
Hari wekend yang sedikit mendung, jalan raya masih terlihat ramai di pagi menjelang siang hari ini.
Terlihat Dita dan Rasya baru turun dari mobil mereka yang berada diparkiran gedung apartemen Elena dan Jessica.
keduanya bercengkrama dengan santai sembari terus berjalan menuju lobby apartemen kedua sahabat mereka.
mereka memutuskan untuk menyambangi apartemen Elena karena gadis itu tidak ada kabar semenjak jumat sore, dan mengambil cuti sabtu semalam.
Tiba tiba langkah Dita berhenti saat matanya melihat beberapa sosok yang sedang dihadang oleh pengamanan apartemen.
Rasya yang tidak tahu apa yang sedang dipandang sahabat nya pun mengikuti arah mata Dita.
langsung sana Rasya pun matanya ikut terbelalak melihat siapa yang sedang memaksa masuk kedalam gedung apartemen itu.
"jangan halangi kami, aku ingin bertemu putriku" pekik seorang wanita paruh baya dan beberapa orang yang bersamanya.
"maaf nyonya anda tidak bisa menjumpai nona Elena, konfirmasi kami belum di balas oleh beliau kami tidak berani" ucap pak Mardi yang sedang bertugas siang ini.
Dita dan Rasya langsung berlari menghampiri orang orang yang sedang berdebat itu bahkan menjadi pusat perhatian penghuni apartemen lain.
"pak, maaf Pak jangan didorong, tante ngapain kesini?" tanya Dita memegang tangan wanita paruh baya itu.
"Dita dimana El nak? dia didalam kan? antar tante untuk menemuinya nak" pinta wanita paruh baya itu.
ternyata wanita itu adalah ibu kandung Elena yang datang bersama suaminya, kakak kandung Elena bersama suaminya juga yaitu orang tua azie.
bibi dan paman Elena, serta kedua anak kandung bibi dan paman Elena yang seorang pria dan wanita, sepupu dekat Elena.
"ada apa ini?" tanya Jessica yang baru kembali dari luar.
seketika Jessica mematung melihat siapa yang ada didepan nya, Jessica seketika panik melihat ibu kandung sahabatnya yang enggan dijumpai sahabatnya sendiri.
"Jessica, bawa tante menemui Elena nak, tante mohon" pinta Ani mencangkup kedua tangan nya didada.
"be..begini saja tante, Rasya sama Jessica cek El diatas dulu tante sama yang lain tunggu dibawah oke" ucap Rasya memberi solusi
Ani dan keluarga yang lain pun setuju dengan keputusan yang diambil oleh Rasya
"tahan lah mereka dulu, El tidak ada kabar dari kemarin aku takut dia tidak baik baik saja" bisik Rasya yang dimengerti oleh Dita.
Rasya dan Jessica pun berlari masuk kedalam apartemen menuju lift yang akan mengantar mereka ke lantai tujuh gedung ini.
tingnong tingnong
Rasya berkali-kali memencet bel apartemen Elena, Rasya tidak mau sembarangan masuk lagi walaupun sudah tahu sandi apartemen Elena.
"tidak ada jawaban, kita masuk saja ya" ucap Jessica yang sudah mulai khawatir.
sedangkan didalam sana, ada seorang gadis yang sedang terbaring diatas sofa dalam keadaan mabuk.
apartemen yang selalu terlihat bersih kini tidak lagi, botol alkohol tergeletak dimana mana bahkan sampan makanan ringan juga.
wanita itu adalah Elena, Elena menghabiskan berbotol botol alkohol untuk menenangkan pikirannya yang sangat kacau karena kejadian jumat malam kemarin.
Flashback on:
Elena sedang berjalan sendiri di trotoar jalan setelah pulang dari sebuah mini market.
Elena berjalan menuju apartemen nya yang tidak jauh dari mini market itu, Elena menenteng sekantung minuman soda dan cemilan.
"mimi...." teriak suara bocah yang berlari dan langsung memeluk Elena dari belakang.
"loh sayang, kok kamu disini nak? bersama siapa Aziel?" tanya Elena, ternyata bocah kecil itu adalah Aziel.
Aziel menunjuk sepasang suami istri yang sedang berjalan cepat kearah mereka, seketika Elena mematung di posisinya.
"mimi?" panggil Aziel saat melihat mata indah itu berkaca kaca.
Elena langsung merubah raut wajahnya menjadi dingin, dengan sangat susah dia menyembunyikan rasa takut didalam dirinya.
"kau kemana saja? apa tidak memikirkan mama? kau pergi seakan menyelesaikan masalahmu" cecar seorang wanita cantik.
wanita itu adalah ibu kandung Aziel yang bernama Anggi, kakak kandung Elena yang memang tinggal di kota besar ini juga bersama suami nya.
"mama, plisss jangan membuat mimi sedih" lirih Aziel yang seakan mengerti perasaan ibu keduanya.
"Aziel, jangan dekati dia, dia bukan lagi mimi mu, dia saja tega menyakiti nenek" ucap Anggi menarik paksa tangan putra nya.
"No mama, pliss aku rindu pada mimi" rengek Aziel yang ingin melepaskan genggaman ibunya.
"mau sampai kapan kalian menyalahkan ku, hah? apa kehadiran ku juga sebuah kesalahan?"
"jika memang benar kenapa mencariku? seharusnya kalian senang aku sudah melepas diri dari beban kalian!!" bentak Elena dengan emosi yang meluap
plakkkkkk
Anggi menampar keras pipi Elena hingga membuat pipi putih itu memerah, seketika mata Elena berkaca kaca.
tangis Aziel semakin pecah saat melihat tangan wanita yang melahirkan nya mendarat keras dipipi ibu keduanya.
"jangan coba cari aku lagi, kalian saja masih menganggap aku sebuah kesalah" ucap Elena pelan dan langsung meninggalkan mereka.
Elena berjalan cepat walaupun telinganya mendengar teriakan bocah tampan dengan suara tangis yang juga pecah.
Flashback off:
Elena terus menenggak alkohol yang ada ditangan nya tanpa memperdulikan bunyi bel yang terus terdengar.
Rasya dan Jessica yang sudah sangat panik pun memutuskan untuk membuka saja pintu apartemen Elena.
begitu terkejut nya mereka saat melihat pemandangan yang tidak pernah mereka lihat, bau alkohol menyeruak ke seluruh ruangan apartemen ini.
"El apa yang kamu lakukan?" tanya Rasya mengguncang tubuh Elena yang ada diatas sofa
"ck aku hanya ingin menenangkan diriku saja" ucap Elena menepis tangan Rasya
rasanya Jessica ingin menangis melihat keadaan Elena yang terlihat berantakan, gadis itu hanya menggunakan hotpants hitam dengan kemeja kebesaran berwarna putih.
Elena bangkit dan berjalan menuju dapur karena botol alkohol yang di tangan nya sudah habis ditenggaknya.
sedangkan di lantai dasar, Dita susah kalang kabut karena tidak mendapat kabar apa pun dari Jessica dan juga Rasya.
"bagaimana nak Dita? Elena ada kan diatas?" tanya Ani yang terus mendesak Dita.
Dita sendiri juga bingung harus menjawab apa karena kedua sahabatnya tidak memberi kabar apapun kepadanya.
"tunggu sebentar ya tante biar Dita yang menelpon keatas" ucap Dita mengeluarkan ponselnya dan menggeser tubuhnya agar sedikit menjauh.
pak Mardi yang melihat kegelisahan orang orang itu pun mendekat kearah Dita yang terus berusaha menelpon Jessica atau pun Rasya
"bagaimana ndok?" tanya pak Mardi juga khawatir
Dita hanya menggeleng, dirinya juga takut terjadi hal buruk pada Elena hanya saja tidak mau asal membawa orang orang ini naik karena Elena sendiri yang memberi perintah.
"pak bisa cek CCTV ruang tamu apartemen El?" tanya Dita menatap pak Mardi
"tidak bisa ndok, El sendiri yang memutuskan sambungan CCTV nya ke kami dan hanya dirinya yang mempunyai sambungan itu"
"El tidak mau privasi nya terganggu nak" ucap pak Mardi sedikit menyesal
tanpa mereka berdua sadari keluarga Elena sudah berjalan menuju lift, Dita yang baru menyadari nya pun langsung berlari menyusul.
tanpa Dita bisa menahan lagi, akhirnya pun Dita membawa keluarga Elena untuk naik ke lantai tujuh dimana apartemen Elena terletak.
sepanjang perjalanan Dita terlihat resah, pesan nya juga diabaikan oleh kedua sahabatnya yang diperintahkan untuk mengecek kondisi El.
lift pun sampai di lantai tujuh, mereka berbondong-bondong luar dari lift dan Dita langsung memandu langkah mereka menuju apartemen Elena.
sesampainya didepan pintu apartemen Dita melihat pintu apartemen yang tertutup rapat begitupun depannya yang ternyata apartemen Jessica.
"ayo buka nak" desak Ani yang sudah kehilangan kesabaran nya.
tingnong tingnong
Dita lebih memilih memencet bel dari pada membukanya karena keluarga Elena terus memperhatikan nya dari tadi.
pintu apartemen Elena pun terbuka, terlihat Jessica yang membuka pintu dalam keadaan menangis dan air matanya turun begitu deras.
Dita dan keluarga Elena yang mihatnya pun langsung berfikir hal hal yang negatif, bagaimana tidak, mata Jessica sembab seperti banyak menangis.
.
.
.
staytune ya bestie dan jangan lupa dukungan buat author.