap Fras mengecup kening Elena.
Tangan Aron langsung terkepal melihatnya "dia ini menganggap wanitaku sebagai anak atau istri kedua" gerutu Aron bangkit dari duduknya
"Ehem" Aron berdehem saat tangan Fras masih merangkul bahu Elena.
"Aku ingin bicara kepadamu" ucap Aron memandang Fras sekilas.
"Ada apa Aron?" tanya Elena mengerutkan keningnya
"Tidak apa sayang hanya bicara tentang bisnis, sebentar ya" ucap Aron dengah nada lembut dan membawa Fras pergi.
"Ck aku masih merindukan putriku" gerutu Fras menepis tangan Aron
"Jangan berlebihan, dia calon istriku" ucap Aron menatap Fras tajam
"Oh baiklah ternyata kau cemburu" gumam Fras.
Saat kedua pria itu sedang berdebat, Clara datang dengan menggendong seorang bocah tampan masuk kedalam ruangan Elena
"Mimi" panggil Aziel dengan antusias
Aron dan Fras langsung menoleh, Aron langsung mendekati Elena saat melihat wanita itu ingin turun dari brankar nya.
"Eitsss sayang jangan turun, tubuhmu masih lemah biarkan dia yang mendekatimu" ucap Aron menahan tubuh Elena.
Elena hanya bisa menghela nafas setelah Aron melarangnya, Aron tahu siapa bocah tampan yang sedang dalam gendongan Clara itu.
"Hay sayang, apa kabarmu?" tanya Elena setelah Aziel duduk diatas brankar nya juga.
"Jangan bertanya tentang ku mimi, coba jawab aku kenapa mimi bisa ada di tempat yang menyebalkan ini?" celoteh Aziel.
Elena terkekeh melihat Aziel dengan wajah yang sangat menggemaskan, sedangkan yang lainnya sudah tertawa mendengar ucapan Aziel.
"I am sorry little prince" ucap Elena mengecup kening Aziel
"ohh good, come on mimi, Aziel ingin penjelasan bukan maaf" ucap Aziel menatap kesal ibu keduanya.
Elena yang memang mahir dalam berbahasa Inggris mengajari Aziel dari kecil, bahkan interaksi keduanya sering menggunakan bahasa Inggris.
"Maaf ya sayang, pipi gagal menjaga mimi mu" ucap Aron dengan pede nya mengatakan bahwa dirinya adalah pipi Aziel.
Elena terkejut mendengarnya, sedangkan yang lain pun tak kalah terkejut mendengar penuturan Aron
"Pipi?" tanya Aziel memandang bingung kearah Aron
"Iyap, pipi adalah calon suami mimi" jawab Aron mengelus kepala Aziel.
"Apakah aku boleh memarahi pipi? pipi tidak menjaga mimi dengan benar" ketus Aziel memandang Aron kesal.
"Oh oke, pipi tahu pipi salah dan maaf" ucap Aron mengulurkan tangan nya.
Ntah mengapa hati Elena menghangat melihat interaksi keduanya, Elena tahu Aziel bukanlah anak yang gampang akrab dengan orang lain.
"Oke Azin maafin, tetapi pipi harus menjaga mimi dengan benar atau tidak Azin akan membawa mimi pulang" ancam Aziel menjabat tangan Aron
"Good boy, pipi akan selalu menjaga mimi mu boy" ucap Aron memeluk Aziel.
"Terimakasih sudah membawanya untuk ku Clar" ucap Elena memeluk Clara
"Mimi, Azin juga ingin dipeluk" rengek Aziel masih dalam gendongan Aron
"Oke boy, tetapi jangan terlalu erat ya mimi masih sakit" ucap Aron menurunkan Aziel keatas brankar Elena.
Elena langsung memeluk bocah tampan itu, jujur saja Elena sangat merindukan pelukan dari tubuh kecil ini.
Elena sebisa mungkin menahan tangis nya karena takut Aziel akan berfikir dirinya sakit jika menangis.
"Oke ini sudah jam makan siang, kita cari makan oke?" tawar Aron menggendong Aziel lagi
"Apa mimi tidak ikut?" tanya Aziel menatap Elena sendu
"Tidak sayang, mimi akan makan disini pergilah" ucap Elena membelai lembut pipi Aziel
Aron pun membawa Aziel keluar karena tahu bocah ini lapar, Sedangkan diruangan itu masih ada Laras dan sahabat Elena.
"Apa kau sudah mencintainya El?" tanya Dita memandang sahabat nya
Elena sedikit tertegun dengan pertanyaan yang dilontarkan Dita, Elena sendiri saja tidak tahu sudah mencintai pria itu atau belum.
"Kau tahu aku Ta" jawab Elena tersenyum kepada sahabat nya.
"Dia pria baik El" ucap Jessica yang datang membawa makanan.
Perlu diingat, disini Elena belum tahu kalau Aron adalah CEO terkaya dan terjaya dinegara ini.
Elena juga tidak tahu bahwa Aron adalah mafia yang kebal hukum, sedangkan para sahabat nya dan Laras tidak menceritakan tentang Aron.
Karena Aron sendiri yang melarang mereka, Aron ingin Elena sendiri yang tahu siapa calon suami nya itu.
"Aku tidak bisa, dia baik tapi aku membenci cinta" ucap Elena menundukkan kepalanya.
Ada rasa tidak rela saat Elena mengatakan itu, ntah mengapa ulu hati nya sakit saat menyadari kini dia tidak menganggap sebuah cinta lagi.
Mereka semua tahu trauma masa lalu apa yang Elena alami, hidup keras Elena membuat mental gadis itu hancur berkeping-keping.
Disaat semua orang memilih mati hanya karena tidak mampu menghadapi cobaan, Elena bingung ingin mencoba cobaan yang mana.
Elena bertahan hanya karena putra angkatnya, Aziel sangat berharga bagi Elena begitupun sebaliknya.
Aziel yang selalu dimanja oleh Elena bahkan tidak pernah dibentak, sangat luluh kepada mimi nya itu.
Sedangkan Fras yang masih ada disana juga menampilkan wajah khawatir saat Dita bertanya tentang perasaan Elena.
Fras sangat tidak ingin putri angkat nya masuk kedalam dunia hitam yang sangat kejam dan tidak tahu belas kasihan.
Laras pun merasakan hal yang sama, sebenarnya ketiga sahabat Elena tahu siapa Aron dan bagaimana perawakan pria itu.
Mereka sedikit khawatir jika Elena dijadikan permainan untuk Aron, sama seperti Aron mempermainkan wanita selama ini.
Casanova tampan itu, siapa yang tidak mengenalnya? banyak wanita yang mengejar Aron mau dari Artis, model atau pun rakyat biasa.
Mereka tidak tahu saja, bahwa Elena sudah mendapatkan nama belakang Smith untuk nama Elena.
"Bagaimana ini pa? mama gamau El sama pria itu" lirih Laras yang sedang berada didalam mobil bersama Fras.
Laras berpamitan untuk kembali kebutik dan menitipkan Elena kepada Dita dan yang lainnya karena ada urusan.
"Papa juga tidak tahu mah, Memang tuan Aron memperlakukan Elena dengan baik tapi.."
"Ga bisa jamin pah, Aron itu sering gonta-ganti wanita mama ga mau El sakit gara gara dia" ucap Laras menyela perkataan suaminya.
Kekhawatiran Laras tiada habis nya untuk Elena, dari mulai takut kalau Elena kembali kekeluarganya hingga Elena dimiliki Aron sepenuhnya.
Terdengar egois memang tetapi trauma masa lalu Laras akan putri kandung nya begitu besar hingga menjadi posesif kepada Elena.
Untung saja Elena tidak merasa risih dengan keposesifan yang dimiliki Laras sehingga gadis itu tetap menghormati siapa Laras.
.
.
.
Jangan lupa istirahat buat para readers semua.