
Elena sedang duduk di bangku kantin sembari menikmati makan siang nya tanpa memperdulikan tatapan membunuh dari setiap karyawan wanita.
Halid datang dan berjalan mendekati Elena yang masih menikmati makan siang nya seorang diri.
"Salam nona, ini ada dokumen yang harus diselesaikan besok" ucap Halid memberikan sebuah dokumen pada Elena.
"Terimakasih Halid" ucap Elena tersenyum manis.
Halid langsung berlalu pergi tanpa membalas senyum Elena karena takut pistol golck milik Aron menembua dahi nya.
Aron selalu memantau Elena dari CCTV karena takut terjadi hal hal buruk pada gadis itu, Aron benar benar tidak ingin lengah walaupun ini kawasannya.
Seorang karyawan wanita yang mendengar percakapan Elena dan Halid tadi pun tersenyum smirk dan mendekati teman nya.
Wanita itu membisikkan sesuatu kepada rekan kerja nya yang lain dan menyusun rencana bersama untuk menghancurkan Elena.
Elena berjalan menuju meja kerja nya yang tidak jauh dari ruangan Aron, Elena memang meminta untuk memindahkan mejanya agar tidak terus seruangan dengan kekasihnya itu.
Elena memulai pekerjaan nya dengan mata yang terus terfokus pada layar laptop didepan nya.
Elena terus menyelesaikan tugas nya sampai larut malam karena Aron pun masih ada beberapa pertemuan dengan rekan nya.
Kantor sudah sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Aron merebahkan dirinya diatas sofa setelah rekan kerjanya pergi.
Aron memejamkan mata sejenak karena hari ini cukup lelah, waktu istirahat Aron sedikit terganggu karena suara dering ponsel nya.
"Iya papi, ada apa?" tanya Aron setelah menerima panggilan telepon dari Jonathan
"*Ada apa? dimana Elena? kenapa belum pulang juga? kamu suruh dia lembur mengikuti jam kerja mu? Aron dia masih kecil"
"Apa Elena sudah makan? dimana dia? antar dia pulang Aron, sudah jam berapa ini hah*?" cecar Jonathan
"Aishhh apaan sih papi, El kan..." seketika Aron mematung saat mengingat sesuatu.
"Sayang!" panggil Aron mematikan panggilan itu dan berlari keluar.
Aron langsung menuju meja Elena yang terhalang sekat dinding saja dengan ruangan nya.
Aron menghembuskan nafas kasar saat melihat Elena yang tertidur diatas meja kerja nya.
Elena memang menunggu Aron karena Aron melarang Elena pulang sebelum dirinya yang mengajak.
Aron mengusap lembut pipi Elena dan melihat pekerjaan gadis itu yang memang sudah selesai tetapi masih dibiarkan.
"Tuan apa kit...." ucapan Halid langsung terhenti saat matanya melihat sosok wanita kesayangan tuan nya sedang tertidur pulas dimeja kerja.
"Kita pulang sekarang" ucap Aron dengan suara yang sangat pelan agar Elena tidak terbangun.
Halid langsung berlalu pergi untuk menyiapkan mobil, sedangkan Aron langsung menggendong Elena.
"Maafkan aku sayang" gumam Aron mengecup kening Elena.
Aron bisa mendengar suara dari dalam perut Elena, Aron ingat kalau gadis ini belum makan sama seperti dirinya.
Aron merasa kasihan jika membangunkan Elena hanya untuk makan karena gadis ini terlihat sangat kelelahan.
Dikediaman Aron, Jonathan dengan risau menunggu kepulangan menantu dan putranya.
Jonathan khawatir pada Elena karena Aron tidak mengatakan apa pun saat menutup panggilan nya tadi.
Mobil mewah milik Aron pun memasuki pekarangan rumah, raut wajah Jonathan semakin khawatir saat melihat Elena dalam gendongan Aron.
"Dia tidur" bisik Aron sebelum papinya mencecar dirinya.
Jonathan baru bisa bernafas dengan lega saat Aron mengatakan Elena hanya tertidur.
Aron meletakkan Elena di kamar mereka dan menyuruh bik Minah agar menggantikan pakaian Elena agar tidur dengan nyaman.
Plakkkkkk
Jonathan memukul kepala putranya membuat Aron hampir terjungkal ke depan.
"Apaan sih pih" gerutu Aron mengusap kepalanya
"Kamu ini keterlaluan ya Aron, kamu menyuruh Elena lembur sampai jam segini, apa dia sudah makan?" tanya Jonathan
"Kami sama belum makan, tadi aku bener bener kelupaan sama dia pih karena Aslan datang dari Istanbul" jawab Aron jujur
"Astaga Aron! bagaimana jika El sakit hanya karena pekerjaan dari mu hah? kamu keterlaluan ya Aron!" bentak Jonathan
"Maaf papi aku lupa" jawab Aron tetapi sudah ditinggalkan Jonathan
"Sebenarnya anaknya itu aku apa El sih?" gerutu Aron dan berlalu ke kamar nya.
Pagi harinya Elena berjalan masuk ke perusahaan dengan wajah ceria, memang gadis itu selalu terlihat ceria apa lagi sebentar lagi masuk kuliah.
Jangan lupakan Aron yang setia berjalan beberapa meter dibelakang wanita kesayangan nya itu.
Sebelum kemejanya, Elena memutuskan untuk ke toilet lebih dulu karena mendapatkan panggilan alam yang mendadak.
Elena keluar dari dalam toilet dan langsung berjalan menuju meja kerjanya yang selalu terlihat rapi.
"Salam Nona, dokumen yang semalam akan dibawa kemeja rapat pagi ini" ucap Halid menyambangi Elena.
Elena membuka laptop nya hendak memindahkan dokumen itu kesebuah flashdisk tetapi sialnya kenapa hilang semua.
"Kok hilang? kemana sih? perasaan udah aku simpan" gerutu Elena mencoba mencari dokumen itu.
Elena membolak balik selembaran yang ada diatas mejanya berharap dokumen itu sudah dicetak.
"Ahhh sial, ada yang mengganggu ku" gumam Elena berdiri dari duduknya dan menuju ruangan Aron.
Didalam ruangan Aron, ada seorang staf wanita yang sedang menyerahkan berkas nya yang sudah selesai kepada Aron langsung.
Brakkkkkk
"Dokumen nya hilang" ucap Elena langsung masuk begitu saja.
"Kok bisa?" tanya Aron
"Bilang saja ga siap bilang hilang sebagai alibi" ucap karyawan wanita itu.
"Aku udah cape banget lo ngerjain semalaman" keluh Elena yang merasa sangat frustasi
"Akan ditemukan Halid, kembali ke pekerjaan kalian" ucap Aron dan fokus pada berkas di tangan nya.
Elena keluar lebih dulu dari ruangan Aron dan disusul karyawan wanita itu, Elena langsung menahan tangan wanita itu.
"Kembalikan dokumen nya" ucap Elena menatap tajam wanita itu.
"Dokumen apa? aku tidak tahu" ucap wanita itu melepas paksa tangan Elena dan berlalu pergi.
Elena berjalan kembali kemeja nya, sialnya ada seorang karyawan wanita lain yang seperti dengan sengaja menumpahkan segelas kopi ke baju putih milik Elena.
"Upssss sorry" ucap wanita itu mengejek dan berlalu pergi.
"Ahhh sial!" gerutu Elena menyambar ponselnya dan menyuruh Helga dan Amey untuk mengirimi nya pakaian.
Aron keluar dari ruangan nya dan menyuruh Halid untuk mengumpulkan semua karyawan diruang pertemuan.
Semua karyawan terkejut kenapa Aron mengadakan pertemuan dengan semua karyawan secara mendadak tanpa ada masalah yang terjadi.
Elena sudah berada diruang kerja Aron yang kosong bersama Helga dan juga Amey yang datang atas perintah Elena.
"Sebentar lagi satu perusahaan akan tahu non" ucap Amey terkekeh.
"Aron maksa sih mau gimana lagi" ucap Elena menata rambutnya ulang.
Elena sudah mengganti pakaian nya dengan sebuah gaun diatas lutut berwarna baby pink dipadu dengan flatshoes berwarna putih.
Diruang pertemuan suasana terlihat tegang, atmosfer ruangan terasa mencekam karena tatapan tajam Aron
"Kalian tentu tahu jika pertemuan ini saya adakan secara mendadak pertanda ada masalah mendadak" ucap Aron dengan nada dingin.
"Sebelum masuk ke permasalahan kalian harus tahu, ada satu orang wanita yang akan saya perkenalkan kepada kalian sebagai calon nyonya Smith"
Suara terkesiap terdengar, sejak kapan bos angkuh dan Casanova ini meluruskan sebuah hubungan.
"Sayang" panggil Aron.
Elena berjalan masuk kedalam ruangan pertemuan dengan sebuah lolipop ditangan nya, semua mata terbelalak melihatnya.
Siapa sangka jika selama ini karyawan yang sering mereka gunjing adalah calon istri dari bos besar mereka.
"Hallo" sapa Elena tersenyum ramah.
Banyak karyawan pria muda yang patah hati berjamaah setelah tahu bahwa gadis yang mereka kagumi adalah calon nyonya mereka.
"Hallo mis" sapa para karyawan.
Aron memeluk pinggang Elena posesif, bukan tidak tahu bahwa karyawan pria nya menyukai calon istrinya, hanya saja Aron harus diam.
"Kalian sudah tahu kan bahwa dia adalah calon istri saya, karyawan yang sering kalian gunjing" ucap Aron menekan intonasi bicaranya.
"Yang sudah menyadari kesalahannya silahkan maju" titah Aron.
Tanpa menunggu perintah kedua lagi, para karyawan wanita yang belakangan ini mengganggu Elena pun maju kedepan.
"Kalian tahu apa kesalahan kalian?" tanya Aron
"Maaf tuan kami tidak tahu" ucap salah satu karyawan wanita itu
"Halid, selesaikan" titah Aron dan membawa Elena keluar.
Mereka akan dipecat dari perusahaan Aron secara tidak terhormat, bahkan perusahaan lain pun tidak akan menerima mereka.
Elena sebenarnya kasihan kepada mereka hanya saja Aron sudah memperingatkan Elena agar tidak terlalu iba jika memandang orang lain.
.
.
.
Kiwww Kiwwww.