
Semenjak aksinya yang memecahkan kasus pembunuhan disekolah nya, elena semakin dikagumi banyak orang.
pagi ini elena berjalan menuju kelas nya dengan sebuah buku ditangan nya, semua orang menatapnya dengan kagum.
"aku baru sadar kalau dia menggemaskan"
"dia sangat cantik"
"dia begitu pintar"
"dia hebat sekali, aku ingin belajar dari nya"
begitu banyak pujian yang dilontarkan setiap orang tetapi elena enggan untuk menanggapi.
tidak sedikit pula para pria di sekolah ini yang berlomba-lomba untuk mendapatkan gadis kecil itu.
wajahnya yang cantik juga di dukung tubuh nya yang sudah ideal, diet elena sukses dan merubah diri nya jauh lebih cantik dari sebelum nya.
"hay el" sapa fitri saat melihat elena baru datang.
elena tidak menjawab sapaan dari fitri, elena berjalan mendekati bangku nya yang berada didepan fitri.
elena mengerutkan kening nya saat melihat sebuket bunga lili yang dirangkai sedemikian rupa, terlihat begitu cantik.
"pengagummu semakin banyak el" goda fitri yang langsung mendapat tatapan tajam dari elena membuat fitri langsung bungkam.
elena menyambar bunga itu dan melemparkan nya ditong sampah yang ada di kelas mereka.
"loh loh loh, kok dibuang el?" tanya fitri bingung
"pungut kalau suka" ketus elena langsung duduk di bangku nya dan melanjutkan membaca buku nya
"ishhh aneh banget sih, biasanya cewek kalau dikasi bunga tuh suka lah ini malah di buang, kulkas memang beda" batin fitri melihat elena.
fito yang awalnya terbakar cemburu saat melihat meja elena terdapat sebuket bunga, kini mengukir senyum karena melihat wanita pujaannya tidak menerima bunga itu.
berbeda dengan seorang pria yang melihat elena dari jendela, pria itu menatap elena dengan tatapan sendu karena pemberian nya ditolak mentah mentah oleh wanita yang disukainya.
jam istirahat pun tiba, saat elena hendak berdiri fito datang menghampiri nya dan duduk didepan elena
"terimakasih ya el" ucap fito tersenyum manis kearah elena
elena mengerutkan kening nya "manusia prik" gerutu elena meninggalkan fito begitu saja.
fito senyum senyum menatap kepergian elena "suatu hari nanti kau akan luluh el" gumam fito yang sudah jatuh cinta pada elena saat pandangan pertama mereka bertemu.
elena duduk di sudut ruangan kantin menunggu pesanan nya sembari membaca buku.
ntah hobi atau kebiasaan tidak ada yang tahu, tetapi jika di sekolah elena seperti menjadi kutu buku yang tidak pernah lepas dari sebuah buku, mau itu buku novel ataupun buku pelajaran.
"hay" sapa seorang pria langsung duduk di hadapan elena
fitri yang hendak menyambangi elena pun urung saat melihat ada seorang pria yang menghampiri teman nya.
elena tidak menunjukkan respon apa pun, pria itu tersenyum kecut "ternyata sifat dingin nya bukan main main" batin pria itu menatap wajah elena
"jangan mengirimiku bunga" ucap elena datar memecah kesunyian di antara keduanya
pria itu pun terkejut "maaf, tidak akan ku beri jika kau tidak ingin" ucap pria itu tertunduk sedih
"nama ku aril" ucap pria itu mengulurkan tangan nya, elena tidak merespon bahkan menatap pria itu saja tidak.
"kau boleh pergi jika tidak ada yang penting" ucap elena tetap fokus pada bukunya
tidak lama pesanan mereka pun datang, aril tidak berniat pergi barang sedikit pun bahkan elena harus rela makan dengan pria itu walaupun tanpa adanya obrolan.
fito yang melihat nya pun mengepalkan tangan nya, fito hendak berdiri tetapi di tahan oleh teman nya
pria itu mengikuti arah pandangan fito lalu terkekeh "tu cewek dingin banget bro, kutub utara kalah dibuat nya lebih baik mundur deh, liat tuh cowok paling kaya di sekolah ini aja dicuekin apa lagi kau"
fito menendang kaki pria itu merasa geram dengan perkataan teman nya, bukannya membantu malah mematahkan semangat batin fito.
sedangkan elena sudah mulai jengah dengan ocehan aril yang tak kunjung berhenti, aril banyak melontarkan pertanyaan walaupun elena tidak menanggapi.
semua orang menatap elena dan aril, elena mulai merasa risih dengan tatapan semua orang, semua orang berfikir dirinya sangat dekat dengan aril.
Brakkkk
aril terjingkat saat elena bangun sembari menggebrak meja, bukan hanya aril tetapi semua yang ada didalam kantin.
elena meninggalkan uang 50 ribu diatas meja dan berlalu pergi meninggalkan aril yang masih dalam keterkejutan nya.
"loh kok.. el tunggu" aril mengejar langkah elena yang sudah menghilang keluar kantin
"kok dia cuek banget ya, padahal kan bang aril cowok terkaya di sekolah ini" semua orang bertanya tanya hal yang sama.
bahkan fito pun juga bertanya tanya tetapi mereka semua enggan untuk menanyakan langsung kepada elena karena takut membangunkan macan yang sedang tidur.
sedangkan aril masih mengejar elena yang terus berjalan menuju kelas nya sendiri
"jangan ikutin aku" ucap elena dingin membuat nyali aril ciut, aril pun tidak mengikuti elena lagi karena wanita itu akan marah jika terus dipaksa.
elena masuk kedalam kelas nya yang sudah diisi oleh beberapa orang, salah satunya fitri dan fito yang langsung kembali ke kelas setelah elena pergi tadi.
sedangkan elena sempat mampir di perpustakaan tadi, elena menuju meja nya dan mendapati sekotak coklat disana
elena mengumpat habis habisan dalam hati melihat orang orang bodoh yang mengiriminya seperti ini.
ini bukan kali pertama, bahkan sebelum kejadian kasus sekolah waktu itu elena juga sering mendapatkan bingkisan yang berisi terkadang sebuah tas, sepatu, dress, makanan bahkan tidak sedikit buket yang didapatnya.
OB di sekolah itu sampai bosan karena dalam sehari bisa 4 atau 5 kali membuang isi tong sampah yang ada di kelas elena.
tetapi barang barang itu tidak dibuang melainkan ada yang mengambilnya, seperti OB itu sendiri atau pun teman sekelas elena.
elena menyambar sekotak coklat itu dan melemparkan nya kemeja fitri yang sedang berbincang dengan beberapa teman sekelasnya
"loh el, ini kan buat kamu" ucap fitri hendak mengembalikan coklat itu tetapi ditepis elena
"buat kalian aja" jawab elena dingin dan langsung duduk di bangku nya sembari membaca buku.
fitri dan teman nya yang lain hanya bisa menggelengkan kepala nya "el, kau sebenarnya mencari pria yang seperti apa? apa kau tidak ingin menikah?" tanya salah satu teman wanita elena
elena membalikkan tubuh nya "menikah? "kenapa harus menikah? aku sudah cukup bahagia dengan hidup ku yang seperti ini"
"selama ini yang ada dalam pandangan ku saat seseorang memutuskan untuk berumah tangga hanya lah kesengsaraan hidup yang baru bukan kebahagiaan"
"aku sudah cukup dengan hidupku yang seperti ini tanpa ada nya kehadiran seorang pria. aku percaya cinta tapi aku tidak percaya jika aku di cintai"
ucap elena memandang tajam para wanita yang sedang bersama fitri, elena langsung membalikkan lagi tubuhnya dan membaca kembali buku nya.
para wanita itu menelan saliva nya susah payah karena jawaban elena, bukan hanya itu tetapi tatapan elena membuat mereka merasa ditusuk belati yang amat tajam.
.
.
.
mau dong el coklat nya wkwk bercanda ya bestie.
jangan lupa dukung author dengan like dan comment sebagai uang parkir 😉