
Sore harinya Elena terbangun, Elena membuka mata dan melihat wajah tampan yang sedang tersenyum kearahnya.
"Mantra ku berhasil membangunkan putri tidur ini, kamu pingsan apa tidur sih sayang?"
"Kebablasan" jawab Elena tersenyum kuda
"Nakal sekali, mau sesuatu?"
"Bolehkah meminta ice cream?"
"Akan aku ambilkan"
"Aku ikut" rengek Elena merentangkan kedua tangan nya.
Aron terkekeh dan langsung menggendong gadis kecil kesayangan nya lalu membawanya ke lantai dasar.
Sesampainya dilantai dasar, Elena berjalan sembari bergandengan tangan bersama Aron.
"Mau nyebrang neng" goda Zio
Brukkkkk
"Awwsss nona sendalmu sangat sakit seperti berbahan kayu" ucap Zio mengelus kepalanya yang dilempar sendal oleh Elena
"Lain kali akan ku lempar mobil sport kewajah mu"
"Tentu saja akan ku Terima dengan senang hati"
"Kenapa kau menyebalkan sekali Zio, aku berharap Amey berubah pikiran untuk membinah rumah tangga bersama mu" ketus Elena dan berlalu pergi bersama Aron.
"Apakah dia tidak sadar bahwa dirinya juga menyebalkan?"
Ctakkkk
Amey langsung menjitak kepala Zio membuat pria itu memekik sakit dengan wajah yang dibuat memelas.
"Berani kau mengganggu sahabatku hah?"
"Ck hanya menggoda nya sedikit"
"Jika mood nya rusak bagaimana? susah menghubungi langit untuk mengembalikan mood nya kembali"
"Apakah harus sampai seperti itu?"
"Aku sedikit menyesal karena mencintai pria bodoh seperti mu" ketus Amey dan berlalu pergi.
Elena tertawa terbahak bahak karena Amey membela nya, Elena dan Aron menguping pembicaraan Zio dan Amey tadi.
"Paling tidak naikkan gajiku tuan muda" celetuk Zio dan melengos pergi.
Elena dan Aron pun melanjutkan langkahnya menuju dapur sembari sesekali diisi dengan celotehan Elena.
"Kamu sudah sadar nak?"
Elena langsung menghentikan langkahnya saat mihat siapa yang ada dimeja makan bersama Jonathan dan lainnya bahkan Laras juga belum pulang.
Elena memandang Aron dengan pandangan yang sudah bisa diartikan oleh Aron.
"Tidak apa sayang, semua akan baik baik saja" ucap Aron menenangkan
Elena menghela nafas dan ikut duduk dimeja makan bergabung dengan yang lain.
"Nona sudah bangun?" tanya bik Minah yang datang dari arah dapur sembari membawa beberapa gelas minuman.
"Bibik itu apa?" tanya Elena
"Ini kopi non"
"Bolehkah aku meminumnya?"
"***..."
"Bayi mana boleh minum kopi" ucap Zio yang lewat menuju dapur
Mereka semua terkekeh melihatnya, kedua orang ini selalu saja bertengkar dengan hal yang sepele.
"Zio apakah kau sudah tidur saat jam 2 malam?"
"Tentu saja non, aku sudah sangat lelap dan bangun dengan tubuh segar"
"Baiklah, bisa ku pastikan tubuhmu terpisah besok pagi" celetuk Elena membuat Zio terbelalak
"Yang benar saja"
"Kenapa tidak? akan ku sumbangkan ke kebun binatang untuk dijadikan makanan buaya"
"Kenapa sadis sekali"
"Setelah itu Amey bisa menikah dengan pria lain yang tidak menyebalkan seperti mu"
"Hehe maaf non, aku permisi dulu, by" ucap Zio bergidik dan langsung berlari pergi.
Semua orang hanya bisa tertawa kecil melihatnya, benar kata Jonathan putri bungsu Agarandra ini sangat pandai mengancam seseorang.
"Nona ingin apa?" tanya bik Minah mengelus rambut Elena lembut
"Ice cream boleh? rasa coklat?"
"Tentu saja boleh, bibik ambilkan sebentar yah" ucap bik Minah dan kembali kedapur.
Ani tersenyum hangat melihat Elena begitu disayangi orang orang dirumah ini, kerisauan dihatinya pun telah luruh melihat Elena diperlakukan begitu baik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam haripun tiba, semua orang sudah berkumpul dimeja makan untuk melakukan makan malam bersama.
Laras mengerutkan keningnya saat melihat wajah Elena yang terlihat masam dengan bibir yang mengerucut.
"Kenapa El?" tanya Laras yang duduk disamping kiri Elena
Elena langsung menatap Aron dengan wajah yang dibuat memelas, Aron menghela nafas melihatnya.
"Ada apa Aron?" tanya Jonathan
"Aku berjanji setelah ini kita keluar untuk membelinya"
"Bohong" ucap Elena melipat tangan nya didada.
"Apa yang diminta Aron?" tanya Jonathan lagi.
"Bakso bakar pinggir jalan pih"
"Pffft.." Zio menahan tawanya.
"Itu tidak sehat sayang, kamu juga belum makan malam"
"Tapi aku tidak mati saat memakan itu, iyakan bunda? waktu itu kita beli bersama kan?"
"Sudah sudah jangan bersedih, bibik akan buatkan bakso bakarnya untuk nona bagaimana?" tawar bik Minah
"Tentu saja bisa, apa yang tidak bisa bibi lakukan" ucap bik Minah dengan gaya angkuh membuat Elena terkekeh.
"Baiklah, aku akan mena..."
"Selamat malam semuanya" sapa Melisa yang tiba tiba datang.
Elena, Helga dan Amey serentak memutar bola mata malas melihat wajah menyebalkan wanita ini.
"Melisa, kamu ngapain kesini?" tanya Jonathan
"Eh papi, Melisa hanya berkunjung dan tentu saja karena merindukan Aron"
"Milisi hinyi birkinjing din tinti siji kirini mirindikin Irin" cibir Elena yang mendapat tatapan tajam dari Melisa
"Ya sudah duduklah kita makan malam bersama"
"Terimakasih papi" ucap Melisa dan langsung duduk disamping kiri Aron.
Elena berpandangan dengan Helga dan Amey lalu tersenyum smirk seperti ada sebuah rencana yang berputar dikepala tiga gadis itu.
"Sepertinya akan ada peperangan" bisik Zio ditelinga Halid.
Mereka pun memulai makan malam itu bersama dengan keheningan, hanya suara sendok dan garpu yang terdengar.
"Makan yang banyak sayang" ucap Aron memberikan daging yang sudah dipotong kepiting Elena.
"Terimakasih sayang"
Cuppp
Tanpa sungkan Elena memberi kecupan sekilas kepipi Aron, dan itu berhasil membuat darah Melisa mendidih.
"Sepertinya wanita ini ingin merusak kebahagiaan putriku" batin Ani menatap Melisa dengan tatapan menyelidik.
Makan malam pun selesai, walaupun harus diselingi dengan kemesraan antara Elena dan Aron membuat Melisa semakin terbakar cemburu.
Kini semua orang telah berkumpul diruang keluarga sembari menonton TV, ralat hanya Elena dan kedua wanita kepercayaan Aron yang menonton.
Ketiga gadis itu begitu fokus menonton drama Korea yang menjadi kegemaran ketiganya.
Para orang tua berbincang hangat disofa yang berbeda walaupun seruangan, mereka juga bisa melihat Elena yang bersandar didada bidang Aron.
"Aishhh lihatlah wanita itu non"
"Aku dari tadi begitu geram melihatnya"
"Kau benar, jika aku yang ada di posisinya akan ku ambil pisau dapur yang tajam lalu menusuk perut pelakor itu hingga semua organ dalamnya keluar"
"Kenapa kesannya seperti film horor ya" bisik Zio ditelinga Hugo.
Elena bangkit dan berlalu menuju dapur untuk mengambil cemilan yang diinginkan nya.
Elena melihat bik Minah sedang membuat teh untuk semua orang, Elena tersenyum smirk dan mendekati bik Minah.
"Loh non, ngapain?"
"Bik, El sangat tidak suka dengan tante itu dia juga berniat menginap malam ini bolehkah El mengerjainya sedikit saja?" pinta Elena dengan wajah imutnya.
"Mengerjai seperti apa dulu?"
Elena tersenyum senang dan langsung mengeluarkan sebotol kecil cairan berwarna bening dari dalam saku celana pendek nya.
Elena membisikkan rencana nya kepada bik Minah, awalnya bik Minah menolak tetapi Elena terus memohon hingga membuat wanita itu tidak tega karena memang menyayangi Elena.
Setelah selesai dengan rencana nya Elena pun kembali lebih dulu dan bergabung bersama yang lain.
Bik Minah datang dengan membawa beberapa gelas minuman hangat untuk anak muda yang sedang asyik menonton itu.
Elena tersenyum smirk ke arah Melisa saat wanita itu menyesap teh hangat buatan bik Minah.
"Elena" panggil Jonathan
"Iya papi?"
"Kamu besok kuliah nak?"
"Iya pih, sudah habis masa cuty nya El tidak mau ketinggalan materi"
"Tidak mau daring aja sayang?"
"Tidak pih, El tidak ada teman nantinya"
"Yasudah" jawab Jonathan memberikan kode pada Aron.
"Kenapa perut ku mulas sekali" batin Melisa yang duduk dengan tidak nyaman.
"Melisa, kamu akan menginap?" tanya Jonathan kepada Melisa
"I..iya pih"
"Iuhhhh kok bau sih, Zio kamu buang angin" tuduh Elena
"Tidak ada, serius deh" jujur Zio mengangkat dua jarinya.
"Duh mampus, kelepasan lagi kalau ketahuan bisa malu aku" batin Melisa yang mulai keringat dingin.
"Lalu siapa dong? kamu ya sayang?" tuduh Elena kepada Aron
"Mana mungkin ak..."
Bruttttt
Suara yang begitu nyaring pun terdengar, semua orang langsung menoleh kearah Melisa yang sudah sangat gugup dengan keringat dingin mengucur deras.
"Ihhh tante jorok buang angin sembarangan"
"Jaga ucapan mu ya bocah"
"Aaaaa bau non kabur kabur" teriak Amey dan langsung menarik Helga pergi.
Aron menutup hidungnya, perutnya terasa mual saat menghirup aroma beracun itu.
"A..aku pulang dulu" pamit Melisa dan langsung berlari keluar.
Helga dan Amey pun kembali, seketika tawa ketiga wanita itupun pecah karena rencana mereka telah berhasil dan berjalan mulus.
"Kau dengar tadi? sangat menjijikkan" ucap Elena tertawa.
Semua orang sudah tahu ini pasti kerjaan Elena, semua orang hanya bisa terkekeh kecil melihat kejahilan gadis menggemaskan itu.
.
.
.
😂🤣