
Dua minggu sudah Elena berada di mansion mewah milik Aron, Elena juga tidak melakukan apa pun di mansion ini membuatnya sangat bosa.
Seminggu ini pula Aron jarang di mansion, Aron sedang sibuk dengan urusan bisnis nya diperusahaan dan juga bisnis bawah tanah.
Belum ada yang mengetahui bahwa Aron memliki berlian di mansion nya, Aron benar benar menyembunyikan Elena.
Sebenarnya Aron sangat ingin menunjukkan Elena kepada publik, hanya saja gadis itu masih belum mencintainya.
Aron sedang berada diruang kerja nya sembari menanda tangani berkas yang sudah diperiksa Halid.
Brakkkk
Pintu kerja Aron dibuka paksa, Melisa langsung masuk meninggalkan Halid yang berusaha menahan dirinya.
"Keluarlah nona, tuan sedang sibuk" ucap Halid mencoba untuk menahan emosi nya
Aron mengibaskan tangan nya agar Halid pergi, Melisa memandang Halid tajam karena terus melarang nya bertemu Aron.
"Sayang aku merindukan mu" ucap Melisa mendekati Aron.
"Ada apa kau datang?" tanya Aron dengan nada datar
"Apa aku salah mengunjungi calon suami ku?" ucap Melisa memeluk Aron dari belakang.
"Pergi" ketus Aron menepis tangan Melisa dengan kasar.
"Dengar ya Melisa, aku tida pernah menerima perjodohan ini jadi berhenti menganggap ku calon suami mu" ucap Aron menatap tajam Melisa.
"Keluar" titah Aron dengan nada yang sudah tidak bersahabat membuat Melisa bergidik ngeri dan berlalu meninggalkan ruangan Aron.
Sedangkan di mansion, Elena sedang duduk ditaman samping mansion mewah milik Aron.
"Aku bosa sekali, dia tidak mengembalikan ponsel ku" gerutu Elena dengan bibir mengerucut.
Bik Minah datang dengan membawa nampan yang berisi jus alpukat yang ditemani dengan cemilan ringan.
"Untuk menemani sore anda nona" ucap bik minah meletakkan makanan yang dibawa nya diatas meja yang ada didepan Elena
"Terimakasih bi, oh iya bik aku bosa sekali" keluh Elena meminum jus alpukat yang dibawa bik Minah.
"Bagaimana jika anda berkeliling mansion ini, anda kan belum melihat semua nya" ujar bik Minah memberi solusi
"Bibik benar juga, yasudah aku pergi dulu ya" pamit Elena berlalu pergi.
"Dia sangat menggemaskan, semoga nona cepat jatuh cinta kepada tuan" gumam bik Minah menatap kepergian Elena.
Elena berkeliling mansion mewah milik Aron, dia menatap kagum dengan apa yang dilihatnya.
Hingga Elena pun tiba didepan pintu kayu yang terlihat berbeda dengan berwarna putih yang diadu ukiran bunga berwarna biru.
"Aku tidak pernah melihat dalamnya" gumam Elena mendekati pintu itu.
Pintu itu terletak di lantai tiga, berjarak beberapa ruangan saja dengan kamar Aron dan Elena.
Elena mencoba untuk membuka pintu itu dan ternyata tidak dikunci, Elena masuk kedalam ruangan itu.
Mata Elena terbelalak melihat apa yang ada didalamnya, ruangan itu penuh dengan rak raksasa yang diisi dengan banyak buku.
Elena terus melangkahkan kaki nya masuk kedalam ruangan yang seperti perpusatakaan besar itu.
Elena mendekati buku buku itu dan melihat berbagai macam novel yang sangat digemari nya, bahkan buku buku yang sering dibaca nya.
Dilantai dasar, mobil yang ditumpangi Aron baru saja berhenti telat didepan mansion mewah miliknya.
Aron cepat cepat turun karena sudah merindukan gadis pujaannya, Aron berjalan kedalam dan bertemu dengan bik Minah
"Salam tuan" ucap bik Minah membungkukkan tubuhnya
"Dimana Elena bik?" tanya Aron
"Tadi saya melihat nona masuk kedalam perpustakaan tuan" jawab bik Minah.
Aron pun langsung berlalu menuju ruangan yang dikatakan bik Minah.
Elena mengambil salah satu novel yang mencuri perhatian nya, Elena sedikit bingung karena buku buku di sini masih dalam keadaan baru.
"Wahh ini kan novel yang belum rilis di pasaran, bagaimana bisa disini" Elena memandang buku itu dengan mata berbinar
"Aku menyiapkan semuanya untuk mu sayang" celetuk Aron berjalan mendekati Elena.
"Kau? sejak kapan kau pulang?" tanya Elena memandang Aron.
"Barusan saja, aku merindukan mu" ucap Aron dan langsung memeluk Elena.
"A..apa yang kau lakukan, lep.."
"Aku mohon seperti ini dulu sayang, seminggu ini aku sangat sibuk jadi aku sangat merindukanmu" ucap Aron mengeratkan pelukan nya.
"Bagaimana novel novel ini ada di mansion mu?" tanya Elena masih dalam keadaan dipeluk Aron
"Aku menyiapkan semua ini sebelum kau datang sayang" ucap Aron melepas pelukan nya.
"Aku tidak datang kemari, kau yang menculikku" ketus Elena
"Bagaimana kau tahu aku menyukai buku buku seperti ini?" tanya Elena memicingkan matanya.
"Sudah kukatakan, aku tahu semua tentang mu" jawab Aron mengecup kening Elena.
"Apa kau tahu aku punya kekasih?" tanya Elena
"Kau tidak punya kekasih sayang, banyak pria yang kau tolak karena kau membenci pria" jawab Aron dengan santai
"Itu tahu, lalu kenapa memaksa ku untuk mencintai mu" ketus Elena menatap tajam Aron
"Ck siapa yang memaksa mu mencintaiku hah? cukup berada disini saja tidak lebih" ucap Aron menghela nafas
"Sama saja" ucap Elena tidak Terima
"Tidak sayang"
"Sama Aron"
"Tidak"
"Sama"
"Tidak"
"Sama"
"Tidak"
"Samaaaaa!!" teriak Elena karena Aron terus membela diri
Aron menutup telinga nya karena teriakan suara cempreng calon istrinya "baiklah kau yang menang"
Elena tertawa karena wajah masam Aron, Aron tersenyum tipis melihat wajah ceria yang sangat menggemaskan itu.
"Aku mandi dulu ya" pamit Aron mengecup kening Elena dan berlalu keluar ruangan itu.
Elena duduk disofa yang ada disudut ruangan itu tepatnya di dekat jendela, Elena membaca buku novel yang dipilihnya.
Bik Minah datang membawa minuman dan juga cemilan untuk menemani Elena membaca novel.
Hingga jam makan malam tiba Elena juga masih setia dengan buku novelnya, Aron berdecak kesal karena gadis itu juga melarang nya masuk.
"Bik panggilkan Elena" titah Aron yang sudah menunggu dimeja makan bersama tiga orang kepercayaan nya.
Bik Minah masuk saja kedalam perpustakaan itu karena Elena tidak menjawab ketika bik Minah memanggilnya.
"Nona, tuan sudah menunggu untuk makan malam" ucap bik Minah menyentuh bahu Elena.
"Oh oke bik" ucap Elena berdiri dan berjalan keluar perpustakaan.
Bik Minah terus mengarahkan Elena karena pandangan gadis itu terus terfokus pada buku ditangan nya.
Aron yang melihatnya pun hanya bisa geleng kepala, tanpa Elena sadari dirinya berjalan menuju Aron bukan ke kursi nya.
"Nona anda sal..." ucapan bik Minah terhenti saat Aron mengangkat tangan nya dan bik Minah pun pamit kebelakang.
"Lihatlah Halid, nona akan membangunkan singa" bisik Zio dutelinga Halid.
"Diamlah" ucap Halid mencubit paha Zio agar sahabat nya itu berhenti mengoceh.
Elena terus berjalan tanpa melihat kemana tujuan nya, Hingga pada akhirnya Elena pun terduduk dipangkuan Aron.
"Ehhh kenapa kursinya sangat empuk" batin Elena bangkit dari duduk nya dan duduk lagi.
Itu terjadi berulang kali membuat Aron sangat geram "Apa ini yang keras" batin Elena menggeser bokong nya.
"Sayang jangan berusaha membangunkan nya jika kau tidak ingin menidurkan nya kembali" ucap Aron dengan nafas yang sedikit memburu.
Elena langsung menoleh dan bangkit dari pangkuan Aron,langsung saja pandangan Elena turun kebawah melihat sesuatu yang besar sedang menonjol disana
Elena bergidik ngeri melihatnya "ma..maafkan aku" gugup Elena dan langsung berpindah ke kursinya.
Elena benar benar merasa malu bahkan kini wajahnya terlihat memerah seperti tomat, Aron hanya bisa menghela nafas melihatnya.
Sepanjang makan malam Elena terus menunduk, rasanya ingin sekali hilang sekarang juga karena menahan malu seperti itu.
Tindakan nya begitu bodoh dan sangat memalukan, Zio hanya bisa menahan tawa nya dari tadi karena melihat wajah nona muda nya begitu merah.
Hingga makan malam selesai Elena langsung kembali kekamar karena rasa malu yang tidak bisa dibendung lagi.
Aron hanya bisa terkekeh karena tahu wanitanya itu sedang malu karena tindakan nya tadi.
.
.
.
Staytune sayang ku hihi.