
Setelah mengantarkan Elena kuliah Aron tidak ke perusahaan karena tahu kalau hari ini Elena akan pulang cepat.
Sudah menjadi rutinitas Aron setiap Elena kuliah satu jam atau dua jam pria ini akan dirumah saja menunggu kepulangan Elena.
"Kamu tidak ke kantor Aron?" tanya Jonathan yang baru kembali dari kebun belakang rumah Aron.
"El kuliah dua jam doang pi" jawab Aron.
"Salam tuan, nyonya besar sudah kembali dan sedang dalam perjalanan menuju rumah ini"
"Puhhhh.. uhuk uhuk" Jonathan tersedak kopi nya saat mendengar kabar dari Zio.
"Tuan baik baik saja?" tanya Zio memberikan air mineral kepada Jonathan.
"A..aku baik, kenapa cepat sekali oma mu kembali Aron?"
"Lah nanyak sama ku dia anak nya"
Plakkk
Jonathan langsung memukul pelan kepala Aron karena jawaban putranya yang seakan bercanda itu.
"Sudah lah papi, oma tidak akan pernah bisa menghentikan pernikahan aku dan El" ucap Aron menenangkan
"Masalahnya El tinggal di sini Aron, bagaimana jika El tidak be..."
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya suara seorang wanita yang tiba tiba menyela ucapan Jonathan.
Jonathan dan Aron langsung menatap ke asal suara yang ternyata adalah Harlina yang baru datang dengan penampilan mewah nya.
"Apakah kau tidak merindukan oma mu sayang?" tanya Harlina mendekati Aron.
Aron berdiri dan langsung memeluk Harlina yang dibalas pelukan hangat juga oleh wanita tua itu.
"Kau Jhon?"
"Kenapa mama kembali secepat ini"
Ctakkkk
Jonathan mendapat kita kan dari Harlina karena pertanyaan bodoh dari putra semata wayang nya itu.
"Kau tidak senang aku kembali?"
"Bukan begitu ma hanya sa...."
"Aku tahu Aron akan menikah dengan wanita lain bukan? kau menyetujui nya Jhon? sudah ada Melisa yang pan..."
"Tidak ada yang pantas menikah dengan ku selain Elena oma" jawab Aron menyela ucapan Harlina.
"A..apa maksud kamu sayang? oma sudah memikirkan nya matang matang saat menjodohkan mu dengan wanita pilihan oma"
"Hanya aku yang tahu mana yang terbaik untuk ku oma"
"Aron, Melisa adalah wanita yang pantas un...."
"Tidak Melisa ataupun wanita lain oma, hanya Elena dan selamanya akan seperti itu" jawab Aron tegas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kampus, sembari menunggu kelasnya yang dimulai 40 menit lagi Elena memilih untuk menunggu dikantin.
"El" sapa Fito yang datang ntah dari mana.
Elena tidak menjawab dan fokus saja pada ponsel nya yang sedang berbalas pesan dengan Jessica.
"Belum masuk?" tanya Fito dan Elena hanya menggeleng
"Semenjak kelulusan kamu, kita tidak pernah bertemu lagi bukan? hangout nanti mau?" tawar Fito
"Aku akan segera menikah Fito jadi jauhi aku"
"Apa salahnya kita berteman?"
"Tentu saja salah, tidak ada pertemanan yang tulus antara lawan jenis"
"Ck calon suami mu saja dikelilingi banyak wanita tidak pernah mengeluh"
"Tutup mulut mu ya, Aron dikelilingi ribuan wanita sekalipun tidak pernah berhianat dari ku" ketus Elena menatap tajam Fito.
Fito tersenyum kecut mendengarnya, ingin rasanya dibela sedemikian keras oleh wanita yang dicintainya.
"El, bisakah aku berbicara yang sebenarnya kepadamu?"
Elena langsung menatap malas Fito, sangat muak melihat wajah pria ini yang selalu ada di hatinya kecuali hari libur.
"Aku menyukai.."
"El jangan salahkan aku, rasa ini tumbuh sendiri saat pertama kali kota bertemu"
"Apa pun itu aku tidak perduli Fito, aku akan menikah dan ingat itu" ketus Elena dan berlalu pergi karena kelasnya akan dimulai sebentar lagi.
Fito menatap kepergian Elena dengan sendu, lagi lagi Fito ditolak oleh cinta pertamanya.
Karena memang bukan sekali ini Fito mengatakan hal seperti itu kepada Elena yang membuat wanita itu jengah menghadapi nya.
Kelas Elena pun sudah selesai, Elena berjalan bersama Jessica menuju parkiran karena sahabatnya yang akan mengantarnya.
"Aku tidak sabar menunggu pesta pernikahan mu El"
"Seperti mimpi Jessi, aku yang dulu selalu menentang kata menikah kini akan menikah dengan pria yang aku cintai" kekeh Elena.
Jessica ikut terkekeh mendengarnya, sahabatnya ini selalu membenci pembahasan tentang pernikahan dulunya karena trauma cinta masa lalunya.
"Elena!" teriak Fito berlari kearah Elena.
Elena memutar bola mata malas, rasanya jengah sekali jika terus satu universitas dengan pria gila ini.
"Apa dia mencoba menyatakan perasaan nya kepada mu lagi?" tanya Jessica dan Elena mengangguk membuat Jessica terkekeh.
"Aku antar ya?" tawar Fito dengan seulas senyum
"Singkirkan senyum bodoh mu dan aku akan pulang dengan Jessica" tolak Elena dan langsung masuk kedalam mobil Jessica.
Jessica langsung melajukan mobilnya meninggalkan Fito yang terdiam di tempat memandang kepergian Elena.
"Jika aku saja kau tolak lalu bagaimana dengan nasib Lucas?" gumam Fito yang tiba tiba teringat dengan abang nya.
"Dia sudah tergila gila padamu El" kekeh Jessica menertawakan sikap bodoh Fito yang terus mengejar Elena padahal tahu Elena akan menikah sebentar lagi.
"Obsesi nya terlalu tinggi, dia terlihat seperti orang gila" ucap Elena malas.
Setelah beberapa saat mobil yang dikendarai Jessica pun berhenti didepan gerbang rumah Aron.
"Terimakasih tumpangan nya dan sampai jumpa besok" ucap Elena membuka pintu mobil.
"Sampai jumpa adik kecil" jawab Jessica dan berlalu pergi dengan mobilnya.
"Salam nona" sapa pengawal depan dengan ramah
"Hay" balas Elena tak kalah ramah.
Elena berjalan santai menuju rumah mewah yang ditinggalinya bersama calon suaminya.
"Aron, papi, El pul..." ucapan Elena terhenti saat melihat tatapan tajam dari wanita tua yang duduk bersama Aron dan Jonathan.
Elena langsung tersenyum dan mendekati Harlina, bagaimana mungkin Elena lupa dengan wanita yang membesarkan calon suaminya.
"Selamat datang oma" ucap Elena ingin menyalami Harlina tetapi ditepis oleh wanita itu.
"Kau mengenalkan ternyata, jangan panggil aku oma tapi nyonya" ketus Harlina menatap tajam Elena.
"Oma jangan seper..."
"Sudah Aron, selama ini oma diam mendengar kabar hubungan kamu dengan wanita ini lalu sekarang kau ingin menikah dengan nya? oma orang pertama yang menentang nya" tegas Harlina.
"Tidak apa, saya permisi nyonya" ucap Elena dan berpamitan pergi ke kamarnya.
Tanpa aba aba Aron langsung berlari mengejar langkah Elena, Aron sangat takut Elena pergi karena sikap omanya yang tidak menyukai nya.
"Sayang kamu tidak apa?" tanya Aron setelah masuk kedalam kamarnya dan melihat Elena duduk disofa.
Elena tersenyum hangat, bukan Elena namanya jika semudah itu menyerah dalam segala sesuatu.
"Tidak apa sayang, aku tahu kemarahan oma tentang pernikahan kita, biar aku tinggal bersama papa sembari menunggu wak..."
"Jangan sayang aku tidak ingin berjauhan dengan mu, aku mohon tetaplah disini" cegah Aron.
Aron sudah diwanti oleh Bram agar tidak membiarkan Elena jauh dari pengawasan nya karena Arilandro akan selalu mencari cela.
"Oma pasti tidak nyaman karena ada aku sayang"
"Biarkan saja sayang, oma pasti mencari cela dari hubungan kita maka sebab itu aku mohon berjuang lah bersama ku" mohon Aron
"Baiklah" ucap Elena dan langsung dipeluk Aron.
Aron begitu bersyukur mendapatkan wanita yang ingin berjuang bersama tanpa mudah menyerah seperti Elena.
.
.
. 🥰