My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
PEMBALASAN



Malam yang dingin di sebuah kamar dengan nuansa hitam, Elena sedang duduk diatas ranjang sembari membaca buku novel yang dibawa Aron untuknya.


Aron keluar dari walk in closed sudah menggunakan piyama tidur nya yang berwarna hitam.


"Belum tidur sayang?" tangan Aron ikut naik keatas ranjang dan duduk di samping Elena


"Aku belum ngantuk, lagian masih jam 9 malam" jawab Elena masih fokus pada buku ditangannya.


"Sayang"


"Hem"


"Sayang"


"Hem"


"Sayang"


"Aku tampol ya" ketus Elena yang mulai kesal karena Aron terus mengganggu nya.


Aron terkekeh melihat wajah kesal Elena, sedangkan Elena mematung saat melihat wajah tampan Aron saat tersenyum


"Kau menyebalkan" ucap Elena memalingkan wajahnya


"Aku mencintaimu"


"Aku membencimu"


"Aku mencintaimu"


"Aku membencimu"


"Aku menci... mmphhh"


ucapan Aron terhenti saat tangan mungil Elena membekap mulut pria itu yang terus bersuara dari tadi.


"Berhentilah berbicara, kau merusak mood baca ku" ucap Elena menutup bukunya dan meletakkan nya diatas nakas.


"Bagaimana jika kau mendengarkan cerita ku" tawar Aron mengelus rambut Elena


"Tentang?" tanya Elena menoleh kearah Aron


"Hidupku sayang, masa lalu ku dan semua tentang ku" ucap Aron


"Benarkah? tapi kenapa harus memberitahu ku?" tanya Elena


"Karena ka.."


Drtttt Drtttt


"Oke lanjutkan lain waktu, ponsel mu berdering dan aku mulai mengantuk" ucap Elena membaringkan tubuh nya


"Kau nakal sekali" ucap Aron mencubit hidung Elena


"Awww sakit Aron" ketus Elena mengusap hidung nya


"Maafkan aku sayang" ucap Aron mengelus hidung Elena dan mengecupnya


"Tidur lah" ucap Aron ikut berbaring disamping Elena


"Tapi ponsel mu?" tanya Elena yang tahu ada panggilan masuk untuk Aron


"Sudah malam besok saja" jawab Aron menarik pinggang Elena agar lebih dekat dengan nya.


Aron memeluk Elena sembari mengelus punggung wanita itu, sedangkan Elena menyembunyikan wajahnya didada bidang milik Aron.


Tidak butuh waktu lama dengkurang kecil pun lolos dari bibir ranum milik wanita kesayangan Aron.


Secara perlahan Aron melepas pelukan nya dan menggantinya dengan sebuah guling untuk dipeluk Elena.


Aron membenarkan selimut Elena karena malam semakin dingin untuk tubuh putih mulus milik Elena.


Aron langsung beralih ke walk in closed untuk mengganti pakaian nya dengan celana hitam dan kemeja putih yang dibalut dengan jacket kulit hitam.


Aron mendekati Elena dan mengecup kening gadis itu "Dia akan membayar rasa sakit mu sayang" bisik Aron.


Aron langsung keluar kamar utama dan melihat Helga dan Amey sudah menunggunya di depan pintu


"Tidak perlu masuk karena dia sudah tidur, kalian tunggu saja disini sebelum dia bangun tengah malam aku sudah kembali"


Aron pun langsung pergi dengan menitipkan banyak pesan untuk Helga dan Amey yang akan menjaga Elena.


Sesampainya di depan rumah mewah milik Aron, terlihat Halid dan Zio sudah berdiri di depan mobil menunggu kedatangan Aron.


"Kita berangkat sekarang" ucap Aron langsung masuk kedalam mobil mahal miliknya yang berwarna hitam.


Di markas Aron.


Martin sedang memaki pria paruh baya yang membawa Elena pada saat Elena kabur malam itu dari Aron.


"Mati kau sialan, kenapa kau bawa perempuan itu kepada ku hah!" bentak Martin kepada pria paruh baya itu


"Kenapa anda memarahi saya? anda sendiri yang mengatakan jika kami bisa menemukan gadis kecil itu kami akan mendapatkan uang yang banyak"


Pria paruh baya itu adalah salah satu orang Martin yang hanya bekerja karena uang bukan pengabdian.


"Kau tidak mengatakan jika dia milik Aron bedebah!" maki Martin.


Setelah mendengar Markas milik Martin dibantai anak buah Aron, pria paruh baya itu sempat melarikan diri keluar negeri.


Kaki tangan Aron yang tersebar dimana mana pun langsung mendapatkan pria itu dengan mudah walaupun memakan waktu yang cukup lama.


"Gara gara wanita siakan itu aku berada di sini, dasar jal@ng!" teriak Martin yang semakin frustasi karena tidak bisa kabur dari Markas mematikan ini.


Siapa yang tidak tahu tentang Markas mematikan milik Aron, berita nya sudah menyebar didunia bawah tanah.


Ntah itu dijadikan makanan peliharaan Aron ataupun jasad nya dibakar dan juga dilarutkan didalam cairan asam.


Dimarkas ini Aron memelihara satu ekor buaya yang diberi nama Ali dan juga seekor macan hitam bernama Kai.


Kedua peliharaan Aron itu sering digunakan untuk menyembunyikan kejahatan mereka yang tidak pernah terendus oleh pihak berwajib.


Selain kepandaian mereka menyembunyikan bukti, Aron juga adalah pria yang kebal dengan hukum.


"Kau masih berani memaki wanitaku saat mulutmu sudah hampir robek kemarin" ucap Aron yang muncul dari kegelapan.


Suasana ruangan bawah tanah langsung berubah menjadi mencekam dan juga mengerikan.


Ruangan gelap yang tadinya hanya berisi dua orang, kini sudah ada beberapa pengawal lain yang ingin ikut melihat penyiksaan ini.


Banyak nya orang di sana tidak membuat suasana menjadi ramai melainkan hening seakan mereka semua bisu dan tuli.


"Cih perempuan seperti itu yang kau pilih dari sekian banyak wanita yang kau tiduri" cibir Martin memandang Aron.


"Karena dia berbeda dari wanita yang ku tiduri" jawab Aron dengan raut datar


"Cih jal@ng sepertinya banyak di.."


Bughhhhh


"Berhenti menghina calon istri ku, kau tidak bisa mendapatkan nya lalu menghina nya?" ucap Aron melayang kan bogeman kewajah Martin


"Seperti nya aku harus memulai dari mu lebih dulu" seringai Aron menatap pria paruh baya yang pernah membawa Elena


"Ti..tidak, jangan sakiti aku, dia yang meminta tolong kepadaku" ucap pria paruh baya itu dengan peluh yang deras


"Dia meminta tolong untuk mengantarkan nya ke apartemen bukan kepada pria pedofil ini" ucap Aron menerima belatih kecil dari Hugo


Pria paruh baya itu terbelalak saat Aron mendekatinya dengan membawa sebuah belati kecil yang sangat tajam.


"Mulutmu ini berdusta kepada wanita ku, kau mengatakan ingin menolongnya bukan? lalu kenapa kau menyerahkan nya kepada biadab ini"


Srettttttt


"AKHHHHHHH!!" Aron merobek mulut pria itu dengan belati di tangan nya


Jlebbbbbb


Aron menusuk bola mata pria itu dan mencongkelnya keluar hingga menggelinding di lantai lembab itu


"Itu untuk matamu yang sudah berani menatap wanitaku"


Sretttttttt


"AKHHHHHHH BRENGSEK!" umpat pria itu menahan sakit yang tidak bisa diucapkan lagi.


Aron menebas lengan pria itu hingga putus dan tergeletak dilantai dengan darah yang bercucuran


"Itu untuk tangan mu yang sudah berani memegang wanita ku" ucap Aron dengan wajah yang seperti iblis.


Setelah pria paruh baya itu sudah diambang kematian, Aron membiarkan pria itu dan mendekat kearah Martin


"Fras cukup bagus meluapkan emosinya" kekeh Aron terlihat sangat menakutkan


"Lepaskan aku brengsek!" Maki Martin yang menahan takut setengah mati


"Apa kau mendengar permintaan wanita ku saat ingin dilepaskan? kau bahkan menampar dan menghajarnya tanpa ampun"


Dengan susah payah Martin menelan ludahnya karena takut, Aron sudah menunjukkan sisi gelap yang paling gelap dari dirinya


Jlebbbbbbb


"AKHHHHHHHHHH!"


Aron menancapkan belatinya dipipi kanan milik Martin lalu mencabutnya, hingga meninggalkan luka menganga dengan bercucuran darah


"Kau tidak tahu pipi wanitaku lebam karena tangan kotormu" ucap Aron memainkan belatinya ditangan Martin.


Jlebbbbbb


"AKHHHHHHH"


Sretttttt


"AKHHHHHHH" teriak Martin saat tangan nya ditebas oleh Aron dengan sekali tebasan


"Bunuh saja aku Aron, BUNUH AKU!" teriak Martin yang sudah tidak dapat menahan rasa sakitnya.


Jlebbbbbb


Aron menusuk perut buncit Martin dengan belatinya lalu menekan belati itu hingga semakin dalam.


"AKHHHH!" Martin mengeluarkan darah segar dari mulutnya karena disiksa habis habisan oleh Aron.


"Akan ku kabulkan permintaan mu tapi nanti bukan sekarang" ucap Aron meninggalkan ruang bawah tanah itu.


Aron sengaja tidak membunuh Martin karena masih ingin menyiksa pria itu dengan segala rasa sakit yang di tanggung wanitanya.


Sedangkan pria yang mengantar Elena sudah mati kehabisan darah, luka yang diberikan Aron juga tidak main main untuk pria itu.


.


.


.


Ngilu bestie wkwk, ramein dong biar author tambah semangat hehe.