
Aron berteriak didekat telinga Elena membuta Elena terjingkat dan hampir saja jatuh jika Aron tidak menahan tubuhnya, karena Elena duduk di pinggir sofa.
"kau kenapa berteriak?" bentak Elena menoleh kepada Aron.
"sakit sekali" ucap Aron dengan wajah dibuat memelas membuat Elena tidak tega.
Elena melirik luka Aron yang terlihat sedikit mengeluarkan darah lagi, Elena terkejut bukan main
"kenapa berdarah lagi? kau tidak hati hati" cemas Elena berlutut didepan Aron.
Elena mengambil salep itu dari tangan Aron dan mengambil kotak p3k yang ada dibawah meja sofa.
Aron hanya memperhatikan saja apa yang dilakukan Elena, Elena mengeluarkan kapas dan antiseptik dari kotak p3k
"awww aww perih" lirih Aron sedikit meringis
"maafkan aku, aku akan melakukan lebih lembut lagi tahan lah sebentar" ucap Elena meniup luka Aron.
Aron tersenyum tipis, sebenarnya dia hanya berpura pura kesakitan saja ingin melihat reaksi Elena seperti apa.
"jangan memandangi ku seperti itu, jika kau jatuh cinta aku tidak akan tanggung jawab" ucap Elena melirik Aron sekilas.
"aww jangan tekan luka ku" bohong Aron yang ingin mengalihkan pembicaraan.
"kau bilang tadi apa? tidak ingin tanggung jawab, akan ku buat kau bertanggung jawab sayang"
"karena kau sudah memenangkan hatiku" batin Aron terus menatap Elena.
sebenarnya Aron menahan diri agar tidak tersulut gairah, Elena terlalu dekat dengan piton nya.
"sudah selesai, kau jangan seperti kuda yang bergerak kesana kemari luka mu belum kering" ucap Elena duduk disofa samping Aron.
"kau cerewet sekali" celetuk Aron yang terus menatap Elena
"aishhh kau kenapa mulai menjengkelkan" gerutu Elena memalingkan wajahnya
"baiklah maafkan aku, coba ceritakan kepadaku bagaimana kau menyelamatkan aku, hem?" tanya Aron membenarkan duduknya.
"mereka terlalu lemah untuk ku hadapi" jawab Elena angkuh
"kau bertarung dengan mereka?" tanya Aron terkejut
"mana mungkin, bisa bisa kita mati bersama disana jika aku bertarung dengan mereka" ucap Elena membuat Aron terkekeh
"baiklah, lalu bagaimana?" tanya Aron lagi
"tadi malam aku pulang bekerja sedikit lambat karena bertemu klien, *aku jarang sekali melewati jalan belakang karena sepi"
"tetapi tadi malam aku ingin mie rebus yang diujung jalan itu, saat aku berjalan ke sana ada beberapa pria yang berlari kearah ku*"
Elena terus berceloteh menceritakan apa yang terjadi tadi malam, Aron pun terus memperhatikan bibir ranum yang terus bergerak dari tadi.
"maafkan aku telah lancang membuka baju mu" ucap Elena setelah selesai menceritakan semuanya pada Aron
"tidak masalah, kau membuka baju ku karena ingin mengobatiku" jawab Aron dengan santai.
"oh iya, kenapa orang jahat itu memukulimu?" tanya Elena menatap Aron
"rival bisnis ku, disetiap bisnis bukan kah selalu ada yang seperti itu hem?" jawab Aron
"kau benar juga" gumam Elena menganggukkan kepalanya mengerti
"bagaimana kau bisa mengatakan bahwa mereka jahat?" tanya Aron menatap mata coklat elena
"heh? kenapa bertanya seperti itu?" Elena balik bertanya
"kenapa kau bisa mengatakan bahwa mereka orang jahat dan menolong ku hingga membawa ku ke apartemen mu?"
"bagaimana jika aku orang jahat?" ucap Aron dengan tatapan menyelidik
"ntah lah aku juga tidak tahu, aku hanya berpikir jika membawa mu ke rumah sakit siapa yang akan menjaga mu?"
"sedangkan ponsel atau dompet mu saja tidak ku temukan, lagi pula ini pertemuan kedua kita bukan?" jawab Elena dengan santai
"sepertinya dia lupa saat kami bertemu disekolah nya dulu" batin Aron menganggukkan kepalanya.
"terimakasih sudah menyelamatkan ku untuk yang kedua kalinya" ucap Aron tulus
"sudah lah siapa pun yang ada diposisi ku pasti akan melakukan hal yang sama kepadamu"
Aron hanya mengangguk paham dengan ucapan Elena "jika orang lain yang berada di posisi mu mungkin akan membiarkan aku mati sayang" batin Aron.
"huhhh, baiklah kau gunakan ponsel ku untuk menghubungi orang yang bisa menjemput mu" ucap Elena menyodorkan ponsel nya kepada Aron.
Aron menerima nya dan langsung menelpon Hugo, Elena memperhatikan wajah Aron yang tampan.
"dia tampan" batin Elena, Elena langsung menggelengkan kepalanya saat tanpa disadari dirinya memuji pria didepan nya.
"terimakasih ya" ucap Aron mengembalikan ponsel Elena setelah panggilan nya dengan Hugo terputus.
"tidak masalah" jawab Elena menerima ponsel nya kembali.
mereka menunggu bersama sembari diselingi dengan obrolan singkat, hingga tidak lama kemudian.
tingnong tingnong
bel apartemen Elena berbunyi, Elena langsung berdiri untuk membuka pintu apartemen nya.
"cari siapa?" tanya Elena dengan raut dingin, Elena sedikit syok melihat siapa yang berdiri didepan nya.
bagaimana tidak terkejut, seorang pria dengan tubuh kekar berdiri di depan nya dengan pakaian serba hitam.
"hihhhh... dia seperti algojo" batin Elena tanpa memperlihatkan ekspresi nya.
"ingin menjemput tu.."
"dia didalam silahkan masuk" ketus Elena membuka pintu apartemen nya dengan lebar.
Aron yang bisa melihat interaksi Elena dengan Hugo menahan tawanya dari tadi, Elena begitu dingin dengan algojo nya.
"permisi nona" ucap Hugo sopan dan langsung menyambangi Aron yang sedang duduk disofa.
Elena berlalu kekamar nya untuk mengambil sesuatu, sedangkan Hugo mengatakan sesuatu dengan nada pelan kepada Aron.
"aman tuan, mereka tidak tahu kalau yang menolong anda nona muda" ucap Hugo dengan suara berbisik.
Aron hanya mengangguk paham, bahaya jika musuh nya tahu siapa yang menyelamatkan nya, bisa bisa nyawa Elena terancam.
Tidak lama Elena kembali dengan sebuah sweater ditangan nya, Elena menyerahkannya kepada Aron
"cuaca nya berangin, gunakan lah ini" ucap Elena, Aron pun langsung memakainya
"akan aku kembalikan secepatnya" ucap Aron berdiri dari duduknya
"tidak perlu, aku masih ada yang lain untuk dipakai" tolak Elena dengan tulus
"baiklah aku permisi" pamit Aron berjalan kearah pintu, disana Hugo sudah mmenunggunya, Elena mengikuti langkah Aron
"sampai jumpa dan tunggu lah aku" ucap Aron dan berlalu pergi
"hah? apa maksudnya?" bingung Elena menatap kepergian Aron yang sudah menghilang dibalik tembok.
"aishh siapa nama pria itu tadi, semalaman aku bersama nya dan tidak tahu nama nya?"
"ahh sudah lah jika dia ingin mengambil jas nya, dia bisa mengatakan kepada satpam dibawa" gumam Elena membaringkan tubunya diatas sofa
"kok dada ku sesak ya, seperti ada yang kurang tapi apa? ahhh sudalah, sepertinya aku sudah mulai gila" gerutu elena memejamkan matanya.
apa lagi yang dilakukan nya saat wekend dan para sahabat nya mempunyai kesibukan masing masing selain tidur.
Elena juga bukan tipikal orang yang sering keluar dan menghabiskan waktu diluar rumah.
Aron sudah berada didalam mobil, matanya tertuju pada balkon apartemen Elena yang terbuka.
"tunggu aku sayang, tidak akan lama aku akan menjemput mu" gumam Aron dan memerintah kan Hugo untuk pergi dari pekarangan apartemen itu.
.
.
.
stay tune ya bestie jangan sampai ketinggalan keseruan ceritanya.
jangan lupa dukungan buat author😁