
Aron langsung menarik Elena kedalam pelukan nya saat suara tembakan dan pecahan kaca terdengar sangat keras.
"Cari pelakunya" ucap Aron kepada beberapa pengawal yang dibawa nya.
"I..itu" Elena menunjuk sebuah gumpalan kain putih dengan noda merah yang tergeletak diantara pecahan kaca.
"Anda boleh pergi tuan Roy, calon istri saya sedang tidak ingin ditemui oleh siapa pun" ucap Aron.
Jonathan dan Jessica langsung membawa Elena masuk kedalam kamar karena gadis itu terlihat terkejut.
Elena seperti dejavu saat peristiwa barusan seperti kejadian saat berada dirumah Aron.
Roy pun langsung pergi begitu saja, Roy tidak mau memaksa Elena karena gadis itu terlihat pucat setelah mendengar suara tembakan tadi.
Aron mengambil gumpalan kain putih itu dan membuka ikatannya, seketika raut wajah Aron berubah merah.
"DIA MILIKKU DAN KAU HARUS MENGEMBALIKAN NYA"
Seperti itulah isi dari kain putih yang tulisan nya ditulis dengan darah yang terlihat masih baru.
"Tuan!" panggil Hugo yang datang dengan tergesa-gesa
"Apa mereka mendapatkan nya?" tanya Aron
"Dia mati tuan, dan tidak ada tanda apa pun seperti tato klan atau semacamnya" jawab Hugo
"Cari tahu siapa saja yang mengganggu Elena belakangan ini" ucap Aron dan pergi kekamar Elena.
•π•π•π•π•π•π•π•π•π•π•π•π•π•π•π•π•π•π•π•
Siang menjelang sore yang cerah, Elena baru saja keluar dari Universitas bersama ketiga sahabatnya.
"Ikut hangout?" tanya Dita
"Aku kabari Aron dulu ya, ntar dia nyariin aku" ucap Elena dan langsung mengirimi Aron pesan.
Setelah mendapat izin Elena dan ketiga sahabatnya langsung pergi dengan mobil Jessica.
Perlu kalian ingat bahwa Aron tidak mungkin mengizinkan Elena pergi tanpa penjagaan, sebab itu disekitar Elena banyak pengawal tersembunyi Aron.
Dan tentu saja tanpa sepengetahuan Elena karena gadis itu akan sangat marah jika terus terkekang.
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat mereka pun sampai ditaman pinggir kota yang sering keempat sahabat itu datangi.
"Jadi apartemen itu ditinggali oleh siapa Jes?" tanya Dita
Mereka tahu Elena telah memindahkan semua barang barang nya kerumah Aron, bahkan peristiwa semalam pun mereka tahu.
Tetapi mereka enggan membahas sebab Elena sudah memperingatkan mereka agar tidak membahas apa yang membuatnya tak nyaman.
"Sepertinya sepupu ku yang akan disana, seharusnya kau Terima saja jika Aron ingin membeli nya untuk mu" ucap Jessica
"Untuk apa? aku sudah tinggal dirumahnya jangan memboros" ucap Elena
Ketiga sahabatnya hanya bisa geleng kepala, Elena ini ntah terlebih polos atau memang bodoh.
Nama Aron mendunia dikalangan bisnis karena sebagai orang terkaya nomor satu dinegara ini.
"Aku benar benar ingin mencekik mu El" ucap Rasya geram
Elena tertawa terbahak bahak dan diikuti oleh yang lain karena Elena berhasil memancing emosi Rasya.
Tanpa mereka sadari, ada seorang pria bermata hijau yang sedang memperhatikan mereka dari jauh.
Pria itu duduk di bangku taman juga, dibalik masker hitam yang dikenakannya pria itu tersenyum melihat tawa Elena.
"Lihatlah itu" ucap Elena menunjuk penjual gula kapas yang berdampingan dengan penjual ice cream.
"Uhhh adik kecil ku tidak berubah, aku fikir kau sudah menggemari ice cream yang lain" kekeh Jessica
"Aku menggemari semua jenis ice cream" jawab Elena
Dita tertawa mendengar jawaban Elena, Dita dan Rasya paham ice cream apa yang dimaksud oleh Jessica
"Jangan menjerumuskan fikiran nya Jessi" ucap Rasya memukul pelan lengan Jessica
"Bukankah dia sudah pernah merasakan nya?" ucap Jessica lalu tertawa terbahak bahak
"Ice cream apa yang kalian maksud? ice cream jenis apa yang belum pernah aku coba?" tanya Elena dengan polosnya.
wajah polos Elena membuat ketiga sahabatnya semakin tertawa hingga perut mereka kram.
"Aishhh kalian menyebalkan, aku akan beli sendiri" ketus Elena dan berlalu pergi.
Elena berjalan sembari komat kamit karena kebodohan sahabatnya, dia seperti orang bodoh karena tidak bisa masuk topik pembicaraan.
"IQ dia tinggi tetapi dia seperti orang bodoh jika membahas tentang hal dewasa" kekeh Dita
"Ck mohon dimengerti, usia El masih 19 tahun" ucap Rasya menghentikan tawanya.
Elena sudah sampai di depan penjual gula kapas "mang bentuk buaya bisa?" tanya Elena
"Buatkan saya yang bentuk buaya betina mang, warna nya pink" pinta Elena.
Ntah terinspirasi dari mana, sepertinya gadis ini mengingat kekasihnya yang dulunya seorang casanova.
Elena memilih untuk membeli ice cream lebih dulu sembari menunggu gula kapas nya selesai dibentuk.
"Rasa coklat dong mang" pinta Elena.
Penjual itu langsung memberikan apa yang Elena minta, setelah menerima Elena langsung membayar dengan uang seratus ribu tanpa mau kembalian.
"Emm segar sekali" ucap Elena menikmati ice cream nya.
Brukkkk
"Yahhh jatuh" lirih Elena menatap ice cream nya yang tergeletak dijalanan.
"Ma..maaf dek biar tante ganti" ucap seorang wanita paruh baya yang menabrak punggung Elena.
"Tidak usah tante saya bisa bel..."
ucapan Elena terhenti saat melihat siapa wanita yang menabraknya tadi, seketika raut wajah Elena berubah murka.
"E..Elena" terkejut wanita itu memandang Elena
"Kau tidak punya mata hah? selain tidak punya otak dan hati kau juga ternyata tidak punya mata!" bentak Elena.
Ketiga sahabat Elena yang dari tadi memandang gadis itu dari jauh pun berlari menyusul Elena karena melihat ada yang tidak beres.
"El ada apa?" tanya Rasya bingung, pasalnya gadis ini awalnya tidak marah
"Dia menabrak ku sehingga ice cream ku jatuh" ucap Elena dengan mata berkaca kaca.
Sebuah mobil ferari berwarna biru berhenti tepat disamping mereka, Aron turun dari sana dan langsung mendekati Elena.
"Ada apa sayang?" tanya Aron yang memang berniat menjemput Elena karena pekerjaannya sudah selesai.
"Tante minta maaf El, tante tidak sengaja" ucap wanita paruh baya tadi.
Ketiga sahabat Elena dan juga Aron terkejut karena wanita ini mengenal Elena bahkan menyebutkan nama gadis ini.
"Kau fikir dengan maaf bisa mengembalikan semua nya hah!" bentak Elena.
"E..El kita bisa membeli ice cream yang baru El" ucap Dita yang tidak mengerti
"Ini bukan perihal ice cream, wanita ini dia yang telah menghancurkan mimpi, cita cita, dan juga masa depan ku!" bentak Elena
"A..apa maksud mu El?" tanya Jessica bingung
"Karena wanita ini, karena dia papa meninggalkan aku dan keluargaku, karena wanita ini juga papa meninggal"
"Kau pembunuh! kau mengambil kebahagiaan ku untuk kebahagiaan anak mu, kau menjadikan papa ku sebagai papa anak mu"
"Kau pembunuh! jika tidak menikahimu mungkin sekarang ini papa ada bersama ku!" bentak Elena dengan linangan air mata.
Ketiga sahabat Elena tertegun, bukan hanya mereka bahkan Aron pun terkejut dengan ucapan Elena.
"Tidak El, kematian papa mu karena kecelakaan bukan karena tante" ucap wanita itu
"Lalu kenapa kalian memakamkan nya sebelum aku datang, kau tidak mengizinkan ku melihat papa ku untuk yang terakhir kalinya"
"Kau pembunuh dan selamanya akan seperti itu! aku membencimu wanita ja..ng!" teriak Elena dengan suara yang sudah parau.
Aron memberikan isyarat agar ketiga sahabat Elena pergi karena Aron akan membawa Elena pulang.
"Tante hanya ingin mempercepat pemakaman El" ucap wanita itu memandang sendu Elena
"Kau melakukan itu agar aku tidak menuntut mu ke pengadilan kan? kau sudah membunuh papa ku, kau pembunuh!" teriak Elena.
"Sayang kita pulang" ucap Aron merangkul pinggang Elena
"Dia pembunuh papa Aron, dia yang merusak kebahagiaan ku" ucap Elena menangis dalam pelukan Aron.
Aron membawa Elena masuk kedalam mobil dan memerintahkan Halid agar langsung pergi.
Dari kejauhan ada dua pria dengan berbeda usia yang dari tadi memandang kearah Elena.
Salah satu dari pria itu menitikan air mata melihat dan mendengar tangisan Elena yang begitu pilu.
.
.
.
Maaf ya semalam ga bisa up karena lagi tertimpa musibah.
Jangan lupa dukung author ya para Raerder author 😇