
Elena duduk di sebuah ruangan baca yang diisi beberapa buku walaupun tidak sebanyak yang ada di markas Aron.
"Mereka itu menyebalkan sekali, lihat saja akan ku diamkan kalian" gumam Elena menopang dagu nya dengan kedua tangan nya.
Brakkkk
"NONA MUDA!" teriak Helga dan Amey secara bersamaan setelah membuka pintu kayu coklat itu.
Dughhh
"Awwww" ringis Elena saat dagu nya membentur meja karena terkejut dengan kedatangan kedua wanita itu.
"Yakkk, bisa ketuk dulu?" bentak Elena.
"Hehe maaf nona, kami kan ikutin nona tadi" ucap Amey menghampiri Elena setelah mengunci kembali pintu itu.
"Nona merajuk?"
"Menurut mu? biar saja karena mereka sudah mencecar ku tadi" jawab Elena mengerucutkan bibirnya.
"Tapi laper non, kami kan belum sarapan juga tadi" ucap Helga.
"Kau benar juga" gumam Elena menggaruk pelipisnya.
"Bagaimana jika kita makan diluar? rasanya bosan sekali karena aku tidak kuliah" usul Elena menyandarkan punggung nya.
"Nona yakin ingin keluar?"
"Yakin sih, tapi pasti dia akan mengawasi kita ck menyebalkan sekali" gerutu Elena.
"Ahhh sudahlah, ayo kita keluar saja untuk makan diwarung bakso langganan ku" ajak Elena yang sudah membulatkan tekad.
"Kami ikut saja" jawab Helga dan Amey.
Mereka bertiga pun langsung keluar menuju garasi bersama karena ingin membawa mobil sport yang biasa Elena gunakan.
"Pak berikan kunci mobil El"
"Maaf nona muda, tuan muda melarang anda membawa mobil hari ini" ucap pria paruh baya yang memegang semua kunci mobil.
"Sudah pak berikan saja" ucap Helga.
"Maaf Helga saya tidak berani" tolak pria itu yang sudah diperintahkan oleh Aron.
Elena tersenyum smirk kearah Helga dan Amey membuat pria paruh baya itu mengerutkan kening nya.
"Pak itu Zio mencari"
"Mana, tapi ti.... Ahhh apa apaan ini nona muda, saya mohon jangan" ucap pria paruh baya itu yang tiba tiba langsung diikat oleh Helga dan Amey.
Elena langsung mengambil kunci mobilnya yang ada di lemari kaca dan tergantung berbagai macam kunci mobil disana.
"Dapat" ucap Elena memperlihatkan kuncinya kepada Helga dan Amey yang tersenyum senang.
"Biar aku aja yang mengemudikan nya Non"
"Suttt sudah ayo naik" ucap Elena yang sudah duduk di bangku kemudi
Helga dan Amey pun langsung masuk kedalam mobil setelah pintu garasi terbuka lebar.
Mobil Elena pun melesat keluar dari garasi dan berhenti tepat di depan gerbang yang masih tertutup.
"Om buka" ucap Elena kepada pengawal Aron.
"Maaf nona muda, tuan muda tidak mengizinkan"
"Buka atau ku tabrak gerbang i...."
"ELENA GRESYA!" teriak Aron dan berjalan menuju mobil Elena bersama Arga.
Elena memutar bola mata malas melihat mereka mendatanginya dengan raut yang sudah sangat menyebalkan.
"Turun!" titah Aron menatap Elena tajam.
"Helga, katakan kepadanya bahwa kita lapar dan ingin makan diluar" ucap Elena menatap Helga yang duduk disampingnya.
"Tuan dengar?"
Aron mengumpati Helga dalam hati karena sekarang benar benar sudah memihak Elena.
"Turun Elena Gresya Smith" ucap Aron menekan intonasi bicaranya.
"Buka atau aku akan membakar mu hidup hidup" ancam Elena kepada dua pengawal Aron.
"Kau berani mengancam mereka?"
"Buka!" bentak Elena membuat kedua pengawal itu terjingkat.
"Buka sekarang atau kalian tidak dapat melihat matahari besok" ucap Elena memperlihatkan pistol yang ada ditangan Helga.
Aron terbelalak melihat istrinya yang kini sudah berani dengan benda benda seperti itu.
"Helga!" bentak Aron.
Helga hanya diam saja karena dia juga merajuk mengikuti tingkah nona mudanya yang sangat konyol itu.
"Buka" ucap Elena.
Kedua pengawal itu pun menatap Aron lebih dulu setelah mendapat persetujuan baru lah mereka membukanya.
Elena langsung melesat pergi keluar gerbang setelah gerbang tinggi itu terbuka dengan lebar untuknya.
Di mobil, Elena mengendarai mobilnya membelah jalanan kota yang selalu padat dan ramai.
"Tuan percaya ini pistol sungguhan" kekeh Amey.
"Memang ini sungguhan bodoh"
"Hah? bukankah itu yang replika"
"Kepala mu, kita akan keluar untuk apa aku membawa pistol replika!" ketus Helga menatap Amey sebal.
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, mobil yang dikendarai Elena pun sampai di depan warung bakso langganan Elena dulu.
Ketiganya turun dan langsung memesan bakso yang memang sangat diidam idamkan oleh Elena.
Drtt drttt drttt
Ponsel Elena bergetar saat mereka sedang menunggu pesanan bakso mereka datang.
"*Katakan!"
"......"
"Apakah sudah akurat?"
"......."
"Baik, awasi saja dan kumpulkan semua bukti*" ucap Elena dan menutup panggilan itu.
Dengan waktu yang bersamaan pesanan bakso mereka pun sampai dan langsung disajikan.
"Terimakasih mang"
"Wahh nona El, sudah jarang kemari lo"
"Hehe El kuliah mang, jadi maklum lah" jawab Elena tersenyum manis.
"Apa sudah ketemu non?" tanya Helga sembari menikmati bakso nya.
"Sudah"
"Lalu selanjutnya?"
"Kita tunggu saja, ini semua seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja Mey" jawab Elena menyeringai.
Mereka pun melanjutkan sarapan mereka yang sudah bukan sarapan lagi karena waktu sudah cukup siang untuk melakukan sarapan bersama.
"*Setelah ini kita akan kemana?"
"Pulang saja"
"Ck tidak mau, kita jalan jalan saja ke taman bagaimana?"
"Non, aku takut tuan muda marah"
"Abaikan saja, ada aku di depan kalian*" ucap Elena membanggakan diri.
"Ya sudah, kami ikut saja" ucap Amey mengalah.
Setelah selesai makan keduanya pun langsung melesat pergi menuju taman, taman saat Elena menyelamatkan Jessica.
Elena tampak senang karena bisa merasakan kebebasan seperti ini walaupun tahu Aron menyebar pengawal nya di sekitar Elena.
Dari kejauhan, Arilandro tersenyum kecil melihat Elena yang sedang bersenda gurau bersama Amey dan juga Helga.
"Tunggu saat yang tepat El, aku akan membawa mu pergi jauh dari negara ini" gumam Arilandro masih terus memperhatikan Elena.
Hingga hari pun sudah cukup sore, hari ini ketiga wanita itu benar benar menjalani hidup layaknya gadis biasa.
Ketiganya sudah dalam perjalanan menuju rumah yang mereka tinggali, banyak senyum yang terukir diwajah Elena hari ini.
Setelah beberapa saat mobil yang Elena kemudikan pun sudah memasuki pekarangan rumah.
Terlihat semua anggota keluarga menunggu kepulangan wanita itu sembari melipat tangan nya didada.
Elena keluar dari dalam mobil sembari memegang sebuah gula kapas berwarna pink ditangan nya.
"Sayang" panggil Aron
Elena hanya melengos pergi meninggalkan mereka membuat Harlina terkekeh karena cucu menantunya sedang merajuk.
Arga, Bram dan Ani pun sudah kembali ke rumah mereka karena Elena sudah baik baik saja bersama Aron.
"Ck, gara gara papi dia mendiamkan aku" gerutu Aron kesal dan berlalu mengejar istrinya.
Aron menahan lengan Elena saat wanita itu ingin masuk kedalam lift dan menuju lantai atas.
"Sayang, aku minta maaf" mohon Aron menampilkan raut memohon
Elena menepis tangan Aron dan berlalu pergi menggunakan tangga untuk naik ke lantai atas.
Jonathan tertawa melihat putranya didiamkan oleh istrinya dan menjadi uring uringan.
.
.
.
🥰