
Aron segera berlalu pergi mengejar istrinya yang berlari menaiki anak tangga, Aron takut Elena tergelincir.
"Sayang jangan berlari" ucap Aron yang terus mengejar langkah Elena.
Aron terus mengejar Elena hingga sampai dilantai tiga, terlihat Elena sudah memasuki kamar dan Aron pun berniat ikut masuk juga.
Brakkkkkk
Elena langsung membanting pintu dengan meras sehingga Aron pun terjingkat kaget dengan kelakuan istrinya.
"Sayang, maafkan aku" ucap Aron mencoba membuka pintu kamar tetapi ternyata terkunci.
"Ohh ayolah sayang, seharusnya aku yang marah pada mu bukan?"
Aron terus menunggu Elena membuka pintu nya tetapi setelah malam tiba apa yang ditunggunya pun tak terjadi.
Alhasil Aron mandi diruang kerja nya yang disana pun sudah ada beberapa pakaian Aron.
Makan malam pun tiba, semua orang sudah berkumpul di meja makan kecuali Elena yang mengurung diri sejak pulang sore tadi.
"Dimana El?" tanya Harlina.
"Dia mengurung diri dikamar semenjak pulang sore tadi" jawab Aron dan melanjutkan makan nya.
"Dan kau tidak membujuknya? Aron, istrimu itu masih muda dan fikiran nya masih sedikit labil"
"Oma, aku hanya ingin pikirannya jauh lebih tenang disaat aku tidak mengganggu nya"
"Itu namanya kau tidak perduli, ahh sudahlah oma akan membawa makanan untuk El" ucap Harlina bangkit dari duduknya.
"Biar saya bantu nyonya" usul bik Minah dan disetujui Harlina.
Keduanya pun berlalu pergi sembari membawa makanan untuk Elena dan Harlina yang akan makan bersama dikamar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Didalam kamar Elena terus menggerutu karena Aron tidak membujuknya bahkan kini sudah masuk jam makan malam.
"Dia itu gila apa bagaimana? hanya membujuk ku sebatas itu saja" gerutu Elena merutuki sikap ketidak pekaan suaminya.
Tok Tok Tok
"El, ini oma sayang" teriak Harlina dari luar kamar.
Elena bangkit dan langsung mendekati pintu untuk membuka pintu yang masih terkunci itu.
"Iya oma"
"Kamu kenapa ga turun makan sayang?" tanya Harlina perhatian
"El tidak selera makan oma" jawab Elena
"Jangan begitu sayang, ayo kita makan dikamar saja karena oma sudah membawa makanan untuk kita berdua" ucap Harlina menarik Elena masuk.
Nampan yang berisi makanan dan minuman itu pun juga dibawa Harlina karena bik Minah sudah kembali turun.
"Oma tidak perlu repot"
"El dengarkan oma sayang, oma tidak mau cucu menantu oma ini kenapa napa" ucap Harlina tersenyum lembut.
Elena pun membalas senyum Harlina, mereka pun makan bersama dengan sesekali bersenda gurau.
Sepertinya Elena melupakan sikap Harlina saat pertama kali datang kerumah ini, apa lagi saat pernikahan Elena dan Aron.
Setelah selesai makan salah satu pelayan rumah mewah itu membereskan piring kotor nya dan meninggalkan kedua wanita berbeda generasi itu.
"Kamu masih marah sama oma sayang?" tanya Harlina menggenggam tangan Elena.
"Heh? marah? sama oma? kenapa?" tanya Elena bingung.
"Karena sikap oma" ucap Harlina memandang Elena sendu.
"Oma merasa bersalah El, sikap oma begitu kasar terhadap mu saat pertama kali datang dan menentang hubungan kalian"
"Bahkan oma mendukung Melisa untuk memisahkan kalian disaat Aron yang notabene nya tidak mudah cinta kepada seorang wanita"
Elena tersenyum lembut memandang lekat wajah sendu Harlina yang terlihat sangat menyesal.
"El tidak pernah mempermasalahkan hal itu oma" ucap Elena tersenyum hangat.
"Tapi tetap saja oma bersalah nak" ucap Harlina menyesal
"Oma dengar El, El tahu waktu itu oma hanya terpengaruh dengan omong kosong Melisa dan El tidak mempermasalahkan hal itu"
"El tahu oma selalu ingin yang terbaik untuk Aron dan juga ada rasa trauma atas pernikahan papi yang gagal" ucap Elena mengelus lembut tangan Harlina.
Harlina meneteskan air mata karena permintaan maaf nya bisa diterima dengan baik oleh Elena.
"Oma jangan menangis El tidak suka itu" ucap Elena mengusap air mata Harlina.
"Kuatkan pernikahan kalian sayang, oma tidak bisa menghukum Melisa karena orang tuanya berteman baik dengan oma"
"El tahu oma, semuanya pasti baik baik saja" jawab Elena memeluk Harlina.
"Terimakasih sayang, kamu memang wanita yang tepat untuk cucu oma" ucap Harlina membalas pelukan Elena.
Jonathan dan Aron yang melihat itu semua dari ambang pintu pun tersenyum lembut dan hati mereka jadi menghangat.
"Ehem" dehem Jonathan dan masuk kedalam kamar putranya bersama Aron.
Elena memutar bola matanya malas saat melihat wajah papi mertuanya dan wajah suaminya yang begitu menyebalkan.
"Jika oma saja mendapatkan maaf, lalu kami juga dong sayang" ucap Jonathan menatap lekat wajah Elena.
"Iya dong sayang, maaf nya juga kebagian kan ya" ucap Aron menambahkan.
Harlina terkekeh melihat orang yang paling ditakuti bisa tunduk pada seorang wanita mungil seperti Elena.
Elena tidak menjawab dan juga tidak memandang kedua pria itu membuat Harlina benar benar ingin meledakkan tawanya.
"Sayang, bisakah ki..."
"Oma, boleh ya El tidur sama oma" ucap Elena menyela kata kata Aron.
"Tentu saja boleh sayang nya oma" jawab Harlina mengelus rambut indah Elena.
"Ti..tidak boleh begitu dong oma, oma mau kami lambat ngasih cucu"
Elena terbelalak mendengar ucapan suaminya yang seperti tidak di filter, sedangkan Aron hanya tersenyum kuda.
"El tidur sama oma aja ya oma" pinta Elena.
"Iya sa...."
"Sayang jangan dong, udah libur satu malam masa iya malam ini libur lagi" ucap Aron sebelum Harlina menyelesaikan ucapan nya.
"Sebenarnya rasa malu suami ku apa sudah putus?" batin Elena menatap tajam Aron.
Harlina menahan tawanya sekuat tenaga karena sikap manja cucu nya kepada istrinya.
"Sayang, maafkan papi ya sayang ya" pinta Jonathan dan duduk disamping Elena dan menggenggam tangan wanita itu
"Jangan menyentuh istriku tua bangka" ucap Aron menatap tajam papinya.
Jonathan tidak perduli dan terus memohon kepada Elena karena mmenantunya ini belum juga menjawab.
"Oke papi Oke, no problem El sudah memaafkan papi" ucap Elena mengalah.
"Beneran sayang?"
"Iya papi ku yang tampan" ucap Elena menangkup wajah mertuanya.
Jonathan langsung memeluk Elena karena merasa senang sudah mendapatkan maaf dari menantu kecilnya.
Elena pun membalas pelukan Jonathan karena tahu bahwa sikap Jonathan itu sama dengan suaminya.
"Terimakasih menantu papi yang cantik" ucap Jonathan mengecup kening Elena.
"Sama sama papi ku yang tampan" jawab Elena tersenyum manis.
"Aku sayang?" tanya Aron menunjuk wajahnya.
Harlina dan Jonathan saling pandang, setelah tahu situasi mereka pun memilih untuk pergi meninggalkan pasangan suami istri itu.
Elena berlalu kedalam walk in closed untuk mengganti pakaian nya menjadi pakaian tidur.
Aron dengan sabar menunggu istrinya untuk menjawab ataupun memberikan maaf untuknya.
Setelah beberapa saat Elena pun keluar dengan menggunakan gaun tidur tipis yang berwarna peach.
Dengan tali tipis dan belahan dada yang terbuka membuat Aron melongo melihat nya.
"Sayang, selain kamu memberikan permintaan maaf apa kamu juga akan beri hadiah?" tanya Aron mendekati istrinya yang sedang memakai lotion malam.
Elena tak menggubris ucapan suaminya dan berlalu naik keatas ranjang, Elena langsung menutupi tubuh nya dengan selimut dan..
"Selamat malam"
Ctarrrrr
Seperti tersambar Petir, Aron seperti sedang dipermainkan oleh istrinya sendiri yang berani memakai pakaian seksi tetapi tidak melayani batin Aron.
"Sa..sayang, kok kamu gitu sih lihat ni si dede udah bangun" ucap Aron mendekati istrinya dan mengelus lembut bahu istrinya yang terbuka.
"Awas ahh aku mau tidur" ucap Elena menyingkirkan tangan nakal suaminya.
Aron mulai geram melihat tingkah istrinya yang benar benar dan sangat menyebalkan itu.
Aron langsung menindih tubuh Elena membuat istrinya terbalalak karena terkejut.
"Yakkk awas Aron!" bentak Elena berusaha menyingkirkan tubuh kekar Aron.
"Tidak sayang, aku mohon ini sudah sangat menyiksa" ucap Aron menatap wajah istrinya sendu.
Elena benar benar tidak habis pikir dengan otak mesum suaminya, hanya karena melihat nya memakai pakaian terbuka saja Aron sudah tersulut gairah.
"Ti... Ahhh jangan Aron"
"Suttt nikmati saja".
.
.
.
Udah ga boleh dilanjutin ya, silahkan kalian bayangkan sendiri saja adegan nya🤣