
Siang hari yang sangat terik, Aron sedang menandatangani berkas yang sudah diperiksa Halid diruang kerja kantor nya.
Tok tok tok
"Masuk"
"Permisi tuan, rapat akan dimulai semua peserta sudah menunggu" ucap Halid.
Aron langsung menyambar jas nya dan keluar dari ruangan nya yang diikuti oleh Halid dibelakang.
"Selamat siang semua, silahkan mulai" ucap Aron dan langsung duduk di bangku pemimpin rapat.
Rapat pun langsung dimulai, suasana hening karena mereka mendengarkan presentasi dari salah satu orang kepercayaan dikantor ini.
Ponsel Aron berkedip, Aron langsung membukanya dan seketika senyum tipis terbit dibibir Aron.
Seluruh orang yang ada disana seketika mematung melihat wajah Aron yang terlihat lebih hangat.
"Pasti nona" batin Halid menggelengkan kepalanya.
Dirumah Aron.
Elena baru saja mengirimkan potret dirinya hari ini yang menggunakan celana hotpants berwarna denim yang dipadu kaos Aron berwarna hitam.
Kaos Aron terlihat kebesaran ditubuh Elena yang mungil, apa lagi tubuh tinggi Elena yang tidak seberapa.
"Hay Zio" sapa Elena yang sedang menuruni tangga
"Kenapa tidak menggunakan lift nona?" tanya Zio bingung
"Hanya ingin saja" jawab Elena asal dan berlalu meninggalkan Zio yang sedang melongo karena jawaban Elena.
Beberapa pengawal dan juga pelayan yang mendengarnya pun terkekeh geli melihat wajah Zio yang seperti itu.
Zio pun berlalu kekolam berenang yang ada disamping rumah mewah itu, karena tidak ada pekerjaan jadi Zio bermalas malasan dirumah.
"Aku gabut sekali" gumam Elena.
Dari kejauhan Elena melihat Amey dan Helga yang sedang berada di tepi kolam berenang sembari bercengkrama.
Elena pun memutuskan untuk menyambangi kedua wanita itu, Elena juga menjumpai Hugo yang sedang duduk di bangku kolam.
"Anda butuh sesuatu non?" tanya Hugo
"Tidak" jawab Elena menggelengkan kepala nya.
Dari kejauhan Elena melihat Zio yang menuju kearahnya sembari memegang segelas jus alpukat.
Elena tersenyum devil, Elena berjalan mendekati Zio yang sudah berdiri ditepi kolam berenang sembari berkacak pinggang.
Byurrrrrr
"SELAMAT ULANG TAHUN ZIO" teriak Elena mendorong Zio hingga tercebur kedalam kolam
"Akhhhh nona, siapa yang sedang ulang tahun, astaga aku baru saja selesai mandi" racau Zio kesal
"Hugo yang mengatakan, aku hanya memberikan sebuah kejutan" jawab Elena dengan wajah polosnya.
Hugo yang mendengar nama nya disebut pun langsung menegakkan tubuhnya karena terkejut dengan ucapan Elena.
"HUGOOOOOOO!" teriak Zio yang langsung naik dari kolam renang dan mengejar Zio.
Elena tertawa terpingkal pingkal, apa lagi melihat Zio yang sering terpeleset karena mengejar Hugo.
"Hahaha Anda jahil sekali nona" ucap Amey yang diselingi dengan tawa.
"Tidak, itu memang benar Hugo yang mengatakan kepadaku" ucap Elena polos dan meninggalkan kolam renang itu.
"Setelah ini emosi mereka akan diuji dengan kejahilan nona Helga" kekeh Amey yang ditanggapi tawah renyah oleh Helga.
"Ahh sial, jangan sampai aku mandi untuk yang ketiga kalinya" gumam Zio yang baru keluar dari dalam kamar nya dalam keadaan sudah berganti baju.
Zio berjalan kearah dapur untuk membuat minuman dingin yang digemari nya.
"Butuh sesuatu tuan Zio?" tanya salah satu pelayan disana
Zio hanya menggeleng dan mengeluarkan buah Anggur dari dalam kulkas dan langsung mengeksekusi buah anggur itu agar menjadi segelas jus.
Elena yang baru kembali dari halaman depan pun langsung berjalan menuju meja makan yang dekat dengan dapur.
Elena melihat Zio sedang mem blender anggur dengan beberapa potong es balok kecil didalam nya.
Elena duduk tenang sembari memakan pisang dan juga memainkan ponsel nya seakan akan tidak melakukan apa pun sebelumnya.
Zio berjalan melewati Elena sembari memegang segelas jus anggur yang sangat menyegarkan.
"Awss perutku" ringis Zio yang merasa perut nya mulas.
Zio meletakkan segelas jus anggur nya diatas meja kecil dan lngsung berlari kearah kamar nya yang ada di lantai dua untuk membuang hajat.
Elena yang melihat itu pun langsung menemukan cara jahil untuk mengerjai asisten Aron itu.
Elena berlari kearah dapur dan berhenti didepan kumpulan toples yang berisi berbagai bumbu, seperti garam dan gula.
Elena membuka tutup toples garam dan meraup garam itu menggunakan tangan nya.
"Suttttt" Elena meletakkan jari nya didepan bibir nya saat para pelayan dan koki memperhatikan tingkahnya.
Elena menaburkan garam itu kedalam jus anggur buatan Zio, seketika Elena melihat Zio yang sudah menuruni tangga.
Elena pun berlari untuk bersembunyi dibalik guci besar yang ada diruangan itu untuk menonton pertunjukan yang dibuatnya.
Dengan tenang Zio menyambar segelas jus itu dan langsung menenggaknya hingga habis setengah.
"Uwekkkk kenapa asin"
"Hahahaha" Elena keluar dari persembunyian nya sembari tertawa terbahak bahak melihat wajah Zio yang memerah.
Zio langsung berlari kedapur dan mencuci lidah nya di wastafel, setelah itu Zio menyambar gula untuk menghilangkan rasa asin di mulutnya.
"Nona kau!" teriak Zio dari arah dapur.
"Kau membentak ku?" tanya Elena yang langsung merubah raut wajahnya menjadi sedih.
"Ti...tidak bukan begitu" ucap Zio bingung.
"Sayang aku pulang" teriak aron dari pintu utama.
"Aron" teriak Elena dengan isak tangis dan langsung berlari kearah Aron.
Zio yang panik pun langsung mengikuti Elena karena bisa saja kepalanya berlubang karena berani membuat nangis nona muda dirumah ini.
Elena langsung memeluk Aron dengan berderai air mata yang membasahi pipinya.
"Ada apa sayang?" tanya Aron mengusap punggung Elena.
"Ya Tuhan selamatkan aku, nona jangan membuat umur ku berakhir hari ini" batin Zio yang sudah berbanjir peluh.
"Zi..Zio melarang ku keluar, aku hanya ingin berjalan jalan sendiri tanpa ditemani tetapi dia tidak memberi izin" jawab Elena
"Itu memang benar sayang, kau tidak boleh keluar rumah sendirian mulai sekarang, jangan menangis oke" ucap Aron dan langsung menggiring Elena naik kekamar mereka.
Halid yang sudah tahu apa yang terjadi pun langsung tertawa terbahak bahak karena wajah ketakutan Zio.
Bukan hanya Halid, tetapi Hugo dan kedua wanita tadi pun tertawa terpingkal pingkal melihat Zio yang menjadi korban kejahilan Elena.
"Nikmati tawa kalian sebelum aku membunuh kalian nanti malam" ketus Zio dan berlalu pergi meninggalkan para sahabat nya yang masih tertawa.
Aron sendiri bukan tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, hanya saja Aron ingin melihat Elena akan membela Zio atau tidak.
Aron memantau apa yang Elena lakukan dari rekaman CCTV dari tadi, bahkan ketika Elena mendorong Zio kedalam kolam saja Aron tahu.
Malam harinya, Aron dan Elena sudah berada diatas ranjang mereka dengan posisi Aron duduk dan kepala Elena berada dipangkuan Aron.
"Dua minggu lagi kamu akan mulai kuliah sayang" ucap Aron mengelus rambut Elena.
Elena pun langsung menutup buku novelnya setelah mendengar ucapan Aron
"Apa?" tanya Elena dan langsung terduduk
Aron mengangkat sebelah alisnya karena tidak mau untuk mengulang
"Aku tidak mau" tolak Elena
"Kenapa? beri aku satu alasan yang logis maka tidak akan ku paksa" ucap Aron menatap Elena
"Aku akan berkuliah dimana?" tanya Elena
"Green Light University" jawab Aron santai
"APAAAA!" pekik Elena terkejut
Aron mengusap telinga nya yang terasa berdengung karena teriakan dari Elena
"Ada apa sayang? kamu akan selokal dengan Jessica" ucap Aron
"I..itu kampus mahal Aron, aku tidak mau" tolak Elena
"Kenapa?" tanya Aron bingung
"Biaya nya mahal" jawab Elena polos
Aron terkekeh mendengar Jawaban dari Elena "Yakkk itu tidak lucu" ucap Elena memukul pelan dada Aron
"Dengan memasukkan mi ke Universitas itu tidak akan membuat calon suami mu miskin sayang" ucap Aron
"Cihhh arogan sekali" ketus Elena yang jengah dengan kesombongan pria ini.
"Tidak ada penolakan dan sekarang tidur" ucap Aron dan langsung memeluk Elena agar tertidur.
Elena hanya menurut saja apa yang dikatakan Aron, toh berkuliah juga salah satu cita cita yang Elena impikan.
Aron sengaja memasukkan Elena ke Universitas ternama itu karena Aron tahu kehebatan gadis ini sangat sayang jika tidak dikembangkan.
Itu juga menjadi salah satu untuk kesibukan Elena agar tidak jenuh tinggal dirumah mewah ini tanpa melakukan apa pun.
.
.
.
Kiwwww, semangat para readers muach.