
Ani dan Harlina dengan cemas menunggu kedatangan Arga dengan yang lain setelah mendapat kabar bahwa Elena sudah bersama mereka.
Bik Minah yang juga mengkhawatirkan nona mudanya itu ikut bergabung bersama kedua wanita tadi.
Ketiga wanita itu terus memandangi gerbang rumah Aron yang masih tertutup dari teras rumah.
Beberapa saat kemudian iring iringan mobil pun memasuki kediaman Aron, raut wajah ketiga itu masih khawatir.
Aron keluar dari dalam mobil dengan menggendong Elena, Ani terkejut saat melihat putrinya tak sadarkan diri.
"Suttt dia hanya tidur ma, tenang lah dia baik baik saja" ucap Bram sebelum istrinya mencecar Aron dan berujung membuat Elena bangun.
"Ahhh syukurlah" gumam Ani yang sudah bisa bernafas dengan lega.
"Lebih baik kita istirahat saja, waktu sudah menunjukkan pukul 3" ucap Arga.
Mereka pun setuju dan langsung masuk kedalam rumah, Ani dan Bram memutuskan untuk menginap di kediaman putrinya.
Keesokan harinya di pagi yang sangat cerah, Elena terbangun karena sinar matahari yang masuk dari sela gorden nya.
Elena tersenyum melihat wajah tampan lelah yang masih terlelap dihadapannya, Elena tahu pasti suami nya begitu lelah karena mencarinya semalam.
Elena dengan perlahan menyingkirkan tangan Aron yang ada diperut nya karena harus berangkat kuliah.
"Ahhhh" teriak Elena saat tangan kekar Aron menarik pinggang nya hingga kembali tergeletak diranjang.
"Aron, kamu sudah bangun?"
"Siapa yang mengizinkan mu kuliah hari ini? tetap dirumah karena urusan kita belum selesai" ucap Aron membuka matanya.
"U..urusan apa?"
Aron tersenyum miring, Aron merubah posisi nya sekarang dengan posisi menindih tubuh Elena.
"Menurut mu, nona muda Smith"
Elena menelan salivanya dengan kasar, dari tatapan mesum Aron saja Elena sudah tahu apa maksud pria ini.
"Hehe nanti malam saja bagaimana?"
"Apa ada penawaran?"
"Tentu saja ada"
"Tida...."
Tok Tok Tok
"Tuhan menyayangiku" batin Elena menghela nafas.
"Urusan kita belum selesai nona nakal" ucap Aron mengigit pipi Elena sebelum menyingkir dari tubuh Elena.
Elena bangkit dan langsung berjalan menuju pintu, Elena membuka pintu dan melihat salah satu pelayan ada disana.
"Ada apa mbak?"
"Semua orang sudah menunggu untuk sarapan bersama nona" ucap pelayan itu dan langsung permisi pergi.
"Mampus kami tiga pasti diinterogasi" batin Elena merutuki dirinya.
Elena masuk kembali kedalam kamar dan tersenyum kuda kepada suaminya yang menatap nya datar.
"Healing sayang? akan ku turuti jika kau menyelamatkan aku hari ini"
"Aku mandi lebih dulu" ucap Aron dan berlalu lebih dulu menuju kamar mandi.
"Aron sialan, lihat saja nanti tidak akan ku beri makan ulat bulu mu itu" gerutu Elena mengumpati suaminya.
Elena langsung menyambar ponsel nya dan mengirimi Helga dan Amey pesan karena situasi tegang tadi malam mereka bertiga lah yang menciptakan.
Sialnya ponsel kedua wanita itu tidak aktif, Elena tahu pasti mereka sudah berada di meja makan.
Setelah Aron selesai mandi, Elena lah selain yang mandi walaupun suaminya masih terus menampilkan raut datar.
Didalam kamar mandi Elena tak hentinya mengumpat karena merasa kesal dengan keluarga nya.
Setelah selesai mandi, Elena pun keluar dan sudah rapi dengan menggunakan dress dibawah lutut berwarna kuning.
Elena melihat seluruh penjuru kamar dan tidak mendapati suaminya, oke dia ditinggal suami nya sekarang.
"Yakkk bahkan dia juga mendiamkan aku? lihat saja nanti ya tuan Aron Smith" gumam Elena mengepalkan tangan nya.
Elena langsung menghentikan langkahnya saat melihat tatapan tajam dari seluruh keluarga nya, sedangkan Helga dan Amey sudah menundukkan kepalanya.
"Sudah bermain nya?" tanya Arga menatap Elena tajam.
Glekkk
Elena mulai keringat dingin sekarang, wanita ini terlalu berani menyusun rencana sendiri membuat yang lain marah.
"Ke...kenapa menatap ku seperti itu hah? ada salah ku? karena tadi malam? oh good, terserah kalian saja mau menilainya bagaimana"
"Bukan seperti itu Elena Gresya, hanya saja kau sudah membahayakan dirimu tadi malam"
"Tidak kek, bahkan wanita tua itu memegang pistol tanpa peluru" ucap Elena menatap malas semuanya.
Semua orang langsung menatap Helga dan Amey yang tersenyum kuda kepada mereka.
"Jika kami mengatakan itu pistol replika apa kalian percaya? kami sudah menukarnya atas perintah nona muda" jawab Helga
"Helga sialan, kenapa terus menyebutkan namaku" gerutu Elena .
"Lalu kenapa tidak memberitahu kami?" tanya Jonathan.
"Memberitahu kalian? haha bodoh sekali, semuanya akan gagal jika kalian tahu apa lagi otak Zio yang bodoh itu" jawab Elena mencibir.
Tadi malam memang rencana Elena, Helga dan Amey dalam menyelamatkan nyawa Elena.
Elena menyusun rencana itu melalui percakapan mereka di gelang rahasia itu saat pertengkaran antara Areta dan Lucas terjadi.
Perihal pistol, itu semua adalah kerjaan Lucas karena Helga diam diam mengirimkan pesan pada Lucas jika Areta mengetahui semuanya sebelum Lucas kembali bersama Fito.
Akting Elena yang berpura-pura bodoh saat Areta menceritakan semuanya pun berhasil untuk memancing wanita itu mendekat kebalkon.
Karena sudah merencanakan semuanya bersama Helga dan Amey jika pistol itu tidak replika.
"Kau tahu sudah membahay...."
"Tidak papi, tidak membahayakan dan jangan terus menyalahkan aku disini!" bentak Elena yang tidak Terima jika terus disalahkan.
"Lalu kau tidak terkejut setelah tahu bahwa kami ini mafia?"
"Terkejut? tentu saja iya tapi nenek tua itu terlambat memberitahu ku karena aku sudah mengetahui data diri lama kalian sebelumnya" jawab Elena.
Mereka semua hanya bisa memijit pelipis nya karena merasa pening dengan sikap sembrono wanita ini.
"Nak paling tidak be..."
"Semuanya sudah terlanjur kakek, jika memberitahu kalian pun belum tentu kalian setuju kan?" ucap Elena memutar bola matanya malas.
"Sudah jangan terus mencecar nya, kalian seharusnya mengerti Elena" ucap Harlina membela.
"Mereka memang tidak mengerti perasaan ku oma" ucap Elena menampilkan raut yang sedih.
"Mulai lagi drama nya" bisik Helga ke telinga Amey yang berusaha menahan tawanya.
"Ohhh cucu oma, sini makan sayang" ucap Harlina mendekati Elena.
"Tidak, oma pasti sama seperti mereka bukan? aku memang selalu salah dimata kalian!" ucap Elena dan berlalu pergi begitu saja.
"Sayang!" panggil Aron yang mulai merasa bersalah.
"Kalian benar benar membuat nona muda sakit hati, kami berdua juga merajuk" ucap Amey dan menarik Helga pergi mengikuti Elena.
Mereka semua pun jadi merasa bersalah karena menyalahkan Elena, jika bukan karena rencana Elena bisa saja Elena sudah mati ditangan Areta saat ini.
Ya karena pistol itu bukan replika, Areta tidak sebodoh itu untuk tidak mengenali pistol replika dan asli sehingga Areta mengambil pistol di tempat persembunyian nya bukan dirumah nya yang sudah menjadi pistol replika semua.
.
.
.
🤗
Mampir juga di karya teman author🤗