
Pyarrrrrr
Ruangan yang awalnya terlihat rapi dan bersih kini berubah seperti kapal pecah karena kemarahan seorang pria.
"Akhhhhh, kau milikku Elena dan akan selamanya seperti itu"
Pria itu adalah pria bermata hijau yang beberapa kali menyambangi Elena secara tersembunyi.
Elena yang sudah mempublikasikan hubungan nya dengan Aron pun membuat banyak hati pria patah salah satunya pria ini.
Walaupun dari awal tahu kalau Aron dan Elena menjalin hubungan tetapi melihat dinding sosial media gadis itu berisi foto pria lain membuatnya sakit.
Tok tok tok
"Tuan besar ingin menemui anda tuan"
"Aku akan kesana"
Pria tampan bermata hijau itu pun keluar dari kamar nya yang sudah berantakan dengan pecahan kaca dimana mana.
Pria itu menuju ke sebuah kamar yang luas, dan disanalah berdiri seorang pria tampan bermata coklat.
"Kau sakit hati?"
"Kenapa paman bertanya? tentu saja iya, lakukan sesuatu paman aku sudah tidak bisa menunggu"
"Tenang saja, kita lakukan secara perlahan"
"Tapi ini terlalu lama, kenapa tidak mengambil nya sebelum bersama Aron, selama ini kita hanya terus memantau seperti tikus"
"Kita tikus yang besar, kenapa kau takut? aku juga tidak tahu jika dia disukai putra Jonathan"
"Jadi paman mau merelakan nya dan membiarkan aku? paman ingat perjanjian kalian kan bahwa aku akan menikah dengan El saat dia berumur 20tahun?"
"Aku ingat, kenapa kau selalu berbicara seperti itu?"
"Hanya tinggal beberapa bulan lagi El 20tahun paman, aku sudah sangat lama menunggu nya"
"Bersabarlah sedikit, oh iya cari orang yang mengusiknya dan bawa kemari"
"Baik paman" pria bermata hijau itu pun patuh dan pergi meninggalkan pria paruh baya itu.
Pria paruh baya itu memegang foto seorang gadis yang sedang tersenyum manis dengan mata coklat nya yang indah.
"Maafkan papa"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini Elena sudah bisa pulang, sebenarnya masih tersisa dua hari tetapi gadis itu terus merengek minta pulang.
Elena memang sangat anti dengan bau obat obatan apa lagi suasana rumah sakit yang selalu membuatnya merinding.
"Check dulu ya El sebelum kamu pulang"
"Ngapain bawa bawa suntik? jangan main main ya dokter Robby!" bentak Elena yang melihat Robby memegang jarum suntik.
Robby terkekeh melihat calon kakak ipar nya ini, gadis ini benar benar menggemaskan pikirnya.
"Hanya menyuntikkan vitamin"
"Hah? ti..tidak mau, Aronnn aku tidak mau disuntik" rengek Elena kepada kekasihnya.
Aron terkekeh "Di suntik lain mau?"
Plakkkkkk
Jonathan langsung memukul kepala putranya itu, Jonathan paham apa maksud ucapan Aron tadi.
"Suntik lain? pake apa? sakit ga?"
"Sakit sedikit sayang, nanti malam kita coba"
Plakkkkkk
"Apa sih papi"
"Jangan kotori otak suci putriku"
Robby tertawa melihat pertengkaran ayah dan anak itu, Robby tau Aron sudah sangat lama tidak melepaskan hasrat nya sebagai seorang pria.
"Emang nya dirumah ada sayang?" tanya Elena dengan polosnya.
"Ada dong, kamu mau lihat?"
"Ga mau, pasti sama kayak yang itu"
"Ga sama sayang"
"ARONNN!" Bentak Jonathan membuat Robby semakin terpingkal pingkal.
"Papi punya juga ya?" Jonathan melotot karena pertanyaan elena yang garis itu lontarkan dengan wajah polosnya.
"Punya papi tidak sebesar punya ku sayang"
"Hah? benarkah?"
"Aku bisa gila" ucap Jonathan mengacak rambutnya.
"Awww awww akhhhhhh, sakit!" teriak Elena saat tiba tiba Robby menyuntikkan vitamin kelengan Elena.
"Aaaaa sakittt" rengek Elena sampai meneteskan air mata.
"Sudah El, ini agar kamu cepat sembuh"
Aron hanya bisa terkekeh melihat wajah Elena yang terlihat begitu manja didepan nya.
"Nanti aku kasi permen mau? tapi jangan nangis lagi"
"Permen apa?"
"Ada permen yang besar dan panjang, nanti malam aku kasih"
Plakkkkkk
Untuk yang kesekian kalinya Jonathan memukul kepala putranya yang berisi pikiran mesum semua.
"Aishhh papi, sakit tau"
"Tau dong makanya papi pukul biar otak kamu ga mesum"
"Aelah icip icip dikit"
"Buahahaha" tawa Zio pun pecah karena ucapan Aron.
"Zio, kamu kenapa tertawa?" tanya Elena polos karena tidak paham dengan pembicaraan para pria ini.
Bik Minah yang sudah selesai membereskan barang barang Elena dan obat Elena pun mendekati gadis itu.
"Ck kalian ini, nona ikut bibik yuk Helga didepan bawa lolipop"
"Benarkah? mau mau bik" ucap Elena antusias dan langsung pergi bersama bik Minah.
"Jangan coba coba ya Aron"
"Aku tahu papi, hanya bercanda"
"Jangan kotori otaknya Robby, tapi memang El itu polos banget ya"
"Dia pelupa bukan polos, otaknya loading jadi payah" ucap Aron dan bergegas keluar ruangan itu menyusul kekasih nya.
Sesampainya di depan ruangan Elena, Aron melihat gadis itu sedang memakan permen lolipop yang dibelikan Helga.
"Nanti dia pasti akan menyukai punya ku setelah merasakan nya" batin Aron terkekeh kecil.
"Lapor tuan, didepan banyak wartawan yang ingin meliput anda dan nona muda"
"Bagus"
"Hah? kok bagus tuan"
"Kita temui mereka, biar seluruh dunia tahu bahwa Elena punya ku, kawal dengan ketat"
Aron pun mendekati Elena dan meninggalkan Hugo yang benar benar bingung dengan pemikiran tuan nya, ralat otak Hugo yang sedikit loading.
"Kita pulang" ajak Aron setelah Jonathan pun ikut bergabung.
Elena mengangguk, lalu mereka pun berjalan bersama keluar ruangan dengan diantar dokter Robby.
Sesampainya di lobby rumah sakit mata Elena terbelalak saat melihat banyak nya wartawan yang menunggu mereka.
"Apa ada penyambutan artis?"
"Kamu artis nya El" jawab Robby terkekeh.
"Itu tuan Aron"
"Tuan bisa berikan klarifikasi tentang calon istri anda? Anda kan sudah dijodohkan dengan nona Melisa"
"Benar tuan Aron, bagaimana anda membatalkan perjodohan itu sedangkan foto foto anda masih ada di sosial media nona Melisa"
"Mohon penjelasan nya tuan Aron"
"Apa anda tidak memikirkan sakit hati nona Melisa tuan?"
Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan wartawan membuat Elena jengah dan bosan.
"Apa nona ini merebut tuan Aron dari nona Melisa"
Cetarrrrrr
Seketika wajah Elena pun berubah menjadi memerah karena pertanyaan itu, tentu saja gadis itu tidak Terima.
"Siapa bilang hah? siapa yang mengatakan bahwa aku merebut Aron dari tante Melisa?"
"Maaf nona kami hanya bertanya"
"Filter dulu kata kata mu, Aron mencintaiku tulus tanpa paksaan sedangkan melisa dijodohkan melalui oma dan Aron tidak mencintai wanita itu"
Aron dan Jonathan tersenyum tipis melihat Elena yang sudah berani membuka suara untuk membela apa yang dimiliki nya.
"Dengar ya, saya tidak merebut Aron dari siapa pun tetapi Aron sendiri yang memang ditakdirkan untuk saya"
Tutup Elena dan berlalu pergi bersama yang lain masuk kedalam mobil, wartawan masih banyak melontarkan pertanyaan tetapi enggan menjawab lagi.
Jonathan dan Aron pun bersorak menang, mereka tidak tahu harus berterimakasih atau tetap menghukum orang yang mencelakai menantunya.
Bisa dipastikan jika bukan karena kejadian itu, hubungan Elena dan Aron akan tetap tersembunyi dan tidak tahu sampai kapan itu berlangsung.
.
.
.
Sepi banget.