
Malam hari pun tiba, Elena sudah siap untuk turun ke lantai dasar, malam ini Elena menggunakan gaun tidur berwarna baby blue yang panjang diatas lutut.
"Kenapa semakin hari calon istriku bertambah cantik sih" ucap Aron memeluk Elena dari belakang yang sedang duduk didepan kaca rias.
"Kenapa semakin hari calon suamiku semakin pandai menggombal sih" ucap Elena memberikan kecupan dipipi Aron.
"Jika satu gombalan mendapat satu ciuman, apa sepuluh gombalan mendapat hal yang lebih?" tanya Aron mengeringkan matanya.
Elena tertawa mendengar ucapan Aron, pria ini begitu mesum membuat Elena bingung menghadap malam pertamanya nanti.
"Sudah sudah, ayo kita turun nanti mereka menunggu lama" ajak Elena menarik tangan Aron.
Sesampainya dilantai dasar Elena dan Aron terkejut melihat ada ada Melisa yang duduk berdampingan dengan Harlina dimeja makan.
"Hay Aron" sapa Melisa tersenyum manis.
Aron tidak memperdulikan Melisa dan menggandeng tangan Elena lalu didudukkan di kursi yang ada disamping nya.
Elena tersenyum remeh ke arah Melisa, Elena tahu tujuan Melisa kesini untuk mendekati Aron dengan menggunakan Harlina sebagai temeng.
"Ayo makan" ucap Jonathan memecah kesunyian.
Elena mengambilkan makanan untuk Aron dengan telaten, itu semua tidak luput dari perhatian yang lainnya.
"Terimakasih sayang" ucap Aron lembut dengan seulas senyum.
Harlina sedikit terkejut dengan nada bicara dan senyuman Aron, itu semua sangat jarang Harlina temui saat Aron bersama dirinya ataupun wanita lain.
"Ini non" ucap bik Minah memberikan segelas air hangat untuk Elena.
"Terimakasih bibik" ucap Elena dan mendapat elusan lembut di kepalanya dari bik Minah.
Harlina terus memperhatikan interaksi Elena dengan orang orang yang ada dirumah ini.
Rutinitas makan malam pun berlangsung dengan baik, tidak ada gangguan baik itu dari Zio ataupun Melisa.
Kini mereka duduk di ruang keluarga sembari menonton TV, ralat Elena yang menonton drama Korea nya.
Bik Minah datang dengan beberapa gelas minuman hangat dan cemilan, ada setoples coklat kering kesukaan Elena yang dibawa bik Minah.
"Ini untuk nona" ucap bik Minah lembut
"Wahhh ini coklat ke..."
"Bibik terus memberikan makanan berlemak untuk nya, lihat saja tubuh nya akan mengembang sepe... mmmpfffh" mulut Zio langsung disumpal tisu oleh Amey.
"Katakanlah hal buruk tentang ku maka akan ku nikahkan Amey dengan Halid" ucap Elena menatap tajam Zio.
"Hehe bercanda nona, bukankah tubuh nona sudah tidak bisa berkembang lagi? tingginya saja tidak menambah"
"Yakkk apa katamu!" bentak Elena membuat Zio langsung berlari pergi meninggalkan ruang keluarga.
Aron dan yang lainnya terkekeh melihat pertengkaran Zio dan Elena, hanya Melisa dan Harlina yang menunjukkan raut datar.
"Aron"
"Hemm"
"Melisa akan tinggal disini mulai sekarang untuk menemani oma"
"Pufhhhhh, uhuk uhuk" Jonathan tersedak minuman nya setelah Harlina menyelesaikan ucapan nya.
"Tid..." ucap Aron terhenti saat tangan lembut menggenggam tangan nya, Aron langsung memandang Elena yang mengangguk sembari tersenyum.
"Terserah oma saja" pasrah Aron.
Melisa tersenyum mengembang, segala rencana nya untuk memisahkan Elena dan Aron pun akan berjalan lancar.
Tingggg
Ponsel Elena berbunyi pertanda pesan masuk, Elena membuka ponsel nya dan seketika memandang kearah Helga yang memainkan alisnya.
Elena tersenyum smirk kepada Helga dan Amey, Aron yang tidak mengerti pun hendak bertanya.
"Lanjutkan nonton TV nya sayang aku ingin ke taman bersama Helga dan Amey" ucap Elena berdiri dan berlalu pergi.
Jonathan dan Aron saling pandang, apa lagi yang akan dilakukan gadis nakal itu kali ini.
Ketiga wanita itu pun duduk di bangku taman dengan suasana malam yang cukup dingin.
"Ini cukup berbahaya non, Melisa akan terus mencari cela ketika dia tinggal disini" ucap Amey.
"Benar non, seminggu lagi pernikahan kalian akan dimulai"
"Tenanglah, dia tidak akan bergerak dalam waktu dekat" ucap Elena santai.
Amey dan Helga seketika langsung memandang bingung kearah Elena yang menampilkan wajah polos.
"Yakkk bicaralah dengan kami jangan menunjukkan wajah polos anda nona"
Elena tertawa dengan raut kesal Amey dan Helga yang menunggu Elena berbicara.
"Dengar ya, dia tidak sebodoh itu untuk mengacau dalam waktu dekat dia akan membiarkan kami menikah dan menghancurkan segalanya setelah kami berumah tangga"
"Lalu?"
"Hanya oma yang terus menantang pernikahan kami tanpa melakukan apa pun jadi tenanglah" jawab Elena menjelaskan.
"Ehh trio macan" panggil Zio yang langsung dapat tatapan tajam dari ketiga wanita itu.
"Yang bisa memukulnya akan mendapat hadiah"
"Berapa?" tanya Amey dan Helga secara bersamaan
"Jika kalian berdua bisa memukulnya aku akan beri uang 1juta, tapi jika tidak kalian berdua beri aku 500ribu perorang" tawar Elena.
"Berapa pukulan?"
"Yang penting jangan sampai mati" ucap Elena.
Zio mengerutkan kening nya saat melihat ketiga wanita itu berbisik bisik membuat kecurigaan pun muncul dikepalanya.
Seketika Zio terbelalak melihat ketiga wanita itu berlari kearahnya dengan sebuah senyuman mengerikan.
"Yakkk kenapa mengejarku? Halid tolong aku!" teriak Zio berlari secepat mungkin menuju ruang keluarga.
"Mati kau Zio!" teriak ketiga wanita itu dengan mengepalkan tangan nya.
Orang orang yang ada di ruang keluarga pun dibuat terjingkat dengan teriakan yang saling bersahutan itu.
"Aku hanya berharap Zio tidak babak belur tuan" kekeh Halid
"Halid, dia memanggil nama mu" kekeh Hugo.
"Yakkk jangan kejar aku, siapa pun tolong aku dari Trio macan ini!" teriak Zio yang semakin cepat berlari.
"Akan ku pukul kau Zio!" teriak Elena yang berlari semakin cepat.
Zio langsung bersembunyi dibelakang tubuh Aron berharap dilindungi dari kemarahan dan sikap jahil nona mudanya.
"Tuan selamatkan aku dari calon istrimu tuan aku mohon"
"Kau yang memancing kemarahan nya Zio"
"Ck aku hanya menyapa mereka apa salahnya, yakkk dia semakin dekat tuan selamatkan aku" ucap Zio bersembunyi dibelakang Aron.
Aron hanya berdiri pasrah menutupi tubuh Zio, Aron juga tidak berniat membela Zio karena takut dengan Elena.
"Hah hah hah, dapat kau sini brengsek" ucap Elena menyingkirkan tubuh Aron dan menarik baju Zio hingga terduduk di hadapan nya.
Nafas Elena memburu karena berlari begitu cepat mengejar Zio bahkan Helga dan Amey saja ketinggalan dibelakang.
Plakkkk
Plakkk
Plakkk
"Sudah non maafkan saya" ucap Zio setelah mendapat tiga pukulam dari tangan mungil tetapi pedas itu.
"Yeahhhh aku menang hah hah" ucap Elena mengangkat kepalan tangan nya dan mengatur nafasnya.
"Yah kalah" ucap Amey setelah sampai diruang keluarga.
"Beri aku satu juta karena aku pemenangnya"
"Akan kami transfer" jawab Helga yang juga kelelahan.
"Yahhh aku pemenangnya"
Plakkk
Elena memukul lagi pipi Zio lalu duduk disofa dan langsung diberikan minum oleh bik Minah yang tertawa dari tadi melihatnya.
"Anda yang menang nona muda?"
"Tentu saja bik, aku unggul selama 4 kali dari mereka" jawab Elena bangga
"Tapi aku yang dijadikan samsak mereka" gerutu Zio mengelus kepala dan pipinya
"Teruslah mengganggu kami yang sedang berdiskusi maka akan ku robek mulut mu" ucap Amey yang sudah terduduk disofa.
"Kenapa gadis ini begitu mudah bercanda dan akrab dengan Zio atau pun yang lainnya, Seingatku dirumah ini atau pun rumah yang ditinggali Aron sangat jarang dipenuhi dengan tawa atau pun candaan seperti tadi" batin Harlina.
Harlina terus menatap tak percaya kepada Elena, rumah Aron yang dulu sangat dingin dan suram kini berubah menjadi lebih hangat dan ceria.
Karena kelelahan Elena pun tertidur dipangkuan Aron, Jonathan terkekeh melihat wajah lelah Elena.
"Mari kita bawa kekamar Aron" ucap Jonathan.
Aron pun langsung menggendong Elena dan berlalu pergi bersama Aron dengan diselingi kekehan karena tingkah lucu Elena tadi.
Harlina terkesiap melihat kehangatan dan juga senyum hangat dari Jonathan yang tidak pernah ditunjukkan kepada siapa pun baik itu dirinya sendiri.
"Sespsial itu wanita ini".
.
.
.
Hallo guys wkwk