
Dipagi yang cerah, Elena dan juga Aron baru saja melakukan sarapan bersama yang lain.
Kini keduanya sudah berdiri di teras rumah mewah milik Aron, Aron akan berangkat bekerja dan Elena mengantarkan nya sampai depan.
"Emmm boleh kah aku meminta sesuatu?" tanya Elena sedikit ragu
"Katakan sayang, tapi jangan pernah meminta untuk kembali ke lingkungan mu yang dulu" ucap Aron.
"Aku sudah lelah berdebat dengan mu perihal itu, bolehkah aku meminta ponsel ku kembali?" tanya Elena
Aron tersenyum tipis "Akan ku belikan yang baru" ucap Aron mengusap kepala Elena dengan lembut
"Tidak usah, kembalikan saja ponselku" ucap Elena
"Ada yang lain?" tanya Aron yang tidak ingin berdebat dengan Elena
"Pekerjaan ku di bu..."
"Tidak ada sayang, aku sudah mengirimkan surat resign mu kesana dan Laras menyetujui nya jadi tidak perlu bekerja"
Elena langsung tercengang dengan ucapan Aron, bagaimana bisa pria ini mengambil keputusan sepihak.
"Yakkkk mana bisa seperti itu, aku masih ingin bekerja Aron" ucap Elena yang tidak Terima dengan keputusan Aron
"Tidak ada penolakan sayang dan Laras pun setuju kau tidak bekerja lagi" ucap Aron sedikit terkekeh
"Aku pergi dulu, Zio akan memberikan posel untuk mu" ucap Aron mengecup kening Elena dan berlalu pergi.
Elena mengumpat habis habisan setelah mobil yang ditumpangi Aron menghilang dibalik pagar hitam yang besar.
Para pengawal yang melihatnya pun hanya bisa terkekeh karena bagi mereka Elena begitu menggemaskan.
Siang hari yang cukup panas, Elena sedang duduk di bangku taman sembari memainkan ponsel yang diberikan Zio kepadanya.
Itu bukan ponsel lamanya melainkan ponsel baru, dan kontak nya juga hanya berisi orang rumah ini dan sahabat Elena, jangan lupakan Laras.
Dari kejauhan ada seorang pria paruh baya yang menatap Elena dengan tatapan lembut dan seutas senyum tipis tersmat di bibirnya.
"Ingin menemuinya tuan?" tanya bik Minah yang dari tadi menemani pria itu berdiri di sana.
Pria itu adalah Jonathan, Jonathan ingin bertemu calon menantu nya untuk saat ini karena terakhir kali melihat Elena saat Elena masih dalam keadaan koma.
Jonathan juga sudah tahu kalau Elena sudah mengetahui siapa putranya dan bagaimana masa lalunya, ya dari mulut Aron sendiri.
"Panggilkan dia" ucap Jonathan dan meninggalkan bik Minah.
Bik Minah menyambangi Elena yang sedang asik memainkan ponsel nya sembari sesekali bersenandung.
"Permisi nona, ada tamu di ruang keluarga dan ingin bertemu" ucap Bik Minah dengan sopan
"Ehh siapa bik?" tanya Elena bingung, pasalnya setelah kembali dari rumah sakit tidak ada satupun yang diperbolehkan untuk menemui Elena.
"Lebih baik anda lihat sendiri saja non" ucap bik Minah tersenyum lalu meninggalkan Elena.
Elena pun langsung beranjak dari duduknya dan berlalu masuk kedalam rumah karena ingin menemui tamu yang dikatakan bik Minah.
Elena terus berjalan hingga akhirnya sampai diruang keluarga, mata Elena menangkap seorang pria paruh baya yang duduk sembari meminum kopi.
"Maaf tuan, anda mencari siapa?" tanya Elena dengan sopan
Elena menelisik wajah Jonathan yang seperti tidak asing dikepalanya, Elena seperti sering melihat pria ini.
"Aku ingin menemui mu nak, kemarilah" ucap Jonathan menepuk sofa yang ada di samping nya.
Seperti nya Elena lupa jika wajah yang dilihatnya, sama persis dengan pria yang selalu menemaninya selama ini.
Elena berjalan mendekati Jonathan, Elena duduk disamping Jonathan tetapi memberikan jarak yang cukup jauh karena Jonathan orang asing bagi Elena.
Jonathan tersenyum tipis melihatnya, gadis pilihan putra nya itu sangat lah menggemaskan
"Bagaimana kabarmu nak? setelah bangun dari koma papi tidak bisa menjenguk mu" ucap Jonathan dengan lembut
"Hah? ba..bagaimana Anda bisa tahu kalau saya koma?" tanya Elena terkejut
"Hah? a..apa?" Elena terkejut bukan main saat Jonathan memperkenalkan dirinya.
Siapa yang tidak tahu orang sebesar Jonathan, pria yang sangat berkuasa dan juga kejam yang kini diturunkan kepada putranya.
Elena seketika lupa jika Aron masih mempunyai ayah yang membesarkan nya tanpa bantuan seorang ibu
Jonathan terkekeh melihat wajah terkejut Elena, gadis ini benar benar sangat unik pikir Jonathan
"Jangan terkejut nak, papi kemari ingin menemuimu" ucap Jonathan mendekatkan dirinya kepada Elena.
"Ah i..iya tuan, saya sempat syok" ucap Elena gugup
"Jangan panggil aku tuan, panggil papi saja karena kau juga putriku" ucap Jonathan mengusap rambut kecoklatan milik Elena.
"Ba.. baik papi" ucap Elena sedikit canggung.
"Kau sudah tahu siapa Aron bukan? bagaimana masa lalunya? bagaimana dia bisa menjadi seperti ini?" cecar Jonathan dan Elena hanya mengangguk
"Papi tahu kau gadis yang tepat untuk putra papi nak, tuntunlah Aron kejalan yang benar dan menetap padamu"
"Ya walaupun tanpa diminta dia sudah merubah dirinya untukmu" ucap Jonathan terkekeh
"Kalian berdua sangat mirip" celetuk Elena menatap wajah Jonathan yang seperti duplikat Aron.
Elena yakin Aron akan seperti ini jika sudah menginjak usia lebih dari empat puluh tahun.
"Bahkan dia lebih keras dari ku, buktinya dia mendapatkan mu dengan paksaan" ucap Jonathan membuat Elena terkekeh
Jonathan sedikit terpesona dengan senyum manis calon menantu nya ini.
"Apa kau sudah mencintai anak papi nak?"
Deghhhh
Elena seketika membatu dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Jonathan, Elena sendiri saja belum bisa melawan keras nya ego diri sendiri.
"El tidak tahu pi, semuanya masih samar samar dan El belum bisa mengartikan nya" ucap Elena menundukkan kepalanya.
Jonathan tersenyum dan mendongakkan kepala Elena "papi tahu, semuanya memang terjadi secara tiba tiba dan itu juga tidak mudah"
"Maafkan anak papi yang mengambil jalan pintas untuk mendapatkan mu nak, tapi percayalah bahwa Aron benar benar mencintai mu"
"Aron hanya butuh kasih sayang dan cinta yang tulus dari seseorang yang sangat dibutuhkan nya, yaitu kamu El"
Ntah mengapa hati Elena menghangat mendengar ucapan Jonathan, Elena jadi merindukan papa nya.
"El tahu pih, El bisa lihat ketulusan Aron buat El tapi El takut El tidak bisa membalas perasaan nya pih" lirih Elena jadi merasa bersalah
"Seiring berjalan nya waktu kau akan mengerti apa yang ada dihatimu nak, semuanya tidak mudah karena kau juga mempunyai trauma"
"Bisa papi jamin Aron tidak akan memperlakukan mu sama seperti pria masa lalu mu memperlakukan mu, kau berlian nak"
Satu titik air mata Elena jatuh karena ucapan Jonathan, Elena tidak pernah dihargai sebegitu tinggi oleh seseorang selain Aron dan Jonathan.
"Kau tahu kau berlian nak, bahkan kotoran sekalipun tidak bisa merubah nilai mu yang sangat berharga" ucap Jonathan lembut.
Air mata Elena pun tumpah tanpa permisi membasahi pipi nya yang chubby.
Jonathan langsung memeluk Elena erat, Jonathan sudah tahu bagaimana hidup gadis ini dari mulut Aron.
Jonathan juga sudah tahu bagaimana gadis ini diperlakukan keluarga nya setelah kepergian almarhum papanya yang meninggalkan luka berbekas dihati lembut gadis kecil ini.
.
.
.
Alhamdulillah semangat terus readers setia author hihi.