
Hari ini sedikit mendung, Elena sedang duduk di kursi kerjanya sembari memakan sepotong brownies coklat dimeja nya.
drtt drtt drtt
ponsel Elena berdering, Elena langsung menyambar nya, seketika senyum Elena mengembang melihat siapa yang menghubungi nya.
Elena cepat cepat mengangkat panggilan itu dengan hati yang bahagia dan juga antusias.
"Dinda.." pekik Elena bahagia, Dinda adalah penelpon itu sahabat di kampung Elena.
"hay Len, bagaimana kabar mu?" tanya dinda yang merubah panggilan suara itu ke panggilan vidio
"kau semakin cantik Len" ucap dinda saat melihat penampilan anggun sahabat nya.
"ck, jangan memuji ku" ucap Elena membuat Dinda terkekeh.
"besok aku kesana" celetuk Dinda membuat Elena terbelalak
"benarkah?" tanya Elena sedikit tidak percaya.
"benar Len, aku akan menginap beberapa hari disana. tidak apa kan?" ucap Dinda dengan hati senang.
"tentu saja boleh, aku merasa sangat senang kau bisa mengunjungi ku" ucap Elena dengan mata berbinar.
"*baiklah tunggu aku di depan apartemen mu besok ya, aku kan sudah mempunyai alamat mu"
"oh iya Len, besok aku diantar oleh andre*" ucap Dinda sedikit sungkan.
Dinda sudah tahu perubahan sikap Elena di kota besar itu, karena Dinda juga berkomunikasi dengan sahabat Elena yang lain.
"yang penting kau selamat sampai sini" ucap Elena dengan senyum hangat.
mereka melanjutkan percakapan itu dengan sedikit gurauan, Elena juga terlihat santai karena pekerjaan tidak terlalu menumpuk hari ini.
Hari dimana Dinda akan datang pun tiba, tepat dihari sabtu jadi Elena meminta cuti kepada Laras.
Elena kini sudah berdiri didepan gedung apartemen nya sembari memainkan ponselnya.
"temennya belum datang nak?" tanya pak Irman menyambangi tempat Elena berdiri.
"sebentar lagi pak" jawab Elena tersenyum ramah.
Tidak lama terlihat kedatangan Dinda dengan sebuah motor dan seorang pria yang mengendarainya.
Dinda berhenti tepat didepan lobby apartemen, dimana Elena sudah menunggunya.
"Lena...." pekik Dinda menghambur kepelukan Elena yang sudah merentangkan tangan nya
"aku merindukan mu" lirih Dinda dengan sedikit is akan, karena hampir setahun lamanya tidak berjumpa.
"aku juga merindukan mu" ucap Elena melepaskan pelukan Dinda.
"emm.. Len, ini temen aku Andre" ucap Dinda memperkenalkan pria yang datang bersama nya.
"Andre" ucap pria itu mengulurkan tangan nya hendak menjabat tangan Elena.
"kita masuk" ucap Elena melengos pergi lebih dulu.
"maaf ya, kamu sudah tahu kan perangai Lena bagaimana dari cerita ku, aku juga ga nyangka dia jadi seperti ini"
"padahal dahulu dia wanita yang selalu ceria" ucap Dinda menundukkan kepalanya.
"tidak apa Din, ayo masuk dia sudah menunggu" ajak pria bernama Andre itu.
Elena mempersilahkan kedua orang itu masuk kedalam apartemen nya, Elena sendiri karena Jessica sedang berkuliah.
"apartemen mu sangat bersih El" puji Dinda melihat sekeliling apartemen Elena.
Elena baru kembali dari dapur dengan membawa baki berisi 2 gelas minuman dan cemilan.
Elena menyuguhkan nya dimeja yang berada didepan mereka, Elena hanya menampilkan raut datar karena diruangan ini bukan hanya dirinya dan Dinda saja.
"apa kau tinggal sendiri?" tanya Dinda meminum minuman yang Elena bawakan.
Elena mengangguk "semenjak kejadian itu, aku pindah kesini dan semuanya lebih aman disini, apartemen Jessica ada didepan" jawab Elena.
Dinda mengangguk, Dinda juga tahu alasan Elena pindah dari rumah Dita, dan saat itu pula Dinda memaki wahyu melalui pesan whatsapp.
"kau menginap kan?" tanya Elena memandang Dinda saja
Dinda mengangguk "*banyak oleh oleh makanan yang aku bawa untuk mu, tetapi aku tidak membawa baju jadi aku akan memakai pakaian mu"
"hanya 3 hari aku disini, karena aku cuti dari pabrik tidak lama*" ucap Dinda.
"apa tidak masalah jika wanita tinggal sendiri dikota sebesar ini?" celetuk Andre memandang Elena.
"keamanan di apartemen ini terjamin Ndre, apartemen ini juga memiliki CCTV disudut ruangan" bukan Elena tetapi Dinda yang menjawab.
Andre mengangguk paham "yasudah aku pamit ya, hari selasa akan ku jemput lagi" ucap Andre dan berpamitan pergi.
Kini hanya tinggal Elena dan Dinda saja, terlihat keduanya sedang membuka apa saja yang dibawa Dinda.
"aku membawa banyak cemilan kesukaan mu yang ada disana, kau pasti suka karena aku sendiri yang memilihnya" Dinda dengan senyum mengambang.
Diperusahaan smith Groupe, Aron sedang memandang layar ponsel nya dengan seulas senyum tipis.
ternyata yang dilihat Aron adalah Elena, CCTV yang sudah diretas Hugo kini terhubung oleh Aron.
Aron memandang wajah Elena yang sedang tertawa dengan sahabat nya yang baru datang tadi.
"ck, kau benar benar membuatku sulit bernafas sayang, kenapa kau menyiksa ku seperti ini, hem?"
"ingin sekali aku cepat cepat membawa mu ke istana kita, aku ingin melihat langsung senyum mu itu"
Aron bermonolog dengan dirinya sembari terus memandang wajah cantik Elena.
Brakkkkk
Pintu kerja Aron dibuka secara paksa, seorang wanita dengan tubuh tinggi bak model masuk begitu saja.
"maafkan saya karena sudah lalai taun" ucap Halid yang muncul dari belakang wanita itu.
Aron mengibaskan tangan nya pertanda menyuruh Halid untuk pergi, Halid langsung pergi tidak lupa menutup kembali pintu ruangan itu.
"kau ingin apa M****elisa?" tanya Aron dengan nada malas.
Melisa adalah seorang model papan atas, Melisa dan Aron teman sejak kecil dan mereka tumbuh besar bersama.
Aron menganggap Melisa layaknya seorang teman, tetapi tidak dengan Melisa, wanita itu menganggap Aron sebagai kekasihnya apa lagi oma Aron sendiri yang menjodohkan mereka.
dulu Aron sempat menjalin hubungan dengan Melisa dan itu tidak berjalan lama, hanya sebulan setelah itu mereka putus karena Melisa berselingkuh dari Aron
hubungan mereka yang sebulan itu juga akal akalan dari oma Aron, yang ingin mereka lebih dekat dari sebelumnya.
"sayang kamu kok gitu sih" Melisa berbicara dengan nada manja sembari kaki jenjang nya melangkah menuju Aron.
"keluar lah jika sudah tidak ada kepentingan, aku sibuk" ketus Aron yang sudah sangat muak melihat wanita ini.
"aku merindukan mu sayang, beberapa hari ini kamu melarang ku masuk" rengek Melinda hendak duduk dipangkuan Aron tetapi Aron menolak.
"pergi dan jangan ganggu aku lagi" Aron berbicara dengan nada yang kurang bersahabat membuat Melisa bergidik ngeri
"kita sudah di..."
"aku tidak pernah menerima perjodohan ini Melisa, pergi dan jangan ganggu aku!" bentak Aron menyela ucapan Melisa.
Melisa pergi menghentakkan kaki nya, jarang jarang Aron menolak sentuhan nya.
memang terkadang Melisa menjadi teman ranjang Aron juga di saat waktu yang terdesak.
Melisa keluar ruangan Aron, sesampainya diluar dia mendapat tatapan tajam dari Halid yang sudah berdiri bersama Zio disana.
Melisa melengos pergi tanpa memperdulikan tatapan tajam kedua pria kepercayaan Aron itu.
"issss aku kesal sekali melihat wajah nya, ingin sekali aku mencabik cabik wajahnya itu" gerutu Halid kembali ke kursi nya.
"aku tidak membayangkan jika nona muda sudah bersama tuan nanti, mulut pedas Melisa akan kalah dengan mulut beracun nona"
"kita sama sama tahu bagaimana nona menghina martin didepan anak buah nya, aku yakin harga diri martin sedikit tergores malam itu"
Halid mengangguk dan membenarkan ucapan sahabat ples rekan kerja nya itu.
perang sesungguhnya akan dimulai ketika nona muda mereka sudah memasuki istana smith, saat itu pula mereka akan merasakan kalang kabut yang sesungguhnya.
.
.
.
siap siap deh Halid sama Zio kalau Elena sudah ada dirumah mewah Aron, gatau kesusahan apa yang akan datang haha.
jangan lupa dukung author ya bestie 😁