
Hari terus berganti beberapa bulan pun sudah terlewatkan, waktu berjalan dengan semestinya.
Tanpa terasa kini sudah berada di akhir bulan puasa, hanya menghitung hari maka hari raya pun tiba.
Elena sedang di bandara untuk mengantar ketiga sahabat nya yang akan pulang ke kampung masing masing, yang berada diluar kota.
"jaga lah dirimu baik baik, kami akan secepatnya kembali" ucap Dita memeluk Elena
"jangan terlalu mengkhawatirkan ku, nikmatilah liburan kalian" ucap Elena membalas pelukan Dita.
satu persatu sahabat Elena pergi meninggalkan nya dalam dua pekan mendatang.
Elena berjalan ke luar bandara menuju taxi yang sudah dipesannya secara online.
setelah menempuh perjalanan beberapa saat, Elena tiba di apartemen nya dan langsung menuju apartemen milik nya.
Elena duduk di bangku balkon sembari menikmati sekaleng soda yang ada di tangan nya.
mata Elena tertuju pada ponsel nya yang menampilkan potret Aziel dan juga dirinya.
"ini tahun pertama kamu merayakan hari raya tanpa mimi sayang, tetaplah bahagia nak mimi akan selalu mendoakan yang terbaik untuk mu"
"tetaplah merahasiakan tentang mimi dari mereka, mimi sangat membenci mereka nak. mimi harap kamu paham suatu hari nanti"
setelah bermonolog dengan dirinya, Elena memutuskan untuk mandi karena hari juga mulai gelap.
keesokan harinya di pagi yang cerah, Elena keluar apartemen dan berniat untuk ke sesuatu tempat.
dengan menggunakan gaun selutut berwarna lilac yang dpadu flatshoes berwarna putih, Elena memegang sebuah paperback berwarna putih ditangannya.
Elena naik taxi yang bertujuan kecafe tempat Clara bekerja, hari cukup terik untuk Elena yang sedang berpuasa.
akhirnya Elena sampai dicafe tempat Clara bekerja, Elena langsung masuk dan duduk di sudut ruangan.
Clara yang melihat kehadiran Elena pun menyambangi nya, tanpa membawa apa apa karena baik Clara maupun Elena sama sama berpuasa.
"hay El" ucap Clara duduk di samping Elena yang sedang fokus pada ponsel
"sudah kau atur Clar?" tanya Elena memandang Clara.
Clara mengangguk "taman dekat sini" jawab Clara tersenyum hangat pada Elena.
"dia pasti senang bertemu dengan mu" ucap Clara dengan senyum mengembang.
"baiklah aku akan menemui nya, cepatlah susul aku. kau akan menginap di apartemen ku setelah ini" ucap Elena meninggalkan cafe tempat Clara bekerja.
Elena berjalan menyusuri trotoar dengan hati yang campur aduk, antara rindu, senang dan juga sedih.
setelah berjalan beberapa saat Elena sampai di sebuah taman di pinggir kota, Elena duduk di bangku taman lalu fokus pada ponsel nya.
sebuah langkah kecil berlari kearah Elena tanpa Elena ketahui, langkah kecil itu terlihat sangat antusias.
"mimi" Aziel langsung menghambur kepelukan Elena saat dirinya sampai didepan wanita yang menjadi ibu kedua nya.
"hay sayang, bagaimana kabarmu?" tanya Elena menoleh sesaat kearah Tia yang tersenyum padanya.
semalam Elena meminta Clara untuk membuat janji pada Tia agar membawa Aziel bersama nya untuk menemui Elena.
"tentu saja sehat, Azin selalu makan seperti yang mimi ajarkan" ucap Aziel dengan senyum mengembang.
"anak pintar, ini baru putra kesayangan mimi" puji Elena mencium pipi Aziel.
"mimi.." ucap Aziel memegang tangan Elena dengan tangan mungil nya
"iya sayang, ada apa?" tanya Elena memandang manik hitam milik Aziel.
"besok Aziel akan pulang kerumah nenek, apa mimi tidak pulang kerumah nenek?" tanya Aziel membuat dada Elena terasa sesak.
"maaf ya sayang, mimi tidak bisa tetaplah seperti yang mimi katakan, mimi belum bisa bertemu nenek atau pun yang lainnya"
"Aziel akan paham alasannya nanti nak, untuk sekarang ini turutilah apa kata mimi" ucap Elena dengan senyum terpaksa.
Elena yang biasanya akan menyambut kedatangan nya dan akan selalu bermain bersamanya, kini tidak akan terjadi lagi.
Aziel tidak terlalu paham apa yang dirasakan tante nya, hanya saja Aziel begitu menyayangi Elena sehingga menuruti apa yang dikatakan Elena asalkan mereka akan bertemu lagi nanti.
"lihat ini, mimi punya hadiah untuk Aziel" ucap Elena memberikan paperback yang dibawa nya kepada Aziel.
Aziel dengan antusias menerima nya dan langsung membukanya, mata Aziel begitu berbinar saat melihat miniatur mobil sport yang diberikan miminya.
bukan hanya itu ada beberapa mainan lain dan juga baju lebaran yang dibelikan Elena untuk putranya.
"terimakasih mimi, Aziel sayang mimi" ucap Aziel memeluk Elena yang juga membalas pelukan nya.
"apa pun untuk mu sayang, semuanya akan mimi lakukan untuk Aziel" ucap Elena.
Tia yang melihat nya pun merasa terharu, kisah Elena sudah sampai di telinga Tia hanya saja wanita itu masih bersikap biasa saja dengan kakak kandung Elena.
walaupun didalam lubuk hatinya merasa amat dongkol, ingin sekali Tia memaki keluarga Elena yang begitu tega mengucilkan Elena.
Tia mendekat lalu mengusap pundak Elena, Elena menoleh dan melihat Tia yang tersenyum hangat kearah nya.
"dia anak yang kuat sama seperti dirimu kak, terkadang aku tidak habis pikir dengan semua ini, Aziel seperti dirimu walaupun wajahnya seperti mama dan papa nya"
"kelembutan dan kesabaran hatinya seperti mu kak, jika kau mengatakan pada orang orang jika Aziel adalah putramu maka mereka akan percaya"
"percaya karena pandangan tulus mu pada Aziel dan juga sebaliknya, kenapa tidak kau saja yang mengandung Aziel kak. Aziel sangat menyayangi mu melebihi ibu kandung nya"
Tia bermonolog dalam hati menatap Elena dengan tatapan iba dan juga bangga, ntah datang dari mana intinya Tia menjadikan Elena sebagai motivasi nya.
Tia melihat arloji nya "Aziel kita harus pulang sayang, mama akan mencari karena kak Tia izin tidak akan lama" ucap Tia dengan berat hati.
Aziel langsung menampilkan raut berat hati, bagaimana tidak setelah pertemuan mereka dipasar malam, mereka tidak bertemu lagi dan baru hari ini bertemu.
"pulang lah sayang, kita akan bertemu lain waktu" ucap Elena walaupun dengan berat hati.
"bisakah Aziel tinggal bersama mimi saja? lebih lama bersama mimi?" tanya Aziel membuat Elena membatu.
Tia yang mendengarnya juga terkejut, finally kesabaran Aziel menabung rindu selama berjauhan dengan Elena sudah di luar batas, putra angkat Elena itu enggan berpisah dengan miminya.
"tidak bisa sayang, mimi bekerja dan tidak mungkin meninggalkan Aziel sendiri di apartemen mimi"
"mimi juga terkadang pulang malam atau tidak pulang sama sekali, mimi janji akan lebih cepat menemui Aziel lagi sayang" ucap Elena mencoba membujuk Aziel.
"baiklah mi" Aziel langsung memeluk Elena, pelukan tanda perpisahan sesaat karena Aziel tidak akan tahu kapan miminya akan menemuinya lagi.
Elena melepas kepergian Aziel dengan berat hati, apa lagi melihat setitik air mata lolos dari manik hitam putranya.
Elena terus menahan tangis karena Aziel terus menoleh padanya walaupun langkah nya kian menjauh.
tidak tahan dengan air mata nya, Elena membalikkan badannya yang ntah sejak kapan Clara sudah berada disana.
Clara langsung memeluk Elena dan seketika tangis Elena pecah didalam pelukan Clara.
pertemuan nya dengan putra nya harus selalu seperti ini, ntah kapan semuanya akan seperti dulu, Elena tidak meminta dirinya bersama keluarga nya lagi karena kebencian sudah menjalar disetiap urat nadinya.
yang Elena inginkan hanya kebersamaan dirinya bersama aziel seperti dulu, Elena benar benar merindukan dimana saat dirinya menemani pangeran kecil itu tidur, dimana saat Elena menyambut pagi aziel dengan senyum hangat.
rasa sayang Elena pada Aziel layaknya rasa sayang seorang ibu pada putranya, Elena yang terus memperhatikan tumbuh kembang aziel, rasa sayang itu kian tumbuh bersama bertumbuhnya diri Aziel.
.
.
.
tidak masalah nanti kita pikirkan lagi gimana cara El bertemu sana Aziel ya bestie hehe.
staytune dan dukung author 😄