
Dirumah kediaman keluarga Zicon, Fito sedang mondar mandir menunggu abang nya pulang dari perusahaan mereka.
"Ck kenapa bang Lucas lama sekali" gumam Fito.
Ceklekkkk
Pintu utama rumah itu pun terbuka, terlihat Fito yang datang dengan raut datar persis seperti biasa.
"Bang!"
"Kenapa wajah mu terlihat cemas?" tanya Lucas.
"El bang, El diculik"
"Apa!" terkejut Lucas hingga langsung menarik kerah baju Fito.
"Jaga ucapan mu sialan, sudah ku perintahkan untuk menjaga Elena bukan?"
"A..aku pulang lebih dulu karena dia ada kelas hingga malam bang"
"Lalu kau membiarkan nya?" ucap Lucas menatap dingin Fito
"Bu..bukan begitu, aku fikir penjagaan Aron dan papa nya sudah cuku..."
Bughhhh
Bughhhh
Lucas melayangkan bogeman untuk Fito karena terus beralasan dengan kesalahan yang memang dilakukan nya.
"Apa apan ini? lepas Lucas!" bentak Areta menarik Lucas agar menjauh dari Fito.
"Jika sampai terjadi sesuatu dengan Elena aku tidak akan segan segan membunuhmu"
Plakkkkk
Lucas berlalu setelah memberikan tamparan kewajah tampan Fito hingga sudut bibir pria itu berdarah.
"Apa yang terjadi nak?"
"El menghilang oma, ada orang misterius yang menculiknya saat di kampus"
"Hilang? apa ada tanda tanda siapa yang menculiknya?" tanya Areta penasaran.
"Aku dengar tidak ada oma, penculiknya menghapus semua bukti"
"Fito, kita harus mencari wanita itu untuk mendapatkan harta yang selama ini kita incar" ucap Areta tersenyum miring.
"Oma, keselamatan El sedang teran.."
"Kenapa kau perduli dengan wanita itu hah? ingat Fito, jangan jadi seperti abang mu tujuan kita hanya harta"
"Baik oma" ucap Fito yang hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Ikut aku" ucap Lucas yang tiba tiba kembali dengan jaket kulit berwarna coklat gelap nya.
"Kemana bang?"
"Mencari Elena, jika aku mendapati Elena tidak baik baik saja maka aku akan langsung membunuhmu" ucap Lucas dan melangkah pergi lebih dulu.
Fito hanya bisa menurut dengan mengikuti langkah abang nya menuju mobil sport mewah milik Lucas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di markas tersembunyi Aron, Aron sedang menunggu Halid yang melacak keberadaan Elena melalui cincin pernikahan mereka.
"Bagaimana?"
"Tunggu sebentar tuan, terlalu banyak gangguan" ucap Halid yang terus fokus pada komputer didepan nya.
Aron mengusap wajah nya kasar, dia terus berfikir musuh nya yang mana yang berani mengusik hidup nya.
"Ketemu tuan" ucap Halid membuat Aron langsung bangkit dari duduknya dan mendekati Halid.
"Lihat titik ini tuan, hutan ini begitu berbahaya untuk dimasuki karena begitu banyak binatang buas"
"Cincin El menunjukkan titik dihutan itu?"
"Benar tuan" jawab Halid.
"Kau bisa mengakses siapa yang menempati hutan itu Halid?" tanya Bram.
"Akan saya coba tuan" jawab Halid dan kembali berkutat dengan komputer nya.
"Kita langsung kesana saja" ucap Aron yang sudah tidak sabar.
"Kendalikan emosi mu Aron, kita tidak bisa kesana tanpa strategi yang matang jika tidak akan berbahaya bagi El"
"Nyawa istriku terancam papa"
"Kita semua mengkhawatirkan nya boy, tenangkan dirimu" ucap Bram yang mencoba untuk menenangkan Aron.
"Aku tidak yakin dia ingin menyelakai El" celetuk Abeng yang berhasil menarik perhatian mereka.
"Coba kalian fikir, jika dia ingin menjadikan El sebagai jaminan mungkin sekarang ini atau pun sedari tadi dia sudah mengirimkan berbagai ancaman"
Mereka semua pun langsung saling pandang, benar apa yang dikatakan menantu pertama Bram ini.
"Lalu?"
"Jika Arilandro saja sibuk mencari El maka pria lain lah yang membawa El, kita masih memantau Arilandro hingga kini bukan?" ucap Abeng.
"Pria lain?" gumam Rico yang terus berfikir keras.
Brakkkkk
Mereka semua terjingkat karena Zio datang tiba tiba dengan membanting pintu yang berbahan kayu tebal itu.
"Zio, kau mengejutkan saja"
"Hehe maaf tuan, tuan saya mendapatkan rekaman CCTV yang ada di depan universitas, CCTV itu tepat mengenai pekarangan parkir dimana mobil nona muda berada" ucap Zio.
"Tunggu dulu, dimana Helga dan Amey?" tanya Jonathan yang menyadari bahwa kedua wanita kepercayaan mereka tidak ada.
"Tidak tuan, tadi saya diturunkan didepan markas dan mereka lanjut pergi"
"Ahhh sial, mereka pasti sudah mengetahui sesuatu" gumam Jonathan yang langsung menyambar ponsel nya untuk menghubungi kedua wanita itu.
"Ada apa paman?"
"Helga dan Amey pasti mengetahui titik terang tentang Elena dan mereka pasti berangkat tanpa rencana" jawab Jonathan yang terus berusaha menelpon.
"Kenapa bisa tahu?"
"Elena memakai gelang berbahan kain yang sama dengan Helga dan Amey, aku tahu didalam gelang itu ada chip pelacak"
"Papi tahu?"
"Jangan berfikir bodoh boy, kau yang membongkar gelang itu sebelumnya" ketus Jonathan menatap kesal putranya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah tepi jalanan yang sepi, kanan kiri hanya terlihat pepohonan yang rindang dan juga gelap.
Helga dan Amey sedang duduk didalam mobil mereka yang disembunyikan disebuah semak semak belukar.
"Tuan Jonathan menelpon" gumam Helga.
"Sepertinya mereka tahu kalau kita sudah mengetahui keberadaan nona muda"
"Aku tidak sabar menunggu mereka, keselamatan nona muda terancam May" ucap Helga dengan rahang yang sudah mengeras.
"Apakah lokasi nya berpindah?" tanya Helga yang terus memantau jalanan.
"Tidak, ck apa nona muda lupa dengan kegunaan gelang ini"
"Kau harus ingat jika otak nona muda tidak selamanya bekerja dengan baik" ucap Helga membuat Amey sedikit terkekeh.
"Tapi sepertinya tidak Helga"
"Sebenarnya apa maksud mu sialan, tadi kau mengatakan bahwa nona muda tidak mengirimkan pesan melalui gelang itu" ucap Helga yang mulai kesal.
"Tapi titik merah nya terus berkedip, aku yakin ruangan tempat nona disekap dikelilingi camera sehingga nona muda takut untuk mengirimi kita pesan"
Helga langsung menyambar laptop yang ada dipangkuan Amey, benar kata Amey titik merah yang tercipta dari gelang itu terus berkedip.
Perihal gelang, Elena pernah meminta Helga dan juga Amey untuk membantu nya merakit sebuah gelang yang akan digunakan ketiga wanita itu.
Mereka mengatakan itu gelang persahabatan mereka tetapi siapa sangka Elena menciptakan chip yang terhubung dengan gelang milik Helga dan juga Amey.
Gelang itu memang diciptakan Elena untuk hal mendesak seperti ini, Elena juga baru menggunakan gelang itu sebulan yang lalu.
"Apakah kita harus kesana sekarang?" tanya Helga yang mulai tidak sabar.
"Jangan, bukan hanya nyawa kita tetapi nyawa nona muda juga bisa dalam bahaya, jangan gegabah Helga" tahan Amey.
Helga hanya bisa mendengus kesal, sudah satu jam lamanya mereka memantau di tempat ini.
"Apakah tidak ada pergerakan?" tanya Amey yang terus memantau laptop nya.
"Mobil lewat saja tidak ada" jawab Helga yang mulai bosan.
Drttttt drttttt drttttt
Kini ponsel Amey yang berdering, tertera nama Aron yang ada disana membuat Amey sedikit bingung.
"Tuan muda" ucap Amey memberikan ponselnya kepada Helga.
"Kok dikasikan sama aku sih"
"Angkat, aku takut"
"Ya kau pikir aku ga takut apa?" ucap Helga menolak.
Dengan tangan gemetar Amey mengangkat panggilan dari Aron, mereka lebih takut dengan Aron jika dibandingkan Jonathan memang karena Jonathan lebih manusiawi dari pada putra nya itu.
"Ha..halo tu..."
"Kau ingin mati?" terdengar dari seberang sana dengan nada yang sudah tidak bersahabat.
"Hehe jangan tuan"
"Kembali ke markas" titah Aron
"Ya ga mau"
"Kalian menolak ku"
"Ck bukan begitu tuan muda, kami sedang mengawasi jalan masuk menuju hutan" jawab Amey yang mau tidak mau memberitahukan rencana mereka.
Terdengar hembusan nafas kasar dari sana, mau bagaimana pun Aron tetap mencemaskan Helga dan Amey yang sudah di anggap adik oleh dirinya.
"Jaga diri kalian"
Tuttt Tutttt Tuttt
Aron langsung memutuskan panggilan itu secara sepihak membuat Amey menggerutu kesal.
"Ada yang datang" bisik Helga langsung memasang mata elang nya.
Sebuah maybach berwarna hitam pun memasuki area hutan, terlihat maybach hitam itu diisi oleh dua orang.
Helga dan Amey pun langsung saling pandang melihat siapa yang ada didalam nya, mereka langsung terkejut.
"Itu kan...."
.
.
.
Ayo tebak terus🤣