
Didalam kamar megah yang bernuansa serba hitam, Elena masih terbaring lemah diatas ranjang karena suara tembakan tadi sore.
Tidak tahu siapa yang menyerang kediaman Aron, seorang pengawal mati tertembak di depan mata Elena.
Gadis itu langsung pingsan setelah melihat pengawal kekasihnya yang berlumuran darah dengan dahi yang berlubang.
Aron mengusap lembut kepala Elena berharap gadis itu segera bangun, wajah Elena memucat seketika tadi.
"Apa sudah tahu siapa yang menyerang?" tanya Aron
"Sniper itu bunuh diri tuan" jawab Hugo.
"Cari sampai dap..."
Belum sempat Aron menyelesaikan kata kata nya, terlihat tangan Elena yang bergerak.
"Sayang" panggil Aron
"A..Aron, aku takut" lirih Elena langsung memeluk Aron dengan linangan air mata
"Suttt tidak akan terjadi apa apa, kau bersama ku" ucap Aron mengusap punggung Elena
"Di..dia mati dan penuh dengan darah, pria itu.. dia menembak pengawal mu" ucap Elena terbata
Aron dan seisi ruangan seketika tertegun mendengar ucapan Elena, bagaimana gadis ini tahu bahwa yang menembak adalah seorang pria.
"Di..dia berkata akan mengambil ku dari mu Aron, jangan tinggalkan aku" ucap Elena mengeratkan pelukan nya.
Hugo langsung mengisyaratkan kepada orang orang yang ada diruangan itu untuk keluar agar memberinya privasi.
"Aku tidak mau pergi bersamanya, aku ingin bersama mu terus Aron" ucap Elena dengan linangan air mata.
Aron tidak tahu harus menjawab apa, Elena berkata tentang apa? siapa yang ingin mengambilnya dari Aron?
"Tenang sayang, kau akan terus bersama ku selamanya jangan khawatir" Aron mengecup kening Elena lembut.
Di luar kamar Aron, kelima orang kepercayaan Aron sedang bingung karena ucapan nona muda mereka.
"Ini hari pertama nona keluar rumah dan itu hanya kuliah, ada apa ini?" gumam Zio tidak mengerti
"Apa nona bertemu dengan orang lain? atau diajak ngobrol dengan orang lain?" tanya Hugo menatap Helga dan Amey
"Tidak ada, kami selalu memantau CCTV dan tidak terjadi apa pun yang mencurigakan" jawab Helga
"Lagian ini hari pertama nona kuliah, Halid mendaftarkan nona melalui online tidak menemui kepala universitas langsung" ucap Amey menambahkan
"Sepertinya tujuan mereka bukan membunuh tuan lagi, tetapi mengambil nona" ucap Halid.
"Kita akan menunggu tuan" ucap Zio dan berlalu pergi bersama yang lain.
^π^π^π^π^π^π^π^π^π^
Ditempat yang berbeda, jauh dari pemukiman warga ada sebuah rumah mewah yang dikelilingi oleh pria bertubuh kekar.
Didalamnya, tepatnya di sebuah kamar yang bernuansa hitam dan putih, ada seorang pria tampan bermata hijau yang duduk diatas ranjang sembari memandang potret seorang gadis.
"Kau menghilang terlalu lama sayang, aku akan mengambil ku kembali dan kita akan hidup bersama" celoteh pria itu memandang foto seorang gadis cantik.
Foto yang dipandang nya adalah foto Elena, foto Elena kecil yang sedang bermain di sebuah taman yang ditemani seekor kucing berwarna kuning.
"Aku tidak akan membiarkan kau jatuh ke tangan Aron Na, kau tetap milikku dan akan selamanya seperti itu" gumam pria itu mengepalkan tangan nya.
tok tok tok
"Masuk"
"Lapor tuan, Liam akan sampai setengah jam lagi" ucap seorang pria bertubuh tegap
"Mari kita lihat siapa pemenangnya setelah ini, dan akan ku ambil apa yang memang hak ku Aron Jhon Smith" seringai pria itu.
^π^π^π^π^π^π^π^π^π^π^π^π^π^π
"Bagaimana keadaan nona tuan?" tanya Helga setelah Aron duduk di kursi kerjanya
"Dia tertidur" jawab Aron
"Aku masih penasaran dengan ucapan nona tadi" celetuk Amey
Aron langsung memandang ke lima orang itu, seperti nya mereka mendapati jalan yang buntu.
"Dimana Liam?" tanya Aron tiba tiba teringat rivalnya itu
"Dia masih ada di persembunyian nya tuan, bodoh jika dia melakukan hal seperti itu" jawab Hugo
"Benar tuan tidak mung...."
Brakkkkk
"Dimana menantuku?" tanya Jonathan panik yang tiba tiba membuka pintu ruang kerja Aron secara paksa
"Pintu itu mahal papi" ketus Aron
"Akan ku belikan 100 yang seperti ini, dimana putriku?" tanya Jonathan lagi
"Kau pikir aku akan diam saja setelah mendapat kabar penyerangan yang tiba tiba, dan mendengar keadaan menantuku yang tidak baik?"
Jonathan mendapat kabar dari bik Minah yang ditugaskan untuk memberi kabar apa pun tentang Elena.
Setelah mendengar kabar bahwa ada seorang pengawal yang mati tertembak tepat di depan Elena dan Elena syok, Jonathan langsung terbang dari New York ke negara asalnya.
"Dia tidur lagi" jawab Aron yang sudah tahu kekhawatiran papinya.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Jonathan masih khawatir.
Mereka pun menceritakan secara detail apa yang terjadi, bahkan perkataan Elena pun mereka katakan kepada Jonathan dengan detail.
"Apa dia mempunyai ikatan dengan pria lain dulunya?" ucap Jonathan memandang putranya.
Aron hanya menggeleng, informasi tentang masa kecil Elena hanya sebatas saat papa nya meninggal dunia dan itupun saat Elena berusia 11tahun.
"Kau harus cepat mencari tahu Aron, bahaya jika ada kelengahan dan mereka membawa Elena pergi" ucap Jonathan
"Perketat penjagaan Hugo, jangan sampai peristiwa hari ini terdengar di telinga orang lain" ucap Aron dan Hugo pun mengangguk.
"Siapa papa kandung El?" tanya Jonathan tiba tiba
Aron mengangkat alis nya sebelah, papa nya pernah mengatakan tidak akan pernah membahas dari keluarga mana Elena berasal, lalu kenapa sekarang berubah.
"Katakan saja Aron, jika papi mengenal almarhum papa nya bisa kita cari tahu apakah ada perjanjian masa lalu antar keluarga Elena dengan Rivalmu" ucap Jonathan
"Bram, Bramasta Agarandra"
Deghhhhh
Seketika Jonathan mematung mendengar nama siapa yang disebut oleh putra satu satunya
"Tapi nona tidak memakai nama Agarandra tuan?" ucap Helga bingung
"Aku tidak tahu, mama nya menikah dengan pria biasa dan seluruh keluarga nya melepas nama Agrandra" jawab Aron
"Ada apa papi? papi mengenal almarhum papa kandung El?" tanya Aron saat melihat papi nya yang hanya terdiam
"Tidak ad...."
Pyarrrrr
"ARONNNNNN!"
Aron langsung berlari keluar saat mendengar suara teriakan Elena yang begitu nyaring dan suara pecahan kaca.
Kamar Aron dan Elena kedap suara, dikarenakan posisi ruang kerja Aron yang bersebelahan dan juga suara Elena yang begitu keras membuat semua orang mendengar.
"Sayang!" panggil Aron membuka pintu kamar nya.
"hiks hiks A..Aron, aku takut Aron" lirih Elena terduduk disudut kamar dengan memeluk lutut nya
Aron langsung mendekati Elena dan memeluk gadis itu yang tubuh nya bergetar dengan air mata yang berlinang di pipinya
"Ada apa sayang?" tanya Aron
"Ta..tadi lampunya mati, ada bayangan hitam dari balkon aku fikir itu kamu saat aku ingin mendekat dia melempar sesuatu dan memecahkan kaca balkon"
"Aku takut, matanya berwarna hijau dan itu sangat menakutkan" ucap Elena terisak dalam pelukan Aron.
"Mata hijau?" batin Aron mencoba menerka siapa pelakunya.
"Tidak akan terjadi apa apa, maafkan aku telah meninggal kan mu ayo bangun" ucap Aron memapah tubuh Elena dan memindahkan gadis itu diatas ranjang.
Zio menyerahkan sebuah batu yang dibungkus dengan kertas yang ada bercak merah seperti darah.
Aron membuka gumpalan kertas itu dan sedikit terkejut dengan tulisan yang ditulis dengan darah
"KEMBALIKAN DIA KEPADAKU, DIA MILIKKU DAN AKAN SELAMANYA SEPERTI ITU"
"Da..darah" terbata Elena dan langsung pingsan
Elena melihat kakinya yang berdarah dan tulisan diatas kertas dengan darah ditangan Aron membuat gadis itu ketakutan.
"Panggilkan Robby" ucap Aron.
"Kau akan mati sebelum kau bisa menyentuh calon istriku" batin Aron meremas kertas itu
"Perjanjian apa yang kau buat Bram? kau menyakiti putrimu" batin Jonathan nelangsa melihat menantunya.
.
.
.
Silahkan menebak siapa pria bermata hijau wkwk.
Jangan lupa comment biar author tau kalau para readers author masih ada.