
Elena memainkan kedua alisnya sembari melipat tangan didada setelah melontarkan permintaan yang membuat kedua pria itu terkejut.
"Bekerja apa nak?" tanya Jonathan
"Bagaimana jika bekerja dibutik bunda Laras kembali?"
"TIDAK!" tolak kedua pria itu tegas
"Ya sudah, aku bekerja diperusahaan Aron saja, tapi jangan ada yang tahu jika aku kekasihmu, aku ingin menjadi karyawan biasa" ucap Elena
Jonathan dan Aron pun saling pandang "baik" jawab Aron menyetujui permintaan Elena
"Eh? kenapa mudah sekali? perasaan ku sedikit tidak enak" batin Elena memicingkan matanya memandang Aron
"Jangan membohongi ku ya pak bos galak" ucap Elena dan berlari masuk kedalam
"Siapa yang galak? Elena Gresya!" teriak Aron mengejar Elena
Jonathan terkekeh melihat putranya yang terkenal kaku itu bisa sedemikian hangat kepada gadis kecil seperti Elena.
Jonathan benar benar bersyukur Aron dipertemukan dengan Elena, gadis yang benar benar sangat berharga bagi Jonathan.
Pagi harinya Elena sudah bersiap untuk bekerja diperusahaan terbesar dinegara ini.
Dengan menggunakan celana bahan berwarna navi yang dipadu dengan kemeja putih, serta rambut nya yang dikuncir kuda.
Aron keluar dari walk in closet dan sudah berpakaian lengkap, Aron menatap Elena dari atas hingga bawah.
"Kenapa?" tanya Elena bingung dengan tatapan Aron
"Rambutnya digerai saja sayang" ucap Aron yang tidak rela leher jenjang putih itu jadi tontonan banyak orang
"Ck aku suka begini, lihatlah rambut ku semakin panjang karena sampo bodoh yang kau tukar itu" ketus Elena.
Aron memang menukar sampo yang biasa Elena pakai menjadi sampo yang dapat memanjangkan rambut dengan cepat.
Alhasil kini rambut Elena sudah sepunggung dan menghilangkan rambut pendek selehernya.
Aron berjalan mendekati Elena dan menarik pinggang wanita itu hingga menempel padanya
"Jangan macam macam" ucap Elena mewanti wanti tindakan Aron.
"Hanya satu macam sayang" ucap Aron menyeringai membuat Elena bergidik ngeri.
Secara tiba tiba Aron mengecupi leher Elena hingga meninggalkan bekas kecupan memerah disana.
"Yakkkk Aron lepaskan aku!" teriak Elena meronta ronta
Dengan sengaja Aron menulikan telinganya dan melanjutkan aksinya, tangan nya pun sudah berkeliaran kemana mana.
"Emmmphhhh" lenguhan pun keluar dari bibir Elena dan langsung gadis itu tutup karena mulut bodohnya itu mengeluarkan suara terlarang.
"Lepaskan saja sayang" desah Aron menekan area sensitif Elena.
"A..akan aku gerai, lepaskan aku Aron" pinta Elena.
Aron menghentikan aksinya dan menatap wajah Elena yang sudah memerah karena tersulut gairah.
Aron terkekeh melihat wajah Elena yang memandang nya kesal, Aron kecup kening Elena.
"Sarapan pagi yang indah" ucap Aron
"Yakkkk leher ku!" pekik Elena memandang lehernya didepan cermin.
"Aaaaaa yang benar saja Aron" gerutu Elena memberikan foundation pada kemerahan di lehernya.
Aron berjalan mendekat dan menarik kuncir Elena yang berwarna biru muda itu hingga rambut gadis itu tergerai.
"Selesai" ucap Aron membenahi rambut Elena.
Elena hanya bisa pasrah karena CEO bucin ini begitu posesif kepadanya.
Setelah selesai makan, Elena dan Aron pun bersiap untuk berangkat tetapi sepertinya ada sebuah perdebatan diantara keduanya.
"Aku tidak mau, papi apa kata orang jika aku berangkat bersamanya" rengek Elena kepada Jonathan
"Sayang, hubungan kita bukan aib yang harus kau tutupi terus" ucap Aron.
Aron memang meminta Elena untuk berangkat bersamanya, sedangkan Elena menolak dan ingin berangkat sendiri.
Elena juga mau nanti agar dirinya melamar layaknya orang biasa bukan jalur orang dalam, karena CV Elena telah sampai diperusahaan Aron dan itu karena Halid.
"Iya aku tahu, tapi bukan saatnya Aron mengertilah, aku hanya ingin bermain main" ucap Elena yang masih kekeh dengan pendirian nya.
"Berikan saja dia mobil dari pada naik bus" ucap Jonathan memberi solusi.
"Oke, boleh berangkat sendiri tapi bawa mobil disini" ucap Aron menyetujui
"Yeyyyy, gitu dong dari tadi" ucap Elena membuat Aron geleng kepala.
Kini Elena sudah didalam mobilnya dan berjalan menuju perusahaan Smith Group, di belakang Elena ada mobil Aron yang mengikuti.
"Ohhh good, dia seperti pengawal ku" gerutu Elena.
Elena tersenyum smirk saat sebuah rencana jahil melintas di kepalanya, Elena memandang kaca spion yang menunjukkan mobil Aron.
Aron memicingkan matanya dari dalam mobil "apa rencana licik gadis kecil ini" gumam Aron.
Tiba tiba Aron dan Halid membulatkan matanya saat mobil Elena melesat cepat membelah jalanan kota yang padat.
"Ohh good gadis ini, cepat Halid nanti dia kenapa napa" desak Aron dan langsung mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Elena.
Di mobil yang berbeda Elena sedang tertawa terbahak bahak karena Aron pasti terkejut dirinya tiba tiba menambah kecepatan laju mobilnya.
"Nah kan nelpon" gumam Elena menatap ponselnya.
"Iya sayang" ucap Elena dengan nada manja setelah panggilan terhubung
"Jangan bermain main Elena Gresya atau semua orang akan tahu dirimu siapa" ancam Aron
"Hehe maaf" ucap Elena melambatkan laju mobilnya menjadi normal
"Ehh dia mengancam ku? aishh sudah lah" gumam Elena meletakkan ponselnya lagi.
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat mobil yang dikendarai Elena pun sampai diparkiran kantor.
Mobil Aron belum sampai karena memang membiarkan Elena lebih dulu masuk perusahaan.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita muda yang bekerja sebagai resepsionis diperusahaan itu.
"Saya sudah mengantarkan CV ke perusahaan ini dan pihak HRD sudah menghubungi saya" ucap Elena.
"Ohh baik, tunggu sebentar ya" ucap resepsionis itu dan mengubungi pihak HRD.
"Ahh itu dia, buk!" panggil wanita itu kepada seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk.
"Ada apa?" tanya wanita itu datar
"Ini karyawan baru yang sudah mendapat panggilan dari pihak HRD buk" ucap resepsionis itu menunjuk Elena yang tersenyum kuda.
"Ikuti saya" ucap kepala HRD itu berjalan menuju salah satu sofa yang ada disana.
Elena mengikuti kepala HRD itu dan duduk dihadapan wanita itu yang menunjukkan raut datar.
Aron masuk kedalam perusahaan dan seketika seisi lantai satu senyap karena sang empunya datang.
Elena yang masih melakukan wawancara pun langsung mengedarkan pandangan nya, tiba tiba mata Elena bertemu dengan mata Aron.
"Pantas saja" batin Elena memalingkan wajahnya.
"Jaga pandangan mu, dia CEO diperusahaan ini" ketus kepala HRD memandang Elena tajam.
"Ohhhh CEO nya" gumam Elena.
"Baik kamu akan saya tempatkan di..."
"Siapa dia?" tanya Aron yang tiba tiba sudah berdiri disamping sofa yang Elena duduki.
"Salam tuan" ucap kepala HRD berdiri dan membungkukkan tubuhnya sejenak
"Dia karyawan baru tuan, saya baru akan memberikan nya pekerjaan seb..."
"Tempatkan dia sebagai sekretaris saya" ucap Aron memotong ucapan kepala HRD.
Suara terkesiap seisi ruangan pun terdengar, Elena membulatkan matanya karena ucapan Aron.
"Baik tuan" ucap kepala HRD yang hanya bisa menurut
"Buk, t..tapi kan tadi saya"
"Sutttt ga boleh bantah" sela kepala HRD menutup mulut Elena dengan jari telunjuknya.
"Baik buk" ucap Elena menundukkan kepalanya
"Ikuti saya" titah Aron dan berjalan lebih dulu menuju lift yang khusus untuk CEO.
Sesampainya didalam lift Elena langsung mengangkat kepalanya dan menatap Aron tajam.
"Yakkk Aron!" teriak Elena
"Hemm" Aron hanya membalas dengan deheman singkat
"Kamu sudah ada Halid kenapa harus aku, aku mau jadi karyawan biasa" keluh Elena menarik narik tangan Aron
"Tidak ada penolakan sayang" ucap Aron yang tiba tiba menyudutkan Elena ke dinding lift
"Nan..nanti dilihat orang" ucap Elena terbata
"Haya kita berdua disini tidak akan ada yang melihat" ucap Aron mengecup bibir Elena
Elena menahan dada Aron agar pria ini tidak melampaui batas nya dalam hal intim seperti ini.
"Oke tapi bersikaplah profesional" ucap Elena mendorong dada bidang Aron.
Tingggg
Pintu lift terbuka, Elena menyuruh Aron untuk keluar lebih dulu dan diikuti oleh dirinya yang berjalan dibelakang Aron.
"Mana ruangan ku?" tanya Elena
"Ikuti saja" jawab Aron terus berjalan.
Beberapa saat kemudian mereka sampai didepan sebuah pintu, ruangan ini adalah ruangan Aron, Elena mengerutkan kening nya.
"Ini ruangan mu" ucap Elena menatap Aron tajam.
"Halid" panggil Aron dan Halid langsung datang
"Semuanya sudah siap tuan" ucap Halid membukakan pintu untuk bosnya.
Aron masuk lebih dulu dan diikuti oleh Elena, Elena mengerutkan keining nya saat melihat ada sebuah meja dan kursi didalam ruangan Aron.
Seingat Elena, saat dirinya datang ke perusahaan ini didalam ruangan ini tidak ada meja seperti itu yang diletakkan berhadapan dengan meja kerja Aron.
"Bekerja lah disana sayang" ucap Aron menunjuk meja itu dengan dagunya
"Yakkk, kenapa harus se ruangan Aron" ucap Elena dengan nada tidak setuju.
"Tidak ada penolakan, tetap bekerja seperti ini atau kembali ke rumah" ucap Aron memberi pilihan
"Itu bukan pilihan" gerutu Elena membanting bokongnya di kursi kerjanya.
Aron terkekeh melihat wajah kesal Elena, dikira gadis itu Aron akan membiarkan nya menjadi karyawan biasa.
.
.
.
Mana nih, ada yang baca ga? wkwk.