My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
TERANCAM



"Tekanan darah tinggi nya naik, jangan membuatnya stres dia baru saja pulih" ucap Robby yang baru saja selesai memeriksa Elena yang pingsan dipelukan Laras tadi.


Aron menghela nafas, jika bukan karena permohonan Laras yang ingin menjumpakan Elena dengan orang tuanya Aron pasti sudah melarang.


Semua orang berkumpul dikamar luas milik Aron, Ani menggenggam tangan putrinya yang terasa dingin.


"Maaf nyonya, biarkan nona muda istirahat lebih dulu, kalian bisa menunggu diluar" ucap bik Minah dengan wajah datar.


Bukan tanpa alasan bik Minah memperlakukan Ani seperti itu, cerita pilu dari Elena masih terngiang ditelinga bik Minah membuatnya sedikit tidak suka melihat ibu kandung Elena.


"Biarkan El istirahat kita menunggu diluar saja" ajak Fras yang mengerti situasi.


Mereka pun keluar dan hanya meninggalkan Aron yang menjaga Elena, Aron terus menghembuskan nafas kasar.


"Maaf terlalu memaksa mu sayang" lirih Aron mengecup kening Elena.


Diluar kamar Aron, Jonathan menggiring ke empat paruh baya itu menuju ruang kerjanya yang berada disamping kamarnya.


"Aku baru mengingat wajahmu Jonathan" celetuk Ani memandang Jonathan


"Aku fikir kau melupakan aku"


"Aku terlalu memikirkan El tadi"


"Aku paham, suamimu?" tanya Jonathan memandang Deni


"Deni Darma"


"Jonathan Smith" kedua pria itu pun berjabat tangan


"Aku mengenalmu, kau dosen terbaik di Cankaya Universitas"


"Kita pernah bertemu beberapa kali tuan"


"Ahhh iya aku lupa, jangan panggil tuan panggil saja namaku"


"Baik Jonathan" jawab Deni tersenyum ramah


"Dimana Bram?"


"Bagaimana putriku bisa bersama mu?" bukannya menjawab Ani melontarkan pertanyaan lain kepada Jonathan


"Putraku mencintai putrimu, mereka saling mencintai"


"Apakah semudah itu pertemuan mereka?"


"Putraku menculik putrimu dan semuanya sudah berlangsung lebih dari setahun"


"Kau membiarkan mereka tinggal bersama dan tidur bersama tanpa ada ikatan" protes Ani


"Kabar buruk tentang putraku begitu menyebar luas sehingga kau berfikir putraku memperlakukan El sama seperti dirinya memperlakukan wanita lain"


"El begitu banyak menanggung trauma aku ingin putriku mendapatkan pasangan yang baik"


"Kau bisa tinggal disini memantau kedua orang itu, bisa kau tanyakan sendiri kepada Elena nantinya apakah Aron berbuat berlebihan apa tidak padanya"


"Tidak usah, aku percaya pada putramu" ucap Ani mengalah


"Dimana Bram?"


"Dia sudah meninggal"


"Semudah itu? kau tahu siapa dia bukan?"


"Kenyataan nya seperti itu Jhon, dia meninggal setelah menikah dengan Sumi"


"Kau menghancurkan putrimu"


"Aku tahu aku salah, aku ingin memperbaiki semuanya"


Jonathan bangkit dari duduknya dan mengambil sebuah kotak berwarna hitam di sebuah brankas.


"Apakah kalian pernah membuat perjanjian perjodohan El dengan pria lain"


Deghhhhhh


Mata Ani terbelalak mendengar pertanyaan dari Jonathan, bibirnya terasa keluh sekarang


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Aku hanya bertanya, putrimu sudah bersama putraku, aku berniat menikahkan mereka dalam waktu dekat"


"Apakah benar Ani? El sudah dijodohkan sedari kecil?" tanya Deni


"Aku dan Bram pernah membuat kesepakatan perjodohan El, tetapi aku tidak tahu pria siapa yang dipilih Bram"


"Apa putraku?"


"Bukan, Aron berniat akan dijodohkan dengan Anggi karena selisih umur mereka hanya setahun tetapi gagal setelah perceraian kami"


"Lalu siapa pria itu?"


"Aku tidak tahu, perusahaan kami limbung setelah aku hamil Elena dan memutuskan untuk pindah ke kampung"


"Apa El tahu seperti apa papa nya dulu?"


"Tidak tahu, kami merahasiakan semuanya bahkan aku menghapus nama Agarandra dari namanya"


"Kenapa?"


"Kenapa bertanya? Bram itu mafia sama seperti dirimu aku menyembunyikan semuanya karena tidak ingin El terancam"


"Kabar kematian Bram sudah cukup"


"Belum, setahun setelah kematian Bram El pernah hampir dicelakai oleh Albert, sebab itu aku menyembunyikan nya jauh dari kota"


"Tapi kau membiarkan nya kekota sendiri" ucap Laras menyela


"Itu sudah sangat lama, bahkan mereka melupakan wajah El dan aku pun sedang berada difase yang tidak baik"


"Kau tahu siapa saja yang mengancam keselamatan putrimu sekarang ini?"


Deghhhhh


Ani semakin terkejut, bukankah identitas Elena sebagai putri king mafia sudah hilang kenapa masih ada saja masalah.


"Apa yang mereka cari? Bram sudah meninggal"


"Kekuasaan"


"Kekuasaan?"


"Kau percaya Bram sudah meninggal?" tanya Jonathan menatap Ani.


"A..aku tidak tahu, jika memang masih hidup kemana dia sekarang? kenapa tidak menemui kami?"


"Kau tidak melihat jasadnya bukan? kenapa hanya putrimu yang menentang kematian Bram sampai sekarang?"


"Apa maksud mu?"


"Nona El tidak percaya bahwa tuan Bram sudah meninggal nyonya" ucap bik Minah yang langsung masuk kedalam ruang kerja Aron.


"Nona Elena pernah mengatakan kepada saya, sebelum dirinya melihat jasad papanya beliau tidak akan menganggap papanya sudah meninggal"


"Kau berfikir dangkal Ani, putrimu lebih perasaan persis seperti Bram"


"T..tapi Sumi"


"Jadi El adalah putri tuan Bramasta Agarandra?" tanya Fras


"Benar Fras, kau mengenalnya bukan?"


"Bagaimana tidak, kami rekan kerja dulunya aku adalah salah satu klien yang berinvestasi dengan perusahaan nya"


"Sahabat ku memang orang hebat, kami bangkit bersama dengan usaha kami sendiri"


Ani menitikan air mata kala mengingat mantan suaminya itu, tidak membohongi hati Ani memang masih mencintai Bram hingga saat ini.


"Kapan dia meninggal?"


"Saat El menginjak usia 11 tahun, semuanya terjadi begitu tiba tiba hingga membuat nya sangat syok begitupun dengan aku"


"Tapi kenapa harus El? bukankah dia tidak tahu bahwa kalian dulunya keluarga mafia?" tanya Laras bingung


"Karena hanya El yang tidak tahu bahwa keluarga nya dulu mafia, Elena juga tidak tahu bahwa kekayaan mereka dulu setara dengan ku"


"Bukankah seharusnya Elena tidak terusik?"


"Kau salah Laras, Elena adalah kelemahan Bram"


"Lantas?"


"Mereka tidak ada yang percaya bahwa Bram telah mati, dan ada satu rahasia yang mungkin masih tersimpan saat ini"


"Rahasia apa? kenapa aku tidak tahu?" tanya Ani


"Bukan aku yang akan menjawab karena aku tidak ada saat El tumbuh, kita berpisah setelah anggi berusia 4tahun"


"Kenapa perusahaan kalian bangkrut?" tanya Laras penasaran


"Investasi bodong, Bram tertipu dengan temannya yang membawa lebih dari setengah harta kami"


"Kenapa begitu percaya?"


"Bram sama seperti ku Laras, kami hanya mementingkan untung dulu tanpa memikirkan konsekuensi nya" jawab Jonathan


"Kenapa kalian terlihat tamak"


"Itu dulu"


"Sama saja" ketus Laras


Jonathan hanya bisa menghela nafas, memang dirinya dan sahabat nya dulu terlebih sibuk dalam mencari kekuasaan tanpa memperdulikan apa pun.


"Lalu bagaimana sekarang? Apakah Aron tahu jika kau dan Bram bersahabat?"


"Untuk saat ini belum tapi semuanya akan terungkap secara sendirinya"


"Bukankah seharusnya lebih baik Aron tahu?" tanya Deni


"Dia masih mencari tahu informasi masa lalu keluarga kalian, nanti dia akan tahu sendiri"


"Tapi aku khawatir dengan El"


"Dia aman disini, kau boleh tinggal disini juga sebagai bentuk pendekatan diri kalian" usul Jonathan


Ani memandang Deni, setelah mendapat anggukan dari suaminya itu Ani pun langsung setuju dan mengirimi putranya pesan.


"Apa Rico tidak mewarisi kemampuan Bram?" tanya Fras tiba tiba


"Dia lebih tertarik dengan bisnis bersih"


"Bela diri? atau semacam hal kekerasan?"


"Ya dia sama seperti Bram tetapi lebih mengedepankan hati dari pada kekerasan"


"Hanya putri bungsu mu yang pandai mengancam orang lain" celetuk Laras membuat semua orang disana terkekeh


"Mulut nya begitu pedas sama seperti Bram"


"Wajahnya juga sangat mirip, aku sangat membenci Bram waktu hamil El"


"Itu sebabnya dia seperti copyan dari Bram, orang dirumah ini sangat senang semenjak kedatangan putrimu"


"Benar, rumah ini lebih berwarna semenjak ada nona karena celotehan nya yang tidak pernah putus, apalagi ketika bertengkar dengan Zio" ucap bik Minah.


Mereka semua terkekeh, memang putri bungsu keluarga Agarandra itu sedikit berbeda dengan saudara nya yang lain.


Di tempat yang berbeda, tepatnya dikamar Aron dan Elena, Aron mengepalkan tangan nya saat mendengar semua percakapan tetua itu.


"Kenapa papi menyembunyikan nya dariku, Bramasta Agarandra, walaupun kau sudah menjodohkan putrimu dengan pria lain dia akan tetap menjadi milikku, sekuat apa pun kau berusaha memisahkan kami itu tidak akan pernah aku biarkan walaupun nyawaku sendiri yang akan menjadi taruhannya".


.


.


.


🥰